Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
BERUBAH SIKAP


__ADS_3

🌸🌸🌸🌸🌸


Drrrtt....drttt....


Ku ambil ponsel yang ada di sampingku,ada chat masuk dari Ryan yang membuat aku tersenyum sendiri membacanya."Selamat pagi calon istriku,semangat kerjanya ya."


Untuk pertama kalinya Ryan mengirimkan pesan dengan nada yang agak berbeda dari sebelumnya,menandakan bahwa hubungan kami mulai berubah jadi hanya sekedar teman menjadi calon istri.Masih tidak percaya rasanya tapi pada kenyataannya cincin di jariku telah membuktikan itu.


Suasana hati yang berbeda membuatku lebih semangat kali ini ke kantor,penasaran bagaimana ekspresi meisya saat tau Ryan sudah melamar aku.Biarlah meisya sadar sendiri dan bertanya lalu aku memberitahu semuanya.


"Selamat pagi mei." Ku hampiri meisya yang sedang duduk di kursi depan loby.


"Pagi,cha.Tumben semangat begitu,nggak kayak biasanya??? ekspresi wajah kamu juga beda,ada apa sih." Meisya memandangku heran yang masih senyum-senyum dari tadi.


"Nggak ada apa-apa mei,perasaan biasanya juga seperti ini." Ku alihkan pandangan pada ponsel agar mey tidak terus bertanya.


"Eh...tunggu deh cha,kamu habis beli cincin ??? perasaan belum gajian deh dan bukannya kamu bilang uang kamu hanya cukup sampai akhir bulan." Meisya memperhatikan cincin di tanganku.


"Emang nggak beli tapi di kasih gratis." Ku tatap meisya sambil tertawa.


"Kok bisa ??? eh...tunggu....jangan bilang kamu habis....." Belum selesai meisya bicara aku langsung berjalan masuk ruangan.


"Ayo masuk mei,udah jam kerja." Berjalan masuk di ikuti meisya di belakangku.


"Cha...aku penasaran loh kamu di kasi cincin dari siapa ????" Desak meisya yang penasaran.


"Kepo deh....hahaha." Ku nyalakan komputer di depan mejaku.


"Oh gitu sekarang,udah main rahasia-rahasia." Ancam meisya dengan bibir manyunnya.


"Hehe...Nanti siang aku ceritain tapi kita fokus kerja dulu soalnya kerjaan ku kali ini banyak banget." Kembali fokus pada komputer yang ada di depanku.

__ADS_1


Tidak ada lagi terdengar suara di dalam ruangan,semua sibuk di depan komputer masing-masing.hanya berbicara jika itu menyangkut pekerjaan.


🌺🌺🌺🌺🌺


Meisya menghampiriku di pentry kantor,tempat para karyawan makan siang saat malas makan di luar."Cha,cerita dong itu cincin dari mana ???" Desak meisya yang masih penasaran.


"Iya,aku bilang tapi jangan kaget dan jangan ribut.jadi dengar baik-baik." Aku mencoba memberitahu meisya mumpung masih agak sepi.


"Ok..aku siap." Meisya mendekatkan wajahnya ke samping aku agar pembicaraan kami tidak terdengar oleh yang lain.


"Sebenarnya ini cincin bukti Aku sudah di lamar oleh Ryan." Aku berbicara pelan pada meisya agar tidak terdengar yang lain.


"Apa...???" Ekspresi kaget Meisya membuat yang lain ikut melihat ke arah kami,lalu Meisya menurunkan volume suaranya sambil minta maaf.


"Kan aku bilang tadi,jangan kaget,ini malah membuat seisi ruangan ikut kaget." Ucapku.


"Ya...maaf cha,soalnya aku benar-benar kaget tapi aku ikut bahagia.Akhirnya temanku yang cuek ini di lamar juga,selamat cha.Ryan itu orang yang baik dan soleh,aku yakin kamu akan bahagia bersama dia." Reflek meisya memeluk aku dengan erat,begitu senangnya sampai tidak sadar sudah memeluk aku.


"Aamiin...semoga dia lah yang terbaik yang di kirim Allah untuk jadi imam ku." Ku balas pelukan meisya yang masih memelukku.


