Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[01]. Insiden di Kantin


__ADS_3

Hii^^


Welcome. Well, sebelumnya cerita ini pernah aku post di @reresmnjtk. Dikarenakan akun hilang, jadi aku pindahin ke akun baru ini.


-


*Blur*


Apakah kita punya peluang?


- Mauren Nathania


.


Mauren Nathania, hidup dengan kesengsaraan membuatnya menjadi gadis nakal dan ambisius hanya demi menggapai kebahagiaannya. Dengan kenakalannya, Mauren menjadi begitu terkenal disekolahnya apalagi di ketahui juga gadis ini selalu mengejar-ngejar Arnold hanya karena cinta.


Arnold Byanazriel, ketua Ekskul basket SMA PRIMADYA. Satu manusia yang paling di bencinya adalah Mauren. Gadis yang mengejar-ngejar cintanya.


Levin Malacy, si dingin ketua Ekskul Musik salah satu teman dekat Arnold. Terkadang dan tanpa di sengaja Levin sering mendapati Mauren yang menangis. Sering Bertemu dengan Mauren membuat benih-benih cinta muncul dihatinya.


Hingga semuanya berubah, saat Arnold dan Mauren menjalin ikatan pernikahan dini ....


Siapakah yang akan di pilih Mauren? Bertahan dengan Arnold yang membencinya atau Levin si cowok dingin ketua Ekskul Musik?


"Menjauh dari ku! aku tidak menyukaimu!"


"Jangan pernah merasa sendiri, aku akan selalu ada untukmu. Mau itu suka ataupun duka. Aku selalu siap jadi tameng untuk mu."


"Jangan pernah memintaku untuk menjauh! Karna itu tak akan pernah terjadi!"


"Kalau aku tak bisa memilikimu, orang lain juga tidak akan bisa memilikimu!"


***


..."Sejauh apapun kamu meminta aku untuk menjauh, itu gak akan pernah terjadi."...


...-Mauren Nathania-...


...-...


"Satu cinta hanya untuk kamu saja ...Satu cinta tak kan terbagi dua ... Karna cinta kubukan cinta biasa ... Karna cinta aku bisa gila ... Hiya-hiya, AKU BISA GILA!"


"Buset bocah bucin nyanyi, telingaku serasa mau pecah," gerutu Bella, salah satu sahabat Mauren.


"Pala Bella botak ... pala Bella botak ... Hiya-hiya." Mauren bernyanyi dengan buku yang digulung sebagai mike-nya.


Sementara Penira, sahabat Mauren juga tengah menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Mauren yang cukup terbilang bar-bar jadi cewek.


Hari ini mereka sedang free class, jadi maklum-maklum saja warasnya Mauren kembali berulah. Eh, tidak juga, terkadang saat ada guru Mauren juga bisa menjadi 'sangat' waras.


Seperti free class pada umumnya, kelas XI- IS³ sedang acak amburadul. Beberapa siswi tengah menggosip ria, ada pula yang sibuk dengan make-up, sedangkan beberapa siswa memilih tidur dan ada pula yang bermain game, dan satu lagi hal yang paling membuat para betina jijik adalah sebagian nobar. Entah apa yang sekarang tengah mereka tonton. Jangan tanya, karena itu sungguh menjijikkan.


Mauren memilih beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana, Ren?" tanya Bella.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" kata Mauren sembari menahan tawa.


"Guys ... guys ... mohon perhatiannya anak-anak!" Mauren memukul-mukul papan tulis dengan keras hingga beberapa murid mengalihkan pandangan ke arah Mauren.


Baiklah, Mauren memulai kegilaannya.


"Berhubung kita sedang free class jadi bagaimana kalo kita nge-DJ bareng? Hayo yang setuju angkat kakinya!" teriak Mauren histeris.


Salah satu murid menyahut, "Ren, kakiku nih yang mendadak tegang ngeliat kau!"


Mauren menatap Retno, yang terkenal sebagai otak mesum di kelasnya. Cowok itu tersenyum menampakkan giginya yang err sedikit kuning. Jarang gosok gigi ya, om?


"Retno ogeb! Kaki mana bisa negang!" Mauren menatap nyalang Retno.


Retno tertawa. "Ini nih lagi tegang," katanya menunjuk sleting celananya.

