
Pov Fahmi
Terdengarnya sangat manis saat Inara menjawab menerima ucapan cintaku setelah lamanya menunggu jawaban itu dan kepastian itu.
Seminggu lamanya ia berpikir dan akhirnya aku resmi menjadi pacarnya, ah bahagia sekali rasanya.
Dari semenjak mendaftar masuk sekolah aku mengaguminya sampai benih benih cinta ini muncul dan ingin lebih menginginkannya, Ya menurutku Inara sangat manis, cantik juga sopan. Pertama kali aku melihatnya aku langsung jatuh hati padanya, Berpenampilan sopan layaknya perempuan yang aku idamkan.
Meskipun dari kampung penampilan dan tata bicaranya tak terlalu kampungan, aku suka caranya berbicara, keperibadiannya sampai sampai aku nekad menembaknya lewat chat.
Ya meskipun dilain kata aku tak gantelman aku sempat berpikir gimana cara menghadapinya biarlah lewat chat saja.. haha
[Inara, aku ingin menyatakan sesuatu padamu]
Kirimku centang satu, Ah tak aktif ternyata aku menekan nomer 'My Queen' dan memanggilnya dengan panggilan seluler, ternyata nyambung.
Tut... Tut... Tut...
Tak kunjung diangkat ku akhiri dengan senyum di bibirku memudar.
"Kemana sih tuh orang, harusnya sekarang santai bukan waktunya sekolah atau apapun" Aku berbicara tak lepas memandangi layar persegi panjang itu.
Tiiiiiiing!
Layarnya menyala dan mengeluarkan suara nyaring pertanda ada notif pesan baru masuk ke gawaiku, segera ku geser kunci layar.
Akhirnya yang ku tunggu tunggu terbalaskan juga aku tersenyum membuka dan membacanya.
[Sesuatu apaan mi? Yasudah katakan saja]
[Aku mencintaimu Inara Ramdhania, Aku juga menginginkanmu. Maukah kamu menjadi teman dan tambatan hatiku] kirim.
Aku sangat gerogi meski di dalam chat bahkan kita tak berdekatan ataupun berpandangan, seperti itulah kata yang ku ucapkan karna aku bingung aku tak lihai dalam urusan wanita apalagi urusan menembak.
Ini pertama kalinya untukku, Inara perempuan pertama yang aku nyatakan cinta jujur aku sangat takut orang lain duluan mendapatkan Inara.
Aku menunggu balasannya dengan harap harap cemas takut Inara menolak ku, Ya mungkin terlalu dini aku mengajak merajut cinta denganku.
[Aku pikir dulu ya mi, minggu depan aku kasih jawabannya. Seminggu saja kok]
Balasannya, Aku menghela nafas berat kenapa si meski menunggu seminggu sekarang saja Inara sama saja meskipun itu penolakan ataupun penerimaan.
[Iya gimana baiknya kamu aja, terserah! yang pasti, Aku tetap menunggu kamu kok]
Balasanku terkirim centang biru, Aku merebahkan diri ini diatas tempat tidur terlentang memandang langit langit kamarku. Ah rasanya begini menunggu kepastian.
Inara tak kunjung membalasku lagi. Aku duduk kembali menyimpan benda persegi panjang itu sembarangan.
Aku beranjak dan keluar kamar, Rasanya aku harus menjahili adik kesayanganku itu supaya perasaanku membaik dan tak karuan lagi.
***
Seminggu berlalu
Tanpa terasa kini waktu yang aku tunggu tunggu pun tiba dan kini aku menunggu Inara datang dengan perasaan tak sabarnya.
__ADS_1
Sesekali Aku mengecek hpku berharap Inara mengechat duluan dan menjanjikan tempat untuk memberi kepastian.
Namun hanya anganku saja berharap orang yang kutunggu menghubungiku lebih dulu, Namun nihil tak sekalipun Inara mengechatku atau menelponku duluan.
Jam berlalu, menunjukan jam delapan pas dan orang yang kutunggu belum tiba, Tak biasanya ia terlambat.
Setelah bel sekolah berbunyi dan pintu kelas terbuka. Aku tersenyum lega, Lega rasanya orang yang ku tunggu sejak tadi akhirnya datang.
Senyumku pun perlahan memudar tatkala orang yang ku tunggu menggandeng pria berseragam sama denganku. Tinggi, putih dan lumayan ganteng, Sok keren pula.
Ada yang berdenyut, perasaanku kecewa, kesal dan marah menjadi satu. Inara menuntun pria itu ke depan dan menunjukan senyum termanisnya.
Aku kehilangan akal saat melihat senyum itu untuk pria lain, dan aku kecewa Inara tak memandangku sama sekali.
Pria di depan sana dikenalkan oleh guru, namanya Alvin Bagaskara anak Keluarga Alvino yang terkenal kaya raya dan banyak cabang perusahaannya.
Ah bodo amatlah mau dia anak tunggal kaya raya sekaligus sultanpun aku tak peduli. Itu bukan urusanku, yang menjadi masalahnya Ia terus menatap Inaraku padahal banyak gadis lainnya.
Si Alvin dipersilahkan duduk oleh guru, dan ternyata memilih duduk di dekat Inara karna si Riyan tak sekolah.
Aku kesal tanpa pikir panjang aku berlalu saat pelajaran akan berlangsung, tak ku hiraukan teriakan guru dari dalam, Bodo amatlah aku kecewa saat ini.
