
Dalam kamar aku terus melamun memikirkan perkataan Ryan beberapa hari yang lalu,
"Mungkinkah Ryan serius atau hanya bercanda ???,kalau bercanda nggak mungkin wajahnya seserius itu dan kalau pun serius nggak mungkin lah dia datang ke kampung toh dia nggak tau alamat rumah di kampung meskipun pernah ke rumah tapi kan belum tentu dia langsung hafal jalan ke rumah.Ahhhh Ryan ini bikin aku pusing aja,dari pada aku pusing dengan Ryan yang nggak jelas lebih baik besok pulang kantor aku langsung ke terminal,pulang kampung dulu biar nggak pusing mikirin Ryan yang nggak jelas dan nggak pernah ada kabar semenjak hari itu.Nggak usah berharap lah kan cowok emang begitu lebih banyak janji palsu,udahlah tidur aja biar bisa mimpi indah siapa tau bisa mimpi ketemu jodoh.hehe."Celetukku dalam hati.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Di kantor aku sering melamun dan tidak fokus,entah kenapa aku selalu kepikiran dengan kata-kata Ryan tapi aku bingung harus mempercayai atau tidak karena semenjak hari itu juga dia nggak pernah ada kabar,hanya satu pesan terakhir yang dia kirim setelah itu menghilang.
"Assalamualaikum icha...maaf kalau aku terlalu cepat mengatakan semua ini,jujur sejak awal aku sudah mulai ada perasaan dengan kamu hanya saja waktu itu aku masih ada amara dan aku pikir kamu pacarnya raka jadi aku mundur tapi sekarang aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini,cukuplah kemarin kamu menjauhi aku yang membuat aku benar-benar kehilangan dan sekarang aku tidak ingin lagi.Kamu cukup menunggu waktunya ,maka aku akan datang menemui orang tua kamu.Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang jadi kamu tunggu aku yaah calon istriku๐๐."
Aku tersadar dari lamunan karena Ria menepuk pundak ku,"Eh iya ada apa ria ???" Ucapku saat tersadar dari lamunan.
"Kamu yang ada apa cha,dari tadi di panggil malah diam.lagi mikirin apa sih???" Tanya Ria.
"Nggak ada Ria." Menggeleng sambil tersenyum ke arah Ria.
"Hmmm jangan-jangan kamu masih mikirin Ryan ya???" Goda Ria menertawai ku.
"Apa sih Ria,eh kamu mau kemana bawa tas???" Tanya ku melihat Ria sudah memakai tas.
"Mau pulang lah cha,masa iya mau bermalam di kantor." Ucap Ria bercanda.
"Emang udah jam pulang ???" Tanyaku yang tidak sadar sudah waktu pulang.
__ADS_1
"Cha...cha...ini udah jam pulang dan di rungan ini tinggal kita aja,ayo pulang nanti kamu kemalaman sampai di kampung." Ajak Ria yang tau aku ingin pulang kampung.
"Oh iya...aku kan mau langsung pulang kampung,hmmm tolong liatin kamar aku ya ini kuncinya." Memberikan kunci pada Ria.
"Ok...nanti aku obrak-abrik isi kamarmu hehe." Mengambil kunci lalu menyimpannya di tas.
"Asal jangan di jual aja isi kamarnya,hehe." Melangkah pergi mengambil arah berlawanan dengan Ria.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di terminal,tanpa berpikir panjang aku langsung mencari mobil yang searah dengan kampung ku saja mengingat kalau sore sudah tidak ada lagi mobil khusus daerah ke kampung tapi beruntung masih ada mobil yang searah jadi aku nggak harus menunggu lama.
Terlalu lelah di kantor,aku hanya menyandarkan tubuhku di jok mobil untuk menghilangkan sedikit lelah agar bisa nyaman dalam perjalanan yang memakan waktu selama 2 jam lamanya.Kebetulan aku berangkat jam 5 sore jadi kemungkinan aku akan sampai jam 7 jika tidak macet,masih satu jam perjalanan ponselku berbunyi dan kulihat di layar terlihat nomor baru yang masuk.Malas meladeni jadi ku biarkan saja hingga yang kesekian kalinya, aku mencoba untuk menggeser tombol hijau di ponselku,meski dengan nada malas aku bersuara.
"Wa'alaikum salam icha,akhirnya kamu angkat juga." Terdengar suara yang tak asing buatku namun sebenarnya tidak ingin lagi aku dengar suaranya apalagi untuk bertemu dengannya.
"Erik,ada apa lagi menelpon ????" ucapan ku kini tidak bersahabat lagi seakan ingin segera mengakhiri percakapan kami tapi mengingat dia sudah berusaha menghubungiku jadi aku masih menghargai.
"Santai dong cha,aku cuma mau tanya kabar kamu soalnya sudah lama kamu nggak ada kabar." Erik mencoba merayu aku lagi dengan suara yang tanpa bersalahnya itu seakan dia tidak pernah melakukan kesalahan.
