Perjalanan Hijrahku

Perjalanan Hijrahku
BERTEMU ORANG BARU


__ADS_3

Dalam perjalanan aku lebih memilih untuk tidak terlalu banyak bicara,masih merasa malu mengingat perjodohan kami.


"Kamu kenapa diam cha?" Tanya Raka sekilas melirik lalu kembali fokus menyetir.


"Nggak,lagi menikmati suasana malam." Jawabku dengan membalas melirik.


"Kamu nggak keberatan kan kalau aku ajak keluar?" Tanyanya lagi.


"Nggak lah,sekali-kali aku keluar cari hiburan biar nggak bosan di kosan." Ucapku tersenyum menatap ke arahnya tapi hanya di lirik sambil tersenyum.


"Emang kamu nggak pernah keluar." Tanya Raka.


"Pernah tapi sekali-kali." Jawabku.


"Sama siapa??" Pandangannya lurus ke depan.


"Sama Syarif." Jawabku.


"Maksud aku sama teman cowok kamu." Melirik lagi.


"Nggak ada kak,terus kakak sendiri kenapa nggak ajak pacarnya sekalian di ajak jalan-jalan??" Tanyaku balik.


"Dia sibuk jadi aku sendiri aja." Ucapnya fokus menatap arah jalan.


"Oh...tapi dia tau kan kita keluar ??" Tanyaku,takut nanti pacarnya salah paham.


"Tau,udah aku kabari tadi." Liriknya lagi.


"Aku dengar kakak udah lama pacaran sama dia,emang belum ada rencana menikah." Mulai kepo.


"Belum tau." Jawabnya singkat bikin aku makin penasaran.


"Kok belum tau kan kalian udah pacaran lama?" Tanyaku lagi.


"Belum yakin." Jawabnya begitu singkat dan santai.


"Masa pacaran udah selama ini masih belum yakin,kasian anak orang kak di pacari namun nggak di kasi ke pastian." Ucapku.


"Aku juga nggak tau." Ucapnya.


"Yaah semoga aja secepatnya." Ucapku.


"Akhirnya sampai juga." Ucap Kak Raka yang tiba-tiba menghentikan mobilnya tanpa aku sadari.


"Ini kan komplek elit,ini rumah teman kakak???" Tanyaku penasaran sambil melihat sekeliling,terlihat dari jauh begitu luas dan besar.


"Iya,ayo turun." Ajak Raka.


"Aku malu kak,nggak biasa pergi ke tempat seperti ini." Aku hanya berdiam diri di mobil,tidak berani turun.


"Kan ada aku,jadi kamu santai aja." Raka mengulurkan tangannya ke arahku.


Ku ikuti langkah kaki raka dari belakang melewati ruangan demi ruangan yang terlihat mewah,mataku tidak berhenti menatap sekeliling rumah sampai di sebuah taman terbuka yang sudah di kelilingi oleh hiasan-hiasan dan beberapa orang dengan dress dan setelan jas.


Jika di lihat dari penampilan, mereka itu dari kalangan orang-orang yang terpandang.


Sementara aku hanya menggunakan dress polos seadanya dengan sepatu kets biasa di lengkapi tas yang murah,sangat jauh dari mereka yang aku lihat.


Dari kejauhan terlihat seseorang melambaikan tangan pada kami lalu berjalan ke arah kami kemudian di balas oleh raka.


"Akhirnya kamu datang juga raka." Ucap Fathir.


"Iya,ternyata ramai juga yaah." Ucap Raka.


"Aku pikir tadi hanya kita-kita tapi ternyata keluargaku juga mengundang kerabat yang lainnya." Ucap Fathir tersenyum.


"Wajar sih kan mereka bahagia atas kelulusan kamu." Balas Raka tersenyum ke arah fathir.


"Itu juga berkat bantuan kamu,eh ini pacar kamu." Melirik ke arahku yang sedari tadi berada di samping Raka.


"Perkenalkan ini icha,cha perkenalkan ini fatir teman aku." Aku hanya tersenyum lalu melambaikan tangan pada Fathir sebagai tanda perkenalan kami.


