
Satu bulan sebelum mendapatkan pekerjaan aku memutuskan untuk hijrah,benar-benar tidak ingin pacaran dan fokus untuk memperbaiki diri.
Kejadian bersama Erik yang tidak bisa menepati janji membuat aku sadar bahwa laki-laki yang hanya sekedar mengumbar janji bukanlah laki-laki yang pantas untuk di percaya dan di pertahankan.
Maka dari itu aku memutuskan untuk lebih dekat dengan Allah dan ku percayakan segalanya kepada Allah SWT.
Proses hijrah yang aku lakukan di mulai dari pakaian yang dulunya berhijab mengikuti style jaman sekarang,memakai celana,semuanya aku singkirkan dan menggantinya dengan gamis jilbab syar'i.
Pada saat memakai pakaian syar'i aku merasa tenang di tambah lagi aku selalu mendekatkan diri dengan Allah SWT.
Meski tidak langsung berubah sepenuhnya tapi pelan-pelan aku mulai belajar,berusaha menjalankan yang wajib dan sunnah.
Di pikiranku hanyalah mempersiapkan diri jika saatnya aku kembali maka aku sudah siap menghadap Allah SWT. Bahkan untuk jodoh aku hanya berkata,"Jika di dunia ini aku tidak memiliki jodoh maka di akhirat kelak Allah telah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku. Tapi Jika memang Allah telah menyiapkan jodoh untukku di dunia ini maka pertemukan lah aku dengan dia yang bisa menjadi imam dan menuntunku untuk lebih dekat dengan Allah SWT."
Semua yang terjadi sebelumnya membuat aku banyak berpikir bahwa Allah menjauhkan aku dari mereka yang salah karena memang pacaran itu salah,Allah menjauhkan aku dari hal yang salah agar aku bisa lebih memperbaiki diri dan aku bersyukur lebih cepat mengetahui kebenarannya sebelum aku terjebak lebih jauh oleh kebohongannya.
Sekarang aku sudah tenang dan nyaman dengan kehidupanku.
Di kantor aku mulai berbaur dengan yang lain tapi untuk laki-laki aku memilih tertutup dan banyak diam,lebih menundukkan kepala saat berjalan di depan mereka.
Saat waktu sholat aku berusaha untuk tepat waktu dan Alhamdulillahnya di kantor ada musholla jadi karyawan masih bisa sholat jamaah,salah satu hal yang membuat aku betah karena aku merasa jalanku untuk ingin memperbaiki diri itu di mudahkan.
Di tambah bertemu dengan teman-teman yang juga menjaga ibadahnya jadi aku terbantu juga dengan mereka.
Selama bekerja aku selalu mengusahakan agar sholat selalu terjaga dan tepat waktu,aku berusaha menyeimbangkan antara pekerjaan dan kewajiban.
Begitulah setiap hari aku lakukan,membiasakan diri sendiri lebih banyak diam tapi pekerjaan tetap berjalan.
Tapi ada hal yang membuat aku merasa tidak nyaman karena Erik masih selalu berusaha untuk menghubungiku padahal nomornya udah aku blok,tapi bukan Erik namanya jika tidak kehabisan akal.Jadi dia menggunakan e nomor temannya untuk telpon aku dan yang lebih keselnya aku.April ikut-ikut mengubungi aku jika hp nya erik nggak aktif seolah itu salah aku.
Dering telpon dari nomor yang tak di kenal.
"Halo,Assalamualaikum." Ucapku.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam." Balas Erik di seberang telpon.
"Ternyata kamu."Ucapku ketus.
"Iya,bagaimana kabar kamu?" Tanyanya seakan peduli.
"Baik." Jawabku singkat.
"Syukurlah,tapi kamu udah nggak sering sakit kan?" Masih sok peduli.
"Iya udah nggak,tumben peduli." Ucapku malas.
"Iyalah,meskipun kita udah nggak dekat kan kita masih bisa berteman.tidak ada salahnya kalau aku peduli." Jawabnya santai seperti sikap Erik pada biasanya,tidak ada rasa bersalah.