***
"Lo cemburu sama si Inara? Gak nyangka gue, emang lo udah jadi cowoknya?" Hasbi tiba dipintu toilet ia bersandar sambil menatapku aneh
Aku abaikan pertanyaannya liat mukanya saja bikin muak, ku usir ia supaya keluar biarlah aku ingin sendiri dulu untuk saat ini.
Sampai pelajaran berakhir aku tak masuk kelas sama sekali, Aku ke kelas dika dan mengajaknya pulang bareng karna tadi pagi ia tak bawa kendaraan biar dia sajalah yang membawa karna rumah kita searah.
Aku melewatinya tanpa melihat ke arahnya aku berpaling muka ke samping, sok cuek padahal hati ini berharap Inara menghentikanku dan bilang sesuatu.
Namun nihil saat aku keluar gerbangpun ia tak memanggilku, aku malah makin kecewa terhadap Inara. Lantas aku berhenti dibelokan ingin melihat dia keluar dan ada rasa ingin mengantarnya, namun karna rasa kecewanya aku cuma melihatnya dari kejauhan.
Disaat aku menajamkan penglihatanku Inara ternyata berjalan berdua dengan pria, seperti tak asing Ya itu Alvin, dan Alvin mengantarkan Inara pulang dengan mobil mewahnya.
Dan pada akhirnya akupun pulang dengan berbekalkan rasa kecewa, marah, kesal dan cemburu menjadi satu.
***
Aku sampai rumah dengan keadaanku kusut, kacau gundah gulana, aku membanting pintu kamar dengan kerasnya.
Aku melepaskan baju dengan sedikit kasar membuang ke sembarang arah, aku berlalu ke kamar mandi. lalu mengguyur tubuh ini dengan air dingin.
Ahh segarnya otakpun kembali mencair dan berfikir jernih setelah dirasanya cukup segar aku menyudahi aktivitas mandiku dan mengambil handuk dari tempatnya.
***
Setelahnya aku rebahan dipembaringan, aku menimang nimang pikiranku telpon tidak, telpon tidak.
Ya aku stelah mandi dan berpakaian aku tak keluar kamar sama sekali, Rasanya ingin mendengar suara Inara meski lewat telpon sekalipun.
Ah tanpa pikir panjang aku tekan panggil no 'My Queen' diponselku, tak berlangsung lama ia mengangkatnya. Aku berpikir mungkin diapun merindaku kanku.
Terdengar dari suaranya sangat jelas bahwa ia juga mengharapkan panggilan dariku juga.
__ADS_1
"Iya ada apa lagi mi?"
Aku bergeming tanpa ingin bersuara sepatah kata pun, ingin mendengar kelanjutannya apa saat ia ucapkan.
"Emm maaf, kirain umi ternyata kamu" suara di sebrang sana melemah.
Ternyata bukan mengharapkan panggilan dariku, ia menyangka aku bibinya. Hah berharap lebih memang menyakitkan.
Akupun memutuskan panggilan dariku, Aku kecewa dikira dia juga sama merindukan suaraku, ternyata tidak sama sekali.
Aku memutuskan keluar kamar, ingin mengisi perut yang sedari tadi berbunyi tanpa berhenti, ya sudah aku mengisi dulu perutku supaya ia diam.
***
Setelah mengganjal perut dengan nasi akhirnya cacing di perutkupun diam, aku beranjak dari dapur menuju ruang tamu dan duduk didepan Tv.
Sayup sayup kudengar suara orang mengobrol dari luar ternyata abangku membawa temannya, aku beranjak dan menuju teras luar.
Ternyata abangku mengobrol dengan A Iky anaknya pak Ahmad wakil kepala sekolah di sekolahku, aku menghampirinya dan ikut nimbrung.
"Mi bawakan minum buat Iky" perintah abangku sebelum aku duduk.
"Oia tunggu ya a" Ucapku ingin berlalu.
"Nggak, gak usah tadi udah beli minum dijalan lagian udah nggak haus" Larang a Iky, akupun duduk kembali.
"Ada apa bro, tumbenan keseni kan kemarin sekripsinya dah selesai" tanya abangku ke A Iky.
"Ini gue mau ngajak lu nginep di rumah gue, kebetulan umi sama abah nggak ada, mereka menjenguk kakek yang sedang sakit dikota F"
"Emm.. Oke ntar aku kesana deh bareng Fahmi" Ucap abangku,
Aku melongo masa iya harus nginep dirumah A Iky satu atap dong sama Inara. Ada rasa senang akhirnya aku menemuinya bukan dilingkungan sekolah saja.
"Oh ya udah bawa adik lu sekalian, mungkin juga ia kenal dengan ara kan satu sekolah"
"Ah iya" abangku menatapku.
"mau mi nginep dirumah temen abang" tanyanya.
Lantas aku mengangguk dan mengiyakan ajakannya.
Aku berpamitan lalu masuk, karna A Iky mau nyantai dulu dirumah bareng abangku. Lantas aku memanfaatkan waktu itu untuk meminta Izin ke Inara.
Yah walaupun aku sedang kecewa ya haruslah Izin kasian ntar nungguin aku lagi. haha pd banget gue.
[Ra aku mau kerumah temanku ya]
Tak ku beri alasan jelas mau kerumahnya, biar dia kaget aku ingin melihat expresi wajahnya ketika melihatku masuk.
.
.
Sudah dulu ya, maaf gaje baru permulaan🙏
__ADS_1
Next Partya💖