"Masya Allah,pintar juga kamu cari pacar." Ucap Fathir.


"Kamu ini tir,mama sama papa kamu mana??" Raka mengalihkan pembicaraan.


"Ada di sana tuh,dari tadi mereka menanyakan kamu." Menunjuk ke arah orang tuanya.


Kami berjalan di tengah kerumunan orang untuk menghampiri orang tua fathir.


"Ma..pa...yang mama papa cari udah di sini." Menunjuk ke arah raka.


"Eh raka...om kirain kamu nggak datang soalnya dari tadi nggak ada kabar kata fathir." Ucap papa Fathir melihat ke arah Raka.


"Iya om...maaf ponsel aku tadi lupa di cas,jadi lupa ngabarin." Ucap Raka.


"Yang di samping kamu siapa raka??" Papa Raka melirik ke arahku.


"Pacarnya Pah." Sambung fathir.


"Semoga langgeng yaah." Ucap Papa Fathir.


Tanpa sengaja pandangan kami bertemu lalu ku alihkan pandanganku sementara Raka hanya tertawa kecil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sementara raka sibuk dengan teman-temannya aku memutuskan untuk berjalan-jalan di tepi pantai yang kebetulan berdekatan dari pesta itu.


"Kak,aku jalan-jalan sebentar yaah." Minta Izin pada Raka.


"Dimana???" Tanya Raka.


"Di sana." Menunjuk arah pantai.

__ADS_1


"Biar aku temani." Usulnya.


"Nggak usah kak,lebih baik kakak sama teman kakak aja." Menolak karena memang ingin sendiri.


"Yakin nggak apa-apa." Tanya raka memastikan.


"Iya,aku ke sana yaah." Ucapku tersenyum pada Raka.


"Tapi hati-hati." Ucapnya.


"Iya kak." Aku langsung berlari kecil menjauh dari Raka.


Aku berjalan dengan penuh semangat menuju arah pantai,berjalan selangkah demi selangkah.Begitu antusiasnya sampai tidak sadar aku bertabrakan dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah denganku.


"Maaf mba...maaf..."Ucapku


"Kalau jalan itu liat-liat dong." Memegang tangannya karena bertabrakan denganku.


"Maaf...saya nggak sengaja." Aku merasa bersalah meski dia yang menabrak aku duluan.


"Iya tapi tangan aku sakit ini,gimana dong??" Ucapnya ketus.


"Kan itu hanya ke senggol aja." Sambung Ryan.


"Kok kamu malah belain cewek ini sih Ryan?" Makin marah.


"Bukannya belain,lagian dia juga udah minta maaf dan kamu juga tadi yang salah.jalan sambil pegang ponsel,harusnya kamu yang minta maaf." Ucap Ryan.


"Ini juga karena kamu yang cuekin aku dari tadi." Berbalik marah ke arah Ryan.


"Kan aku lagi sibuk sama teman-teman aku." Bela Ryan.


"Tapi lupa sama aku,sebel sama kamu mending aku pergi lapor ke mama." Berlalu pergi begitu saja.


Aku hanya mengikuti langkah kakinya hingga jauh lalu kembali melirik laki-laki yang ada di hadapanku,"Nggak di kejar mas pacarnya???" Tanyaku kembali menunjuk ke arah cewek tadi.


"Dia bukan pacar aku,tapi memang selalu seperti itu sama aku." Ryan tersenyum menunduk.


"Oh kirain pacarnya."Aku mengalihkan pandangan ke arah pantai.


"Bukan,maaf ya mba atas sikapnya tadi." Ucap Ryan tidak enak dengan sikap tunangannya.


"Nggak apa-apa kok mas,aku juga salah nggak liat.Mas bisa kembali ke temannya,aku nggak apa-apa." Melihat ke arah teman-teman Ryan.


"Kalau begitu aku ke sana ya mba." Berjalan ke arah temannya.


Dari kejauhan Ryan terus memantau setiap kegiatan yang aku lakukan sambil diam-diam mengambil foto tapi aku tidak menyadari itu,aku hanya fokus pada pantai yang ada di hadapan aku.Bermain sendiri tanpa memperdulikan sekitar.


