Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 22


__ADS_3

Tak terasa dari tidur siang yang kelabu Inara sedang makan malam sendirian.


Uang tabungannya tinggal cukup untuk ia seminggu kedepan, karna uang pemberian Pak Bagas ia tak pernah menyentuhnya lantaran tak enak mungkin jika uangnya terpepet ia akan menggunakannya.


"Aku besok harus semangat! masih bersyukur itu perusahaan ada lowongan" gumam Inara menyemangati dirinya sendiri.


Ia menyudahi makan malamnya dan beranjak membereskan dan mencuci bekas ia makan dan memasak.


Saat menyimpan piring ke tempat pencucian Inara mendadak gelisah dan piring itu lepas dari genggamannya.


"Aw.. Ada apa denganku kok suasananya mendadak gak enak"


Pecahan piring mengenai tangan Inara cepat cepat ia membasuh dan menekan lukanya dikucuran air yang mengalir.


"Ada apa ini ya allah, hatiku sungguh tidak tenang" ucap Inar lirih.


Ia terpikiran ke


Inara membereskan kembali pecahan piring itu setelah ia membaluti tangannya dengan perba.


Ia duduk disofa kecil dan menatap lukanya yang sudah dibaluti itu, Inara mengelus perutnya yang sedikit begah.


"Ada apa ya nak, bunda merasa tidak tenang! apa nenek sama kakek mu baik baik saja, semoga saja mereka sehat dan baik. kamu juga sayang".


Inara bergumam pelan, dengan tetesan air mata yang mulai membasahi pipi mulusnya, ia menyandarkan punggungnya dan memeluk perutnya sendiri.


***


Beralih ke keluarga Alvino Bagaskara seorang anak lak laki sedang menuruni anak tangga untuk makan malam, ia menuju ruang makan sudah ada kedua orang tuanya menunggu anak semata wayangna itu.


"Baru turun anak bunda ini, udah laper tau ayok duduk sayang" Ucap bundanya.


"Iya bundaku sayaaang" seru Alvin bermanja.


Makan dengan tenang dimalam ini terasa hangat bagi ketiganya, Alvin tampak lahap dengan wajah semangat dan cerianya terpancar, sedang apakah gerangan?.


Sang ayah menatapnya dengan heran karna tak biasanya anak lelakinya sebahagia itu, ada gurat bahagia dimata sang anak ia penasaran dan bertanya.


"Al kamu kenapa nak?!" suara sang ayah menghentikan sesi makan anaknya.


"Aku, ada apa denganku ayah?" sang anak menunjuk dirinya, dan malah bertany balik.


"Iya kamu kelihatannya happy fun sekali, ada apakah itu?" tanya Pak Bagas dengan candaannya.


"Emm itu, ah iya Alvin besok ada ulangan makanya semangat begini" Alibi sang anak.


"Ulangan atau ada yang lain sayang?" tanya sang bunda menyambung.

__ADS_1


"Ahh bunda apa apaan sih, aneh aneh mulu kalau ngomong" berengut Alvin.


"Sudah sudah kita makan dulu, nanti kita ngobrol lagi" ulang sang ayah.


Mereka melanjutkan makan malamnya kembali. Dirasa sudah beres Pak Bagas lebih dulu selesai dan diikuti oleh Alvin baru sang Bunda meninggalkan meja yang sedang dibereskan pembantunya.


Alvin duduk dikursi yang cukup untuk satu orang dan orang tuanya dikursi yang sama dan berdekatan. Orang tuanya menatap sang anak tak biasanya, tatapannya tajam dan menghunus ke jantung hati anaknya.


"Ada apa sih, Bunda sama ayah aneh banget malam ini?!" Alvin bersuara bertanya lebih dulu.


"Kecuali kamu juga Al, dari tadi bunda perhatiin kamu banyak tersenyum dan agak aneh gitu" Kini bundanya yang penasaran.


"Masa bunda masih gak tau juga, anak seumuran Alvin itu lagi masa puber dan mungkin ia sedang jatuh cinta bundaa" Ucap Pak Bagas menyela ucapan Istrinya.


Dan sang anak malah memperhatikan orang tuanya yang sedang mendebatkan dirinya itu, Alvin malah menjadi penonton yang tenang melihat kebahagiaan orang tuanya yang selalu harmonis.


"Oh ia Yah, besok bunda mau keperusahaan yang dibogor itu. udah lama gak kerumah mungil kita" ucapan istrinya mampu membuat Pak Bagas cengo.


"Ngapain sayang, aku besok kesana! rumah kecil itu juga tiap harinya ada yang ngurus ayah yang nyari pembersih" sela Pak Bagas.


"Ya udah kita bareng aja ya, Al gak papa besok bunda ke bogor sama ayah! kamu dirumah aja gak boleh keluyuran ok".


"Oke santai aku udah besar sekarang, berapa hari dibogor yah?" tanya Alvin kepada Ayahnya.


"Mungkin 3 hari iyakan bunda".


Masing masing dari keluarga harmonis itu akan berpergian jauh orangtuanya ke kota bogor dan Alvin ke kampung Dukuh tempat tinggal sang pujaan hatinya.


