Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[14]. Kita Tidak Terlihat Seperti Keluarga


__ADS_3

..."Jangankan orang lain, bahkan keluarga sendiri dapat menyakitimu. Menikam dirimu dengan berbagai rasa sakit hingga bahkan kau tak mampu untuk berdiri lagi."...


-


'Au!' Mauren merintih dengan langkah kaki yang mundur secara mendadak sembari pula Mauren memegang rambutnya yang ditarik dari belakang.


Padahal baru saja ia melangkahkan kaki memasuki rumah sudah disambut dengan siksaan. Baru saja tadi Mauren merasa sedikit senang karena berduaan dengan Arnold. Begitu jahatkah dirinya hingga bahkan tidak ada istirahat dari kesakitan?


Terdengar desisan kesakitan dari bibir mungil Mauren. Air mata Mauren rasanya hendak turun kala rasa sakit itu menyerang kepalanya.


"Au! Sshh ..."


Lutut Mauren mencium lantai saat tubuh Mauren di jatuhkan begitu saja setelah rambutnya telah di tarik tadi. Gadia itu mengusap kepalanya. Sakit yang dirasakannya menjalar hingga membuat Mauren sedikit kelimpungan.


Mauren mundur perlahan kala melihat Amel- mamanya perlahan mendekatinya dan jongkok tepat dihadapannya.


"Saya gak suka ngeliat kamu senyum!" Amel mencengkram pipi Mauren. Sudah dipastikan pipi itu memar sekarang.


Napas Mauren seolah tercekat. Ia baru saja tiba dirumah sudah langsung mendapati penyambuatan begini cuma karna senyum. Salahkah dirinya senyum?

__ADS_1


Rumah ini benar-benar seperti neraka.


"Selain saya gak suka kamu dirumah saya, saya juga gak suka kalo kamu bahagia! Senyum kamu itu ngerusak pemandangan!" Dengan kasar Amel menyentak pipi Mauren hingga mampu membuat wajah Mauren langsung berpaling.


Mauren menunduk. Bibir Mauren tampak bergetar menahan tangis. "Ma- maaf mama," kata Mauren serak.


"Saya bukan Mama kamu! Berhenti manggil saya mama! Akh! Muak saya sama kamu." Amel menunjuk-nunjuk Mauren dengan tatapan tajamnya.


"Maaf nyonya," ulang Mauren kali ini air mata gadis itu luruh, tak mampu lagi membendungnya.


Perlahan turut terdengar sesunggukan kecil dari Mauren. Mauren memilin-milin ujung bajunya dengan napas yang tak beraturan karna tangisan. Baru saja ia merasa bahagia bisa jalan bersama Arnold dan kini? Apa yang ia dapat? Kebahagian itu ternyata cuma semantara. Ataukah kebahagiaan itu hanya ilusi semata? Atau kebahagiaan itu tak suka dekat pada Mauren makanya kebahagiaan memilih menjauh?


Amel menendang kaki Mauren dengan ujung sepatu miliknya sembari tangan yang tersilang di depan dada. "Karna senyum kamu yang udah ngerusak mood saya kamu harus membersihkan seluruh rumah ini!" Sekali lagi Amel menendang Kaki Mauren sampai wajah Mauren tampak seperti menahan sakit.


"Selamat bekerja babu Mauren." Amel tersenyum sinis meninggalkan Mauren yang masih terduduk.


Mauren menatap kepergian mama Amel dengan tatapan terluka. Bulir-bulir air mata jatuh dari pelupuk mata Mauren. Bibirnya masih tampak bergetar menahan suara tangis. "Ma- mama ... se- serendah itukah anakmu ini?"


Mauren menghapus kasar air matanya. Ditelusupkannya kepala mungil itu dibawah lipatan tangan dengan lutut kaki sebagai penyangga. Bahunya bergetar perlahan terdengar suara tangisan kepiluan.

__ADS_1


Dari ujung tangga Deron tak sengaja melihat Mauren menangis. Mata cowok itu menatapnya sayu. Rasa ingin merengkuh dan menenangkan gadis itu muncul begitu saja.


Deron dengan segera turun menghampiri Mauren. Namun langkah kakinya terhenti. Tidak. Dirinya tak bisa menenangkan Mauren.


"Ren! Kenapa kau menangis disitu! Minggir, kau mengganggu jalan saja!" Sentak Deron.


Mauren menengadah. Ditatapnya Deron dengan wajah yang kacau penuh air mata dengan sesunggukan kecil turut menyertai.


"Kak Ron,"


Deron membuang muka. Ia tidak tega, namun apa daya. Tangannya mengepal. Cowok itu meninggalkan Mauren tanpa menenangkannya.


"Maafkan aku my little girl."


-


-


-

__ADS_1


Makasih yg udh dukung, maafa aneh..


__ADS_2