
Ujian skripsinya berjalan dengan lancar tinggal satu ujian lagi bisa mendapat gelar Sarjana Ekonomi,jam menunjukkan pukul 18.00 masuk maghrib.Aku dan yang lain pun bergegas pulang,menuju lantai satu.
Aku menghubungi Erik,tapi nggak diangkat-angkat.
"Gimana udah ada kabar dari erik?."Tanya Aidah temanku.
"Iya tapi nggak di angkat-angkat padahal sebelum ujian sudah di ingatkan untuk jemput." jawabku dengan wajah yang di tekuk.
"Coba lagi aja sempat lagi sibuk tadi." Saran Aidah.
"Iya..eh ini di angkat." Menunjuk ke ponselku.
"Iya cha,udah selesai ujiannya."Tanya Erik santai.
"Udah..ini mau pulang,kamu dimana???" Tanyaku balik.
"Kamu sendiri belum pulang??" Masih belum sadar kalau aku menunggu di jemput.
"Loh kok malah balik nanya,harusnya aku yang tanya kamu dimana ???,kenapa nggak jemput aku ??? tadi kan sudah di ingatkan jemput,ini udah mau magrib." Aku sudah mulai kesal.
"Oh iyaa...aku lupa cha,aku baru selesai main volley nih di pantai sama teman-temanku,kamu pulang sendiri aja." Tanpa merasa bersalah Erik membujuk.
"Pulang sendiri !!!,kamu yakin suruh aku pulang sendiri jam segini ???,di lorong masuk kos kan rawan rik nanti kalau ada apa-apa bagaimana???." Aku tidak percaya Erik setega itu menyuruh aku pulang sendiri.
"Nggak akan ada apa-apa,jangan buat takut diri kamu sendiri,kamu harus belajar untuk mandiri biar nggak tergantung sama orang.Aku nggak bisa jemput soalnya jauh jadi kamu pulang sendiri dulu kan biasanya jalan sendiri."Dengan santainya Erik mengatakan itu.
__ADS_1
"Iyaa...biasanya sendiri tapi kan itu siang, banyak mahasiswa lain yang jalan tapi ini kan udah gelap,udah sepih." Jawabku kesal.
"Aku nggak bisa jemput cha soalnya jauh,jadi kamu pulang sendiri dulu.Harus belajar mandiri, kamu harus berani." Ucap Erik.
"Ya udah aku pulang sendiri." Aku hanya diam mendengar ucapan Erik yang aku sendiri masih tidak percaya bahwa Erik bisa setega itulalu ku matikan telpon.
"Jadi di jemput sama erik?" tanya Aidah lagi.
"Nggak jadi,katanya ada urusan sama temannya." jawabku.
"Ya udah bareng sama aku aja,tapi kita menunggu sebentar yaah soalnya kakakku masih di jalan." Jelas Aidah.
"Iya..nggak apa-apa." Jawabku lagi.
"Sambil nunggu kita sholat magrib dulu di mesjid kampus." Ajak Aidah.
Selesai sholat aku dan Aidah masih menunggu kakaknya yang masih di jalan karena macet,sambil menunggu aku melamun sendiri,"Kenapa Erik bisa setega itu nyuruh aku jalan kaki sendiri malam-malam begini ??? mana jalanan di lorong masuk kos rawan,bukannya khawatir malah nyuruh aku belajar mandiri.Memang sih aku harus belajar mandiri tapi apa iya seorang cowok yang katanya suka sama cewek mau serius tapi di biarkan jalan kaki malam-malam di jalan yang rawan copet,apa dia nggak mikir itu,sepertinya dia udah mulai berubah."Batinku.
"Cha,ayoo kakakku udah di depan."Ajak Aidah.
"Ehh..iya tunggu."
🌸🌸🌸🌸
kringg...kring....
__ADS_1
Baru sampai kos erik menelpon.
"Assalamualaikum,udah sampai kos???" Tanya Erik.
"Wa'alaikum salam,udah." Dengan malas aku menjawab.
"Baguslah,aku juga baru sampai di kos mau bersih-bersih." Ucap Erik santai yang belum sadar kalau aku marah.
"Ya udah sana bersih-bersih."Makin kesal.
"Kamu kenapa cha ???,Jawabnya dari tadi ketus begitu." Tanya Erik yang mulai sadar.
"Nggak apa-apa,pikir aja sendiri."Tanpa menunggu Erik bicara,aku langsung menutup telpon.
"Marah yaa,nggak di antar pulang." ledek adikku riri yang dari tadi mendengar percakapanku dengan Erik.
"Siapa yang nggak marah,masa aku di suruh jalan kaki malam-malam begini,kan kamu udah tau di jalan masuk sini itu rawan copet." Curhatku.
"Makanya cowok yang seperti itu nggak usah di percaya,tinggalin aja." Riri juga sebenarnya sudah kesal dengan Erik dan selalu menasehati aku untuk melepaskan Erik tapi aku masih belum siap.
"Tapi dia baik selama ini." Belaku.
"Baik apanya,kalau baik tidak akan ada perempuan lain." Tegas riri.
"Ya udah....nggak usah di bahas aku mau istirahat." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak panjang.
__ADS_1
Sebenarnya yang dikatakan Riri itu memang ada benarnya,hanya saja aku belum siap untuk kehilangan saat ini tapi bukan berarti ingin selalu di perlakukan seperti ini.Aku sendiri pun masih bingung,alasan sebenarnya aku bertahan.Yang pasti saat ini aku bertahan tapi sudah mempersiapkan diri jika nanti dia benar-benar terbukti ada perempuan lain dan saat itu terjadi,tanpa pikir panjang maka Aku yang akan pergi tanpa kembali lagi meski dia memohon.