Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
MULAI BERTEMAN


__ADS_3

Izin ku dari kantor hanya 3 hari,jadi selesai acara aku harus langsung masuk kantor.Meninggalkan keluarga yang masih sibuk.


"Cha,aku ada kabar buat kamu." Sapa meisya yang langsung menghampiriku.


"Kabar apa ???" Ucapku santai.


"Ternyata benar firasat aku,kalau Ryan itu suka sama kamu." Ucap Meisya penuh semangat.


"Hmmmm ini masih pagi Mei,kamu udah mulai..." Aku hanya sibuk menatap layar komputer.


"Benar cha,tadi malam dia chat aku terus tanya-tanya tentang kamu." Ucap Meisya menatap ke arahku.


"Terus..." Aku menatap meisya balik dengan tatapan serius.


"Hehe...terus aku kasi nomor kamu." Tertawa kecil.


"Hhaa..kok kamu kasi sih mei,pantas tadi malam ada yang chat menggunakan nomor baru tapi aku nggak respon karena nggak tau itu siapa." Ucapku mengingat kembali isi chat dari nomor yang tak di kenal.


"Itu Ryan,katanya dia chat tapi kamu nggak balas." Ucap Meisya.


"Oh itu Ryan,hehe...lagi malas ladenin nomor yang nggak di kenal." Ucapku terkekeh.


"Iih...dasar cewek jutek,jangan di cuekin lah anak orang." Meisya mulai kesal.


"Kan dia udah punya tunangan mei nanti tunangannya marah." Ucapku menatap ke arah meisya.


"Kan bisa berteman cha,nggak harus pacaran." Saran Meisya yang sedikit membuka pemikiran ku jika tidak ada salahnya jika hanya sekedar berteman dengan Ryan.


"Iya juga sih,ya udah deh.nanti aku bales chat nya." Jawabku.


"Nah gitu dong." Meisya tersenyum senang mendengar ku sedikit berubah pikiran.


Berawal dari saran meisya agar aku terbuka dengan orang lain,aku berpikir.


" mungkin tidak ada salahnya kalau aku mencoba menjalin pertemanan dengan Ryan toh hanya sebatas teman,dy juga udah punya tunangan jadi nggak mungkin akan suka sama aku." Batinku.


Setelah sampai di kos dan beres-beres,aku langsung merebahkan tubuhku di kasur mengambil ponsel lalu membuka chat yang masuk.Melihat ada chat yang belum aku balas,dengan santai aku balas chat itu.


"Wa'alaikum salam." Balasku.


"Ini benar Icha kan???" Tanya yang punya nomor baru.


"Iya???" Balasku tanpa bertanya lagi.


"Aku pikir kamu marah aku chat duluan." Balasnya lagi.


"Bukan marah,tapi memang aku nggak balas kalau nomornya nggak di kenal." Balasku.


"Terus ini di bales berarti udah kenal ??? " Berusaha mencairkan suasana.


"Iya,Meisya tadi memberitahu aku di kantor jadi aku coba bales." Balasku santai.


"Oh baguslah jadi kita bisa kenalan dong,perkenalkan Aku Adryan bisa di panggil Ryan ." Memperkenalkan diri.


"Iya,aku udah tau." Masih jutek.


"Hmmm tapi nggak apa-apa kan kalau aku hubungi kamu,nggak ada yang marah kan???" Tanyanya lagi.


"Nggak ada." Balasku singkat.


"Berarti boleh aku kenal kamu lebih jauh." Balas Ryan lagi.


"Maksudnya??" Aku sedikit bingung.


"Aku ingin kenal aja." Balas Ryan lagi.


"Iya...tapi Amara nggak marah kan kalau kakak Chat aku???" Tanyaku.


"Nggak,kan hanya teman." Balasnya.


"Oh..Ok." balasku singkat.


"Terima kasih udah bales chat aku,salam kenal." Balasnya.


Begitulah awal perkenalan kami,yang aku pikir hanya sebatas kenal tapi ternyata lama kelamaan kami nyambung dan akrab.

__ADS_1


Drrrttt...drrttt...


Ada pesan masuk dari Ryan.


"Assalamualaikum,besok nggak sibuk ???" Chat Ryan.


