Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
TERNYATA DIA...


__ADS_3

Suasana kampus yang seperti biasanya,Terlalu banyak manusia-manusia yang berkeliaran tapi tidak banyak yang aku kenal.


Aku bergegas ke lantai 7 menuju fakultas,di sana sudah banyak mahasiswa lain memenuhi ruangan fakultas yang pastinya yang sudah semester akhir seperti ku.


Duduk di lantai tanpa beralaskan apa pun demi menunggu dosen pembimbing agar skripsinya segera ACC.


"Udah di sini semua ternyata..." Aku menyapa yang lain.


"Iyaa,udah bimbingan skripsi cha???." tanya Naila


"Iya...kamu sendiri bukannya sudah ACC ??" Tanyaku balik


"Belum,masih ada yang mau aku urus sebentar di kantor tempatku penelitian." Jawab Naila.


"Terus kenapa belum pergi."Tanyaku lagi.


"Aku ketemu pembimbing dulu baru ke sana,mau temani aku nggak ke sana??? Pinta Naila.


" Mmmm...boleh tapi habis aku bimbingan yaa."Jawabku😊


"Iya,aku tunggu." Ucap Naila.


"Nai...kayaknya pembimbingku nggak jadi ke kampus,katanya lusa baru datang lagi.kita berangkat aja sekarang." Ajak ku.


"Ayoo." Bergegas keluar ruangan menuju parkiran motor.


Sekitar 15 menit perjalanan,sampai di sana bertepatan dengan jam makan siang jadi karyawan yang ingin di temui oleh Naila nggak ada.Lagi keluar makan siang jadi harus di tunggu dulu,Sambil menunggu orangnya datang ku buka ponsel.


Buka facebook,ku geser layar ponsel melihat status dan taraa...terlihat foto cewek itu lagi di status facebooknya.


Dalam hati,perasaanku sudah tidak menentu merasa tidak percaya Erik membuat aku terluka untuk kesekian kalinya di saat aku sudah sayang sama dia tapi malah di kecewakan tapi aku hanya bisa diam.


Naila yang melihat ke arah layar ponsel hanya bisa bilang "Sabar."


Tanpa pikir panjang ku hubungi Erik dan ku pertanyakan tapi dengan santainya dia hanya menjawab,"Tidak bisa di bahas sekarang,nanti aku jelaskan." Hanya itu yang di katakan lalu menutup telpon secara sepihak.


Dengan bodohnya Aku masih mencoba sabar sambil menunggu kabar penjelasan dari Erik yang aku pikir dia akan menjelaskannya langsung tapi ternyata dia cuma chat dan bilang,"Iya,itu benar."


Hanya itu dan aku sudah mengerti maksudnya,tanpa sadar air mataku menetes.Menangis tapi menahan untuk bersuara sambil ku pegang dadaku yang semakin sesak.


Perlahan ku atur nafas dan minum air putih untuk menenangkan diriku tapi ternyata aku tidak bisa melupakan kecewa yang di berikan Erik.


Terlalu kecewa membuat aku tidak bisa makan dan kepikiran,tidak percaya Erik melakukan itu karena selama ini dia baik dan tidak seperti memiliki pacar lain.

__ADS_1


Sementara aku sibuk dengan perasaanku,di sana Erik dan April tengah bahagia.


Selama ketahuan ada pacar,Erik tidak pernah ada kabar jadi ku putuskan untuk menghubungi duluan.Ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya sekaligus merasa belum rela Erik meninggalkan aku secara tiba-tiba.


"Sudah lama kamu sama dia?" Tanyaku.


"Sebenarnya aku sama dia itu di jodohkan jadi aku terpaksa sama dia?"Jawab Erik.


" Jadi kamu di jodohkan,terus kenapa kamu nggak bilang kan aku bisa mengerti."Dengan bodohnya aku masih percaya dengan kebohongannya itu yang begitu pandai berakting.


"Iya,aku belum bisa bilang sama orang tuaku karena masih kuliah jadi tunggu aku selesai dulu baru selesaikan semua ini." Jelasnya lagi.


"Ooo...jadi begitu,ya udah." Tanpa sadar aku sudah terperangkap lagi oleh kebohongan Erik.


"Jadi,kita seperti ini aja dulu." Saran erik yang begitu santai seakan dia benar-benar mengalami langsung.


"Iya...nggak apa-apa." Masih percaya.


Setelah di telpon,Erik tidak ada kabar lagi.Aku jadi kepikiran terus,malamnya aku jadi drop karena banyak pikiran.Asam lambungku kambuh dan pingsan-pingsan terus jadi aku di bawa ke rumah sakit malam-malam.


Dalam UGD aku terus mencari Erik,menyebut namanya di setengah sadarku.Melihat itu,adikku mencoba menelpon Erik tapi Orangnya hanya bilang dia ada urusan masalah organisasi jadi tidak bisa datang saat itu juga, tunggu dia selesai bawa materi baru ke rumah sakit.