Ia membayangkan wajah ayu Inara dan senyuman manisnya, Alvin tak sabar ingin segera pagi dan menjumpai gadis yang ia minati.


Alvin dan Mang sopir sudah janjian bahwa ia akan membolos sekolah untuk langsung ke kampung Inara, karna membutuhkan waktu sampai disana siang kalaupun pulang sekolah ia kesana paling sampai malam.


Alvin kesana cuma ingin memastikan Inara baik baik saja, bukan ingin membujuk Inara kembali bersekolah kalaupun Inara kembali sekolah dikotanya itu bonus keuntungan seorang Alvin Bagaskara.


'Sebelum gue ke rumah Inara besok bercukur dulu ah, udah gondrong aja nih rambut' ucap Alvin pelan sambil menatap dirinya dicermin.


Pemuda itu pun berlalu menuju ranjang dan berbaring diatasnya, ia perlahan terpejam dan tertidur begitu lelapnya.


***


Pagi menyambut sang surya, cahaya yang masuk melalui jendela kamar menganggu Alvin dari tidurnya silaunya cahaya pagi membuat Alvin terbangun dan mengucek matanya.


Ia membuka mata dan menatap jam waker kecilnya diatas nakas, Alvin tersentak dan kaget karna ia terbangun kesiangan sudah jam 08:00.


"Kenapa bunda tak membangunkanku, tumben udah siang gini?" monolog Alvin dan beringsut untuk duduk.


Alvin beranjak dari pembaringannya dan menuju kamar mandi. ia bersenandung kecil kala menjalankan ritual mandinya.

__ADS_1


Alvin kembali dengan badan yang segar serta rambut yang basah selesai berkuramas, ia menatap layar persegi panjangnya ia mengusapnya dan ada notifikasi pesan masuk dari Bundanya.


[Al maaf, bunda gak pamitan lebih dulu sama kamu, soalnya kamu nyenyak banget Bunda sama Ayah udah diperjalanan menuju kota Bogor kamu baik baik dirumah ya sayang! Selamat pagi😘]


Isi pesan sang bunda berpamitan panjang lebar dengan disertai emot cium diakhir katanya, dan Alvinpun tersenyum ia mengepalkan tanganya dan mengangkatnya tinggi tinggi dengan semangat.


"Yesss berarti gue gak perlu berseragam dan berpura pura berangkat sekolah deh" ucap Alvin sambil membalas pesan dari Bundanya.


Alvin bergegas mengganti bajunya dengan kaos hitam dan jeans berwana hitam dipadukan dengan spatu hitam pula. Ia membawa jaket tanpa ia pakai.


***


Sedangkan Inara sedang mengantri untuk Interview menjadi pekerja kantor Bagaskara group, ia diterima sebagai Office Girl di perusahaan tersebut.


Inara bersujud syukur di depan atasannya dan berterima kasih sebanyak banyaknya karna ia diterima diperusahaan terbesar di kota bogor tersebut.


"Kamu boleh bekerja hari ini juga, karna sangat membutuhkan tenaga OG, karna penambahan pekerja bulan ini bertambah banyak, kamu dan yang lainnya harus semangat kerja atau kedepan depannya akan banyak lembur. Oh ia hari ini jangan membuat kesalahan sekecil apapun karna Bos besar akan berkunjung"


Ucap salah satu dari mereka, ya ia seorang ketua dari Office girl tersebut Namanya Nita umurnya sudah 25 tahun, ia memberi tahukan bahwa akan kedatangan pemilik perusahaan yang asli.


"Ya silahkan yang baru berganti pakaian" ucapnya lagi memerintah.


Inara mengangguk dan berlalu membuntuti yang menunjukan tempat berganti pakaian ia pekerja lama.


"Heyy pelayan baru, kamu tampak muda sekali bahkan kamu tak bawa surat lamaran langsung diterima gue iri banget sama lu" judes salah satu Office girl lainnya.


"Ahh kebetulan saja, mungkin perusahaannya kepepet mba, jadi dia diterima langsung, untung banyak dia" ucap salah satunya lagi.


"Oh ia siapa nama kamu tadi, dan umur kamu berapa?!" sambungnya lagi.


"Nama saya Inara Ramdhania mba, dan umur saya baru 18 tahun" jawab Inara dengan ramahnya.


Dua gadis itu bertanya sambil menatapnya penasaran. Namanya Lusi 23 tahun tamatan SMA. Cantik dan hidungnya bangir, berambut sebahu dan tubuh yang langsing.


Sedangkan yang satunya lagi bernaman Maya 24tahun lulusan yang sama sperti Lusi memiliki rambut panjang namun diikat ke atas tubuhnya ideal serta tinggi, dan memiliki paras yang imut.


"Woow kamu muda sekali, bahkan umur segitu masih ditahap pendidikan dek, kenapa malah bekerja?!" Tanya lusi dengan kerasnya karna terkejut.


"Aku tak sekolah Mba, cuma sampai SMP saja" senyum Inara hangat.


'Tak apa kan aku berbohong ya Allah' batin Inara dihiasi senyuman palsunya.


.


.


.

__ADS_1


Next Part💖


__ADS_2