
..."Semoga ini awal yang baik untuk hubungan kita."...
-
-
"Selamat pagi ibu cantik." Saat mereka tiba diruang guru langsung saja Mauren menyapa bu Lolita. Guru kesayangannya.
Guru kesenian itu yang sedari tadi tengah memeriksa buku langsung saja mengalihkan atensinya pada Mauren dan kedua temannya.
"Ibu kira tadi kamu gak datengin ibu."
Tanpa aba-aba Mauren mendudukkan dirinya didepan sang guru. "Ah, ibu, mah. Gak mungkinlah, buk, saya gak datengin panggilan guru cantik kayak ibu." Goda Mauren.
Terlihat Ibu Lolita tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya geli. "Ada-ada saja kamu ini. Manis banget ngomongnya."
"Jadi, kenapa ya, bu? Nilai saya ada bermasalah? Atau saya yang ada masalah?"
"Keliatan banget ya, kamu orangnya hobby nyari masalah. Sampe-sampe datang menghadap ibu, itu duluan yang ditanyain."
Bella merangkul Mauren, "Maklum, buk, Mauren hobby nyari masalah. Hidup tanpa masalah katanya gak enak."
Mauren menjitak kepala sahabatnya itu. "Hush!"
"Baiklah, langsung saja. Ibu sangat tahu kalau kamu berbakat dibagian kesenian. Apalagi suaramu bagus sekali. Jadi, sebentar lagi kita akan mengadakan pensi menyambut hari guru, ibu harap kamu bisa tampil ya, nak."
"Menampilkan apa ya, buk kalau boleh tahu?"
"Kita ada beberapa pilihan untuk kamu. Mau bernyanyi, puisi atau dance. Tapi, ibu berharap sekali kamu mau bernyanyi. Sayang, suaramu bagus. Harus ditunjukkan." Timpal bu Lolita.
"Baik, bu, mungkin saya pilih bernyanyi saja." Jedanya. "Hm, kalau boleh tahu saya solo atau duet ya, bu?"
"Kamu duet ya, sama ketua ekskul musik sekolah kita."
__ADS_1
Mauren mengerutkan keningnya. Selama ia bersekolah disini, bahkan gadis itu tidak tahu siapa ketua ekskul musik mereka.
Mauren melirik Bella dan Penira yang sedari tadi diam menyimak. 'Kalian tahu?' Tanyanya melalui pergerakan mulut tanpa suara.
Penira menggeleng sedangkan Bella mengangguk tanda ia mengenal ketua ekskul itu.
"Baik, bu, terimakasih. Kalau gitu, kita izin ya, bu."
-
-
Saat mereka sudah keluar dari ruang guru, Mauren langsung saja bertanya pada Penira.
"Serius, kau kenal ketua ekskul musik nya?"
Bella mengangguk antusias, "Kenal. Malah ya, kau juga mengenal siapa ketuanya."
Mauren terdiam sembari tangannya mengetuk pipinya lamban, "Serius? Siapa? Kau kenal Penira?"
"Haiss! Kau sih, Ren, isi kepalamu hanya Arnold saja."
"Aku serius. Aku tidak mengenalnya."
Mendengar perkataan terakhir Mauren, Bella memutar matanya jengah. Giliran yang berdekatan dengan Arnold saja ia ingat. Bahkan, gadis itu tahu siapa-siapa saja yang menjadi anggota inti Ekskul basket sekolah mereka. Ya, tidak heran, sih, ketuanya saja Arnold.
Bella menarik tangan tangan Mauren dan Penira menuju ruangan kelas XII yang bertepatan sebagai kelas Arnold dan teman-temannya.
Mauren semakin kebingungan. Gadis itu bukannya tak sering menghampiri kelas Arnold, sangat sering sekali. Tapi, ia tak pernah tahu dan sadar bahwa ketua ekskul musik adalah teman sekelas cowok itu.
"Serius disini?" Celutuk Penira.
"Kau juga, Ra. Kenapa jadi pada kudet?"
__ADS_1
Penira hanya menaikkan bahunya tidak tahu.
Sementara teman-teman Arnold merasa kebingungan taat kala mereka kembali menginjakkan kaki dikelas.
"Sorry, kita-kita bukan mau nanyain Arnold, lagi." Kali ini langsung saja Bella berujar.
Ivander yang sedari tadi duduk bermain hp, kini menghampiri mereka, "Jadi, nyari siapa lagi? Nyari gara-gara?" Sindirnya sembari melirik Mauren.
Mauren melepaskan tangannya dari Bella, gadis itu mendekat pada Ivan. "Mata mu, perlu aku colok?"
"Van, jangan begitu. Dia cewek." Adam menghampiri mereka.
"Kenapa lagi?" Tanya Adam dengan satu tangan yang masuk pada saku celananya.
Bella memperhatikan mereka semua, "Levin mana?"
"Lho, kenapa nyari Levin, Bel?" Tanya Mauren kebingungan.
"Aku disini, kenapa?"
Sebuah suara yang berasal dari belakang mengalihkan atensi ketiga gadis itu.
"Ren, Ra, Levin itu ketuanya ekskul musik. Dan, kau, Ren, berarti kau akan berduet dengannya di pensi nanti."
Mauren membelalakkan matanya. Gadis itu mendengus tak suka, kalau sudah berduet artinya mereka akan semakin sering bertemu dan ia akan semakin sering darah tinggian. Sekali bertemu saja mereka sering adu mulut.
"Bu Lolita sudah bilang, ya?"
Mauren mengangguk.
"Semoga kita bisa bekerja sama." Ungkap Levin.
-
__ADS_1
-