Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
KEJUJURAN RYAN


__ADS_3

Mama intan menyuruh Rina mengajakku ke kamarnya untuk bersih -bersih sebelum makan malam."Rina,tolong ajak kakak Icha ke kamarmu ya.sekalian pinjamkan baju,biar kak Icha bisa ganti baju."


"Baik Ma',Ayo kak Icha kita ke kamar." Rina menarik tanganku menuju kamar,sementara ku lirik Ryan yang hanya memperhatikan ku dari ruang tamu dengan sedikit tersenyum menganggukkan kepala sebagai isyarat untuk mengikuti saja Mama dan Adiknya.


Tok...Tok...Tok...


Suara ketukan pintu dari luar,terdengar suara Ryan memanggilku dan adiknya.Rina membuka pintu,"Ada apa kak ???" tanya Rina.


Mama sama papa sudah menunggu di ruang tamu,kita ke sana sekarang."Ayo cha."Ryan melirik ke arahku.


Ryan duduk di samping Mama Intan,sedangkan Rina duduk di samping papanya yang sudah duduk di kursi tengah,menyusul aku di samping Rina berhadapan dengan Mama Intan dan Ryan.


"Ada apa Ma' ???" Tanya Rina.


"Nggak,Papa sama Mama ingin membahas masalah lamaran kakak kamu dengan icha." Ucap Om Darmawan menatap pada Aku dan Ryan.


"Iya Icha,Mama dan papa sudah membahas ini pada keluarga besar dan Rencana Dua minggu lagi kami akan datang melamar secara resmi sekaligus membahas tanggal pernikahan.Jadi Mama ingin Icha menyampaikan maksud kami pada keluarga Icha nanti."Jelas mama Intan.


"Nanti Icha menyampaikan pada keluarga di kampung." Aku mengangguk,mengiyakan perkataan Mama Intan.


"Sekalian Mama ingin buat baju untuk Icha dan Ryan, jadi Mama minta waktunya Icha satu hari untuk hal ini." Ucap mama Intan lagi.


"Besok aja ma',kebetulan Icha masuknya hanya setengah hari jadi ada kesempatan saat pulang kantor." ucapku pada mama intan.


"Kalau begitu kita pergi besok biar Ryan yang jemput dan Ryan kamu juga harus mengosongkan waktu besok biar kita bisa ke butik sama-sama." Mama intan memperingati Ryan.


"Iya Ma'." Jawab Ryan singkat.


"Ok kalau begitu Mama sama Papa mau ke kamar,besok kita pergi dan untuk Icha.Lebih baik bermalam di sini aja,tidur di kamar Rina biar besok pagi-pagi di antar sama Ryan pulang.Nggak apa-apa kan???" Ucap Mama Intan lembut.


"Iya Ma'." Jawabku singkat,tidak berani menolak melihat mama intan begitu baik dan juga aku tidak tega melihat Ryan yang harus mengantar aku bolak-balik di tengah malam.


Mama Intan dan Om Darmawan sudah masuk di kamar,tanpa sengaja mata kami saling memandang.Segera Ku alihkan pandangan,Ku lirik Rina di sampingku."Aku mau ke kamar Rin,kamu masih mau di sini ???"

__ADS_1


"Ayo kak,besok Aku ada kuliah pagi jadi mau cepat tidur biar nggak telat bangun." Ucap Rina.


Baru ingin beranjak dari kursi,Ryan menahan ku."Icha,aku mau bicara sebentar.Rina,kamu duluan aja,aku mau bicara dengan Icha dulu."Ucap Ryan.


Ryan menyodorkan ponselnya ke arahku,memperlihatkan isi chat nya dengan Amara."Ini,kamu bisa lihat sendiri.Aku


benar-benar sudah tidak ada hubungan lagi dengan Amara dan nomornya sudah aku blok agar tidak ada salah paham lagi."


Sementara aku hanya diam melihat isi percakapan Ryan yang terus di geser dari atas ke bawah untuk memperlihatkan semua isi percakapannya,"Iya,Aku percaya Yan."Jawabku singkat.


"Terus kenapa mukanya masih kusut Cha ???" Tanya Ryan lembut.


"Aku nggak tau Yan,seperti mimpi tiba-tiba kamu datang melamar.Aku hanya takut banyak bicara,takut tidak sesuai rencana."Ku keluarkan semua isi hatiku,agar Ryan tau dengan kecemasanku dari sejak awal.


" Kita serahkan sama Allah,In Syaa Allah semuanya akan berjalan lancar.Tapi...."Ryan menghentikan kata-katanya,ada ragu di raut wajahnya.


"Tapi apa Yan ???" Tanyaku penasaran.


"Maaf kalau aku bertanya Cha,tapi aku hanya ingin tau perasaan kamu.Apa kamu ada perasaan sama Aku karena yang aku liat kamu biasa saja." Tatap Ryan dengan lembut penuh ketulusan.


"Aku hanya ingin mendengar langsung dari kamu tentang perasaan kamu,tolong di jawab cha???"Ryan menatapku dengan tatapan yang sama.


