Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[22]. Penulis Surat Berwarna Pink


__ADS_3

..."Peribahasa: Seperti berlindung dibalik sehelai daun, Sembunyikanlah kesalahanmu secara bodoh, hingga semua orang tahu."...


-


-


Mauren bernafas lega. Akhirnya setelah sekian lama berdiam canggung didalam mobil, sebenarnya tidak canggung hanya saja Mauren merasa begitu. Mungkin karena Mauren tipikal orang yang tak suka berdiam-diam saja. Akhirnya merekapun tiba di sekolah.


Hari ini sekolah masih cukup sepi. Ya tidak heran, Mauren memang datang terlalu cepat. Semoga saja Mauren bertemu Arnold disekolah. Tidak pulangnya cowok itu membuat Mauren uring-uringan semalaman bahkan ia sampai rela datang pagi ke sekolah demi Arnold. Baiklah ini memang hal yang langkah. Malah biasanya dirinya sering terlambat dan parahnya sudah sering bolos.


Mauren melapas seatbelt miliknya. Ditatapnya Levin yang masih betah menatap kedepan. Pria itu bergeming, ia hanya terdiam sedari tadi.


"Hmm, aku duluan ya, Lev. Btw, makasih banget tumpangannya." Mauren membuka pintu mobil namun perkataan Levin menghentikan gerakannya.


"Arnold sepertinya tidak sekolah."


Mauren menoleh, "Kau tahu dari mana?"


"Cuma nebak, sih."


Mauren mengerutkan keningnya. "Kau aneh. Membuat ku Kesel lagi."


Levin menggulum senyum, "kesel apa kesel?" Goda Levin sembari menaik-turunkan alis matanya.


Dengan gerakan cepat Mauren menggeplak kepala Levin. "Kau menyebalkan! lihatlah kau terkadang cuek terkadang care. Kau tsundere, ya?"


Levin melepas seatbelt miliknya.


"Bawel. Sudah sana gih. Entar jangan lupa pulang sekolah bareng aku saja." Ujarnya lugas sembari tersenyum kecil.


Mauren menatap Levin penuh selidik. Pria didepannya benar-benar mencurigakan. Lihat saja, sebentar-sebentar cuek dan setelahnya kembali jahil kadang romantis seperti semalam di apartemen. Bahkan, Levin juga tak segan memberinya senyuman mautnya.


Levin menaikkan dagunya seolah berkata, 'apa?'

__ADS_1


"Kau tak lagi mendekati ku kan? Atau cuma perasaan ku doang?"


Levin menaikkan bahunya acuh.


Lihatkan betapa menyebalkanya cowok dihadapan Mauren ini sampai rasanya tangan Mauren hendak menggeplaknya sekali lagi.


"Udah sana."


"Dih. Serius dulu, oii! Jangan buat anak orang penasaran."


"Sudah tahu untuk apa bertanya?"


"Busett! Demi apa?" Mauren menampakkan wajah terkejutnya. Saat ini Mauren bahkan bertambah imut dimata Levin.


"Berisik. Entar pulangnya sama ku saja. titik!"


"Enak saja kau memaksa begitu." Mauren membanting pintu mobil Levin. Menghadapi cowok itu sama seperti menghadapi Banci yang onoh, sama-sama membuatnya mengelus dada. Ya walaupun nyebelin si Banci.


-


-


Mauren menatap koridor-koridor yang sepi ini. Sebenarnya bukan dirinya saja yang ada namun ada juga siswa lain. Cuma baru beberapa yang datang, tidak begitu ramai.


Mauren baru tau, ternyata begini rasanya datang lebih cepat. Lebih enak, suasananya yang sepi membuat Mauren suka.


Langkah Mauren berhenti saat matanya tak sengaja menatap sesosok gadis yang dikenalnya tengah celingak-celinguk memperhatikan sekitar setelahnya ia mengeluarkan amplop warna pink. Kening Mauren mengerut, timbul prasangka-prasangka tak terduga didalam pikirannya.


Apa yang dilakukan temannya disana?


Rasanya Mauren munafik. Sudah jelas dengan matanya sendiri gadis itu memasukkan amplop warna pink ke dalam loker Arnold, lantas mengapa dirinya begitu naif?


"Ah, tapi rasanya gak mungkin. Ayoo otak, jangan nethink. Lagi pula kalaupun memang beneran suka, aku juga tidak rugi. Aku tidak akan diapa-apain juga. Namanya aja perasaan, gak bisa kita larang kehadirannya. Iya, memang begitu. Sudah jangan nethink, Ren!" Bisik Mauren pada dirinya sendiri sembari terus memperhatikan gerak-gerik gadis diujung sana sampai ia menghilang ditikungan koridor.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak menyangka saja bahwa selama ini yang mengirimi Arnold surat adalah dia." Ucap Mauren dengan ketidak percayaan. Bagaimana mau percaya? bahkan ia saja tidak pernah mendengar Arnold dipuji-puji oleh temannya itu. Malah, ia selalu menjelek-jelekkan Arnold didepan Mauren dan yang lainnya.


"Kau sedang apa cabe?! Mengintip siapa kau woi!"


Mauren tersentak. Ia menatap tajam orang yang mengejutkannya itu. Mauren menghela nafas kasar, bola matanya berputar malas saat tahu siapa dalangnya.


Mauren memilih meninggalkan si Banci itu. Yah, orang menyebalkan pagi pagi ini adalah Priya alias banci. Orang tuanya terlalu bodoh memilih nama. Apakah tidak ada nama yang lebih bagus dari pada Priya?


"Oiii. Dipanggil itu liat!"


Mauren tetap melongos pergi.


"Mauren budek!"


"Mata mu yang budek! Aku gak merasa ya nama ku cabe. Aku punya nama!!" Mauren menatap nyalang Priya.


"Budek, bodoh gak tau diri. Itu lebih pantes disematin sama nama mu." Teriak Priya karena keduanya sedikit berjarak.


"Berkacalah bi.tch! Jangan kira aku  tak  tahu, ya apa kelakuan mu!" Mauren tersenyum senang saat mengatakan itu. Priya, tubuh wanita itu seakan menegang dan ia terdiam. Huh, itu yang paling disuka Mauren. Lawannya takhluk dibawah kakinya!


Priya, gadis itu mengepalkan tangannya penuh dendam. Hatinya panas, muncul sumpah serapah di hatinya. Awas saja Mauren, ia akan membalas gadis itu!


Mauren semakin merekahkan senyumnya setelah ia berhasil membuat Priya terdiam kaku. Mauren memilih membuang mukanya tak perduli.


"Btw, padahal aku hanya mengancam. Aslinya mah aku tidak terlalu tahu apa-apa. Tapi, kayaknya sekarang aku harus menyari tahu banyak hal." ungkap Mauren tersenyum sinis.


Penira menggenggamkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Selanjutnya, gadis tersebut pergi dengan gemuruh kesal di hatinya


"Aku akan membalasmu." Ungkapnya.


-


-

__ADS_1


__ADS_2