
Dia harus saya singkirkan
Pria yang memiliki wajah tampan itu menghentikan langkahnya mundur satu langkah. Menengok arah ruang yang harusnya di tempati oleh Aisyah tapi ruangan itu nampak kosong.
"Selamat pagi pak Abi" sapa salah satu pegawai yang bertugas sebagai opisboy.
Sontak Abi mengalihkan pandangannya."Kamu lihat manager keuangan yang baru?"Tanya Abi.
"Sepertinya belum datang pak, mungkin macet total di jalan biasa lah pak Jakarta selalu macet di jam-jam kerja."kata opisboy itu.
"Ya sudah kamu kembali bekerja."Perintah Abi.
"Saya permisi dulu pak."Kata opisboy.
Kemudian Nenek Ratu datang ke-perusahaannya nampak Abi sedang berjalan di lorong koridor kantor, ketika Abi melihat sang nenek datang Abi langsung menyambut kedatangannya mencium telapak punggung tangan sang nenek.
"Nenek tumben kemari? Nenek kan bisa telpon Abi Nek."
"Nenek hanya ingin memastikan gadis itu memang tidak ada di kantor."
"Maksud Nenek Aisyah?"
"Ya kamu benar gadis itu memiliki nama Aisyah."
"Abi sudah bilang Nenek jangan terlalu mudah percaya dengan orang asing, sekarang apa yang di katakan Abi jadi kenyataan kan?"
"Sudah diam kamu!, sekarang kamu panggil Anggoro sekarang."
"Baik lah."Kata Abi.
Abi pun melangkah pergi menuju ruangan kerja Anggoro. Sebenarnya sih bisa telpon. Gerutu Abi.
Sementara Aisyah masih menangisi kepergian sang ibu, tentunya Aisyah sangat terpukul atas kepergian sang ibu.
"Bu.., sekarang untuk apa Ais mengejar kesuksesan jika tidak ada tujuan, Aisyah menjadi seperti ini untuk ibu Ais belum membahagiakan ibu Ais belum bisa buat Ibu senang Ais hanya bikin ibu susah maafkan Ais bu, Ais janji jika Ais sukses Ais berangkatkan Ibu haji walaupun Ais tidak bisa bahagiakan ibu di dunia setidaknya Ais bisa bahagiakan ibu di akhirat. Ais janji bu." Ucap Aisyah sambil menangis sesenggukan.
Tok.. Tok...Tok.
"Assalamualaikum..."
Asiyah segera menyekat air matanya dengan tangannya. Lalu Aisyah menengok siapa yang datang.
"Waaikumsalam..." jawab Aisyah.
"Mas, Hamid? silahkan masuk mas."
"Aisyah turut belasungkawa atas kepergian Ibu Marni, maaf baru tahu kabar kalau Ibu Marni telah berpulang ke Rahmatullah."
__ADS_1
"Terimakasih Mas, sebentar Ais ambilkan minum dulu."
"Tidak usah repot-repot Ais, saya hanya mampir sebentar sebelum ke kantor."
"Tidak repot kok mas hanya air minum saja." Kata Aisyah sambil berjalan menuju ruang makan.
Aisyah kembali dari dapur mengambil minum untuk Hamid Aisyah nampak sedikit tegar setidaknya masih ada yang datang mengunjunginya saat sedang merundung duka, Aisyah membawa minuman untuk Hamid terselip senyuman di wajah cantiknya sesungguhnya Aisyah sangat mengagumi sosok Hamid yang selalu ada buat Aisyah. Namun semenjak kehadiran Abi. Hamid sedikit menghindari Aisyah entah perasaan apa, semenjak Aisyah dekat dengan Abi, disitu lah perlahan Hamid membatasi dirinya dengan Aisyah.
Hamid pun meminum air putih yang diberikan oleh Aisyah air itu terasa sejuk siapapun orangnya jika di sajikan berbentuk apapun dengan ketulusan pasti terasa menikmatinya walaupun hanya secangkir air putih.
Setelah membasahi tenggorokannya dengan air putih Hamid pun pamit berangkat kerja.
"Aisyah saya pamit dulu, jika kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan menghubungi ku."Tutur Hamid sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Terimakasih Hamid."
Hamid mengangguk kepalanya sedikit membungkukkan badannya.
Aisyah pun menghantar Hamid sampai depan pintu rumahnya. Setalah Hamid pergi Aisyah kembali ke kamar, ia menyudahi kesedihannya ia harus semangat melanjutkan hidupnya sang ibu pun tentunya sangat sedih melihat Aisyah terus menangisi kepergian ibunya. Seperti apa yang sudah di katakan Hamid.
Aisyah lanjut mandi mengingat ini hari pertama Aisyah masuk kerja di perusahaan besar Wiratama grup. Harusnya kemarin Aisyah mulai bekerja tapi saat itu hati masih berduka.