"Aku nggak tau Yan,yang aku tau saat ini aku nyaman saat bersama kamu dan yakin kamu bisa jadi Imam yang baik untuk keluarga kecil kita kelak." Jawabku pada Ryan.


Sementara Ryan hanya diam mencerna kata-kataku,sebenarnya Aku sendiri sudah merasa ada perasaan pada Ryan sejak awal kedekatan kami.Karena sadar perasaan itu tidak harus ada jadi ku biarkan terpendam sendiri dengan berusaha menjauh dari Ryan,tapi semakin aku berusaha menjauh.Ryan makin selalu mendatangi aku sampai terakhir datang menemui orang tuaku.


Seharusnya aku jujur dengan perasaanku pada Ryan,tapi aku merasa belum saatnya untuk jujur pada Ryan.Nanti saat kami sudah menikah,Aku akan mengatakan yang sejujurnya,biarlah seperti ini dulu.


"Kenapa diam Yan ???" Tanyaku pada Ryan yang hanya menunduk setelah aku menjawab pertanyaannya.


"Nggak tau Cha,Aku pikir kamu memiliki perasaan yang sama dengan aku tapi sepertinya tidak.Tapi aku akan berusaha membuat kamu mencintai aku,agar hati kami hanya untuk aku." Tatap Ryan dengan penuh semangat.


"Iya,Aku percaya."Ku balas dengan senyuman tipis,melihat tingkah Ryan yang tidak seperti biasanya seperti orang yang baru jatuh cinta tapi lucu.

__ADS_1


" Aku serius Cha,Kok kamu malah senyum aja."Ucap Ryan manja,membuat aku makin ingin tertawa melihatnya.


"Iya,Aku percaya calon Imam ku."Sedikit gombalan Ku keluarkan agar sedikit membuat Ryan tenang.


" Aduh Cha,Jantungku jadi berantakan kamu bilang begitu.Terima kasih sayang,Aku akan berusaha jadi Imam yang baik untuk kamu dan keluarga kecil kita kelak."Ryan memandangku lekat,penuh cinta.


Deg...


Mendengar kata-kata Ryan membuat detak jantungku pun tak beraturan,setelah sekian lama aku baru merasakan hal seperti ini dan itu pada


calon suamiku sendiri,Meski kata sayang itu masih terdengar kaku di bibirnya.


"Kita sama-sama belajar Yan menjadi Suami Istri yang baik kelak,salin mengingatkan agar hubungan kita selalu dalam Ridho Allah." Ucapku pada Ryan.


"Iya Cha,ternyata aku nggak salah memilih calon Istri.Sudah baik,soleha,dewasa juga pemikirannya." Puji Ryan.


"Jangan berlebihan Yan,aku masih selalu belajar untuk semua itu."Saran ku pada Ryan.


" Hmmm Aku senang Cha kamu selalu merendah,tidak menyombongkan diri masih seperti sejak awal aku melihat kamu."Senyuman terpancar di bibir Ryan.


Ku angkat kedua alisku melirik Ryan yang tertunduk,"Maksudnya Sejak awal melihat...eh bukannya itu di rumah Amara ???" mengingat-ingat kembali pertemuan pertama kami.


"Iya,itu pertama kali aku melihat kamu dan saat itu Aku selalu memperhatikan kamu hanya saja saat aku mendengar kamu pacarnya Raka jadi aku hanya diam meski ada rasa kecewa." Ryan mengangkat wajahnya melirikku yang ada di sebelahnya menjelaskan perasaannya sejak awak.


"Jadi ??? kamu suka sama aku dari sejak awal ketemu ???" Tanyaku penasaran.


"Awalnya aku hanya penasaran,melihat kamu berbeda dari yang lain.Tapi makin ke sini bayangan kamu terus terlintas di pikiranku padahal kita baru bertemu satu kali,maka dari itu saat bertemu di pantai kemarin,Aku mencoba mencari tau lewat teman kamu Meisya." Tutur Ryan.


Tatapanku lurus ke depan mendengar perkataan Ryan,masih tidak percaya sekaligus kaget mendengar kata-kata Ryan yang ternyata sudah berjuang dari awal,malah aku yang selalu ingin menjauh."Maaf Yan,aku nggak tau perasaan kamu begitu besar tapi aku malah ingin menjauh."


"Nggak apa-apa Cha,wajar aja karena saat itu ada Amara sementara kamu ingin menjaga perasaan Amara,Justru aku makin kagum melihat kamu yang selalu ingi menjaga perasaan orang lain.Yang penting saat ini kita sudah saling tau,tinggal kita kedepannya sama-sama belajar untuk saling menjaga." Tatap Ryan tulus.


"Iya Yan,kita sama-sama belajar dan berusaha untuk hubungan kita kelak." balasku tersenyum pada Ryan.

__ADS_1


Tidak sanggup melihat senyumanku,Ryan mengalihkan pandangannya menatap ke depan."Ya udah Cha,kamu masuk kamar.Aku juga udah mau masuk,besok kita ke butik sama Mama."


Dengan arah yang berbeda,kami melangkah ke kamar.Sesekali aku berbalik ke belakang melihat punggung Ryan,Aku senyum sendiri,mengingat kata-kata Ryan sebelumnya.


__ADS_2