Perjuangan Si Gadis Miskin

Perjuangan Si Gadis Miskin
Bab 12


__ADS_3

Sial Mama begitu mempercayai Aisyah yang jelas-jelas orang baru dia kenalnya. Gumam Irsan anak kedua si nenek Ratu.


Irsan begitu murka terhadap Aisyah padahal Irsan belum mengenal Aisyah bertatap wajah pun tidak pernah tapi Irsan sudah sangat membenci gadis yang bernama Aisyah itu.


"Mah saya pulang dulu, Shila pasti sudah menunggu."


"Ya silahkan." Ucap si nenek ratu sedikit cuek.


Mama tahu apa yang ada di pikiran kamu Irsan kalian hanya memikirkan jabatan. Gumam dalam hati si Nenek ratu.


Malam berlalu dengan cepat, pagi datang dengan cahaya matahari yang cerah. Aisyah telah usai mandi dan sarapan pagi bersama sang ibu, tentunya tanpa lagi seorang ayah disisinya setelah beberapa tahun meninggalkan ibunya karena wanita lain, yang lebih mampu menghidupi dirinya. Setalah beberapa tahun terakhir ayahnya mengirimkan surat tidak banyak kata yang tertulis.(Saya lelah dengan kemiskinan tidak usah mencari saya lagi, saya sudah bahagia). bersama Indah sang mantan yang baru saja menyandang status janda.


Ibu Marni saat itu hancur di tambah Aisyah yang sedang kuliah di London tidak ada wadah untuk mencurahkan isi hatinya, Ibu Marni menyimpan sakitnya sendirian. Pada akhirnya bu Marni sakit dan harus di rawat.


"Maafkan Ais bu, Ais tidak bisa menjaga ibu saat ibu sedang membutuhkan Ais."Lirih Aisyah.


"Tidak apa-apa Nak, ibu sudah menerima kepergian ayah mu, sekarang kita hanya berdua ibu harap kelak kamu tidak akan membenci ayah mu bagaimana pun ayah mu terhadap ibu dia tetap ayah mu, yang membesarkan dan menyayangimu walaupun bukan ayah kandung mu."Tutur bu Marni.


Aisyah mengangguk setuju, biar pun hatinya di selimuti kesedihan namun Aisyah terlihat tenang dan tidak menunjukkan kesedihannya di depan sang ibu.


Aisyah selesai makan pamit pergi ke perusahaan tempat dia akan bekerja.


"Bu, Ais pergi dulu ya nanti kalau ada apa-apa ibu cepat hubungi Ais."


"Ya Ais, kamu pergi saja semangat ya nak semoga bos kamu bisa menerima kamu sebagai karyawannya."


"Aamiin, ya sudah ya bu Ais pergi dulu assalamualaikum." Ucap Aisyah sambil mencium telapak punggung tangan ibunya.


"Waaikumsalam...,"Ibu Marni menjawab salam Aisyah lalu menghantar Aisyah sampai depan pintu.


Setelah itu Aisyah tiba di perusahaan gedung bertingkat tinggi, Aisyah mendongak ke atas.Perusahaan besar sekali bismillah semoga di terima. Batin Aisyah.


"Selamat pagi neng, ada yang bisa bapak bantu?" tanya pak satpam.


"Pagi juga pak, saya sudah janji dengan pak Anggoro."Ucap Asiyah.


"Ada di lantai 23, kalau neng berkenan bisa bapak hantar."Kata pak satpam.


"Terimakasih pak, apa saya tidak merepotkan bapak?."Tutur Aisyah.


"Tidak sama sekali, mari bapak hantar."Ucap nya lagi pak satpam.


Aisyah pun mengikuti langkah pak satpam berdiri di depan lift, tidak lama nunggu lift pun terbuka, pak satpam mempersilahkan Aisyah masuk lebih dulu.


Pak satpam kemudian memencet tombol lift nomor 23 lantai ruangan kerja pak Anggoro.


Singkat cerita Aisyah pun duduk berhadapan dengan pak Anggoro, Aisyah menyerahkan map biru yang di dalamnya berisi biodata dan juga syarat yang diminta oleh perusahaan. Setelah itu pak Anggoro membuka dan mengatakan kalau Aisyah di terima sebagai manager keuangan.


"Alhamdulillah terimakasih pak."Aisyah ucap syukur.


"Besok sudah bisa bekerja Aisyah."kata pak Anggoro.


"Baik pak, terimakasih pak, saya permisi dulu assalamualaikum."

__ADS_1


"Waaikumsalam."Pak Anggoro menjawab salam Aisyah.


Lalu Aisyah keluar dengan wajah sumringah kebahagiaan terpancar di wajah cantiknya akhirnya Aisyah bisa bekerja di perusahaan besar keluarga Wiranata.


Aisyah berjalan dengan buru-buru tanpa sadar Aisyah menabrak seseorang yang sedang berjalan.


Brug!


"Astaga! kamu tidak punya mata?" bentak sekertaris cantik Hany.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja."Ucap Aisyah sambil memunguti kertas yang berhamburan.


"Apa kamu bilang Bu? panggil saya Nona!" Umpat Sekertaris Hany.


"Iya Nona, sekali lagi saya minta maaf."


Dari kejauhan seseorang terlihat memperhatikan perseteruan antara Aisyah dan Sekertaris Hany. Ia mendatangi Sekertaris Hany.


"Ada apa ini?" tanya Abi.


