
Satu Minggu menuju pernikahan,keluarga sudah mulai sibuk menyiapkan segala keperluan Acara termasuk menyebar Undangan.Mengingat teman-teman kuliahku semua jauh jadi hanya Ku share lewat GROUP di WA,banyak yang kaget aku tiba-tiba menyebar undangan karena yang mereka tau sejak aku tidak dengan Erik.Aku tidak pernah dekat lagi dengan laki-laki lain dan tiba-tiba akan menikah.
Tidak lama ponselku berdering,panggilan masuk dari nomor yang tak di kenal.Perasaanku mengatakan itu dari Erik,dengan malas aku angkat telonnya.Setidaknya bicara untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar menghapus dia dari hidupku.
"Halo..Assalamualaikum." Ucap Erik.
"Wa'alaikum salam."jawabku malas.
" Kamu benar mau menikah minggu depan Cha ???" tanya erik penasaran.
"Iya,Kan tadi udah aku share di group undangannya." Jawabku malas tapi pelan pada erik.
"Aku nggak percaya,pokoknya kamu hanya akan menikah sama aku Cha,kalau perlu aku bawa kamu pergi jauh asal aku bisa sama kamu." Tutur Erik.
"Kamu sadar nggak bilang begitu,aku itu sudah mau menikah dan kamu harus terima itu.Urus saja pacar kamu itu,kalau mau datang ya silahkan kalau nggak juga tidak masalah." Nadaku mulai meninggi.
"Hanya aku yang bisa buat kamu bahagia Cha,Aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan April lalu kembali sama kamu." Rayu Erik.
"Enak ya,kamu bilang seperti itu.Seakan aku dan April tidak ada perasaan jadi kamu ingin permainkan seenak kamu.Sekalipun kamu dan April putus tetap tidak akan mempengaruhi aku sama sekali karena calon suami aku lebih baik dari kamu dan Aku yakin akan bahagia dengan dia,Asal kamu tau dan sadar Rik.Masalahnya itu bukan sama April tapi dari kamu yang ingin memiliki ke duanya tapi maaf Aku bukan orang bodoh yang mau bertahan pada orang egois seperti kamu,jadi sekarang aku minta kamu menjauh dari hidup aku untuk selamanya.Silahkan bahagia dengan hidupmu sendiri tanpa melibatkan aku lagi,terserah mau punya pacar dua atau lebih.Itu urusan kamu dan kita udah selesai,Terima kasih untuk semuanya selama ini." Ku tutup telponnya tanpa ingin mendengar apa pun lagi darinya.
Tak terasa Bulir bening mengalir di pipih ku,mengingat semua yang terjadi dulu.Semua yang datang pada akhirnya pergi dengan perempuan lain tapi sekarang aku sudah bahagia,berharap semuanya di lancarkan.
🌸🌸🌸🌸
Di luar semua sudah sibuk mempersiapkan segalanya menyambut kedatangan Ryan dan keluarga,sementara aku masih di kamar.Masih tengah di rias,Kak Yuli masuk bertanya tentang posisi Ryan saat ini.Langsung ku berikan ponselku agar mereka yang berkomunikasi agar bisa segera menyelesaikan riasan ku,tak berselang lama kak Yuli masuk kembali mengatakan bahwa kelurga Ryan sudah sampai dan akad akan di mulai Jam 10.00 yang tinggal beberapa menit lagi.
Untungnya aku sudah hampir selesai,jadi Ryan dan keluarga tidak harus menunggu lama.Setelah persiapan beberapa berkas acara akadnya pun di mulai.
Terlihat wajah tegang Ryan tanpa ada senyuman,hanya mimik wajah serius yang terlihat.
tidak lama terdengar suara lagi dari luar,"Sah...sah...sah..."
Masih tidak percaya,aku kini sudah menjadi istri Ryan.Hanya senyum yang terlihat di wajahku begitupun Ryan yang baru tersenyum setelah kata "Sah." itu keluar,ada rasa lega dan bahagia dalam hatinya yang tidak bisa di ungkapkan lewat kata-kata.
__ADS_1
Pertemuan pertama setelah menjadi suami istri,Ryan terdiam menatap aku menghampirinya di kursi pelaminan,Tidak lama Ryan di arahkan untuk mencium kening setelah itu aku mencium tangannya.
Ryan tersenyum menatapku,"cantik." kata yang keluar dari bibir Ryan,di balas dengan senyuman dari aku menatap Ryan yang sudah menjadi suamiku.
🌺🌸🌺🌸
Sampai di kediaman Darmawan ayah Ryan,kami turun dari mobil melangkah bersama masuk ke dalam rumah,berkumpul di ruang tamu.
"Akhirnya acaranya selesai juga." celetuk Rina yang terlihat lelah lalu merebahkan diri di kursi.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan Icha sudah resmi jadi bagian dari keluarga ini." Ucap mama Intan tersenyum menatap ke arahku.
"Iya Ma,Sekalian Ryan mau minta izin Papa dan Mama.Rencana Minggu depan Ryan mau pindah dari sini,ingin tinggal di rumah baru yang sudah Ryan siapkan dari kemarin-kemarin biar bisa mandiri." Ucap Ryan.