Di tempat lain nenek Ratu mengadakan meeting dadakan. Dalam sekejap Nenek Ratu memutuskan untuk tidak mempekerjakan Aisyah.
"Kalian Blacklist semua perusahaan yang ada kota ini jika ada perusahaan yang berani menerima gadis itu, saya tidak segan-segan menghancurkan perusahaan tersebut paham!"Umpat nenek dengan nada suara yang lantang.
"Sudah saya kirim email kesemua perusahaan Nenek Ratu."Ucap Anggoro.
Semua yang ada di meja meeting seketika sunyi tidak ada yang berani bersuara jika Nenek Ratu sudah memberikan ultimatum kepada semua pegawainya. Sementara Abi tersenyum tipis ia merasa menang atas apa yang ada di hatinya telah tercapai.
Tidak lama Asiyah menunggu angkutan dan angkutan pun tiba Asiyah menyetop angkot bersama hijau.
Selama perjalanan Aisyah terus melihat Jam yang melingkar di tangannya.
Setelah 30 menit perjalanan Aisyah tiba di perusahaan tersebut. Aisyah menjejakkan kakinya memasuki lobby ia merasa ada yang aneh semua mata pegawai melihat sinis dan bergunjing dengan sesama temannya.
Tidak lama Nenek Ratu keluar dari lift. Aisyah menengok nenek Ratu tentunya sangat antusias untuk menyambut sang memiliki perusahaan tempat ia bekerja sekaligus orang yang pengaruh besar atas kelulusannya.
Saat Aisyah menyambut tangan Nenek Ratu Aisyah di tepis oleh nenek ratu. Nenek Ratu seakan tidak perduli dengan hadirnya.
"Masyallah.."Sontak Aisyah melihat perubahan Nenek Ratu.
"Kamu mau kemana?" tanya Nenek Ratu ketus.
"Kerja Nek" jawab Aisyah dengan wajah polosnya.
"Kamu sudah tidak di butuhkan lagi disini, bukankah kamu sudah bekerja di tempat lain?" kata Nenek.
__ADS_1
"Masyallah Nek, Aisyah tidak mungkin bekerja di perusahaan lain."
"Sudah lah Aisyah, teman mu sudah ceritakan semuanya sama nenek, tidak usah mengelak lagi." Kata Nenek Ratu sambil ngeleos pergi.
"Nek tunggu Nek Aisyah bisa jelasin kenapa Aisyah kemarin tidak datang." Ucap Aisyah sambil mengejar sang Nenek.
Tapi sekuriti mendorong tubuh Aisyah hingga terpental.
Auw!
"Sudah sana pergi."Usir pak sekuriti dengan kasar.
Dengan sigap Aisyah berdiri mengejar mobil Nenek Ratu.
"Nek tunggu Aisyah Nek Aisyah bisa jelasin ibu Aisyah meninggal Nek Aisyah tidak sempet menghubungi Nenek maafkan Aisyah Nek."Teriak Aisyah sambil lari mengejar mobil Nenek Ratu.
"Sudah lah percuma kamu berteriak sekeras apa pun, Nenek Ratu tidak akan lagi mempercayai mu Aisyah." Saut Abi.
"Abi tolong jelaskan pada nenek ratu kalau saya tidak bisa datang karena ibu meninggal Abi"Aisyah meminta tolong kepada Abi sambil berlinang air mata.
"Emang aku peduli nggak!" kata Abi sambil pergi.
Apa benar yang dikatakan Aisyah Ibu Marni meninggal jika ia kenapa dia tidak menghubungi orang kantor. Dasar Bodoh!.
Abi mengangkat gagang telepon lalu menghubungi seseorang.
"Roni kamu ke ruangan saya sekarang."
Prak. Abi meletakkan gagang telepon kembali.
Tok...Tok..Tok.
Masuk.
"Selamat pagi pak apa ada yang bisa saya bantu?"
"Roni kamu cari tahu tentang Aisyah, kamu perintahkan orang untuk mencari tahu tentang Aisyah, saya kasih waktu 2 hari."Perintah abi.
"Baik pak, segara saya perintahkan bapak kirim saya foto dan alamatnya agar orang suruhan saya mudah melacaknya."
Prak. Abi melempar amplop coklat di atas mejanya."Di dalam amplop itu ada alamat dan foto beserta uang untuk biaya operasional selebihnya nanti saya tambah lagi."
"Baik pak, saya permisi dulu."
Abi mengangguk kepalanya, kenapa Abi bisa menyuruh orang untuk mencari tahu kebenaran Aisyah, karena Ibu Marni sudah seperti ibunya Bahakan nenek Ratu tidak tahu kalau Aisyah anak dari pembantunya yang dulu bekerja mengurus Abi, sejak menikah Ibu Marni keluar dari kerjanya sebagai pembantu di rumah nenek ratu maka dari itu Abi merasa dekat dengan orang tua Aisyah.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
Yuk mampir lagi teman-teman minta dukungannya ya jempol saja dan komentar gratis ðŸ¤