Abi nampak gagah menggunakan jas hitam rambut tertata rapi dengan tangan masuk dalam saku celananya.


"Aisyah!"Sontak Abi.


Deg! jantung Aisyah berdetak kencang seakan darah mengalir seluruh tubuhnya.


"M-as Abi?" ucap Aisyah terbata-bata.


"Kamu sedang apa disini?" tanya Abi.


"Ini perusahaan saya, kamu di terima sebagai apa?."tanya lagi Abi penasaran.


"Manager keuangan Mas,"Jawab Aisyah.


Abi mengerucutkan bibirnya sambil manggut-manggut."Ingat kamu masih punya hutang janji."Ucap Abi berbisik sambil ngeleos pergi.


"Aku akan bikin kamu tidak betah bekerja disini Aisyah." Gumam Abi sambil melirik ke belakang.


Seraya berkata bahwa semua awal karirnya melangkah menuju kesuksesan.


Aisyah kembali ke rumahnya ingin segera mengabari ibunya kalau ia dinyatakan lulus interview kerjanya.


Tiba di lorong kecil menuju kediamannya melihat begitu banyak orang di rumahnya. Aisyah pun lari kencang.


Seseorang memeluk Aisyah."Aisyah kamu yang sabar ya nak."


"Ada apa Bu?."Tanya Aisyah.


"Ibu kamu sudah pergi nak."Lirih Bu RT.


Ibu.....! Aisyah lari ke dalam rumahnya.


Aisyah menangis melihat jasad tubuh ibunya terbujur kaku tertutup dengan kain.

__ADS_1


Ibu....hiks....Hiks...Hiks..Bu....! bangun bu. Aisyah di terima kerja Bu. Hiks...Hiks..Bu.....! bangun.


"Aisyah sabar ya Nak, ikhlaskan ya nak."


"Bu....., bangun! Bu!."Aisyah menangis sesenggukan.


"Ibu kenapa tinggalkan Aisyah Bu."


Tubuh Aisyah ambruk di atas tubuh jasad ibunya, pingsan beberapa menit.


Setelah itu Aisyah mengiring ke pemakaman ibunya, tubuhnya tak bertulang salah satu tetangganya merangkul Aisyah yang masih lemas.


Hari itu Aisyah sangat sedih bahkan satu harian Aisyah tidak makan apa-apa hingga menjelang malam berlalu berganti pagi Aisyah terdiam diri di kamarnya, padahal hari pertama Aisyah masuk kerja di perusahaan Wiratama grup.


Tapi gadis berjilbab itu seakan tidak perduli lagi dengan apa yang sudah dia capai sampai hari terakhir ini.


Seraya berkata untuk apa aku kerja keras meraih kesuksesan jika apa yang sudah dia gapai untuk orang yang paling dia sayangi kini sudah tiada lagi. Ponsel nya di matikan tidak ada satupun orang yang bisa menghubungi. Pihak perusahaan dan juga sahabat tidak ada yang bisa menghubunginya.


"Kamu yakin?, Aisyah tidak datang?"Tutur Nenek Ratu bicara pada orang kepercayaannya di kantor.


"Benar Nenek Ratu, ponselnya tidak bisa di hubungi."kata pak Anggoro.


Nenek Ratu mulai berpikir kalau Aisyah akan mangkir dari perjanjian yang sudah sepakat selama 3 tahun.


"Kamu blokir semua situs perusahaan untuk Aisyah."Perintah Nenek Ratu.


"Baik nenek ratu, akan saya laksanakan."


Klik.


Nenek Ratu mengakhiri telponnya, nenek ratu terdiam sesaat ia mulai timbul pikiran-pikiran jelek terhadap Aisyah gadis yang paling nenek ratu percaya selama ini, pasalnya jika Nenek Ratu hilang kepercayaan sulit untuk mengembalikan kepercayaannya.


Ternyata ada seseorang yang menguping pembicaraan nenek ratu di telpon dengan pak Anggoro.


"Saya sudah pernah bilang sama Mama, gadis itu sulit untuk di percaya belum apa-apa saja sudah mangkir apa lagi nanti kalau sudah Mama jodohkan dengan Abi, dia bisa seenaknya atau mungkin dia bisa saja melawan Mama."Ucap Irsan sambil tersenyum sinis Irsan yang akan menjadi kompor dalam kedekatan sang nenek ratu.


Nenek Ratu diam tidak menjawab pertanyaan Irsan."Ada apa kamu kemari?" Nenek Ratu mengalihkan pertanyaan.


"Mah Irsan datang membawakan sarapan pagi untuk Mama."kata Irsan.


"Taruh saja di meja makan, Mama sudah sarapan tadi."Tepis nenek ratu.


Nenek Ratu seakan trauma makanan yang berikan oleh menantunya. Di mata nenek ratu semua menantunya tidak ada yang menyayanginya. Terkecuali Mama nya Abi yang tulus tanpa embel-embel kebaikannya.


Nenek Ratu pun meninggalkan Irsan di ruang keluarga nenek ratu masuk kedalam kamarnya, sebelum Irsan meminta warisan haknya, yang jelas-jelas Nenek Ratu sudah memberikan sebagian haknya.


Jbred!


Terdengar suara bantingan pintu yang sangat keras, Irsan kaget ia segera pergi dari kediamannya.


Setalah Irsan pergi nenek ratu mengintip dari balik tirai jendela. Nenek Ratu tertawa cekikikan.


...----------------...

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🙏


__ADS_2