Mataku membulat mendengar ucapan Ryan,tidak menyangka Ryan benar-benar sudah mempersiapkan segalanya tanpa aku tau.
"Ya,mama pikir kamu masih tinggal di sini sama Mama tapi nggak apa-apa kan masih bisa datang ke sini." Ucap mama Intan
"Memang harus seperti itu Ma,Ryan kan sudah berkeluarga jadi wajar jika mereka ingin mandiri dengan keluarga kecilnya." Sambung papa Darmawan yang mendukung keputusan Ryan.
"Aku ikut abang Ryan aja." Jawabku singkat.
"Baiklah,pasti semua lelah.sebaiknya kita semua ke kamar untuk istirahat." Ucap papa Darmawan melangkah masuk kamar.
Di ikuti mama Intan tiba-tiba berhenti lalu berbalik padaku,"Oh ya Cha,kali ini nggak ke kamar Rina ya tapi sudah di kamar Ryan."Ucap Mama Intan yang sengaja menggodaku,lalu kembali melangkah masuk ke kamar.
Pipih ku memerah mendengar kata-kata Mama Intan,sementara tanpa sadar Ryan menatapku."Kenapa mukanya pipih nya merah begitu ???" Ryan ikut menggodaku.
"Ah kak Ryan,masih ada aku di sini.kalau mau romantisan mending di kamar aja." Ucap Rina kesal bergegas ke kamar.
"Tuh kan Rina ngambek,kamu sih ???" Ucapku pada Ryan.
Ryan hanya menatapku lekat,"Terima kasih Cha sudah menjadi istri aku."Ucap Ryan menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Terima kasih juga sudah menjadi suamiku." Tatap ku balik pada Ryan membalas genggamannya.
"Lebih baik kita ke kamar istirahat pasti kamu capek." Ajak Ryan menggandeng tanganku.
Aku bergegas menuju kamar mandi membersihkan sisa make up di wajahku bergantian dengan Ryan,tidak lama aku keluar.Terlihat Ryan sedang duduk di tepi kasur memainkan ponselnya,menyadari ke hadiranku.Ponselnya lalu di letakkan di meja samping kasur,menyuruhku duduk di sampingnya.
"Sebelum tidur dan sebelum kita memulai hari esok sebagai suami istri,aku mengenalmu lagi lebih dalam." Ucap Ryan.
"Memang selama ini nggak kenal ?" Ucapku santai.
"Bukan begitu sayang." Tatap Ryan.
"Terus." penasaran dengan maksud Ryan.
"Kita kan sudah menikah,aku tidak ingin pernikahan ini atas dasar keterpaksaan.Hanya aku yang bahagia tapi kamu tidak bahagia,jadi kita sama-sama belajar untuk saling mengenal menerima kekurangan masing-masing dan semoga kamu bisa cinta sama aku." Ryan menggenggam erat tangan aku.
Aku hanya tersenyum tipis,ternyata Ryan masih berpikir aku tidak memiliki perasaan dengannya.Mungkin sudah saatnya aku jujur tentang perasaanku sebenarnya,"Bukan cuma kamu yang bahagia tapi aku juga bahagia bersama kamu,jujur sejak awal kita komunikasi.Aku langsung merasa nyaman sama kamu tapi semakin ke sini aku berusaha menjauh,agar tidak mengganggu kamu dengan Amara tapi kamu malah semakin mendekat dan melamarku.Jadi berhenti berpikir seperti itu karena sekarang aku sudah menjadi istri kamu dan aku cinta sama kamu,suamiku."Ku balas genggaman tangan Ryan dengan penuh kelembutan.
Mata Ryan membulat sempurna,mengangkat wajahnya yang sempat menunduk."Jadi selama ini,kamu juga cinta sama Aku Cha ???" Tanya Ryan penuh semangat.
"Iya,Abang Ryan." Ucapku tersenyum pada Ryan.
"Terima kasih sayang,kamu sudah jujur,Sekarang aku sudah merasa tenang mendengar perasaan kamu yang sebenarnya." Ryan lalu memelukku erat,mataku hanya membulat.Hanya mematung di bawah pelukan Ryan suamiku,masih bingung.
Tidak lama Ryan melepas pelukannya,tersenyum menatapku yang masih kebingungan."Kenapa diam sayang."
"Eh...Nggak apa-apa bang,maaf ya." Ucapku tidak enak pada Ryan.
"Nggak apa-apa,Aku paham kamu masih kaku karena ini untuk pertama kalinya aku memeluk kamu." Mengelus pipiku dengan lembut.
"Terima kasih untuk mengerti aku dan menerimaku yang banyak kurangnya ini." Ucapku pada Ryan.
"Kita sama-sama belajar sayang,semua orang memiliki kekurangan tinggal bagaimana kita nanti menerima kekurangan pasangan masing-masing." Ucap Ryan.
__ADS_1
"In Syaa Allah,Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk keluarga kecil kita."
"In Syaa Allah." Ucap Ryan lalu memelukku kembali dan ku balas memeluknya.