Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
MEMINTA RESTU


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺


Selepas maghrib aku menghampiri ke dua orang tuaku yang sedang istirahat di depan TV,meminta mereka keluar menemui Ryan yang sedang menunggu di ruang tamu untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.


Sementara itu Ryan sudah mulai terlihat serius duduk di kursi ruang tamu,mungkin sedang menyusun kata-kata yang baik untuk meyakinkan ke dua orang tuaku,aku pun merasa gugup akan jawaban ke dua orang tuaku tapi kembali lagi ku serahkan semua kepada ke dua orang tuaku karena mereka tau yang terbaik untukku.


Tidak lama Papa dan Mama keluar,papa duduk tepat di depan Ryan di ikuti mama di sampingnya.Rina,Arya dan aku di kursi samping antara Ryan dan papa.


Terdengar suara Ryan yang tanpa ragu dan gugup meminta restu di depan orang taua ku,saat mendengar kata restu aku merasa merinding tidak menyangka ada seorang laki-laki yang berani datang untuk melamar ku di depan orang tuaku sendiri.


Dalam hati aku merasa kagum dengan Ryan yang telah membuktikan kata-katanya meski masih ada rasa tidak percaya bahwa Ryan telah melamar ku saat ini.


"Maaf Om tante,sebenarnya saya ingin meminta restu untuk anak om dan tante,saya ingin melamar anak om dan tante ???" Dengan raut wajah yang serius tapi masih terlihat sopan menatap papa.


"Maksudnya anak Ryan ini, ingin melamar anak saya Aisyah/icha." Ekspresi datar papa membalas Ryan.


"Iya om,saya ingin melamar anak Om, Icha dan saya tadi sudah bilang sama icha tapi icha menyerahkan sepenuhnya kepada Om dan tante.Saya harap om dan tante merestui kami karena orang tua saya pun sudah memberi restu.Ucap Ryan meyakinkan.


" Kalau Om dan tante sebenarnya tidak masalah asalkan orangnya itu baik dan menerima anak saya dengan baik maka saya merestui tapi kembali lagi sama icha,apakah dia menerima atau tidak karena dia yang menjalani nantinya,bagaimana Icha,apa kamu menerima lamaran Ryan???."Jawab papa dengan tenang lalu memandang ke arahku.


Dengan sedikit menunduk,aku mengangguk pertanda aku pun menerima lamaran Ryan.


Terdengar suara Ryan yang merasa lega dan bahagia lamarannya di terima."Alhamdulillah...maaf om,tante orang tua saya bilang rencana pernikahannya akan di langsungkan habis lebaran Idul Adha apa om dan tante setuju ???" Tanya Ryan lagi langsung membahas ke tahap selanjutnya.

__ADS_1


"Berarti tinggal 2 bulan lagi,nggak masalah.nanti masalah tanggal kita bicarakan saat keluargamu datang melamar secara resmi." Ucap Papa.


"Baik Om,nanti saya sampaikan kepada mereka.Maaf om,sebagai tanda saya telah melamar icha.Saya sudah menyiapkan cincin untuk Icha tapi icha tidak ingin memakainya sebelum ada restu dari Om dan tante jadi sekarang saya izin memakaikan cincin di tangan Icha lewat adik saya Rina." Ryan melirik Rina yang sudah duduk di sampingku sedari tadi,mengisyaratkan agar memasangkan cincin di tanganku.


Cincin yang sudah di depan meja dari tadi di buka oleh Rina lalu memasangkannya di tanganku,lalu ku pandangi Ryan sekilas yang memasang senyum bahagia di wajahnya dan ku balas dengan senyuman yang sama.


Meski cincin sudah ada di tangan tapi masih ada rasa takut dan ragu jika semuanya tidak berjalan dengan lancar,mungkin karena selama ini aku selalu di kecewakan sehingga takut hal ini pun terjadi namun aku berusaha untuk menghilangkan semua itu.


Pembicaraan pun sudah selesai,aku masuk ke kamar mempersiapkan barang-barang untuk kembali ke kota bersama Ryan mengingat besok aku masih masuk bekerja karena bulan depan aku sudah tidak di kantor itu lagi,sebelum di lamar Ryan aku memang sudah mengajukan resign dan masa resign ku sudah berjalan selama 1 bulan tinggal 1 bulan.


Memang sudah peraturan perusahaan seperti itu agar saat aku keluar nanti,ada yang bisa menggantikan aku di posisi yang sama.


