
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
..."Tidak tahu kenapa, bila melihatmu, rasa ingin melindungi itu hadir."...
-
"Levinnn ... kau mau membawaku kemana?!"
Mauren merenggut kesal. Tiba-tiba saja Levin membawanya keluar dari kantin. Menarik tangannya begitu saja. Sudah dipastikan saat ini mereka pasti menjadi bahan perbincangan, mengingat Levin adalah salah satu- dan satu-satunya cowok aneh di SMA Primadya- yang tak pernah menggandeng tangan perempuan selain Ibunya. Dan tadi tiba-tiba saja cowok itu menggandeng dan membawa pergi Mauren, sudah dipastikan anak-anak akan menggosipi mereka.
"LEVIN!" Sudah cukup. Dengan keras Mauren melepaskan tangannya dari genggaman Levin hingga terlepas. "Kau itu kenapa, hah?!" Suara Mauren sedikit memelan. Namun tetap saja, ada penekanan disetiap intonasinya.
Kini keduanya berada di koridor kelas. Beberapa orang memperhatikan mereka. Layaknya sebuah pertunjukkan, Mauren dan Levin di kerumuni dan tak sedikit dari mereka yang berbisik-bisik.
Levin menatap tajam Mauren. Bagaikan burung Elang yang hendak menerkam mangasanya. Rahang cowok itu sedikit mengetat, tangannya mengepal hingga berwarna putih kemerahan. Ia benar-benar marah.
Levin berjalan mendekati Mauren. Mauren yang sudah ketakutan memundurkan langkahnya sehingga membelah kerumunan orang-orang. Mauren menatap was-was Levin sembari tangannya yang memilin ujung bajunya. Ia takut. Takut melihat Levin sekarang, Lantaran cowok itu menatapnya tajam. Bahkan sangat tajam. Terlihat emosi yang terpancar dari mata cowok itu.
Sebenarnya ada apa dengan pria ini?
"Le- Le ... Levin?" Mauren tergagap. Akibat berjalan mundur tadi, tanpa sadar kini punggung gadis itu menabrak tembok kelas.
Tatapan itu masih tajam yang diikuti nafas begemuruh tak beraturan dari Levin. Lama mata tajam Levin menatap Mauren hingga perlahan mata itu sedikit melunak. Tangannya terangkat hingga menyentuh pipi gadis itu-Mauren.
Tangan dengan telapak tangan yang kasar itu mengelus pipi Mauren. Dari pipi, kepelipis, hingga turun ke dagu. Dan semua itu dilakukan secara perlahan penuh kelembutan. Sementara Mauren merasakan jantungnya yang berdesir.
"Ka-kamu ..." Mauren sedikit tergagap. Tak menyangka bahwa Levin berani melakukan hal sedemikian padanya.
Mauren menelan air liurnya kala mata Levin tak berhenti memandangnya. Gugup bercampur heran. Apa yang terjadi pada cowok itu?
Mauren menarik dan menghembuskan nafasnya. Tangannya terangakat dan memegang tangan Levin yang masih bertengger pada pipinya. "Levin?" Katannya lugas.
Beberapa Siswi yang melihat mereka mendadak menjerit. Mereka seperti menonton film sepasang kekasih Romeo-Juliet. Namun, kini yang menjadi keduanya bahkan tidak pernah dirumorkan dekat sedikitpun.
Sontak Levin terasadar sembari mengacak rambutnya kasar. Dan dengan kasar pula menurunkan tangannya. Selanjutnya cowok itu berlalu pergi. Meninggalkan Mauren penuh keheranan.
~•~
"MAUEREN!" Penira berteriak tepat di telinga Mauren sehingga membuat temannya itu tersentak.
__ADS_1
"Eh, kutukupret! Kenapa lagi? kau mengagetkan ku," dumel Mauren sembari mengelus dadanya. Untung saja dirinya tak memiliki riwayat penyakit jantung. Bila ia memilikinya sudah dipastikan ia akan pingsan sekarang juga.
Penira tersenyum hingga menampilkan deretan giginya. "Kau sih punya telinga tidak dipasang. Sudah sedari tadi aku memanggil tapi kau tak menyahut-nyahut. So, jangan salahkan aku." Penira menjulurkan lidahnya.
Mauren mengerucutkan bibirnya. "Dasar penggangu."
"Makanya dari tadi orang manggil itu dengarkan kek," sahut Bella yang berjalan kearah meja mereka berdua.
Untung saja guru yang mengajar dikelas mereka tidak berada dikelas karena ada uruasan di ruang Kesiswaan. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan Mauren, Bella dan Penira akan dihukum karna berbicara pada saat jam pelajaran.
"Lho, memangnya kalian dari tadi memanggil ku?"
