
Di Kediaman icha (di kos)
Terlihat beberapa undangan berserakan di lantai,sebagian telah terisi nama dan yang lainnya masih kosong.Aku bingung harus menulis nama siapa lagi,sampai pada akhirnya memutuskan untuk tidak menulis lagi lalu merapikannya kembali.Agar besok bisa langsung di bagikan pada teman kantor,selebihnya di simpan untuk yang akan di undang secara dadakan.
Besoknya di kantor,aku mulai membagikan undangannya satu persatu.
"Datang ya semua,di tunggu kedatangannya." Ucapku sambil tersenyum.
"Kirain kamu yang mau nikah cha ???" Ucap Dini.
"Hehe...bukan,adik aku yang nikah." Ucapku.
"Kamu di langkai dong,emang nggak apa-apa??" Tanya Temanku yang lain.
"Ya nggak lah kan dia udah ada jodohnya." Jawabku hanya tersenyum.
"Hmmm semoga kamu juga bisa secepatnya nyusul." Ucap yan lain.
"Aaminn,semoga ya." Tersenyum.
Kembali ke meja kerjaku,memeriksa berkas-berkas yang sudah menumpuk.Aku mulai fokus dan serius agar semua bisa selesai hari ini dan bisa keluar jalan untuk menghilangkan jenuh.
"Cha...cha....ichaa..." panggil Meisya.
"Eh iya mey,ada apa??" Ucapku yang baru sadar di panggil tadi.
"Kamu serius banget sih aku panggil dari tadi juga." Ucap Meisya kesal.
"Maaf mey,aku lagi fokus agar bisa pulang cepat." Aku tersenyum ke arah meisya agar wajahnya tidak kusut lagi.
"Emang mau kemana???" Tanya Meisya.
"Mau keluar sama Raka,udah lama aku nggak ketemu dia." Ucapku santai.
"Cieee...yang lagi kangen." Goda Meisya.
"Apaan sih mey,orang cuma pengen keluar makan aja." Kembali memandang ke layar komputer.
"Iya deh...tapi kalian cuma berdua ???" Tanya meisya lagi.
"Emang kenapa??? mau ikut juga???" Usulku.
"Nggak deh nanti mengganggu." Ucap Meisya sambil sibuk dengan berkas-berkas di tangannya menghadap ke arahku.
"Bilang aja kalau mau di ajak." Godaku.
"Apaan sih cha,tadi itu aku mau ajak kamu keluar jalan tapi ternyata kamu udah janjian sama Raka." Ucap Meisya.
"Kalau begitu kamu ikut aja,lagian aku memang berencana mau ajak kamu." Ajak ku.
"Beneran,tidak akan mengganggu kalian." Meisya menatap serius ke arahku.
"Benar lah mey,lagian Raka tau kalau mau keluar sama aku pasti harus ada temannya biar nggak cuma kami aja di mobil." Jelas ku.
"Emang kamu takut kalau cuma berdua di mobil kan nggak akan di apa-apain juga,Raka juga baik?" Ucap Meisya.
"Pikiran kamu tuh...bukan begitu,maksudnya tuh nggak baik kalau cuma kami berdua karena bukan muhrim meskipun sepupu." Ucapku.
"Kalau begitu kalian nikah aja cha." Celetuk meisya.
"Hmmmm malas ah mey bahas itu,ayo siap-siap pulang." Ajak ku yang sudah beranjak dari kursi.
"Tapi aku harus pulang ke rumah dulu,aku nggak bawa baju ganti." Ucap Meisya.
"Nggak usah pulang,pakai baju aku aja." Saran ku.
"Tapi baju kamu kan kayak ukhti-ukhti gitu,aku nggak biasa." Meisya menolak,belum terbiasa dengan pakaian syar'i.
"Makanya di coba agar terbiasa,siapa tau kalau kamu pakai baju begitu Raka akan naksir." Godaku.
"Ih cha..raka itu suka sama kamu loh,kok malah di jodohkan ke aku yang sudah punya pacar." Ucap Meisya kesal
"Suka dari mana sih mey,orang dia hanya menganggap aku adik nya." Aku tidak setuju dengan pendapat Meisya.
"Kalau aku liat dari caranya memandang kamu,itu seperti laki-laki yang suka sama cewek tapi kayaknya dia tidak berani untuk mengungkapkannya." Ucap meisya sambil mengingat saat kami pergi liburan kemarin.
"Udahlah mey,nggak usah di bahas mending kita siap-siap nanti raka tiba-tiba datang lagi." Ajak Ku.
🌸🌸🌸🌸
Belum selesai siap-siap,raka sudah di depan kosan.Dengan panik dan buru-buru,aku membereskan alat make up seadanya lalu mengambil tas tanpa memperhatikan isi di dalamnya.
"Hmmm si ibu rempong...lama banget dandannya." Sindir Meisya
"Itu juga karena kamu tadi yang ribet milih bajunya jadinya aku lama siap-siapnya." Ucapku
"Hehe...iya ya." Jawab meisya cengingiran.
