Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[26]. Jealous


__ADS_3

..."Aku cemburu, kapan aku akan berada di posisi sebagai gadis yang kau cintai?"...


-


-


Dengan bertopang dagu, kini Mauren menatap malas guru yang menjelaskan didepan. Mengingat kejadian beberapa jam lalu, sungguh membuat mood-nya hancur.


Bukannya, ia tak ingin bekerja sama dengan Levin, hanya saja ia sudah terlampau malas melihat wajah lelaki itu. Kalau melihat Levin, rasanya ia ingin menonjok wajah songong dan tengilnya.


Mauren mengehembuskan nafasnya kasar. Ia membalik-balikkan buku tulis hingga pada halaman terakhir, lalu memberi coretan asal disana.


Selang beberapa saat kemudian, bel pulang sekolah berbunyi kencang tanda berakhirnya mata pelajaran hari ini. Beberapa siswa berteriak 'Yes' penuh kegirangan. Tentu, dengan ligat Mauren menyusun buku-bukunya ke dalam tas.


"Kau jadi hari ini latihan bersama Levin, Ren? Celutuk Penira sudah dengan tas yang bertengger di bahu gadis itu.


Mauren mengangguk malas.


"Kenapa wajahmu jadi murung begitu?" Bella menyahut sembari tersenyum geli.


"Malas tauk, harus ketemu Levin. Melihatnya, aku ingin menonjok wajah sok gantengnya itu."


Bella langsung saja merangkul Mauren, "Sudahlah, bestie. Setidaknya kau bisa mencuci mata bila melihatnya. Levin itu ganteng, tauk. Lebih ganteng dari Arnold."


"Aku tidak setuju kali ini. Kemana-mana lebih ganteng Arnold." Sahut Penira sembari memperhatikan kukunya berpoles kutek merah tersebut.

__ADS_1


Bella mengerutkan keningnya, ia menatap Mauren. Berbicara melalui lirikan mata. Mereka berdua mengangguk paham, sudah mengerti dengan Penira.


Bahkan sebenarnya, anak TK sekalipun paham siapa yang lebih unggul fisiknya diantara mereka berdua. Tidak bisa ditampik, bahwa Levin memang lebih tampan dan berkarisma.


"Sudahlah, itu gak penting. Ayo, temenin aku menghampiri Levin." Mauren menarik kedua pergelangan tangan mereka. Membawanya kekelas dimana Levin berada.


Saat mereka melewati lorong kelas yang bersebelahan dengan lapangan depan, mata Mauren menangkap sepasang cewe dan cowo yang membuat hatinya berdenyut nyeri. Disana terlihat Arnold yang sepertinya hendak menjemput Priya.


Lihatlah Arnold, bahkan ia rela datang kesekolah hanya untuk menjemput gadia itu, padahal Arnold tadi pagi pun tidak sekolah.


Mauren memalingkan wajahnya kesamping, tidak ingin melihat pemandangan yang menyakitkan itu lagi, namun ia mendadak menjadi kesal saat dengan gamblang Bella berceletuk,


"Lah, lah, bukannya Arnold gak sekolah? Kenapa dia malah bela-belain dateng menjemput si banci?"


"Itu, noh." Tunjuk Bella pada arah gerbang sekolah. Disana terlihat dua sejoli yang tengah asik berbicara dengan jarak yang dekat sembari tampak tangan Arnold mengusap dengan sayang kepala Priya. Ah, layaknya dunia seakan milik berdua.


"Oh ... " Penira melirik Mauren yang pura-pura membuang muka. "Ups, ada yang jealous guys ...." Penira terkik kecil.


Sementara Mauren memutar bola matanya malas dengan mulut yang mengerucut kesal. "Sudahlah, lebih baik kalian pulang saja dari pada menggodaku disini. By the way, biar aku saja yang menghampiri Levin sendirian."


"Cieee, eciee ... cemburu." Goda Penira dengan menaik turunkan alisnya.


"Halah, bestie. Selagi jalur kuning belum melengkung kau masih bisa merebut Arnold kok. Mereka kan juga masih pacaran ya." Sambung Penira.


Mauren meringis pelan. Kedua sahabatnya itu malah tidak tahu saja bahwa dirinya memang sudah memiliki Arnold. Bahkan, ikatannya dengan Arnold sudah kuat dari pada Arnold dengan Priya yang hanya berstatus pacar.

__ADS_1


"Sian.jir!" Bella menjitak kepala sahabatnya itu. "Ngasal aja ngomong nya. Emang mau ngeliat Mauren jadi PHO?" Bella mendelik tajam pada Penira.


Gadis yang ditatap tajam itu menunjukkan jari peace nya. "Aku hanya memberi saran. Enak saja malah menyalahkan begitu."


"Ta—"


Mauren langsung saja menutup kedua mulut sahabatnya dengan telapak tangan miliknya. Mauren jengah, mereka berantem terus.


"Ih, bau jigong!" Bella menyingkirkan tangan itu.


"Ini nih bau-bau kalo cebok tapi ga sabunan." Celutuk Penira sembari tertawa besar.


Mauren memijit keningnya. "Pergilah kalian! Pulang saja. Hush!"


"Cieee, gak sabar ketemu Levin ya, ya, ya?" Goda Bella dan Penira secara bersamaan.


"Bodoamat. Ba.cod." Mauren meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tertawa terpingkal-pingkal.


-


-


Haii, jgn lupa dukungannya ya.. ❤


Maaf klo jelek. Ini karya pertamaku, hehe.

__ADS_1


__ADS_2