Aku pamit pada papa dan mama,di ikuti Ryan dan yang lain.Papa dan mama hanya melihat kami dari kejauhan,melambaikan tangan di balas oleh aku dan Ryan yang kemudian menjalankan mobilnya.


Tanpa aku sadari,Ryan memperhatikanku dari tadi."Ada apa cha,kenapa kamu melamun ??? Apa ada yang mengganggu pikiranmu ???" Tanya Ryan khawatir.


"Nggak ada apa-apa yan." Sambil Menunduk ku jawab pertanyaan Ryan.


Tiba-tiba Ryan menghentikan mobil ke tepi,meminta Rina untuk ke depan di tempat Arya. Sementara Arya yang menyetir lalu Ryan duduk di sampingku di kursi belakang.


"Sebenarnya ada apa cha,kenapa dari tadi kamu hanya diam sejak berangkat ??? Apa kamu masih ragu atau aku ada salah ???" terlihat ada rasa khawatir di wajah Ryan menatap aku.


"Nggak apa-apa." Masih dengan ekspresi yang sama.

__ADS_1


"Nggak mungkin muka kamu seperti itu kalau tidak ada apa-apa,tolong jujur cha.Aku khawatir nih sama kamu." Ucap Ryan menatapku.


Aku menunduk memainkan jari-jariku,berpikir memulai pembahasannya dari mana dan apa berhak aku mempertanyakan ini tapi aku sendiri takut jika Ryan belum selesai dengan masa lalunya.


Ku angkat kepalaku dan aku memberanikan diri untuk bertanya untuk menemukan jawabannya."Sebenarnya tadi pas aku pegang ponsel kamu yang habis di cas di kamar,tanpa sengaja aku melihat layar ponsel ada pesan amara yang baru masuk.Mungkin kamu belum liat ponsel kamu dari tadi jadi kamu belum baca,jadi buka saja dulu.


Ryan bergegas mengambil ponsel yang ada di samping Arya,penasaran isi pesan amara yang membuat aku diam sedari tadi.


"Abang Ryan kok nggak pernah ada kabar,aku Rindu." isi pesan amara,Ryan terdiam sejenak mengatur nafasnya lalu melihat ke sampingku.


"Maaf cha kalau chat Amara membuat kamu terganggu tapi memang benar aku dan Amara sudah berakhir,mama sama papa juga sudah membicarakan itu sama orang tua Amara tapi mungkin dia belum bisa terima jadi bersikap seperti itu.Nanti aku akan bicara baik-baik sama amara agar dia mengerti kalau aku ingin menikah sama kamu." Ada tatapan ketulusan di mata Ryan yang membuat jantungku berdetak tidak menentu,untuk pertama kalinya aku menemukan tatapan dan perasaan seperti ini dan itu pada calon suamiku sendiri.


"Jika memang belum selesai,kenapa kamu datang melamar Yan,kalau begini aku juga bingung harus bagaimana !!! aku bingung Yan,nggak enak sama Amara." Nadaku yang sedikit tegas dan sedih pada Ryan yang masih ada komunikasi dengan Amara.


"Cha,tolong jangan berpikir yang tidak-tidak karena aku sudah yakin sama kamu dan apalagi yang kamu ragukan??? aku sudah meminta restu di depan orang tua kamu,kita sudah direstui tinggal menentukan hari pernikahan." Masih dengan tatapan yang sama,mencoba meyakinkan aku.


"Aku nggak tau Yan,yang pasti aku masih ragu melihat chat Amara tadi.jika memang sudah selesai,tolong tegas pada Amara.Jangan ada lagi seperti ini agar aku bisa yakin dan tidak merasa bersalah,merasa merebut kamu dari Amara." Ucapku menunduk.


"Nggak ada yang direbut karena memang sejak awal aku dan Amara tidak pernah cocok,hanya perjodohan yang membuat kami bertunangan tapi tidak untuk perasaanku dengan dia.Justru sama kamu aku baru yakin bahwa kamu lah yang terbaik untuk jadi pendamping aku." Yakin Ryan.


"Semoga aja Yan." Tidak tau ingin mengatakan apa-apa lagi,aku hanya memandang lurus ke depan sementara Ryan sibuk dengan ponselnya.


Aku Kembali diam,sesekali melirik Ryan yang masih asyik dengan ponselnya.Tak ada suara lagi,Rina sudah tidur dari tadi,Arya hanya fokus menyetir,hanya suara musik yang terdengar sepanjang perjalanan yang tidak lama lagi sampai.

__ADS_1


__ADS_2