__ADS_1


Semua murid sontak tertawa. Selain mesum cowok itu juga jahil.


"Retno war lah yok!" di depan meja guru Mauren dengan wajah yang tak santai menaikkan lengan bajunya layaknya preman.


"Kamar?"


Selanjutnya terdengar sumpah serapah Mauren.


-


"Ada apa, wajahmu terlihat kesal?" Penira memulai percakapan.


Kini ketiga gadis itu, Mauren, Bella dan Penira, tengah berada di kantin. Beberapa menit yang lalu terdengar Bel istirahat.


Mauren memakan kacangnya dengan raut kesal.


"Jangan ladenin, warasnya Mauren lagi kumat, Ra." Mauren menatap nyalang Bella. Sementara Bella mengedikkan bahunya acuh.


"Wahai Bel sekolah, kau mau kupukul?"


"Namaku udah bagus gini Bella Anjani malah kau ubah-ubah seenak jidat. Ku tabok bilang?!" Komen Bella tak terima.


"Sebenarnya aku lagi kesel tauk!" curhat Mauren. "Padahal di kelas tadi, udah nyiapin jiwa dan raga dengan segenap hati buat konser trus ngeDJ eh, malah gak jadi. Padahal ya, tadi lagi mood banget. Gara-gara si Retno tengil ini mah!" lanjutnya ngegas.


"Buset, bro, cuma gara-gara itu doang?" Penira menatap tak percaya Mauren.


"Ya iyalah! Orang mau cari hiburan si mesum malah ganggu!"


Penira dan Bella hanya dapat menggelengkan kepalanya. Mauren benar-benar ... gadis yang sulit ditebak.


Mauren mengalihkan pandangannya. Diujung kantin ada Arnold beserta teman-temannya. Mereka bernyanyi tak jelas sembari menggoda adik kelas yang lewat.


Pandangan Mauren terhenti kala mendapati Priya Zisha, gadis yang terkenal ramah dan pintar seantero sekolah. Priya duduk tepat di sebelah Arnold. Mauren mendengus kasar mendapati pemandangan yang membuatnya cemburu berat.


"Eh, mau kemana lagi, Ren?" Penira menatap Mauren yang dengan tatapan bingung apalagi melihat Mauren memayunkan bibir tanda kesal.


"Lihat noh! Si banci mendekati calon suamiku." Mauren menunjuk ke meja ujung kantin.


"Priya maksudnya, Ren?"


"Iya, Bell. Banci ga ngotak! Deketin calon suamiku!"


Bella menggeleng, "Halu sekali anak ini."


Penira tertawa. Dengan menutup mulutnya ia berkata, "Priya euy, bukan banci, hahaha ...."


Mauren tersenyum, "Siapa suruh namanya Priya. Cewek kok namanya gitu."


"IRI BILANG SIHIBIT!"


Mauren mendelik.


***


"Tralala trilili der der ...."


Mauren bersenandung tak jelas. Ia berjalan riang sembari mendekati meja Arnold dengan dua piring nasi goreng di tangannya.


Setelah berdebat dengan Bella dan Penira, Mauren langsung saja membeli nasi goreng dan menghampiri Arnold. Satu piring untuk dirinya dan satu lagi untuk Arnold-nya. Siapa tahu Arnold belum makan 'kan?


"Halo Arnold sayang." Mauren tersenyum tak lupa ia meletakkan dua piring nasi goreng tadi ke meja.


"Ini untukmu, aku tahu lho kamu pasti belum makan. Iya kan sayang?" tanya Mauren dengan memposisikan duduknya tepat didepan Arnold. Dia menyelip diantara Adam dan Ivander.


"Wes, wes, wes, si cantik dateng," goda Ivander.


Sementara Arnold memilih cuek. Priya di sebelahnya menatap malas Mauren.


"Iya dong, Van. Gue mau ngasih Arnold makan, siapa tahu dia belum makan ya kan?"


"Kalo dia mau," lirih Adam.

__ADS_1


"Kau itu pengganggu banget sih, Ren. Mending balik sana." Deron menatap Mauren- adiknya.


"Arnold aja gak sewot sepertimu kenapa kau yang sewot?"


"Asek adek-abang berkelahi," kata Adam.


"Gak ada adegan baku hantamnya nih?" timpa Ivander sangat santai.