"Eh itu cewek meskipun sendiri tetap terlihat bahagia ya??" Ucap teman Ryan melihat ke arahku.


"Mana sih bro???" Tanya teman Ryan yang lain.


"Itu di sana,senyum sendiri mainin ponsel." Tunjuk teman Ryan lagi.


"Kalian ini selalu aja melihat cewek dari segi kasta." ucap Ryan.


"Liat aja yan,penampilannya itu sederhana banget." Ucap temannya lagi.


"Mana sih ??? " mencari-cari lalu melihat ke arahku,"Oh itu..."Ucap Ryan santai.


"Kamu udah kenal Ryan??" Tanya temannya penasaran.


"Nggak sih cuma tadi sempat ngobrol."Ucap Ryan yang dari tadi hanya sibuk memainkan ponselnya.


"Ternyata udah ada yang lebih duluan nih." Ledek yang lain.


"Nggak seperti itu,jadi tadi itu waktu aku kejar Amarah yang lagi ngambek, tiba-tiba cewek itu datang jadi nggak sengaja ke senggol sama Amara.Dari pada amara makin melampiaskan ke marahan nya pada orang lain jadi aku belain karena memang amarah yang salah." Ucap Ryan.


"OHH...gitu, tapi udah kenalan nggak???" Tanya temannya lagi.


"Nggak.emang perlu ya??" Ucap Ryan


"Hmmmm gini nih kalau kelamaan sendiri jadi nggak tau cara deketin cewek,gimana kalau aku deketin." Usul temannya.


"Nggak usah,paling kamu cuma mau deketin terus kamu tinggalin.Jadi nggak usah,kasian anak orang." Ucap Ryan yang sangat tau tabiat temannya itu.


"Sejak kapan kamu peduli sama cewek,biasanya kamu juga liatin kita gombal mereka." Ledek temannya.


"Tapi kali ini dia beda,seperti perempuan baik-baik meskipun penampilannya terlihat dari kalangan bawah seperti yang kalian bilang tapi dari penampilannya,dia itu terlihat seperti perempuan baik-baik.Saat berbicara pun lembut dan sopan." Ucap Ryan.


"Ada yang jatuh cinta pada pandangan pertama nih." Ledek temannga lagi.


"Udah....,dari pada sibuk mikirin itu lebih baik kita ke abang fathir memberi ucapan selamat atas kelulusannya." Mengajak temannya pergi.


Takut terjadi apa-apa,Raka mencoba menghampiriku yang masih asyik sendiri.


" Dari tadi di tunggu ternyata kamu masih di sini???" Ucap Raka.


"Kenapa ke sini kak,nanti temannya nyariin???" Aku melirik ke arah Raka.


"Aku khawatir,makanya nyusul." Jawab Raka.


"Takut ada yang culik !!!." candaan ku.


"Hmmm kamu ini,orang khawatir malah di bercandaain.ayo masuk." Terlihat raut wajah Raka khawatir.


"Emang acaranya udah selesai???."Tanyaku lagi


"Udah,tapi kita masuk dulu soalnya papanya fathir mau bicara sama aku sebentar.Nggak apa-apa kan kamu menunggu???"Ajak Raka.


"Nggak apa-apa." Aku berdiri dari tempat ternyaman ku mengikuti Raka dari belakang untuk masuk menemui papa fathir.

__ADS_1


Semua tamu sudah pulang tinggal keluarga fathir,keluarga Ryan,aku dan raka.


"Raka,kamu masuk dulu ke dalam papa mau bicara tapi pacar kamu di sini aja ya,nggak apa-apakan cha??" Ajak fathir yang sekilas melirik ke arahku.


"Nggak apa-apa kak,aku menunggu di sini aja." Aku hanya tersenyum pada Fathir dan Raka.


Sementara menunggu raka di dalam ruangan bersama fathir dan papanya,amara datang dengan sikap angkuhnya.


"Loh kamu kan cewek yang nabrak aku tadi??" Ucap marah.


"iya mba...maaf." Aku hanya menunduk.