"Nggak,emang kenapa???" Balasku.


"Boleh aku ajak keluar ???" Balas Ryan lagi.


"Maaf nggak bisa." Tolakku.


"Kenapa???" Ryan bingung.


"Kita kan bukan muhrim,nggak baik jalan berdua." Alasanku karena memang tidak ingin keluar dengan Ryan


"Tenang aja mama sama adik aku juga ikut kok." Balas Ryan.


"Hmmmm mama kamu juga ikut,aku nggak pede ah kalau mama kamu ikut." Alasanku lagi,juga aku benar-benar malu jalan sama mereka.


"Harus pede dan di biasakan dong."Balas Ryan.


"Kenapa begitu?." Tanyaku bingung.


"Biar terbiasa nanti jalannya." Ryan mulai memberi sinyal.


"Hha maksudnya." Aku hanya bingung sekaligus penasaran.


"Nggak....besok aku jemput ya soalnya ini permintaan mama aku." Ryan tidak melanjutkannya karena aku tidak peka.


"Hmmm ya udah deh." Aku biasa saja tanpa membahas maksud dari Ryan.


Aku Menyimpan Hp kemudian ku sandarkan kepala pada dinding dengan bantal,Ku pikirkan cara agar besok tidak salah tingkah bertemu tante Intan(mama Ryan).


Meskipun pertemuan kami udah yang kesekian kalinya tapi kali ini berbeda menurutku.


..."Biarin ajalah,liat besok situasinya aja,dari pada aku pusing memikirkan itu mending aku tidur.lagian Ryan juga kenapa mesti mempertemukan aku sama mamanya sih??? kan kita hanya teman dan baru kenal 2 bulan, jadi makin bingung aku lama-lama."Batinku....


Suasana kos yang sepi dan sunyi,membuat aku terbiasa sendiri di kos saat hari libur.Mereka semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing,aku menuju dapur membereskan piring-piring yang berantakan lalu di cuci.


Kebiasaan membosankan itu sudah menjadi rutinitas ku setiap libur,untuk menghilangkan rasa sepi,ku cari kesibukan dengan bersih-bersih.


Pesan dari Ryan.


" Jam 9 aku jemput yaah,kamu siap-siap." Isi Chat nya.


"Ok." Balasku.


Melihat jam dinding sudah pukul 7.30,aku segera mengambil baju untuk di setrika agar tidak kusut dan rapi saat bertemu tante Intan.


🌸🌸🌸


Kring....kring...


Telpon dari Ryan.


"Assalamualaikum." Salam Ryan di telpon.


"Wa'alaikum salam." Jawabku.


"Cha,ini lokasi yang kamu kirim sesuai titik kan???" Tanya Ryan.


"Iya,itu sesuai titik." Jawabku lagi.


"Kalau begitu kamu keluar sekarang,aku udah di depan." Ucap Ryan.


"Oh sudah di depan,Ok aku keluar." Aku menutup telpon lalu mengambil tas dan kunci kamar , bergegas keluar,agar mereka tidak menunggu lama.


Ku sapa tante Intan lalu masuk mobil,"Maaf menunggu lama tante,aku nggak tau kalau sudah di depan."


"Tidak apa-apa,kita juga baru sampai.kamu nggak keberatan kan temani tante jalan-jalan dan belanja hari ini." Ucap tante Intan tersenyum.


"Nggak apa-apa tante,kebetulan hari ini memang aku mau keluar." Balik tersenyum.


"Oh ya,sama siapa???" Tanya Tante Intan

__ADS_1


"Sendiri tante." Jawabku.


"Kenapa sendiri,kan ada Ryan yang bisa antar???" Saran Tante Intan.


"Hehe...sudah biasa sendiri tante." Jawabku.


"Kenapa nggak minta Ryan yang antar ???" Tanya tante Intan lagi.


"Mana mau ma' Icha jalan sama aku,seandainya bukan mama yang ajak pasti dia keluar sendiri." Celetuk Ryan yang sejak tadi serius menyetir mendengarkan percakapan kami.


"Itu berarti,Icha itu mandiri dan nggak suka merepotkan orang.tapi sebaiknya icha ada yang antar biar aman." Usul Tante Intan.