Mauren memilih tak menanggapi.


"Arnold, ini aku bawa nasi goreng. Makan gih," ujarnya lembut.


"Dasar memang si Mauren! Giliran sama Arnold aja kau lembut, sama aku enggak. Abangmu juga tidak kau lembuti, malah kasar." Adam berteriak heboh.


'Tak'


Ivander menjitak kepala Adam. "Ngomongnya gak usah ke telingaku juga lah. Bisa tuli aku."


Mauren tersenyum geli.


"Ar, ayo ini untukmu." Kembali ia menawarkan.


Arnold berdiri. Sontak perhatian semua teman-temannya teralihkan padanya. Bahkan, Levin yang sedari tadi diam semabari bermin game ikut menatap sahabatnya itu.


"Ayok, Pri, ada penganggu," ajak Arnold pada Priya.


"Ar, mau kemana? aku udah bawain kamu nasi goreng. Masa tega nolak?"


"YANG MENYURUHMU MEMBAWA SIAPA!" Arnold mebentak Mauren. Kini seisi kantin menatap mereka penuh minat.


Ayolah kejadian ini sudah sering tejadi. Dimana Mauren dengan teguhnya mengejar-ngejar Arnold, bahkan sampai menyatakan cintanya, tapi Arnold malah menolaknya mentah-mentah. Bahkan, tak jarang pula Mauren dipermalukan Arnold, agar gadis itu menjauh darinya.


Sungguh miris bukan nasib Mauren? rasany sangat sakit disaat orang yang benar-benar diharapkan tidak mengharapkanmu balik. Cintanya sepihak.


Belakangan ini banyak gosip yang beredar bahwa Arnold tengah menjalin hubungan dengan Priya Zisha, gadis biasa namun terkenal pintar dan ramah. Tak jarang, Priya diminta mengikuti olimpiade dari pihak sekolah. Dan yah, Priya juga beberapa kali menyabet piala.


"Ar, kamu kok kasar? Jangan kasar-kasar sama cewek, gak boleh itu." Lihatlah bahkan Mauren masih menyahuti dengan lembut.


Tidak ada yang tahu sebenarnya apa isi kepala Mauren. Gadis itu benar-benad berbeda bila dihadapkan sama orang yang dia kasihi. Mauren bar-bar? iya. Mauren nakal? iya. Mauren suka cari gara-gara dengan guru? iya. Tapi, ia akan mendadak lemah saat berhadapan dengan Arnold.


"Kau hanya hama! jangan pernah ganggu aku lagi!" tukas Arnold tajam.


"Aku gak pernah ganggu kamu, Ar. Aku cuma mau ngedeketin kamu doang. Eh, iya, ini makan dulu ya, aku udah rela-relain lho tadi." Mauren kembali menyodorkan piring itu.


'Prang!'


Teman-teman Arnold berlonjak kaget. Mereka menatap prihatin Mauren. Bukannya tak mau membela gadis itu, namun ini salah satu cara agar Mauren menjauhi Arnold.


Walau terkadang mereka tak terima atas pernyataan itu.


Arnold menghempaskan piring itu hingga terjatuh. Bahkan, nasi itu sudah berserakkan di tanah.


"Ar-"


"Bisa tidak kau menjauh dariku, Ren? aku tidak menyukai dirimu! menjauhlah dari hadapanku, sejauh mungkin! karena aku sudah muak, paham?!" rahang Arnold mengetat. Gadis keras kepala seperti Mauren benar-benar membuatnya naik pitan. Lalu ia pergi menarik tangan Priya.


Sementara Priya menatap Mauren dengan senyum kemenangannya.


"Ren ... yang sabar, ya. Kalau gak tahan sama Arnold, boleh kok pindah hati, sukanya ke aku saja. Aku bisa menerimamu apa adanya." Ivander menjitak kepala Adam.


"Kau memang tidak pernah capek ya jadi buaya." sembur Ivander tak habis pikir.


Sementara Deron, abangnya memilih mendekat kearah Mauren. Ia berbisik pelan ditelinga gadis itu.


"Kau sudah seperti perempuan murahan."


Mauren tertegun. 'begitukah?' ia tersenyum miris.


-


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, ya. Maaf kalo belepotan, terimakasih.. ❤

__ADS_1


__ADS_2