Setelah beberapa jam Erik datang,"Kamu kenapa lagi ???." Tanya Erik sambil memegang lembut tanganku yang terpasang infus.


" Sudah,nggak usah di pikirkan masalah itu pasti akan selesai.Liat kan kamu sakit sekarang...,lebih baik kamu fokus sama kesehatanmu biar bisa sembuh." Tidak terlihat ada rasa khawatir di wajah Erik,terlihat begitu santai.


"Iya..aku nggak akan mikirin itu lagi." Aku Mulai tersenyum melihat Erik yang sudah datang menemui ku.


Tapi itu nggak berlanjut lama karena hanya beberapa menit Erik pamit pulang.,"Aku pulang dulu yaah soalnya ada urusan organisasi.Aku juga malu sama adikmu Riri kayaknya dia marah,besok aku ke sini lagi.


Aku hanya diam,memperhatikan langkah kaki Erik yang semakin menghilang dari pandangan.


Dalam hati Aku sudah mulai ragu dengan perasaannya,"Sepertinya dia tidak benar-benar tulus,jika tulus tidak mungkin dia meninggalkan aku dalam ke adaan seperti ini,apa lagi semua ini karena dia."


Ke adaan ku mulai membaik,infus ku pun sudah hampir habis jadi dokter menyarankan untuk pulang.


Adikku riri mengurus administrasi sementara aku mencoba menghubungi Erik untuk jemput tapi telponnya lama baru di angkat,entah sudah 20 panggilan baru ada jawaban,"Iya halo..."masih dalam ke adaan setengah sadar baru bangun tidur.


"Bisa jemput nggak,aku udah bisa pulang." Tanyaku


"Ya udah,aku siapa-siap dulu." Jawab Erik.


"Aku tunggu." Menutup telpon.

__ADS_1


Makin hari kesehatanku sudah membaik,ku buka laptop untuk revisi skripsi biar bisa ikut ujian selanjutnya.


Ponselku berdering,terlihat nama Erik.


"Ada apa???" Aku mulai ketus dan belajar tanpa ada kabar dari Erik,setelah keluar dari rumah sakit aku juga tidak mengabari erik lagi karena merasa dia berubah.


"Bisa kita ketemu???,"Ada yang mau aku bicarakan.


"Bicara apa???,kan bisa lewat telpon". Aku ingin tegas karena tidak ingin di bohongi terus.


"Aku mau bicara langsung." Erik memaksa.


"Iya bentar soalnya aku masih revisi skripsi,entar aku kabari." masih dengan Ekspresi yang sama.


"Aku tunggu." Ucap Erik.


"Iya." Jawabku singkat.


Kami ketemu di sebuah kafe dekat tempat tinggal ku.


"Ada apa??" Tanya ku tanpa basa-basi.


"Jujur cha aku nggak bisa jauh dari kamu,aku merasa kehilangan selama beberapa hari kamu nggak ada kabar.Aku masih sayang kamu cha tapi aku juga nggak bisa menolak perjodohan itu."


"Sebenarnya aku juga belum siap kalau nggak ada kamu,aku merasa sepih tanpa kamu." Balasku.


"Jadi kita tetap sama-sama yaah..,nanti aku urus masalah ini." Erik mencoba meyakinkan lagi.


"Dari awal kan kita nggak pacaran cuma komitmen untuk 2 tahun ke depan,jadi kalau kamu pacaran sama dia juga nggak apa-apa." Aku mencoba tegas pada Erik.


" Tapi kan aku sayang sama kamu dan kamu juga sama kan,aku juga masih ingat komitmen kita meskipun sekarang nggak sama tapi kan berkomitmen ke sana." Erik merayu.


"Iyaa aku juga masih sayang,tapi kamu harus selesaikan masalah kamu itu,"Masih luluh dan mencoba memberi kesempatan kedua untuk Erik.


"Iya...aku juga sudah bilang sama cewek itu dan dia mengerti itu,tapi kami belum memberitahu orang tua kami nanti kalau sudah waktunya." Ucap Erik.


"Kali ini aku kasi kesempatan ke dua tapi kalau kamu ketahuan ada pacar lagi,maka tanpa berkata-kata lagi aku akan mundur,nggak peduli lagi sama komitmen kita yang jelas ada orang ketiga maka semua tentang kita selesai."Tegas ku.


"Iya sayang."Menggombal.


"Terus,kenapa dia hubungi kamu terus dari tadi."Melirik ponsel erik yang ada di atas meja.


"Nggak tau juga..sudahlah cuekin aja."Erik mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Aku masih percaya-percaya saja dengan semua kata-katanya tapi mulai saat itu aku sudah mempersiapkan diri jika suatu saat Erik ketahuan sama cewek itu lagi.


__ADS_2