Penira menatap cengo Mauren. "Ini, nih akibat memerankan Romeo dan Juliet. Jadi, pikirannya ke adegan tadi terus."
"Ya, Tuhan." Bellaa menepuk jidatnya tak habis pikir. Bella menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang dipikirkan Mauren sehingga ia lupa saat dipanggil?
Penira menatap penuh selidik pada Mauren. Gadis itu menggeser kursinya mendekat pada sahabatnya itu. Mauren yang merasa terusik tentu saja mengalihkan pandangannya dari Bella.
"Menatap akunya biasa aja kali. Jangan kayak mau nerkam begitu. Seram," cibir Mauren.
"Kau menjalin hubungan dengan Levin?" tanya Penira dengan cepat.
"KAU BERPACARAN DENGAN LEVIN?" Ulang Bella dengan berteriak di telinga Mauren yang sontak membuat Mauren menjauh.
Penira memijat keningnya. Akibat suara tak terkontrol dari Bella, sekarang semua murid kelas menatap mereka.
Penira berdiri dan ... 'tak'. Gadis itu menjitak kepala Bella.
"Sakit," ungkap Bella mengelus kepalanya.
Penira mencibik. "Suaramu pelankan, bodoh! Kita diliatin orang-orang karenamu!"
Bella menaikkan kedua bahunya bodo amat. Gadis itu mengambil tempat di sebelah Mauren. Kini posisi ketiganya berdekatan, sudah persis seperti emak-emak komplek yang hendak menggosip.
Mauren menghembuskan nafas kasar. "Aku tidak ada pacaran dengan kak Levin. Gila saja aku pacaran sama dia. Aku saja sukanya sama Arnold."
Penira menatap tak percaya Mauren.
"Bella keluarkan bukti." Suruh Penira. Kini Mauren seperti tersangka yang sedang di wawancarai. Tentu saja itu membuat Mauren menggeleng tak habis pikir.
__ADS_1
Bella menyodorkan ponselnya pada Mauren dan nampaklah di layar handphone potret Mauren dan Levin yang berhadapan dengan Levin yang memegang pipinya.
"Ih, Anjir! Ulah siapa nih." Mauren menjauhkan ponsel itu dari hadapannya.
"Ketahuan kan. Hayo ... mengakulah kau. Kau pacaran dengan Levin si kulkas itu, hahaha ...." Bella tertawa terbahak-bahak.
"Jangan malu mengakuinya juga. Levin ganteng kok, lebih ganteng dari Arnold lagi. Trus dia ketua ekskul musik mana primadona lagi di sekolah. Parah, sih, kau terlalu beruntung banget, Ren." Penira bertopang dagu sembari menatap langit-langit kelas.
Bella mengangguk antusias. "Kau memang beruntung banget, aaaaa! Dapat cowok titisan pangeran. Mana gantengnya kebangetan lagi. Jadi pengen ku bungkusin!"
Mauren menatap malas kedua sahabatnya. "Hoax. Gak usah dipercaya. Aku dan kak Levin tidak punya hubungan apa-apa. Foto tadi, itu tidak di sengaja," ungkap Mauren dengan mengayunkan tangannya, menyanggah diikuti kepala gadis itu yang menggeleng-geleng.
"Bodo amat. Mau hoax kek mau engga. Aku aminin saja. Semoga kau berpacaran sama kak Levin. Dia itu tampan, dan sepetinya kelihatan lebih baik dari Arnold." Penira bertepuk tangan riang.
'Drrt ... drttt ...'
Mauren mengalihkan perhatiannya kala ponsel gadis itu berbunyi. Mauren tersenyum senang saat netranya menatap nama yang mengirimkannya pesan. Arnold. Pria itulah yang mengirimnya pesan.
Penyemangatku ❤
Nanti sepulang sekolah jangan lupa ke butik Citra. Tunggu aku disana, kita melihat baju pernikahan.
Mauren menatap pesan itu dangan tatapan sayu dan kecewa. Untuk pertama kalinya padahal cowok itu bersedia mengirimnya pesan, namun saat membukanya itu hanya pesan agar ia tidak lupa.
Mauren menarik nafasnya kasar, ia kira pesan tadi adalah untuk menyapanya atau hal lainnya, tapi ternyata ...
Iya.
Read.
"Aku kira, Aku mau diajak pulang bersama. Ternyata itu cuma halu," ujar Mauren tersenyum miris. Miris melihat dirinya yang terlalu mendamba dan berharap pada seseorang. Padahal sudah jelas, berharap lebih pada manusia itu bukanlah hal yang baik.
"Mengecewakan sekali." Mauren memasukkan ponsel itu kesaku rok nya.
-
Hii, aneh ya? :v
sorry ya, karya pertama hehe..
__ADS_1
Makasih yg udh mau baca sejauh ini ❤