Perjalanan Sang Penguasa Kekosongan

Perjalanan Sang Penguasa Kekosongan
Chp 32 : Kekalahan para monster


__ADS_3

Kekalahan para monster


Happy Reading guys✧(。•̀ᴗ-)✧


🌹🌹🌹


Di sebuah Istana duduk seorang pria berperawakan tampan dengan aura keagungan yang sangat besar.


Dia duduk dengan angkuh dan sombong. Dengan menyangga dagunya dengan tangannya, ia memanggil salah seorang pelayan.


Pelayan yang dipanggil masuk, lalu bersujud di depan pria itu.


"Panggilkan pendeta arnu, sekarang" Ucap pria tersebut tanpa melihat pelayan itu.


Pelayan itu segera melaksanakan perintah tuannya, tak lama kemudian masuklah ia kembali namun bersama seorang Tua di belakangnya.


Lagi pelayan itu bersujud namun pria tadi hanya melambaikan tangannya, dan itu dimengerti oleh pelayan itu. Pelayan itu segera keluar dari ruangan besar itu.


"Salam Yang Mulia Dewa" Hormat pendeta pria tua itu.


"Salam mu di Terima Pendeta Arun" Jawab Pria yang duduk di singgasana itu acuh tak acuh.


"Ada apa kiranya Yang Mulia memanggil hamba yang kecil ini" Tanya Pendeta Arun hati-hati, jangan sampai ia menyinggung Tuannya yang memiliki sifat yang tidak sesuai dengan wajahnya yang tampan.


"Hahaha, kau pasti sudah tahu apa maksudku pendeta! Segera bawa, dan cek. Aku merasakan kehadirannya setelah sekian lama" Ucap Pria itu dengan tegas namun halus.

__ADS_1


"Baik yang Mulia" Pendeta Arun mengkode bawahannya untuk mengambil barang yang dibutuhkan.


Bawahannya segera keluar dari sana dan kali tak lama kemudian dengan sebuah bungkusan sebesar bola basket.


"Buka dan taruh di atas meja itu!" Pinta pendeta itu pada bawahannya sambil menunjuk pada meja kecil di tengah-tengah aula itu.


Tanpa banyak kata bawahannya membuka bungkusan itu dan terpampang lah sebuah bola jernih. Di taruhnya bola itu di tengah meja, setelahnya bola itu langsung mencair dan menjadi air yang sebening kristal.


Pendeta Arun berjalan mendekati meja itu dan berdiri di hadapannya. Terlihat ia merapal kan sesuatu, setelahnya air di atas meja itu bersinar sangat terang membuat mereka yang berada di aula termasuk pria di singgasana-nya, menutup mata dengan tangan mereka.


***


Kondisi di bumi kali ini sangat mengenaskan, banyak mayat manusia maupun monster tergeletak di tanah.


Setengah populasi makhluk Bumi harus terenggut nyawanya karena peperangan ini.


Manusia yang tersisa telah berjuang untuk melawan para monster.


Dan telah lewat 1 minggu dari awal masuknya para monster, dan selama satu minggu itu pula manusia yang tersisa bersembunyi di tempat yang aman dan membiarkan petugas dan tentara yang melawan para monster.


Namun bukan hanya itu saja mereka juga ditolong oleh 50 orang misterius, yang nama mereka telah menjadi pahlawan bagi mereka.


Setiap orang itu berkumpul di satu negara yaitu Indonesia, dan bila orang-orang membutuhkan pertolongan makan mereka akan mendatangi Gedung Pertolongan untuk memanggil salah seorang dari mereka.


Tentu mereka harus membayar.

__ADS_1


Awalnya tidak begitu, para 'Pahlawan akan datang tiba-tiba jika mereka membutuhkan pertolongan'. Namun tiba-tiba saja terdengar berita bahwa mereka telah di rekrut oleh orang-orang dari pemerintahan.


Mereka sempat bingung dan sedikit kecewa karena itu, namun tidak ada yang bisa dikatakan lagi. Lagipula uang untuk memanggil mereka tidak mahal malah terkesan murah, hanya 20.000 dalam uang Indonesia dan seharga dengan di negara lain.


Untuk sekarang memang pengusir dan pembunuh monster sangat di butuhkan. Namun dalam hal ini pemerintah terkesan egois, karena telah menghasilkan uang dari para penolong rakyat.


Walau begitu mereka tidak dapat protes dengan hal itu.


Kembali ke keadaan Vio, saat ini ia masih membunuh para monster bersama murid-muridnya.


Telah 2 hari mereka tidak tidur waktu pertama monster muncul. Namun karena saat ini monster telah berkurang maka mereka bisa istirahat walau tidak full.


"Huh, lihatlah para monster ini. Sangat-sangat banyak, namun terimakasih. Karena kalian aku sekarang menjadi kaya, tidak bukan... Bertambah kaya!" Vio tersenyum bangga sambil melihat hasil karya-nya, para monster yang tergeletak tak berdaya bahkan telah meningsoy. Ingat selain licik, dia juga adalah orang yang materialistis, jadi jangan heran jika dia sangat tergila-gila dengan uang.


Untuk sekarang para monster telah kalah telak, namun hanya sementara.


Oleh karena itu Vio berpikir untuk membuat sumber masuknya para monster menjadi sebuah tempat mencari uang.


Memikirkannya saja sudah membuat jantung Vio berdebar kencang. Jika berhasil maka uangnya akan terkumpul sangat-sangat banyak, lebih dari cukup untuk mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin sebuah negara. Namun tidak... Itu terlalu sia-sia, yang harus ia lakukan saat ini adalah menyelesaikan masalah di sini dan pergi ke Dunia Kultivator untuk mengumpulkan pusaka, untuk menjadi kunci gerbangnya.


🌹🌹🌹


[Note : mungkin cukup untuk sekarang ya, di chp kali ini jujur lebih sedikit percakapannya. Maaf┌(˵༎ຶ ل͟ ༎ຶ˵)┐.


Baiklah kurang lebih hanya itu, sekian dan terimakasih ʕ•ᴥ•ʔノ♡

__ADS_1


Salam beruang ʕっ˘ڡ˘ςʔ]


_Always Happy_


__ADS_2