Perjalanan Gadis Kampung

Perjalanan Gadis Kampung
Part 31


__ADS_3

Di Sekolah


Kelas TKJ3 sangat gaduh dan berisik, Alvin hanya menatap nanar teman temannya yang tampak terlihat bahagia bermain dan bercanda, ia melihat bangku depan diujung kiri dekat jendela tatapannya penuh rasa kecewa dan marah namun ia kendalikan demi keamanan yang lainnya.


"Melamun aja Al, kamu tampak kurusan sekarang kenapa?!" Tanya salah satu teman sekelas wanitanya.


Namun Alvin tak mengubris ucapan tersebut, ia malah sibuk dengan ponselnya gadis tersebut baru paham kalau Alvin tengah galau sekarang. Ia mengerti tanpa pamit gadis itu pergi meninggalkan Alvin yang sama sekali tak menganggapnya ada.


Ya gadis itu Dina Amyra yang dulu sering julid terhadap Inara. Semenjak Inara menghilang dari sekolahan dan dinyatakan pindah sekolah ke kampungnya lagi Dina mengalah tuk tak mencintai orang yang salah, Dina sempat mengejar Alvin namun Alvin menjelaskan bahwa dirinya tak tertarik terhadap Dina, dihati Alvin sudah ada seseorang dan sejak saat itu Dina berusaha mengikhlaskan Alvin dan memutuskan akan menjadi teman sekelasnya saja.


"Al lu kenapa? Bengong mulu dari tadi, lu udah dapet kabar sahabat gue belum?" serentetan pertanyaan seseorang layangkan kepada Alvin yang tengah menatap wajah ayu wanitanya.


"Hehh lo dengerkan gue ngomong?" ucapnya lagi. Ya dia Riyan Sahabat Inara.


"Iya gue denger begoo" jawab Alvin tanpa melirik Riyan sekalipun.


"Terus kenapa lo gak jawab!" tanya Riyan kembali.


"Gue lagi liatin dia" tunjuk Alvin ke gawaynya.


"Liatin fhotonya doang gak bakal ilang tuh rindunya, mending lu cari sendiri terus lu nikahin biar hidup gue tenang" ucap Riyan gamblang.


"Lu ngomong gampang, emang gue gampang apa cari dia" sewot Alvin dengan tatapan tajamnya.


"Ya kan lu orang kaya Al, apa apa tinggal nyuruh! lu kayaknya sayang duit ketimbang teman gue, katanya cinta kok gak dikejar cemen bae luh" cerocos Riyan tanpa henti nembuat Alvin meradang dan menarik Riyan keluar menuju halaman Wc yang cukup sepi.


"Dengerin gue ya biar lu gak salah paham mulu sama gue. Gue udah kerahin Bodyguard ayah gue buat cari Inara dan ternyata diberhentikan sama bosnya sendiri, gue bisa apa yan? gue masih status pelajar sedangkan lo tau sendiri gue dikawal terus" iya menjeda ucapannya dan mengacak rambutnya prustsi.


"Gue tau lu khawatir sama sahabat lu, apalagi gue yang sempat memiliki perasaan untuknya dan perasaan itu masih ada dan semakin dalam, dan ia satu lagi lo cari akun Facebook Cahaya Kecil kalau fropilnya sama sperti ini lo beri tahu gue ya!" ucap Alvin setelah ia menyimpan kembali gawainya ke saku celana stelah menunjukan fhoto fropil yang ia sebutkan tersebut.


"Siapa lagi dia Al, jangan macem macem kamu!" ucap Riyan lantang stelah Alvin melangkah jauh dari hadapannya.


"Ishh dasar orang gila, cepat kembali Ara baby ku. Biar orang gila itu cepat sembuh" gumam Inara pelan sambil menginjak injakan kakinya ke tanah.


Ia bergegas ke kelasnya tanpa Riyan sadari ada sosok laki laki yang mengawasinya dari belakang dan itu Fahmi ia ingin mengetahui percakapan antara Alvin dan Riyan karna ia sempat melihat Alvin menyeret sahabat Inara tersebut ke belakang sekolah dan membuntutinya namun sangat disayangkan ia tak mendengar apapun ia hanya melihat gerakannya saja.

__ADS_1


"Apa yang dibicarakan si bengek Alvin ya, apa ia tahu keberadaan anak gue dimana?" gumam Fahmi pelan dan menggigit kuku jarinya kebiasaan Fahmi kala kebingungan.


Fahmi sekarang mulai berubah ia sperti laki laki pada umumnya mungkin garis besarnya sadar atau taubat akan perbuatannya, bukan menginginkan Inara kembali itu sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin karna Inara sangat membenci dirinya.


Meskipun itu mungkin Fahmi tak akan bisa menghadapi Inara ia akan malu akan perbuatannya sendiri, Fahmi cuman mencemaskan satu hal darah daging yang Inara kandung tak memiliki ayah dan bagaimana khidupannya kelak? Tanpa diketahui Fahmi juga mencari keberadaan Inara lewat teman teman gengnya.


"Maafkan aku Ara, kamu harus menanggungnya sendirian maafkan papa juga nak! tak bisa menjaga kalian" ucapan Fahmi lirih dengan berjalan gontai menuju kelasnya.


"Nggak disangka gue masih muda sudah jadi bapak, dia bakal mirip siapa ya?" Fahmi bergerutu lumayan keras sampai Hasbi bertanya.


"Siapa yang milip lo bro! Anak kambing?" Ucap Hasbi dengan gelak tawa yang kencang.


