Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
TAMU YANG TAK DI UNDANG


__ADS_3

Suara Adzan mesjid di dekat rumah,membuat aku terbangun dan bergegas mengambil air wudhu untuk sholat tak lupa ku sempatkan untuk mengaji selepas sholat subuh.


Melihat keluar rumah sudah terlihat agak terang namun matahari belum memunculkan sinarnya,sekilas terdengar kicauan burung di pagi hari yang selalu membuat aku makin rindu suasana kampung setiap kali mendengarnya.Ku pandangi sekitar rumah yang semakin hari sudah terlihat banyak perubahan.Rumahku yang dulu di kelilingi oleh tanaman padi kini berubah jadi rumah-rumah tetangga.


Rencana awalnya pulang karena ingin pergi refreshing tapi ternyata nggak ada teman jadi hanya di rumah saja,seperti biasa hanya bersih-bersih rumah,mandi terus santai-santai di depan tv.


Tak lama berselang terdengar suara mama dari luar,memanggil keluar.Beberapa saat tidak lagi terdengar suara mama,penasaran maka ku ambil hijab sebelum keluar.Langkahku terhenti di depan pintu melihat ada 3 orang yang duduk berbicara dengan mama,melihatku yang hanya berdiri di pintu mama menghampiriku.Menyuruh aku mempersilahkan mereka masuk ke rumah.


"Persilahkan temanmu masuk ke dalam,biar mama buatkan minum." Berlalu pergi ke dapur membuat minuman.


"Ryan ???" hanya itu yang bisa ku katakan saat pertama melihat laki-laki yang aku pikir tidak akan pernah muncul lagi di hadapanku tapi malah sebaliknya datang ke rumah orang tuaku yang masih membuat aku bingung maksud kedatangannya itu.


"Assalamualaikum icha." sapa Ryan dengan senyumannya yang terlihat manis dan tampan.


"Wa'alaikum salam...kok bisa sampai di sini ??? bukannya kamu nggak tau alamat rumah ini ??? " Tanyaku yang masih bingung,bagaimana Ryan bisa ke sini sementara dia sendiri tidak tau alamat pasti rumahku.


"Kan ada maps cha jadi gampang ???" Dengan santai dan senyuman tipisnya Ryan menjawab.


"Serius deh Yan,kan kamu nggak tau alamat pasti di sini ??? kemarin juga pas datang kan sama kak Raka jadi pasti kamu belum tau."


"Sebenarnya aku lupa-lupa ingat sih cha tapi karena ada bantuan maps jadi aku bisa sampai ke sini."Masih senyum-senyum,entah apa maksud dari senyumannya itu yang justru membuat aku semakin bingung dengan Ryan yang beberapa minggu ini menghilang tapi tiba-tiba muncul di rumah.


"Nggak mungkin kamu menggunakan maps jika tidak tau alamat nya ??? dapat alamat di sini dari mana ???" Mataku sedikit melotot menatap ryan yang terlihat begitu santai sementara aku sejak tadi sudah bingung.


"Ok...sebenarnya aku minta alamat kamu dari kak raka." Ryan mulai mengerti dengan tatapku membuat dia tidak bisa menutupinya lagi.


"Kok bisa..." Belum selesai pertanyaan ku ibu datang dari dapur membawa minuman ke ruang tamu mempersilahkan mereka masuk.


"Tamunya di suruh masuk dong cha,jangan di luar aja." Tegur ibu yang sudah menyusun kue-kue di meja.


"Ryan,silahkan masuk ke dalam."Ku persilahkan Ryan dan yang lain masuk sementara ibu kembali ke dapur,entah apa lagi yang di persiapkan di dalam.


" Nggak apa-apa kan cha kalau aku datang ke sini ??? Nggak mengganggu kamu kan ???" Tatap ryan dengan sedikit serius yang membuat aku agak grogi dengan tatapannya.


"Sebenarnya nggak apa-apa,Apalagi kalau niatnya untuk silaturahmi sih nggak masalah."Aku berusaha untuk tidak terlihat grogi di depan ryan.


" Memang niatnya ke sini untuk silaturahmi dan ketemu orang tua kamu."Tatap ryan lagi,membuat aku makin salah tingkah sekaligus bingung mencerna maksud kata-katanya takutnya aku yang salah mengerti nantinya.


"Ya... kalau ketemu orang tuaku pastinya ketemu, kan ini rumah mereka." Masih menjawab dengan santai dan sedikit hati-hati takut salah jawab.


"Hmmmm memang itu tujuannya." Masih menatap dengan senyum yang sama.


"Maksudnya???" Ku bulatkan mataku melihat Ryan yang masih tersenyum dari tadi.


