
Aisyah tiba di rumah langsung mendapat pelukan hangat dari sang ibunda tercinta, sang ibu bersyukur putri semata wayangnya kembali dengan keadaan selamat.
"Alhamdulillah nak, kamu baik-baik saja."Seru dengan rasa bahagia.
"Maafin Ais bu, tadi malam Ais mau pulang tapi hujan deras tidak berhenti-henti jadi terpaksa Ais bermalam di rumah teman."Ucap Aisyah bohong.
Aisyah terpaksa bohong agar ibunya tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Ya sudah sekarang kamu sarapan ibu sudah masakin nasi goreng."
"Iya Bu, Ais ke kamar dulu ganti pakaian."
"Iya nak." kata sang ibu.
Aisyah berjalan menuju kamar yang berukuran kecil namun Aisyah sudah mendekorasinya dengan cantik. Setelah ganti pakaian Aisyah keluar untuk sarapan sebelum kuliah.
Aisyah menarik kursi meja makan duduk dengan santai sambil mengambil nasi dan lauk pauk.
"Ais ponsel mu kemana dari tadi malam ibu Sulit sekali menghubungi mu?, apa ponselmu hilang? kalau hilang ibu bingung untuk membelikannya lagi untuk mu."
"Ibu tenang saja ponsel Aisyah ada kok, hanya saja tadi malam Aisyah lupa bawa charger"
"Shukur lah."kata sang ibu.
"Alhamdulillah bu, Aisyah berangkat kuliah dulu ya bu." Aisyah pergi pamitan sama ibunya dan bapaknya.
"Pak Aisyah berangkat kuliah dulu."
"Ya hati-hati."
Pukul 10 pagi Aisyah keluar dari rumah berangkat ke kampus dengan angkutan umum. Selama perjalanan Aisyah mendengar kan sholawat menggunakannya handset. Hingga tiba di depan gapura kampus Aisyah menyetop angkotnya.
"Depan kiri ya bang." Saut Aisyah.
Lalu Aisyah membayar dengan uang pas dari dalam sakunya. Setelah membayar Aisyah menyebrang jalan menuju kampus.
Saat Aisyah datang semua temen-temen kampus berhenti bergunjing, ada perasaan aneh saat semua siswa-siswi menatap Aisyah.
Ada apa ya kok perasaan beda sekali mereka menatapku seperti tatapan sinis. Batin Aisyah.
"Kelihatannya sih alim tapi di belakangnya." Celetuk salah satu temannya.
"Kak Aisyah..," panggil Shila.
Aisyah menengok ke arah suara."Shila.., ada apa dek?"
Shila menarik tangan Aisyah ke arah tempat yang sunyi.
"Ada apa Shila?" tanya Aisyah penasaran.
"Kakak tahu hari ini semua ngomongin kakak, karena ibu kakak bilang kalau kakak tidak pulang tadi malam dengan cowok kakak."Ungkap Shila.
Aisyah tertawa lepas mendengar cerita Shila."Tadi malam kakak memang tidak pulang, malam itu niat kaka untuk menemui Mas Abi di kafe queen tapi sampai jam 9 Mas Abi tidak ada datang ke kafe yang sudah Mas Abi tentukan, lalu hujan deras kak Aisyah berjalan sambil menunggu angkutan tapi saat itu kak Aisyah kedinginan lalu kak Aisyah sadar sudah ada di rumah si nenek yang baik katanya menemukan kak Aisyah tergeletak. kak Aisyah di minta bermalam kalau pulang pun itu hal yang tidak mungkin esok paginya kak Aisyah pulang."Aisyah menjelaskan pada Shila.
"Iya Shila juga tidak percaya kalau kak Aisyah melakukan hal yang di larang agama."
"Masyallah Shila terimakasih ya sudah percaya sama kakak."
"Ya sudah yuk kita ke kelas"
__ADS_1
"Yuk kak"
Aisyah dan Shila berjalan di koridor beriringan menuju kelas.
"Asiyah di panggil pak dosen di ruangannya"
"Baik, terimakasih."
"Sama-sama kak"
"Shila kakak duluan ya ke ruangan pak dosen dulu."
"Iya kak, kalau gitu Shila ke kelas ya assalamualaikum."
"Waaikumsalam..."
Sambil membawa beberapa buku di tangannya, ia mengetuk pintu sang dosen.
Tok...Tok..Tok.
"Assalamualaikum pak selamat siang."Salam Aisyah.
"Waaikumsalam Aisyah silahkan duduk."Pak dosen mempersilahkan Aisyah duduk.
Aisyah menarik kursinya lalu duduk berhadapan dengan kepala menunduk.
"Aisyah apa bener kabar yang sedang beredar di lingkungan kampus?"
"Ya Allah pak, itu tidak benar saya memang tadi malam tidak pulang karena kendala hujan deras tidak ada angkot, saya bermalam di kediaman Nenek Ratu."Aisyah menjelaskan pada pak dosen bawah berita itu tidak benar.
"Nenek Ratu?" Sontak pak dosen.
Jelas pak dosen kaget saat mendengar nenek ratu. Siapa yang tidak mengenalnya donatur terbesar di kampus tersebut, termasuk kampus itu adalah milik keluarga Wiranata.
"Baik Pak, saya minta maaf lain kali saya tidak ada mengulanginya lagi."
"Ya sudah sekarang kamu boleh pergi." kata pak dosen.
Hampir saja Aisyah kehilangan beasiswanya, namun ada satu masalah yang harus di selesaikan, ya itu mengembalikan kepercayaan kepada temen-temennya dan itu tidak mudah sangat lah suit. Aisyah berjalan keluar dari ruangan, hari itu Abi sepertinya tidak kuliah Aisyah sangat bingung untuk menjelaskan kalau kabar itu tidak menjadikan ke-salah pahaman.
