Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
MENDUA SEJAK AWAL


__ADS_3

Tepat pukul 09.00 pagi aku memutuskan untuk mendatangi Erik,tapi sebelum itu aku memberitahu April untuk stay saat aku telpon agar dia mendengar percakapan kami.


Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum."lama mengetuk pintu tapi belum ada jawaban, sambil menunggu ku telpon April dan menyuruhnya untuk diam agar bisa mendengarkan percakapan kami.


"Wa'alaikum salam,"Jawab temannya Erik sambil membuka pintu.


"Eriknya ada," Tanyaku lalu melirik pada Erik yang baru bangun tapi aku hanya berdiri di depan pintu tidak berani untuk masuk dan ponsel aku simpan di saku agar tidak ketahuan lagi telponan sama April.


"Ada apa datang sepagi ini ???" Tanya Erik sambil duduk di kursi membawa bantalnya,masih terlihat mengantuk.


"Masih bertanya ada apa setelah kamu ketahuan sekarang..." Masih santai.


"Sudahlah nggak usah di bahas,masih pagi," Dengan santainya dan tanpa rasa bersalah.


"Oh... jadi seperti ini kamu yang sebenarnya." Batinku.


"Jadi kamu benar pacaran sama april sudah hampir 2 tahun." Nadaku mulai tinggi.


"Iya aku memang pacaran tapi cuma kamu yang aku pilih,aku tidak ada perasaan sama dia dan akan aku putuskan April demi kamu."Ucapnya dengan santai tanpa ada sedikitpun rasa bersalah di wajahnya dengan santai.


Merasa tidak tahan lagi dengan sikapnya,segera ku ambil ponsel yang ada di saku baju.


"Halo april kamu dengar apa yang di katakan Erik." Tanyaku pada April sekaligus merasa puas telah menjebak Erik dak kebohongannya terbongkar.


"Aku dengar semuanya cha dan kalau memang Erik mau sama kamu aku yang mundur". Ucap April yang sudah mulai emosi mendengar perkataan Erik.

__ADS_1


"Jadi kamu telponan sama April dari tadi,sini handphone kamu." Tanpa ragu Erik Memukulku dengan bantal dan berusaha meraih hp yang ku pegang.


"Nanti kita lanjut April aku mau bicara dulu sama orang ini."Tatap ku ketus ke Erik.


"Iya cha,seandainya saya yang di sana cha mungkin sudah aku bawakan balok biar dia tau rasa sekalian." April Makin emosi.


"Ya udah April kamu sabar aja aku bicara dulu."Ku matikan matikan ponsel lalu ku tatap Erik dengan tenang tapi penuh amarah.


Erik yang merasa terjebak tidak terima jika di perlakukan seperti itu malah berbalik marah,"Ngapain kamu telpon April seperti itu,seperti anak kecil saja.Kamu pulang aja dulu aku masih mau tidur."Tanpa perasaan Erik mengusir dan memukul menggunakan bantal.


"Nggak perlu di suruh juga saya sudah mau pulang,lagian semuanya sudah jelas dan saya tidak butuh penjelasan apa-apa lagi,semuanya sudah jelas." Dengan tenang Aku melangkahkan kaki keluar dari halaman kosnya dengan senyuman tanpa ada air mata,sangat kecewa tapi dengan sikapnya yang biasa saja sudah sangat jelas untuk aku tidak ingin mempercayai dia lagi.Buatku tidak ada alasan lagi untuk memprcayai Erik karena sekali pembohong akan selamanya seperti itu.


Berhubung semua urusanku di kampus sudah selesai,Pada hari yang sama, aku memutuskan untuk pulang ke kampung bersama sepupu,ingin menjauh dari Erik dan juga mempersiapkan lamaran kakakku.


Di jalan erik terus menghubungiku tapi tidak aku pedulikan dan ku biarkan dia bersama April,toh April ingin tetap bersama dan masih menerima Erik yang meski hatinya sudah terbagi.


"Mungkin Allah ingin aku sendiri,mungkin inilah jawaban dari kebimbanganku.Jadi aku bisa fokus untuk mendekatkan diri dengan Allah." Batinku,adanya masalah Aku dengan Erik.Membuat pikiranku terbuka dan paham bahwa Allah ingin aku menjadi lebih baik lagi dengan kesendirianku.


🌸🌸🌸🌸


Setelah sholat Isya,aku merebahkan tubuhku di kasur.Menghilangkan lelah setelah perjalanan jauh,tidak berselang lama.Masuk panggilan yelpon dari April.


Kringg.....kringg.....


"Assalamualaikum."Salam ku duluan.


"Wa'alaikum salam,Erik menghubungi kamu cha???" April langsung bertanya pada intinya.

__ADS_1


"Iya tapi tidak aku angkat telponnya."Jawabku singkat.


"Dia hubungi aku juga cha katanya dia akan putusin kamu demi aku."Cerita April.


"Nggak perlu di putusin karena dari awal kami nggak pacaran,buat aku sikapnya tadi itu sudah cukup untuk aku mengerti bagaimana dia sebenarnya dan sejak awal aku sudah peringatkan kalau dia punya pacar aku nggak akan memberikan kesempatan lagi karena buat aku sekali berbohong akan selamanya seperti itu." Ucapku santai.


"Aku juga kecewa cha tapi dia berusaha meyakinkan aku." April masih terpengaruh rayuan Erik.


"Kalau kamu memang masih ada perasaan sama dia dipertahankan saja karena aku juga sudah mundur,tinggal kalian berdua." Aku mendukung mereka.


"Tapi aku nggak enak cha jadi pengganggu di antara kalian,biar bagaimana pun kamu yang duluan kenal."Ucap April yang merasa bersalah dan tidak ingin jadi pengganggu.


"Iya memang aku yang duluan tapi dia juga mendekati kamu jadi sama saja,pertahankan saja jika kamu mau." Saranku.


"Jujur cha aku masih sayang tapi aku masih bingung,kita liat saja dulu usahanya untuk bertahan baru aku putuskan lanjut atau tidak." Ucap April yang masih bingung.


"Iya dari kamu saja,yang pasti saya sudah mundur dari awal." Balasku.


"Ya udah cha terima kasih atas waktunya." Pamit.


"Iya,kamu istirahat biar bisa cepat sembuh dan nggak drop-drop lagi cuma karena dia."menutup telpon.


Semenjak kejadian kemarin,April jadi drop.Sepertinya banyak pikiran dan tidak teratur makan jadi harus di infus.Begitu sayangnya pada Erik,sampai rela menerima Erik kembali meski tau perasaan Erik terbagi untuk perempuan lain tapi April masih tetap ingin bertahan.


Aku salut sama April yang begitu tulus pada Erik tapi sayang Erik tidak melihat itu sama sekali,hanya mementingkan Egonya saja.Seandainya Erik mau membuka hati untuk April sepenuhnya,mungkin mereka akan bahagia tapi sayang Erik masih ingin mempertahankan ke duanya padahal itu tidak mungkin.


Aku memang bodoh tapi tidak sebodoh itu,menjadi pengemis cinta untuk laki-laki yang belum pasti.Lebih baik aku memperbaiki diri dan menjauh dari yang namanya laki-laki,hingga saatnya nanti Allah mempertemukan aku dengan orang yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2