Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
TERLALU CEPAT


__ADS_3

Keluar dari gerbang kantor terlihat seorang perempuan yang berjalan ke arahku dengan wajah yang penuh amarah dan tak lain itu adalah amara tunangannya Ryan yang marah mengetahui aku dan Ryan sering komunikasi.


"He... cewek sok alim,ngapain kamu deketin tunangan aku???? harusnya kamu itu sadar kalau Ryan itu tunangan aku." Bentak amara.


"Maaf mba tapi saya sama Ryan hanya berteman saja." Ucapku pelan.


"Kalau berteman kenapa harus keluar jalan bareng." Ucap Amara.


"Bukan begitu mba,soalnya mamanya Ryan yang ngajak jadi aku nggak enak nolak." Aku mencoba memberi pengertian pada Amara agar tidak salah paham.


"Alah...alasan aja.Pokoknya kamu harus jauhi Ryan." Bentak Amara.


"Tapi kan kami hanya teman." Balasku masih santai.


"Apa pun itu kamu harus jauhi Ryan,okey." Tatap amara padaku lalu berbalik berjalan menuju mobilnya.


Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan kata-kata Amara dan memnag tidak seharusnya aku dekat dengan Ryan meski hanya sebatas teman,aku juga harus menghargai amara yang sekarang jadi tunangannya Ryan.


Drrttt...Drrttt...


Aku mengambil ponsel dari tas,terlihat di layar ada panggilan Ryan tapi mengingat kata-kata Amara jadi ku biarkan saja ponselku berdering lalu memasukkan kembali ke dalam tas.


Aku ingin kembali fokus pada tujuan utamaku untuk orang tua dan memperbaiki diri,sementara untuk jodoh aku pasrahkan sepenuhnya kepada Allah.


Dua bulan berlalu aku tidak pernah tau lagi tentang Ryan dan Amara,mungkin saja mereka sudah menikah dan bahagia.


Harusnya aku pun bahagia,meski ada perasaan tidak menentu saat aku harus menjauh dari Ryan,tapi kembali lagi aku harus kehilangan teman yang selama ini membuat aku nyaman dan meski kami hanya sering komunikasi lewat telpon.


Belum selesai dari lamunan terdengar ada klakson mobil dari depan kos,aku beranjak melihat keluar lewat jendela.Kaget ternyata itu Ryan yang keluar dari mobil,bertanya pada teman kos yang kebetulan lewat.Takut Ryan tau aku ada di kos jadi aku langsung mengunci kamar dan berpura-pura tidak mendengar siapa pun di luar.


"Assalamualaikum." Ketuk Ryan.


"Aku tau kamu ada di dalam cha jadi tolong buka pintunya aku mau bicara sama kamu,Jangan buat aku seperti ini cha.Tolong cha,aku mau bicara sama kamu untuk terakhir kalinya setelah itu terserah kamu jika ingin menjauh dari aku." Ucap Ryan dari luar pintu.


Mendengar itu perasaanku seperti teriris merasa tidak rela jika memang sampai itu terjadi,tapi aku berpikir mungkin tidak ada salahnya kalau aku bicara untuk terakhir kalinya sama dia dan setelah itu kami benar-benar tidak akan komunikasi lagi.


Ceklekkk


Ku buka kunci pintu,terlihat wajah Ryan yang begitu sedih dan murung,entah apa yang terjadi sampai dia bisa seperti itu,mungkin lagi bertengkar dengan amara.


"Ryan,kenapa kamu seperti ini ????" Tanyaku penasaran.


"Panjang ceritanya cha yang pasti saat ini aku hanya mau bicara sama kamu." Ucap Ryan dengan wajah lesunya.


"Kalau begitu kita bicara di ruang tamu aja ya." Saran ku lalu menuju ke ruang tamu untuk bicara.


"Hmmmm kamu mau bicara apa Yan???" Tanyaku pelan takut menyinggung perasaannya.


" Kenapa kamu tiba-tiba menjauhi aku cha???" Ryan menatapku sendu tapi serius seakan ada makna dari tatapannya.


"Mmmm dari awal kan kita hanya berteman Ryan dan kamu juga udah punya tunangan jadi lebih baik aku menjauh untuk menjaga perasaan tunangan kamu." Ucapku hanya menunduk.


"Pasti semua ini karena Amara kan ??? yang meminta kamu menjauh dari aku."Tanya Ryan dengan tatapan yang sama.


"Ryan,ini bukan karena amara tapi memang tidak baik kalau kita sering-sering komunikasi apa lagi kamu sudah punya tunangan yang sebentar lagi akan menikah bahkan aku pikir kalian sudah menikah." Jelas ku sambil menunduk.


"Aku dan amara udah selesai." Ucap Ryan santai.