Asiyah duduk di kantin termenung tidak ada satu pun yang menyapa Aisyah seperti biasanya malah semua mencibirnya, Aisyah merasa mereka sedang mengadili pada saat itu.
Aisyah tidak ingin mengambil pusing ia menyumbat telinganya dengan handset mendengarkan shalawatan di ponsel yang baru di kasih oleh nenek, karena ponsel milik Aisyah mati karena air hujan.
"Ternyata lu nggak beda jauh dengan gadis jalanan yang suka keluyuran."Celetuk Denis berbisik di telinga Asiyah.
Dada Aisyah terasa sakit seperti di pukul palu, tapi untuk melawan pun percuma saat ini di jelaskan pun percuma tidak ada percaya. Aisyah bergegas bangun membayar es teh lalu pergi ke-kelas.
Hamid pun terhasut oleh omongan temen-temen kampus.
"Hamid.., panggil Aisyah" Hamid pergi berbelok arah.
"Ya Allah, apa Hamid pun percaya dengan omongan mereka." Lirih Aisyah. Aisyah menarik nafasnya panjang dadanya terasa sesak.
Saya harus fokus kuliah sebentar lagi skripsi aku harus lulus dengan nilai yang tinggi, soal mereka biar lah Allah maha tahu.
Sejak saat itu Aisyah selalu sendiri di kelas belajar dan belajar, keadaan tidak lagi sama mereka tetap menganggap Aisyah wanita yang tidak baik.
So Aisyah became a cool girl.
__ADS_1
Waktu tiba wisuda Aisyah berhasil mendapatkan nilai yang memuaskan salah satu dosen mengajukan Aisyah Studi di luar negeri tanpa biaya sepeser pun.
Berbagai perusahaan menawarkan pekerjaan namun Aisyah belum tahu bekerja atau mengambil beasiswa ke luar negeri.
Aisyah mencari sosok Abi tapi Abi tidak datang menghadiri acara wisuda, karena sedang mendapat tugas dari orang tuanya mengurus perusahaan di negara lain.
Hanya buket bunga yang di titipkan oleh Shila dari Abi.
"Kak Aisyah selamat ya, ada titipan dari kak Abi."
"Abi?, Mas Abi nya kemana?" tanya Aisyah sambil celingukan mencari Abi.
"Kak Abi belum pulang kak."kata Shila.
"Terimakasih ya, kakak kesana dulu ya."
Asiyah mendapatkan banyak pujian dari banyak dari banyak orang terutama dekan fakultas.
"Bagaimana Aisyah apa kamu terima beasiswa studi di luar?"
"Aisyah pikir-pikir dulu pak, Aisyah minta pendapat ibu dan bapak dulu."Kata Aisyah.
"Baik lah Aisyah nanti kabarin bapak ya"
Aisyah menganggukkan kepalanya pelan."Baik pak Ais permisi dulu."
Setelah acara selesai Aisyah kembali pulang bersama orang tuanya.
Sang ibu sudah siapkan makan-makan syukuran atas kelulusan putrinya. Sebagai orang tua tentu bangga memiliki putri cantik dan cerdas, ibu Aisyah memang sedikit cerewet namun semua itu untuk kebaikan putri semata wayangnya, Aisyah harus berusaha jika ingin kuliah karena orang tua Aisyah merasa tidak mampu menyekolahkan anaknya sampai tinggi.
Saat Aisyah duduk di bangku SMP sang ibu bertanya pada Putrinya.
"Nak apa cita-cita mu?"
"Ais ingin menjadi ustadzah."jawab Aisyah.
"Selain ustadzah?" tanya lagi sang ibu.
"Ingin menjadi anak yang bisa membahagiakan ibu dan bapak."
Sang ibu tentunya mengerutkan keningnya kenapa putrinya tidak ada cita-cita lain.
"Selain itu?" lanjut bertanya pada Aisyah.
"Ingin menjadi wanita pengusaha sukses." Jawab Aisyah menunduk, Aisyah merasa itu tidak mungkin bisa tercapai.
"Kalau Ais inginkan semua itu, Ais paham betul ibu bukan orang kaya yang bisa menyekolahkan kamu sampai kuliah, tapi Aisyah boleh meraih gelar beasiswa dengan acara Aisyah harus rajin belajar."
Mata Aisyah berbinar seketika Aisyah semakin semangat untuk mencapai tujuan sukses.
Sekarang sang ibu berhasil membuat putrinya banyak meraih prestasi kini perjuangan Aisyah berhasil dengan nilai terbaik.
Aisyah memeluk tubuh ibu nya dengan erat."Terimakasih Bu, berkat ibu Aisyah bisa menjadi seperti ini, Ais janji Ais akan berusaha lebih keras lagi untuk membahagiakan ibu dan bapak, Aisyah ingin sekali rumah yang kita tempati sekarang berubah menjadi seperti istana tidak lagi ada bocor tidak ada lagi yang menghina kita, semua itu Aisyah jadikan motivasi Bu." Aisyah menangis bersujud di kaki ibunya.
"Bangun lah sayang, ibu bangga punya kamu, jangan pikirkan ibu dan bapak, pikirkan masa depan mu, tugas ibu sekarang mendoakan mu, semoga semua cita-cita menjadi nyata."Ujar sang ibu.
Setelah minta pendapat ibu dan bapaknya Aisyah menerima pergi ke negeri lain mengambil beasiswa.
......................
__ADS_1
......................
Hai semuanya apa kabar semoga semuanya sehat selalu ya, terimakasih yang sudah like dan komen.