
'Bunga Peoni Es II : Melawan Lion Ice'
🌹🌹🌹
[Note: Maafkeun author baru bisa up karena baru ada kouta, sekiranya kalian mengerti((* ̄(エ) ̄)ノ.
Baiklah sekian, Salam beruang ʕっ˘ڡ˘ςʔ.
***
Pada dasarnya monster tidak akan melawan ataupun menyerang jika tidak ada pemicunya.
Namun berbeda dengan kondisi Vio sekarang, ia tidak tahu apa pemicu kemarahan para monster itu.
Sampai ia melihat tatapan monster itu yang mengarah pada bunga yang dipegangnya, barulah ia tersadar.
"Sial, ternyata bunga ini pemicunya" Ucap Vio sambil berusaha melepaskan bunga itu dari tangannya, namun nihil ia tidak bisa melepaskannya.
Sialnya, para monster itu mulai menyerangnya secara bersamaan, membuat Vio kesulitan menghadapinya. Ditambah dengan perbedaan kekuatan yang sangat jauh mustahil baginya selamat dari mereka semua.
Dengan kesusahan Vio memukul saat satu singa yang datang padanya, dan berhasil memundurkan singa itu. Namun cakaran dari singa yang lain tak terelakkan, membuat Vio melemah seketika.
Rasa bimbang mulai datang kepadanya, apakah ia harus menggunakan kekuatannya sekarang? Namun jika begitu kekuatan fisiknya tidak akan meningkat, padahal dengan melawan mereka dengan kekuatan fisik akan meningkatkannya.
Karena tidak fokus Vio sekali lagi terkena cakaran maut dari singa, yang membuat ia kehilangan banyak darah dan kekuatannya melemah.
Namun dengan segera ia mengalirkan tenaga dalam pada lukanya, dan seketika luka itu sembuh tanpa bekas. Untunglah simpanan tenaga dalamnya sangat banyak, namun di situasi terdesak seperti ini ia harus pandai-pandai menggunakan tenaga dalamnya.
"Ah apakah aku harus memakai tenaga dalam? Ya, mungkin itu pilihan terbaik. Setidaknya aku bisa keluar dari situasi ini! " Vio telah memutuskan untuk menggunakan tenaga dalamnya, karena bila tidak digunakan mubazir. Maksudnya takut akan terjadi hal yang di luar perkiraan.
Seketika keluar cahaya biru dari tubuh Vio. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan mata para monster, namun itu tidak berlangsung lama cahaya itu berangsur-angsur meredup dan hilang seutuhnya. Namun bersamaan dengan itu pula Vio sudah tidak terlihat dari tempat awalnya, ia menghilang bagai ditelan bumi.
Para monster kebingungan akan dimana keberadaan Vio sekarang, dan karena tahu bahwa Vio telah kabur mereka pun marah Semarah-marahnya. Lalu pergi dari sana, dan berusaha mencari Vio walau keberadaannya tidak diketahui.
***
Di sebuah ruang putih yang terang walau tidak memiliki satupun lampu di dalamnya, terdapat seorang pria tertidur di sebuah ranjang. Ruangan itu tidak terlalu besar, ruangan kotak itu hanya terdapat sebuah ranjang, sepasang meja dan kursi yang terbuat dari kaca, toilet modern, dan cermin yang besar.
Anehnya ruangan itu tidak memiliki satupun pintu, ataupun jendela. Dan penghuninya hanyalah pria itu seorang.
__ADS_1
Perawakan pria itu sendiri sangat-sangat tampan. Dengan rambut putih, wajah rupawan, dan tubuh atletis nya pria itu pantas dinobatkan sebagai pria tertampan di dunia. Apalagi dengan kulit putih, hidung mancung, bibir yang merah alami, serta bulu mata panjang, tebal, dan lentik melengkapi kesyurgawian pria tersebut.
30 menit dari waktu author sampai di tempat ini, mata lentik itu mulai bergetar dan berlahan terbuka. Dan ter tampilah sepasang mata berwarna merah, dengan gambaran bintang di pupilnya.
Pria itu bangun dari tidurnya dan duduk di ranjang kecilnya. Dengan wajah bantal yang terlihat imut namun sedikit suram, dan rambut acak-acakan yang menambah keimutan, pria itu berjalan menuju cermin di depannya.
Begitu sampai di depan cermin tersebut, pria itu duduk bersila dan menatap cermin itu dengan tatapan kosongnya lekat-lekat.