"Apa...??? kok bisa,bukannya kalian mau menikah???" Aku kaget mendengar perkataan Ryan.

__ADS_1


"Amara belum siap menikah,sementara orang tuaku ingin segera aku menikah." Ucap Ryan masih serius tapi kali Ini dia menunduk.


"Loh...bukannya amara itu sayang banget sama kamu." Tanyaku ingin memastikan hubungan mereka itu berakhir bukan karena Aku.


"Iya tapi dia belum siap dan aku tidak tau kapan dia siap selain itu alasan aku mengakhiri semuanya karena aku tau dia melabrak kamu sampai kamu menjauh seperti ini." Ucap Ryan yang tidak terima dengan Sikap Amara yang seenaknya.


"Amara nggak salah, justru aku yang salah harusnya sejak awal aku nggak memulai pertemanan sama kamu yang jelas-jelas sudah punya tunangan jadi wajar saja dia cemburu meski kita hanya berteman." Ucapku agar Ryan tidak terus menyalahkan Amara.


"Tapi tidak harus seperti itu lagian kita juga hanya sebatas teman." Ucap Ryan lagi.


"Iya sih...tapi itu membuat dia cemburu jadi wajar ajalah." Ucapku lagi.


"Kamu kok malah membela Amara terus sih cha padahal dia udah melabrak kamu." Ryan mulai kesal mendengar pembelaan ku untuk Amara.


"Kan aku yang salah karena berteman dengan tunangan orang." Merasa bersalah.


"Kamu nggak pernah salah dan sejak awal aku memang tidak pernah ada perasaan dengan Amara hanya saja karena perjodohan jadi aku menurut saja tapi sekarang orang tuaku menyerahkan semuanya sama aku." Ryan menjelaskan yang sebenarnya agar aku tau.


"Terus sekarang apa keputusan kam???" Tanyaku balik.


"Aku ingin menikah dengan perempuan pilihanku sendiri." Ucap Ryan.


"Ooo...aku dukung kalau memang itu membuat kamu bahagia." Ucapku tanpa Ragu.


"Aku Ingin bertanya,Apa orang tua kamu setuju kalau ada yang melamar tahun ini ???" Tatap Ryan lagi dengan wajah yang serius.


"Apa ???? jangan bercanda deh Ryan kita ini hanya berteman." Jawabku sambil tersenyum tapi bingung seolah ingin mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin percaya begitu saja.


"Aku serius cha,jujur dari awal ketemu kamu aku sudah yakin. Kamu calon istri yang baik,makanya saat itu aku selalu cari tau tentang kamu dan setelah 2 bulan ini aku berpikir dan makin yakin kalau aku benar-benar sayang sama kamu." Ryan menatap ku dengan penuh keyakinan.


"Maaf Yan tapi aku nggak bisa percaya." Ucapku menunduk.


"Kamu serius." Kali ini aku mulai menanggapi kata-kata Ryan.


"Sangat serius cha,kamu telpon sekarang biar aku juga dengar." Saran Ryan.


"Tunggu sebentar." Aku beranjak menuju kamar mengambil ponselku lalu ku tekan nomor orang tuaku,dengan perasaan ragu sekilas ku lirik Ryan lalu kembali menatap layar ponsel.


"Assalamualaikum ma'..." Salamku.


"Wa'alaikum salam." Jawab Mama.


"Ma' icha mau nanya sama mama dan papa ???" Tanyaku yang sedikit ragu.


" Mau tanya apa???" Mama penasaran


"Icha bisa di speaker." Bisik ryan sambil menyimak.


"Hmmm kalau tahun ini Icha ada yang lamar gimana ma' ???" Aku sedikit ragu.


"Memang ada yang lamar,orang mana????" Tanya mama semakin penasaran.


"Hehehe...cuma nanya aja ma' biar nanti kalau ada yang datang Icha udah bisa memberi jawaban." Ucapku agar mama tidak curiga.


"Kalau mama dan papa dari Icha aja,jika memang orangnya baik maka papa sama mama akan mendukung." Ucap Mama di seberang telpon.


"Ooo gitu mah...ya udah mama Icha tutup dulu telponnya lain kali di telpon lagi." Ucapku pada Mama yang tidak ingin pembicaraan ini jadi panjang.


"Eh tunggu cha,Mama serius nih memang ada yang mau melamar?" Tanya Mama penasaran.

__ADS_1


"Nggak ma',Icha cuma nanya aja.Udah dulu ya ma',Assalamualaikum." Segera ku matikan telpon.


Ku letakkan ponsel di meja sekilas ku liat ekspresi Ryan yang sudah menatapku dari tadi dengan penuh pertanyaan,lalu ku alihkan pandanganku pada meja agar tidak bertatapan langsung dengan Ryan.