"Benar tuh kata mama cha,biar aman." Ucap Tyan membenarkan ucapan mamanya.


"Tapi kan kita...." Belum selesai ucapan ku langsung di potong oleh Ryan yang sudah tau arah pembicaraanku.


"Iya... kita bukan muhrim,aku paham." Ucap Ryan yang masih serius menyetir tapi sekilas melirik ke kaca spion melihatku.


"Hmmmm maksud Icha itu juga baik Ryan." Sambung tante Intan.


"Kalau begitu di jadiin muhrim aja." Ryan terlihat serius dengan kata-katanya.


"Maksudnya???" Aku pura-pura tidak mengerti agar Ryan mengulang kata-katanya.


"Tidak usah di dengar cha,Ryan emang suka bercanda." Ucap Tante Intan.


Mobil terus berlaju dengan kecepatan sedang dan berhenti pada sebuah Mall,aku dan Tante Intan turun duluan sementara Ryan memarkir mobilnya.


"Ayo cha,kita duluan aja nanti Ryan nyusul."ajak Tante intan.


"Baik tante." Kami berjalan bergandengan tangan bersama layaknya ibu dan anak.


"Kamu mau beli apa cha???" Tanya Tante Intan.


"Mau beli dress sama hijab tante." Jawabku menatap tante Intan.


"Untuk siapa???" Tanya Tante Intan.


"Untuk aku sendiri dan ada teman aku yang mau ulang tahun." Ucapku tersenyum ke arah tante Intan.


"Kalau begitu,pilih aja bajunya nanti tante yang bayar." Usul Tante Intan.


"Mmmm maaf tante tapi aku nggak biasa di bayarin,kalau boleh biar aku bayar sendiri aja." Ucapku yang tidak enak jika harus di bayarkan oleh orang lain.


"Kalau memang kamu nggak mau,nggak apa-apa tapi lain kali kalau tante ajak kamu harus mau." Ucap tante Intan tersenyum


"Baik tante." Aku hanya tersenyum.


Kami berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari baju dan hijab yang cocok,aku masuk pada sebuah toko yang langsung membuat aku tertarik melihat pakaiannya.


"Kamu kenapa cuma diam melihat bajunya,kalau suka ya di ambil." Ucap Ryan yang melihatku terdiam hanya menatap ke arah pakaian.


"Iya aku suka banget tapi aku juga lagi cari hijab buat Meisya untuk hadiah ultahnya." Ucapku.


"Kan Meisya nggak berhijab,kenapa mau di belikan." Tanya Ryan.


"Memang sekarang dia nggak pakai hijab tapi aku yakin suatu saat dia pasti akan memakai hijab apa lagi dia sering bilang kalau dia ada niat tapi belum tau kapan,jadi aku mau saat dia memakai hijab pertama kali,itu dengan hijab yang aku berikan sama dia." Ucapku.


"Masya Allah,teman yang baik." Ucap Ryan tersenyum.


"Teman yang baik memang harus membawa pada kebaikan,iya kan." Ucapku lagi sambil sibuk memilih hijab yang cocok untuk meisya.


"Termasuk aku." Ucap Ryan.


"Hmmmm teman yang baik." Ucapku hanya tersenyum tapi masih sibuk memilih hijab.


"Iya... tapi mikir-mikir bilang begitu." Ucap Ryan yang sejak tadi memperhatikan aku memilih hijab.


"Hehe...kalau merasa baik nggak usah marah dong." Godaku pada Ryan yang sekilas melirik lalu fokus kembali pada hijab yang ada di depanku.


Di tempat berbeda mama Ryan memperhatikan kami yang sedang bercanda,ikut bahagia melihat anaknya bisa tertawa dengan orang lain yang sudah lama tidak pernah dia temukan semenjak Ryan di selingkuhi lalu di jodohkan dengan Amara.


"Ryan...Icha,udah selesai belanjanya???" Tante Intan menghampiri kami.


"Udah ma,kita udah selesai." Ucap Ryan.

__ADS_1


"Kalau begitu kita makan dulu ya sebelum pulang,tidak apa-apa kan Icha." Ajak Tante Intan.


"Iya tante,aku ikut tante aja." Tersenyum.


__ADS_2