"Ayo masuk."Sambung Raka.
"Iya kak." Ucapku lalu masuk mobil.
"Mau jalan ke mana kak???"tanya Meisya.
__ADS_1
"Kayaknya malam-malam begini bagusnya ke pantai." Usul Raka.
"Kayaknya bagus tuh." sambung meisya.
"Ok..aku ikut aja." Ucapku.
Di dalam mobil hanya terdengar suara musik,di saat raka serius menyetir mobil.aku dan meisya sibuk dengan ponsel masing-masing.
Sampailah di sebuah pantai,tempat biasanya anak muda nongkrong saat malam minggu.
"Ayo turun." Ajak raka.
Kita mau duduk dimana kak??" Tanyaku.
"Cari tempat yang dekat pantai kayaknya bagus." Ucao Raka.
"Hmmm bagus juga,ayo kita ke sana." Meisya menunjuk ke arah tempat duduk.
Kami berjalan mencari tempat yang bagus untuk duduk sekaligus makan,tempat yang nyaman di dekat pantai.
"Nah ini kayaknya bagus." Usul meisya.
"Hmmm bagus,gimana kak??" Ucapku pada Raka.
"Kalau begitu,kita duduk di sini aja." Berjalan menuju tempat yang di tunjuk meisya.
Sambil menunggu makanan datang,aku melihat sekeliling yang begitu ramai,tanpa sadar Raka sudah memperhatikanku dari tadi.
"Kenapa cha???,Nggak suka ???" Tanya Raka.
"Bukan nggak suka kak cuma nggak biasa aja." Ucapku.
"Makanya di biasakan biar nggak bosan di kos terus." Ucap Raka
"Iya kak,kalau boleh tau kapan kakak ke kotanya??" Tanyaku.
"Udah lama,sejak 2 bulan yang lalu." Jawan Raka.
"Ngapain selama itu di sini??" Tanyaku penasaran.
"Aku kan udah kerja di perusahaan papanya fathir." Ucap Raka.
"Oh yang dulu kita datangi pestanya itu." Ucapku.
"Iya...papanya fathir itu baik banget,sampai nawarin aku kerja jadi manajer di perusahaannya." Ucap Raka lagi.
"Bagus dong,berarti kakak udah dapat penghasilan dan bisa bantu orang tau di kampung." Ucapku senang.
"Alhamdulilah cha,tinggal tunggu calonnya aja." Ucap Raka.
"Nanti aja lah,masih butuh memastikan." Ucap Raka lagi.
"Apa lagi yang mau di pastikan??"Tanyaku lagi memastikan sekaligus penasaran.
"Mana yang cocok untuk jadi istri." Ucap Raka santai.
"Berarti kakak ada banyak calon dong,pantas aja nggak yakin." Ucapku.
"Hm tapi belum tau dia juga suka atau tidak." Ucap Raka yang membuat aku bingung sendiri.
"Ya bilang dong kak biar dia tau." Jawabku santai tanpa menyadari arah pembicaraan Raka.
"Nanti aja lah." Ucap Raka singkat melihatku yang santai menanggapinya.
"Nanti terus...ingat umur kak,takutnya yang kakak suka akan di ambil orang." Sambil ketawa.
"Akan ada waktunya,selesaikan dulu makannya baru bicara." Raka memperhatikanku.
Tiba-tibaAda yang menepuk bahu raka dari belakang,terlihat ada 2 pasangan yang menghampiri kami.
"Raka,kamu di sini juga." sapa fathir menepuk pundak Raka.
"Eh fathir,kalian di sini juga.Ayo gabung." Raka mempersilahkan duduk.
"Sebenarnya aku mau sih tapi melihat cewek yang di samping kak raka,aku jadi malas."Lirik Amara ketus.
"Amara...nggak boleh gitu,ayo duduk." Ajak Ryan yang sudah ikutan duduk dengan fathir.
"Iya Amara,lagian kan Icha ini pacarnya raka jadi wajar mereka berduaan." Ucap Fathir yang masih berpikiran Aku pacarnya Raka.
"Maaf kak,nggak berdua tapi bertiga." Ucapku agar mereka tidak salah paham.
"Terus teman kamu mana???" Tanya Fathir.
"Lagi telponan,sinyal di sini lagi nggak bagus jadi dy cari tempat yang lain." Aku menunjuk ke arah Meisya yang sedang asyik telponan.
"Oh...kalian udah makan???." Tanya Fathir.
"Ini baru aja selesai makan." jawab raka.
"Padahal baru mau di traktir." Ucap Fathir tersenyum..
"Kalian aja yang pesan." Jawab raka.
__ADS_1
"Sayang tolong pesenin dong." pinta fathir pada pacarnya.
"Ok sayang."jawab pacar fatir.
"Aku dengar kamu mau ambil libur beberapa hari ?? Ada acara apa???" Tanya Fathir pada Raka.