Apa kabar dengan sang cermin? Pasti baper yekan dipandangi cowok ganteng plus imut dan rupawan. Ok lanjut.
Telah 1 jam pria itu menatap cermin itu tanpa mengucapkan apapun, namun kali ini ia membuka sedikit mulutnya dan bergumam.
"Lapar"
Kemudian hening kembali. Tidak ada yang diucapkannya setelah itu.
15 kemudian secara ajaib cermin di depannya memunculkan sebuah menu yang menampilkan berbagai macam makanan dari nasi sampai daging sapi termahal. Pria itu tersenyum tipis lalu menekan sebuah jenis makanan, ayam lalapan.
Dan tidak berapa lama muncul sebuah piring dengan penutup aluminium, dan dibuka oleh pria itu.
"Ayam Lalapan... "
Wajahnya berubah sedikit senang karena Ayam lalapan nya. Memang ayam lalapan pengubah mood dia dan author, hehe.
"Semoga kau berhasil Bar. Kami menunggumu disini!" Ucap pria itu lalu menyantap lalapannya.
***
Kita kembali pada pemeran utama kita, yang keadaannya ini jauh dari kata prima.
Selepas menggunakan kekuatannya tadi ia berpindah tempat dari sana demi menyelamatkan dirinya, ya Vio berteleport. Namun kali ini ia tidak tahu sedang berada di mana, karena tempat ini baru pertama kali ia kunjungi.
Dan karena menggunakan teleportasi tadi kekuatannya berkurang banyak, anehnya hal ini baru pertama kalinya terjadi. Vio merasa tenaga dalamnya dikuras sangat banyak dari normalnya.
Karena itu ia harus mencari sebuah tempat yang cocok untuk bermeditasi mengembalikan keadaan primanya, dan ia menyadari satu hal bahwa energi Qi disini lebih padat dari di dunia kultivator.
Setelah mencari di sekelilingnya ia pun menemukan sebuah gua, lalu mengeceknya dan hasilnya gua itu aman dan bisa ia tempati untuk malam ini.
Dan hebatnya lagi di dalam gua tersebut terdapat sebuah mata air yang sangat jernih seperti sungai, terdapat pula sebuah lentera yang menyala di dalamnya, namun anehnya di luar tadi ia tidak melihat ada cahaya dari gua ini namun ternyata ada lentera di sini.
__ADS_1
Tidak mau pusing akan hal itu Vio pun membuka celananya dan masuk ke dalam sungai tersebut, dan seketika ia merasakan energi yang melimpah masuk ke dalam tubuhnya.
[Tuan... Tuan! ]
***
VIo POV
Akhirnya aku bertemu dengan sang air, badanku yang tadinya lelah dan kehabisan energi tiba-tiba saja langsung sehat, dan energi ku terisi kembali.
[Tuan... Tuan!]
Akhirnya aku bisa terhubung dengan Alex, aku jadi curiga apakah karena air dari sungai ini?
"Alex! Kemana kau selama ini? " Tanyaku dengan kesal.
[Maafkan saya Tuan. Namun, saya sudah berusaha menghubungi anda tetapi tidak berhasil. Seperti ada yang menghalanginya! ]
"Menghalangi? "
Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya Alex tidak bisa terhambat oleh apapun dari semesta ini? Bukankah ia adalah sesuatu yang tercipta dengan sendirinya.
Atau jangan-jangan Alex juga hanya sesuatu yang diciptakan oleh seseorang?!
Vio POV End
***
[Note : Halo semua author kembali lagi(≡^∇^≡).
Masih adakah yang menunggu cerita ini up? Soalnya kayaknya like-nya tidak bertambah, atau jangan-jangan kalian baca tapi tidak like?_(:3 」∠)_
Jangan dong. Jangan bikin author patah ranting, kalau kalian menyukai cerita ini ekspresikan dengan memencet tombol like atau sesekali mengomentari tentang cerita ini.
Dengan begitu author akan semakin rajin menulis dan meng-update(ू•ᴗ•ू❁)
Dan untuk komen yang bilang mau gombalin author(ekhem, terlalu geer) mohon maaf anda tidak beruntung, author tidak berjenis kelamin, author pyur hanya sebuah makhluk tanpa gender(anggap saja seperti itu)(。・ω・。).
Ya sekian dulu untuk hari ini. Bye-bye✧(。•̀ᴗ-)✧]
__ADS_1
_Always Happy_