"Ooo...tapi kayaknya nggak perlu Kamu peduli lagi takutnya pacar kamu marah kalau kamu hubungi aku lagi." Menyindir Erik agar sadar tapi sepertinya tidak berpengaruh.
"Nggak lah,dia tidak akan marah." Ucapnya Dengan santai.
"Udahlah rik,aku nggak mau ada masalah lagi sama kamu di tambah lagi pacar kamu nanti marah." Makin malas meladeni Erik.
"Nggak usah mikirin dia...kamu pikir semudah itu,dia akan cari kamu dan akan menelpon aku terus kalau kamu nggak ada kabar." Aku mulai marah,nadaku mulai meninggi.
"Udahlah...aku capek cha dengan dia yang sifatnya kekanak-kanakan." Curhat Erik.
"Dia itu pacar kamu dan udah menerima semua keburukan kamu tapi malah kamu jelek kan seperti ini.untung bukan aku yang bertahan karena pasti akan kamu perlakukan seperti ini." Tanpa memikirkan perasaannya ku utarakan perasaan kesal ku.
"Yaa beda lah cha,kalau kamu yang bertahan tidak akan aku perlakukan seperti ini karena kamu yang aku harapkan bertahan."Mencoba merayu lagi.
"Itu tidak akan terjadi,aku tau apa yang kamu katakan saat ini akan kamu katakan juga sama dia.udah kebaca kamu rik." Jawabku ketus
"Tidak cha'..." Masih menepis kata-kata ku.
"Tuh kan,pacar kamu telpon aku, itu pasti karena kamu nggak ada kabar." Ku lihat layar Ponsel dan benar ada panggilan lagi dari April.
__ADS_1
"iya dia telpon tapi aku nggak angkat." Ucapnya santai.
"Ya udah sana angkat telpon dari pacarmu."Ku matikan telpon secara sepihak.
Tapi di sisi lain April terus menghubungi aku,dengan terpaksa aku angkat.
"Assalamualaikum." Ucapku.
"Erik tadi telpon kamu cha??" Ucap April.
"Tidak,memang kenapa."Menutupi dari April,agar mereka tidak bertengkar.
"Jujur aja cha soalnya hp nya nggak di angkat dari tadi,sibuk terus." April terus mendesak
"Hmmm...iya erik memang telpon aku tapi pakai nomor lain." pada akhirnya aku jujur.
"Benar kan,erik masih menghubungi kamu." Ucap April terdengar kecewa.
"Jangan salah paham April,tadi dia cuma tanya kabar nggak ada maksud lain." Berusaha menenangkan.
"Tapi kan dia masih menghubungi kamu padahal dia udah janji cha tapi masih seperti itu." Terdengar isak tangis April.
"Kamu sabar aja,memang tidak mudah untuk Erik bisa berubah tapi lama-lama dia juga akan sadar sendiri." Membujuk April.
"Tapi sampai kapan cha?,aku juga bingung kalau Erik seperti itu terus padahal aku sudah mengalah dan bertahan untuk dia." Curhatnya.
"Ngga tau juga,yang pasti aku ngga ada hubungan apa-apa lagi dengan Erik bahkan nomornya udah aku blok sesuai permintaan kamu." Ucapku.
"Aku masih berusaha bertahan cha tapi lalau begini terus aku juga capek." April masih terus menangis.
"Ya udah kamu telpon Erik aja,aku juga udah mau tidur dan semoga erik bisa berubah." Aku mencoba menenangkan April,tidak tega juga melihat dia seperti itu tapi dia sendiri yang memilih untuk itu jadi harus bisa menerima resiko dari keputusannya.
"Iya,terima kasih cha."Menutup telpon.
__ADS_1
Untung saja aku bisa tegas pada Erik saat itu,jika tidak mungkin aku yang akan mengalami hal yang sama seperti yang terjadi pada April saat ini.
Jelas tidak mudah untuk merubah seseorang dengan kebiasaan lamanya,butuh kesabaran untuk menghadapinya.Jika tidak maka akan seperti April yang terus berjuang sendiri tapi Erik malah terus bersikap semaunya.