"Menikah."jawab raka singkat.
" Hhha kalian mau menikah."Tanya ryan kaget.
"Abang Ryan kok kaget gitu,ya wajar lah mereka menikah kan mereka pacaran." celetuk Amara
"Eh bukan kami yang menikah." Jawabku lagi.
"Terus siapa???" Tanya Ryan penasaran.
Dengan tersenyum Raka memintaku memperlihatkan undangannya,
"Kamu bawa undangannya nggak cha???,kalau ada perlihatkan ke mereka biar nggak salah paham." Ucap Raka.
"Kebetulan aku bawa beberapa undangan kosong,ini silahkan di liat." Aku mengambil undangan di tas lalu memperlihatkan pada mereka.
"O... bukan kalian,tapi ini siapa???" Ucap Ryan kembali tersenyum melihat undangannya bukan atas namaku.
"Itu adik aku yang mau nikah,kalian datang yaah." ucapku.
"Kalau di undang,kita pasti datang." Ucap Fathir.
"Kalau begitu undangannya untuk kak fathir,amara,ryan dan sekaligus ajak papa mamanya." Ucapku.
"Pasti aku datang." jawab Ryan penuh semangat,mengingat itu kesempatan untuk dia bisa bertemu keluargaku.
"Kak fathir sama bang Ryan kok mau sih datang ke pesta orang kampung." Protes Amara.
"Amara,kamu nggak boleh bilang begitu.nggak baik,mama papa nggak pernah mengajari kita untuk membedakan orang lain dari segi ekonomi." Fathir marah pada Amara.
"Iya kak,maaf."Menunduk.
" Maafin adik saya ya cha." Ucap Fathir.
"Nggak apa-apa kak,saya memang dari kampung." Ucapku membenarkan.
"Tapi kamu baik,aku rasa itu nggak jadi masalah."Ucap Ryan membela.
" Maaf,masalah apa ya."Tanyaku bingung.
"Maksudnya nggak masalah kalau kamu dari kampung asal kamu baik sama semua orang." Ucap Ryan menjelaskan.
"Oooo...itu,terima kasih."Senyumku.
"Kalau begitu kita bareng aja ke kampungnya icha." Usul fathir.
"Boleh juga,nanti aku kabari." Jawab raka.
"Tapi aku pulang duluan ya kak soalnya udah di tunggu sama keluarga yang lain di sana."
"Iya nggak apa-apa,kan ada raka sebagai penunjuk jalan." Ucap Fathir.
Tak terasa sudah larut malam,kami beranjak dari kursi bergegas menuju mobil masing-masing.Saling berpamitan satu sama lain,hanya amara yang terlihat tidak suka dengan kehadiranku,tapi aku tidak peduli.
Saat di rumah,Ryan tidak langsung ke kamarnya tapi memperhatikan undangan yang ada di tangannya sambil tersenyum.
"Eh anak mama udah pulang,kenapa nggak langsung ke kamar,tidur?" Tante Intan menghampiri Ryan yang sedang duduk.
"Nanti aja lah ma." Masih serius menatap undangan.
"Eh tunggu dulu,kok mama perhatikan kayak ada yang lagi bahagia nih ??? ada apa sayang???" Tante Intan memandangi Anakny yang terlihat sedikit berbeda.
"Aku bahagia ma,dapat undangan dari icha."Tersenyum.
"Undangan apa,icha mau menikah??? tapi kok kamu malah senyum???,mama jadi bingung." Tanya tante Intan.
"Bukan icha yang mau menikah ma tapi adiknya,tadi nggak sengaja ketemu di pantai sama bang fathir juga terus kita cerita-cerita dan akhirnya icha kasi kita undangan ini,mama papa juga di undang." Ucap Ryan.
"Kamu sendiri mau datang Ryan?" Tanya tante Intan memastikan.
"Iya dong ma,kapan lagi ryan ketemu orang tua dan keluarganya icha." Ucap Ryan semangat.
"Bukannya icha sudah punya pacar,kasian kamu nantinya sayang." Ucap Tante Intan.
"Nggak kok ma,yang penting Ryan ketemu keluarganya dulu." Ryan tetap kekeh ingin bertemu keluarga Icha.
"Terus kalau udah ketemu." Tanya Tante Intan penasaran.
"Yaa di lamar." Ryan tertawa.
"Ryan,nggak lucu ya kamu bilang begitu." Tante Intan mulai kesal mendengar tingkah anaknya.
"Haha..bercanda ma,lagian Ryan tau icha itu punya raka jadi mama santai aja.tapi mama papa ikut kan." Ryan menangkan Mamanya.
"Nanti aku tanya papa." Ucap tante Intan.
"Pokoknya kita datang ya ma." Ucap Ryan.
__ADS_1
"Iya,mama usahain datang." Ucap Tante Intan.
"Ok ma,aku mau ke kamar dulu bersih-bersih terus tidur biar bisa mimpi indah." beranjak dari sofa menuju kamar.