"Hmmm rencana Habis lebaran ini tapi kami belum membicarakan tanggal soalnya belum lamaran resmi,nanti lah di bahas." Sambil ku santap makanan di depanku.


"Ooo...begitu,tapi aku penasaran cha.Kok tiba-tiba Ryan melamar kamu,bukannya dia nggak ada kabar lagi setelah hari itu ???" Masih menyantap makanannya.


"Aku juga kaget mei,tiba-tiba Ryan muncul di rumah dan bicara sama mama.Bayangin nggak gimana kagetnya aku saat itu!!!" Ku letakkan sendok dan ku bayangkan kembali saat Ryan tiba-tiba datang ke rumah.


"Ihhh...mau dong cha,di romantis ini kayak Ryan." Ucap meisya dengan raut wajah yang sudah berimajinasi hal yang sama.


"Makanya,jangan pacaran lama-lama,Nanti dia berpaling baru nangis kan." Menggoda meisya agar mendesak pacarnya.


"Nggak deh cha,biarin aja.Aku ikut dia aja,kalau memang mau sukses dulu." Ucap meisya singkat.

__ADS_1


Selesai makan,Aku dan Meisya duduk di loby menunggu jam istirahat berakhir.Tiba-tiba ponselku berdering,Terlihat di layar muncul nama Ryan.Sedikit menjauh dari meisya,aku mengangkat telpon dari Ryan.


"Assalamualaikum." Ucap Ryan.


"Wa'alaikum salam." Jawabku.


"Udah makan siang ???" Tanya Ryan.


"Udah,ini baru selesai." Jawabku singkat.


"Terus sekarang ngapain ???" Tanya Ryan lagi.


"Lagi duduk di loby sambil bicara sama kamu.Hmmm udah makan siang ???" Jawabku lagi.


"Oh...udah tadi,kapan-kapan makan siang bareng ya." Usul Ryan.


"Mmmm bukannya nggak mau tapi kan kamu tau sendiri jam istirahat hanya satu jam jadi nggak bisa pergi jauh-jauh." Jelas ku pada Ryan.


"Nanti kita makan di dekat kantor kamu saja,sekalian ajak teman kamu.Biar aku jemput terus kita makan,gimana???" Saran Ryan.


"Ya udah,liat nanti aja kalau ada waktunya." jawabku singkat.


"Oh iya,aku hampir lupa.Mama mengundang kamu dinner di luar bareng keluarga yang lain.Bisa kan ???" Ajak Ryan.


"Tapi...aku malu Yan.Nggak biasa makan bareng keluarga kamu." Sedikit ragu dengan ajakan Ryan dinner di luar.


"Santai aja cha,Sekalian Mama mau kenalin kamu sama keluarga yang lain.Nanti aku kabari lagi yang jelas kamu harus datang,Assalamualaikum." Menutup telpon.


"Wa'alaikum salam." Aku hanya terdiam setelah menutup telpon,bingung harus bagaimana nantinya.Ini untuk pertama kalinya aku berkumpul bersama keluarga besar Ryan,takut nggak sepadan mengingat keluarga mereka dari kalangan orang kaya sementara aku hanya dari kalangan bawah.


Sebenarnya aku juga bingung kenapa Ryan memilih aku sementara banyak perempuan lain di luar sana,tapi aku sendiri belum menanyakan itu pada Ryan melihat keseriusan Ryan yang sudah berani menemui orang tuaku.

__ADS_1


Salah satu hal yang membuat aku ragu dari Ryan karena kami dari kalangan berbeda,tapi orang tuaku pun tidak mempertanyakan itu saat Ryan datang karena buat mereka yang terpenting laki-laki yang akan jadi Imam ku kelak adalah orang yang baik,bertanggung jawab dan menerima aku apa adanya.


Sementara dari penilaian ku sendiri tentang Ryan itu ada pada dirinya dimana dia terlihat seperti laki-laki yang sholeh,menghormati perempuan,baik,pekerja keras dan yang pasti aku merasa nyaman sekaligus yakin kami bisa bahagia meski nantinya kami harus berjuang dari nol,itu tidak masalah buat aku asalkan Ryan tetap ingin berusaha.


__ADS_2