"Nggak maksud apa-apa cha,cuma mau ketemu aja sekalian jalan-jalan." Menjelaskan dengan nada yang begitu lembut.


🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Terdengar lagi suara panggilan dari mama di dalam dapur,ku hampiri mama di dapur. Tangannya yang sudah sibuk menata makanan di meja makan,menyuruhku memanggil tamu untuk makan siang bersama.


"Panggil teman kamu sekalian,biar kita makan bersama." melirik lalu kembali fokus pada makanan yang di sediakan.


Ku hampiri Ryan dan yang lain,memanggilnya menuju meja makan yang sudah di siapkan oleh mama.


"'Silahkan duduk,maaf yaah makanan seadanya maklum kalau di kampung." Ucap mama sambil tersenyum mempersilahkan mereka duduk.


"Nggak apa-apa tante justru ini enak tante,nggak ada di kota yang seperti ini." Balas Ryan dengan sedikit bercanda membuat suasana di ruang makan mencair.


Ryan pamit sholat ke mesjid yang kebetulan dekat dari rumah.Sementara aku dan adiknya yang perempuan(Rina) hanya sholat di rumah.Sambil menunggu Ryan pulang dari mesjid aku mengajak Rina keluar di teras untuk bicara sekaligus ingin cari tau maksud Ryan datang ke rumah.


"Rina,tadi berangkat jam berapa ke sini ??? " Tanyaku untuk memulai pembicaraan.


"Kalau tidak salah jam 10 kak,tapi karena macet jadi kita lambat sampai ." Jawab Rina tanpa curiga.


"Ooo...Kok bisa Ryan jalan-jalan ke sini,kenapa nggak ke mall ???" Tanyaku dengan hati-hati.


"Nggak tau tuh kak Ryan,aku cuma di ajak jalan tapi nggak bilang mau ke sini.Katanya biar aku nggak sendiri di rumah solnya mama sama papa lagi keluar kota nanti sore baru pulang." Ucap Rina memanyunkan mulutnya.


" Ooo gitu."Aku hanya mengangguk mencoba mencari pertanyaan yang lain.


"Memang kenapa kak ???" Tanya Rina penasaran.


"Nggak apa-apa,maksud aku tumben Ryan ke sini tapi nggak kasi kabar dulu sama kakak." Jawabku pelan.


Di tengah perbincangan kami yang asyik,Ryan datang menghampiri lalu duduk di samping adiknya di susul sepupunya Arya.


"Wah sudah akrab aja nih." Ucap Ryan sambil duduk menatapku dan juga Rina.


"Iya nih kak,kata kak Icha di sini banyak tempat wisata yang bagus.Ayo dong kak kita ke sana mumpung lagi di sini." Rengek Rina yang sudah penasaran dari sejak awal.


"Tapi kakak nggak tau jalan di sini kecuali kalau Icha ikut kita bisa ke sana,iya kan cha???." ucap Ryan menatapku.


"Iya nanti aku tunjukkan jalannya tapi itu ada di gunung dan perlu waktu sekitar 20-30 menit untuk sampai di sana,gimana ???" Ucapku agar mereka tidak kaget nantinya.


"Nggak masalah,asal ada penunjuk jalan dan kamu senang aja." Canda Ryan sambil tersenyum.


"Kalau begitu aku ganti baju dulu sebentar sekalian pamit sama mama." Aku hanya melirik Ryan yang tertawa lalu masuk ke kamar ganti baju.


Beberapa menit kemudian,selesai ganti baju dan pamit kami berangkat.Mobil melaju dengan kecepatan sedang mengingat Ryan baru melewati jalan ini yang menanjak dan berbelok-belok.


Sekitar 30 menit kami sudah sampai di tujuan,mobil berhenti tepat di tengah padang rumput yang luas.Masih terlihat indah dan terawat,Rina yang turun dari mobil langsung mencari tempat yang bagus untuk mengabadikan momen yang tidak boleh terlewatkan mengajak sepupunya Arya untuk memegang ponselnya sebagai kameramennya.


Aku dan Ryan mengikuti mereka dari belakang,memperhatikan Rina yang begitu bahagia melihat pemandangan yang begitu indah.Kami berdua hanya tersenyum melihat tingkah adik Ryan itu.Tanpa satu kata pun keluar kami hanya terus berjalan menuju arah Rina tapi saat aku ingin mendahului Ryan,tanpa sengaja Ryan memegang lenganku yang kemudian tiba-tiba di lepaskan.


"Maaf cha,aku nggak bermaksud, tadi aku liat jalan di sana basah takutnya licin jadi aku refleks." Jelas Ryan dengan raut wajah yang bersalah.

__ADS_1


"Nggak apa-apa yan,ayo kita ke sana." menunjuk ke arah adiknya Rina.