"Ngapain kamu di depan ruangan papa,mau maling ya." Amara menuduh tanpa bukti.


"Astagfirullah mba,saya nggak gitu." Aku membela diri tapi masih tetap tenang.


"Ada apa sih ini amara,kok marah-marah begitu??" Ucap Mama Amara.


"Ini mah cewek yang nabrak aku tadi sampai tanganku lecet begini,udah gitu di belain lagi sama Ryan." Ucap Amara mengadu.


"Kan memang bukan dia yang salah tapi kamu yang nabrak dia amara."Bela ryan yang baru datang.


"Tuh kan ma' di belain lagi." Amara makin kesal.


"Amara,mama kan udah bilang kalau salah harus minta maaf bukan seperti ini." Ucap Mama Amara.


"Tapi ma'...ah bete,nggak ada yang belain aku." Berjalan pergi ke kamar.


"Maafin anak tante ya nak." Ucap Mama Amara tersenyum.


"Iya tante,nggak apa-apa." Aku hanya tersenyum.


"Raka masih di dalam sama om??" Tanya Mama Amara dan fathir.


"Iya tante." Jawabku.


"EH calon besan udah mau pulang." Ucap mama amara dan fatir pada Mama Ryan.


"Iya tapi dari tadi aku cari papanya Ryan kok nggak ada???" Jawab Mama Ryan.


"Mungkin di dalam sama papanya Amara." Ucapa mama Amara.


"Nak,tadi kamu liat berapa orang yang masuk??" tanya mamanya fathir padaku.


"Empat orang tante." Jawabku.


"Nah kan ada di dalam,biar enak kita tunggu mereka sambil ngobrol-ngobrol di dalam aja mba."Mengajak ke ruang keluarga.


Meninggalkan aku dan Ryan yang hanya terdiam,aku hanya sibuk menatap ponsel sementara Ryan dari tadi bingung ingin memulai pembicaraan.


" Maaf yaa atas sikap amara tadi." Ucap Ryan.


"Oh...nggak apa-apa." Jawabku.


"Perkenalkan aku Ryan."Mengulurkan tangan.


"Aisyah..panggil ich aja." Aku hanya menatap ke arah Ryan lalu menyebut nama.


"Masya Allah..." Ucap Ryan.


"Kenapa mas??" Tanyaku.


"Nggak,jarang-jarang aku ketemu sama cewek seperti kamu." Ucap Ryan.


"Maksudnya mas." Aku bingung.


"Yang kalau di ajak bicara hanya menunduk tanpa berani memandang lawan bicara apa lagi yang bukan muhrim." Ucap Ryan tersenyum.


"Aku masih belajar mas." Masih menunduk.


"Bagus dong,memang harus seperti itu." Ucap Ryan.


"Terima kasih mas." Aku hanya tersenyum.


"Tapi kayaknya nggak usah panggil aku mas panggil raka aja lagian umur aku baru 27,belum mas-mas." Ucap Raka bercanda.


"Berarti aku lebih mudah dari mas." Ucapku.


"Emang berapa ??" Tanya Raka penasaran.


"Baru 25 mas." Jawabku.


"Beda sedikit,cocok." Ucap Raka.


"Apanya yang cocok ??" Tanyaku lagi.


"Nggak...maksudnya cocok umurnya sama penampilannya." Ucap Raka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ohhh...kirain apa." Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.


"Pa'..." panggil ryan,menatap ke arah Papa nya.


"Ryan...udah dari tadi di sini." Tanya Papa Ryan.


"Nggak juga kok pa,mama nyariin papa dari tadi." Menunjuk ke arah Mamanya


"Oh iya..papa lupa bilang kalau ada urusan sama papanya fathir." Ucap papa nya.


"Kalau begitu kami pulang dulu ya om,salam sama tante." pamit raka dan aku.


"Ryan...kamu kenal sama pacarnya raka?" tanya fathir setelah kami pergi.

__ADS_1


"Nggak bang." Jawab Raka.


Ternyata dia sudah punya pacar,aku pikir dia nggak punya pacar dan dia berbeda tapi ternyata sama saja.Batin Ryan.


__ADS_2