"Alhamdulillah aku baik,nggak usah pedulikan aku lagi nanti pacar kamu marah.Malas aku berurusan sama kalian lagi dan ingat aku sudah bahagia jadi nggak usah hubungi aku lagi,lebih baik kamu urus pacar kamu itu." Tidak lagi ku pikirkan perasaannya ku keluarkan semua yang ingin aku katakan agar dia sadar tapi ternyata dia tidak pernah sekalipun menyadari itu bahkan minta maaf.
"Kenapa sih cha kamu masih marah sama aku ??? emang nggak bisa ya kamu memaafkan aku dan tidak berbicara seperti itu???, jujur cha kalau bisa memilih aku ingin kamu yang bertahan bukan dia tapi kenapa kamu justru mundur dan menyuruh dia yang bertahan." Mencoba merayu lagi.
__ADS_1
"Saya rasa itu nggak perlu di bahas karena buat saya itu hanya masa lalu dan saya sudah bahagia jadi tolong jangan ganggu saya lagi,urus urusan kamu sendiri.Kita memang masih bisa berteman tapi hanya sekedar teman tidak lebih lagi dan juga kamu harus sadar diri untuk menjaga perasaan perempuan yang sedang mempertahankan kamu sekarang jadi tolong jauhi saya." Aku makin sulit untuk mengontrol diri mengingat dia yang tidak pernah menyadari kesalahannya.
"Tunggu cha,jangan di matikan dulu soalnya aku mau bicara." Erik memohon.
"Mau bicara apa lagi sih bukannya sudah jelas yang aku bilang tadi." Ucapku kesal.
"Cha,memang kamu nggak kasihan apa sama aku ??? lagi sakit begini kamu malah marah-marah.Aku telpon kamu itu karena lagi kangen sama kamu dan pengen denger suara kamu siapa tau aku bisa langsung sembuh." Gombalnya.
"Jadi kamu telpon aku hanya untuk itu ??? kenapa nggak telpon pacar kamu aja ??? justru yang harus kamu telpon itu dia,siapa tau kamu langsung sembuh kalau dengar suaranya." Ku naikkan kedua alisku lalu ku hembuskan nafas panjang mendengar tingkah Erik yang bikin aku makin hilang rasa sama dia.
"Aku hanya butuh kamu cha soalnya kamu lebih pengertian dan lebih dewasa dari dia,yang ada kalau aku hubungi dia nanti malah bertengkar.Lagian kamu juga sih mengalah sama dia kalau nggak, pasti kamu sekarang yang sama aku." Ucapnya santai.
"Justru aku bersyukur bisa menjauh dari kamu dan sekarang aku sudah bahagia,aku sudah punya calon sendiri jadi nggak usah ganggu aku lagi.Harusnya sekarang kamu mempertahankan orang yang begitu baik menerima segala kekurangan kamu meskipun dia sendiri sakit tapi memilih bertahan untuk kamu." Aku mengeluarkan semua ke kesalan ku pada Erik.
"Aku nggak yakin kamu udah dapat pengganti aku,kalau pun ada pasti hanya kamu yang suka sama dia tapi laki-laki itu tidak akan suka sama kamu." Terdengar suara tawa di seberang telpon seakan meremehkan ku,menganggap tidak akan ada yang suka sama aku selain dia.
"Mungkin sekarang kamu tidak percaya tapi nanti saat kamu melihat aku duduk di pelaminan kamu baru akan berhenti tertawa tapi justru sebaliknya,aku harap ini terakhir kali kamu menghubungi aku dan jangan ganggu aku lagi karena buat aku kamu hanya masa lalu,Assalamualaikum." Segera ku matikan ponsel,tidak ingin mendengar lagi kata-katanya yang menyakitkan,yang selalu berpikir seakan hanya dia yang suka sama aku sehingga dia bisa bersikap seenaknya mempermainkan aku tanpa ada kata maaf sekalipun dari mulutnya atas semua kesalahan yang pernah dia lakukan bahkan dengan pedenya mengatakan hal seperti itu.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Mengalihkan pikiran agar tidak terus memikirkan perkataan Erik,ku lirik jendela mobil memandang keblangit memperhatikan pantulan cahaya bulan yang terlihat terang malam ini.Tidak lama ku sandarkan kembali tubuhku memandang lurus ke jalan melihat beberapa kendaraan lain yang di depan mobil,tiba-tiba aku teringat dengan satu nama yang beberapa hari ini membuat aku sulit untuk fokus.Tapi aku sendiri tidak berani dan gengsi untuk menghubunginya terlebih dahulu,nanti dia malah berpikir aku terlalu berharap.Kembali ku simpan ponsel di dalam tas lalu ku pejamkan mata agar bisa tidur mengingat masih ada waktu satu jam untuk sampai di kampung.
Maaf author masih dalam tahap belajar jadi mohon dimaklumi dan mohon dukungannya agar author bisa terus berkarya๐๐
__ADS_1