"Tunggu cha,aku mau bicara sebentar sama kamu." Ucap Ryan yang sedikit gugup dan terlihat serius.


"Mau bicara apa ??? kan dari tadi udah bicara." Ucapku ingin mencairkan suasana agar tidak terlalu serius.


"Aku mau bicara sesuatu,boleh ???" Raut wajah Ryan makin serius.


"Boleh,bicara aja." Ku persilahkan Ryan yang sudah terlihat serius dari tadi dengan tatapan yang tanpa ekspresi.


"Kita cari tempat yang sedikit menjauh dari Rina dan Arya agar tidak kedengaran mereka dulu tapi yang masih terlihat oleh banyak orang biar nggak ada yang salah paham." Matanya masih melirik ke sana kemari mencari tempat yang menurutnya bagus.


"Di sana sepertinya bagus,nggak terlalu jauh dari Rina tapi mereka masih bisa melihat kita." Menunjuk ke arah tepi gunung yang di kelilingi pemandangan indah.


"Sepertinya tempat ini sangat tepat untuk bicara sekarang." Ucap Ryan memandangku dengan tatapan serius.


"Emang mau bicara apa ??? " Ucapku dengan tatapan sirius lalu mengalihkan pandangan pada pemandangan sekitar.


"Tapi kamu jangan marah ya???" Tatapnya lagi.


"Iya tapi apa ???" Tanyaku makin penasaran.


Ryan berhenti sejenak,menarik nafas lalu menghembuskannya.Mengatur irama detak jantungnya yang sudah tidak beraturan dari tadi,ada rasa gugup dan takut di hatinya.Jika apa yang di sampaikan justru membuat aku marah,tapi Ryan berusaha untuk tetap mengatakannya dan menerima apa pun yang terjadi nantinya.


"Aisyah,Aku ingin melamar kamu di depan orang tua kamu.Apa kah kamu mengizinkan???" Tatap Ryan lalu membuka kotak merah berisi cincin yang sudah di persiapkan dari tadi.


"Hhaaaa..." Aku tidak bisa berkata apa-apa melihat cincin yang ada di kotak itu sudah ada di depanku,aku hanya menganga lalu menutup mulut dengan kedua tanganku seakan terhipnotis oleh cincin di kotak merah itu tapi aku masih diam.


"Aisyah,boleh aku melamar kamu di depan orang tua kamu???" Tanya Ryan lagi dengan tatapan yang sama.


"Ini serius atau bercanda ???" Aku mencoba tenang agar tidak terkecoh takut Ryan hanya ingin latihan saja sebelum benar-benar melamar perempuan lain.


"Aku serius Aisyah dan aku butuh jawaban itu sebagai jalan untuk aku menemui orang tua kamu setelah dari sini,kalau kamu terima maka ambil cincin di kotak ini tapi jika tidak maka tutup kotaknya lalu di buang." Tatapan Ryan yang penuh ke seirusan tanpa ada candaan lagi.


"Jika kamu serius temui orang tuaku." Ku tatap sejenak wajah Ryan yang penuh ketulusan lalu ku ambil cincin yang ada di dalam kotak merah itu,hanya ku genggam dan tidak aku pakai.


"Berarti aku boleh melamar kamu,tapi kenapa cincinnya nggak di pakai ???." Terlihat senyum bahagia terpancar dari wajahnya.


"Boleh,tapi selebihnya kamu yang berusaha meyakinkan mereka karena semuanya aku serahkan kepada mereka.Aku hanya ikut apa pun jawaban mereka dan soal cincin ini nanti kita liat setelah kamu bicara dengan orang tuaku." Ucapku dengan wajah datar menyembunyikan rasa bahagia yang sebenarnya aku rasakan melihat Ryan membuktikan kata-katanya tapi aku belum bisa bernafas lega sebelum Ryan meminta restu langsung pada orang tuaku.


"Niat aku baik cha,ingin melamar kamu dan membahagiakan kamu jadi aku yakin niat baik ini akan mendapatkan hasil yang baik juga." Ryan mencoba meyakinkan aku.


"Nanti kita liat setelah kamu bicara." tantang ku pada Ryan.


"Ok,tapi ini berarti kamu juga suka sama aku karena kamu terima cincin dari aku." Tanya Ryan penasaran dengan sedikit melirik ke arahku.


"Hmmm tadi kan minta izin melamar jadi aku izinkan tapi jawabannya tetap ada pada mereka makanya cincinnya nggak aku pakai." Mengalihkan pandangan agar tidak terlihat gugup di depan Ryan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa deh,yang penting udah di izinin aku juga udah bahagia dan lebih bahagia lagi kalau cincinnya udah kamu pakai nanti." Mengeluarkan senyuman termanisnya.


__ADS_2