"Kenapa tadi bilang nggak ada cha ???,bukannya jelas aku ada di sini dan ingin melamar kamu." Tatap ryan dengan serius.


"Aku belum siap Yan,masih banyak yang perlu aku pikirkan." Mencoba memberi alasan agar Ryan percaya dan tidak mendesak lagi meski sebenarnya aku sendiri bingung dengan perasaanku saat ini.


"Apa yang membuat kamu belum siap cha ??? bukannya selama ini selama kita komunikasi semuanya baik-baik saja bahkan orang tuaku sudah merestui kita dan orang tuamu pun tidak mempermasalahkan nya ???" Tatap Ryan lagi.


"Aku masih ingin bekerja Yan,bulan depan aku resign dari kantor jadi aku ingin cari tempat kerja yang lain." Masih mencari alasan.


"Bagus dong kalau begitu kamu bisa kerja di kantor aku setelah kita menikah." Ucap Ryan tersenyum.


"Aku nggak mau yan,kalau harus di kantor kamu nanti kesannya aku memanfaatkan kamu." Masih menolak karena memang tidak ingin ada kesan yang tidak baik nantinya.


"Nggak ada yang memanfaatkan kalau kamu sudah jadi istri aku karena apa yang aku punya,itu juga akan jadi milik kamu." Ucap Ryan tersenyum lagi.


"Justru itu alasan sebenarnya aku nggak siap Yan karena kamu dari keluarga berada sementara aku hanya dari kampung,kamu memang lebih cocok sama amara dari pada aku." Aku mulai jujur.


"Perasaan itu tidak memandang siapa kaya atau tidak cha tapi melihat seberapa nyaman dan bahagia kita saat bersama dia,aku merasakan semua itu sama kamu selama 6 bulan ini kita kenal." Ryan berusaha meyakinkan ku.


"Apa nggak terlalu cepat kamu menyimpulkan semua ini,sementara kita baru 6 bulan kenal.???" Ucapku.


"Nggak cha,justru aku yakin dan tidak ingin kehilangan kamu maka dari itu aku datang ke sini." Ucap Ryan.


"Hmmmm aku masih nggak yakin Yan." Ucapku lagi.


"Lalu apa yang membuat kamu yakin." Ryan menatap lagi ke arahku.


"Mungkin kalau kamu datang menemui orang tuaku langsung." Jawabku asal agar Ryan tidak bertanya lagi,di pikiranku tidak mungkin juga dia datang menemui orang tuaku.


"Oke...minggu depan aku akan datang menemui orang tua kamu,ada atau tidak ada kamu di sana aku pasti akan datang menemui mereka." Dengan yakin Ryan mengatakan itu.


"Hha...jangan bercanda Ryan,rumahku itu jauh tidak mungkin kamu bisa ke sana." Menantang Ryan yang tidak mungkin bisa datang sendiri.


"Kita liat saja nanti cha,yang jelas aku sudah yakin sama kamu dan sekarang kalau kamu ingin menjauh dari aku itu tidak masalah,pada akhirnya kamu juga akan jadi milik aku." Tatap ryan dengan penuh keyakinan tapi masih terdengar lembut.


"Baiklah,buktikan semua omongan kamu itu baru aku percaya." Aku makin menantang Ryan dengan Memasang senyuman untuk mencairkan suasana.


"Kalau begitu aku pamit pulang cha,nggak enak udah jam 9 malam masih di kosan cewek,besok kamu juga kerja.Assalamualaikum" Beranjak dari kursi dengan senyuman di wajah yang tidak tau.


apa artinya.


"Wa'alaikum salam." Jawabku lalu menyusul ke depan pintu memastikan Ryan pergi dengan mobilnya lalu menutup pintu.


Teman kos yang dari tadi sibuk memperhatikan kami keluar dari persembunyiannya lalu mempertanyakan apa yang terjadi tadi.


"Itu serius cha,ada yang mau melamar kamu???" Tanya Ria.


"Ya...seperti yang kamu liat ria."Dengan malas aku menjawab karena aku sendiri masih tidak percaya.


" Terus kenapa di tolak sih cha,padahal kelihatannya ganteng dan soleh."Sambung Ana.


"Nanti aja lah kita liat pembuktiannya,untuk saat ini biarkan saja.Masalah jodoh aku serahkan sama Allah aja." Ucapku malas.


"Iya,tapi kalau di tolak terus nanti jodohnya menjauh."Tegas ria.


"Kalau sudah jodohnya pasti akan bersama juga bagaimanapun itu,udah ya kita tidur aja besok kan kerja." Ajak Ku pada mereka,agar tidak bertanya terus tentang Ryan yang aku sendiri masih bingung.

__ADS_1


Kami kembali masuk ke kamar masing-masing.


__ADS_2