"Eishh ada ada aja lo. Mana ada anak kambing ganteng kayak gue" Seru Fahmi tak terima.


"Siapa tau aja lo gak bisa nahan hasrat, ketika lo tobat sekarang! kan orang tobat cobaanya berat mi.. Ha ha hah" gelak tawa diseluruh ruangan itu dipenuhi suara tawa Hasbi saja.


"Udah diem guru pelajaran terakhir datang tuh" ucap Fahmi meredakan tawa sahabatnya.


Sedangkan Alvin menatap punggung Fahmi begitu tajam 'masih ada orang seperti dia stelah mereguk madu ia buang bagaikan sampai, laki laki macam apa dia' gerutu Alvin dalam hatinya.


"Udah Al jangan ditatap entar jatuh cinta lagi" ucap Riyan menggoda Alvin disebelahnya yang tengah pokus menatap punggung Fahmi tersebut.


Pelajaran terakhir dimulai siang ini dengan guru yang amat bohay tersebut membuat Hasbi tak pokus belajar karna ia baru baru ini menaksir guru baru B.Inggris tersebut Namanya Bu Guru Dona.


Di Kampung dukuh


"Pa mari kita ke dokter saja ya, Bapak sudah sakit sakitan terus kan kata dokter juga harus kontrol seminggu sekali kesana" ucap sang Istri yang khawatir akan keadaan suaminya.


"Biarlah mah Bapak masih kuat berjalan kok, nggak usah lebay" balas Pak Somad lemah.


"Ya sudah terserah Bapak saja, tapi Mamah khawtir liat Bapak seperti sekarang ini tak berdaya dan lemah" Seru sang Istri kembali.


Sang suami tak menjawab atau mengubris istrinya tersebut ia malah bergelut dengan pikirannya tentang sang anak, sejak ia mengusir anak kandungnya ia jatuh sakit memang penyakitnya akan terobati namun Pak Somad malas chek up ia malah mendiamkan dirinya dirumah tanpa berobat.


'Maafkan Bapak nduk, mungkin ini karma atas perbuatan Bapak mengusir dirimu. Maafkan Bapak!" batin Pak Somad menjerit kala ia mengingat pengusiraan anaknya yang begitu kejam dan tanpa rasa iba.

__ADS_1


Ibu Winda berlalu dari hadapan sang suami ia menuju kamar sang anak, ia duduk ditepi ranjang dan mengusap ngusapkan tangannya dengan lembut ke tempat yang ia duduki 'Dimana kamu sayang, Mamah merindukanmu'


Orang tua mana yang tak sedih jika kehilangan anaknya anak satu - satunya yang ia besarkan kini telah pergi meninggalkan khidupan Ibu Winda ia menangis dalam diam meratapi khidupannya yang sekarang.


Suami yang memiliki penyakit serta dirinya tak bisa melupakan kejadian 6 bulan yang lalu. ia hanya bisa menangis dan berdiam diri dikamar putrinya kala dirinya sangat merindukan Inara sang buah hati.


"Mah kemari sebentar" teriak Pak somad dari ruang keluarga.


"Iya Pa" Ibu winda bergegas keluar serta mengelap air matanya yang basah.


"Buatkan Bapak makanan, Bapak lapar dan ingin makan sesuatu" seru Pak somad tanpa menatap Istrinya.


"Mau dibuatkan apa?" tanya Ibu winda lembut.


"Terserah mamah saja".


"Yasudah Bapak tunggu disini saja yaa! mamah masak dulu" ucapnya, Ia melewati sang suami berlalu ke ruangan belakang.


Setelah ia di dapur Ibu winda seketika diam sejenak, menetralkan hatinya untuk tidak selalu memikirkan anaknya karna stiap ia memikirkan sang putri kerjaannya sudah pasti tak akan kelar dan beres malah menjadi terbengkalai dan sang suamilah yang selalu menegurnya kala dirinya melamun.


Kembali ke kota bogor tempat Inara tinggal sedang ramai dengan kehadiran Maya juga Lusi.


Tepatnya hari minggu Inara mengajak sang sahabat barunya untuk menginap dirumahnya kembali ia bukannya takut namun sangat merindukan rumah yang ramai dan riuh suara suara manusia bersahutan.


"Kamu diam saja ra, gak usah banyak gerak lagi. biar kami saja yang bereskan semuanya! Oke" ucap Lusi dengan tanda hormatnya.


"Aku gak enak sama kalian tau kalian itu habis kerja masa disuruh untuk beresin rumah gak tega tau" balas Inara cemberut.


"Justru aku yang nggak enak sama kamu, kamu sedang hamil besar ara! malah aku resah kalau sedang bekerja ninggalin kamu sendiri, sekarang kamu diam saja oke gak boleh banyak gerak dan jangan membantah" Seru maya panjang lebar.


Inara hanya mengangguk pasrah iya mungkin sahabat - sahabatnya benar kandungannya sudah besar dan bulan sekarang lah HPLnya.


.


.

__ADS_1


๐— ๐—ฎ๐—ฎ๐—ณ ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—จ๐—ฝ ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ธ๐˜‚ ๐˜€๐—ถ๐—ด๐—ป๐—ฎ๐—น๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ท๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ธ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ฎ๐—ณ ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ ๐—ด๐—ฎ๐—ท๐—ฒ ๐—ฐ๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ. ๐—•๐—ฎ๐—ป๐˜๐˜‚ ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š


Next Part๐Ÿ’–


__ADS_2