
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
.
...Seharusnya aku sadar ini adalah resiko dari mencintaimu."...
...—Mauren—...
-
Mauren mencoret-coret buku tulis di bagian belakang miliknya. Gadis itu merasa bosan. Niatnya ingin bermain game, eh mager, mau baca novel sayangnya Mauren bukan Penira orang yang begitu mencintai novel. Ralat, menggilai mungkin?
Pagi ini seperti biasa kelas begitu ricuh. Guru juga sedang tidak hadir. Entahlah, kadang Mauren juga heran mengapa anak IPS gurunya selalu saja jarang masuk? Berbeda sekali dengan anak IPA. Mungkin karena hal ini, kadang anak IPS dicap sebagai siswa-siswi yang buruk.
Mauren mengedarkan pandangannya kesekeliling kelas, seperti biasa sebagian temannya memilih tidur dilantai dengan bersempit-sempitan. Mauren tersenyum samar melihat pemandangan tersebut. Ada pepatah anak sekolahan yang bilang, tidur di kelas sama saja dengan tidur di hotel mewah, karena nyaman. Yang benar saja.
"Bel?" Mauren mencolek bahu Bella yang tengah bermain ponsel.
"Oy?"
"Kantin yok, Jajan. Males banget di kelas," kata Mauren memelas.
"Aku tidak diajak nih?" sahut Penira menatap kedua temannya sembari menutup novel yang berjudulkan 'Kakak kelas itu Suamiku!' tersebut.
"Boleh. Kuylah kantin!"
"Mager Ren, Ra." Bella menyandarkan kepalanya kemeja. "Kalian aja sana," lanjutnya memelas.
"Yaelah, kau memang tidak asik. Yaudahlah, tidak jadi. Niatnya tadi kita kekantin bareng, biar ntar kalo ketangkep sama pak Sandy tidak aku saja yang dihukum," timpal Mauren kelewat jujur.
Bella menaikkan kepalanya. Menatap tajam Mauren. "Jahat sekali dirimu kang bucin!"sentaknya tak habis pikir.
"Gimana, Ren? Mau tidak? Keburu Bel ini tar kantin rame kayak pasar," ujar Penira.
"Yaudah, deh."
Mauren mengangguk, gadis itu menggandeng tangan Penira. Saat keduanya baru saja berdiri Bel istirahat langsung saja berbunyi. Sontak teman-teman sekelas Mauren berbondong-bondong kekantin.
'Teettt!'
"Nah, kan, dah bunyi. Astaga," Penira memutar bola matanya kesal.
Mauren tertawa sembari menutup mulutnya. "Nasib," tuturnya.
-
Kini kedua gadis itu sudah berada di kantin. Seperti kebanyakan kantin pada umumnya, kantin sekolah mereka juga ramai. Ini yang membuat Penira terkadang malas ke kantin. Ramai, pengap dan bau badan. Segala macam bau bercampur menjadi satu saat kita berada di kantin.
Banyak anak-anak mengantri membeli makanan, ada juga sambil berteriak agar sang empunya duluan dilayani. Bahkan tak jarang ada yang berteriak dimeja kantin disusul dengan menggendang-gendang meja guna menambah kerusuhan. Maklum people +62.
"Rame ya, kayak pasar," ungkap Penira.
Mauren mengangguk. Kini keduanya masih berada di pintu kantin, memperhatikan manusia-manusia yang berkerumunan layaknya semut.
"Eh, eh, Ra!" Mauren menepuk heboh bahu Penira.
"Paan?"
"Noh, ada Arnold! Kyyaaa aku mau datangi dulu!" Mauren menarik tangan Penira menuju ujung kantin.
"Eh, Ren, jangan anjir! Palingan kita diusir nanti." Penira menahan tangan Mauren yang tengah menarik tangannya.
"Duh, gak pa-pa. Ayok!"
Disudut kantin Adam memicingkan matanya saat seluet tubuh seseorang yang dikenalinya menghampiri mereka.
"Ar, ssstt, Arnold!" panggil Adam.
__ADS_1
"Hm?" Arnold bergumam, cowok itu tengah asik mabar bersama Deron.
"Lihat noh binimu datang." tunjuk Adam kearah Mauren yang mendekat.
Arnold mendelik kala mendengar kata 'Bini' cowok itu tidak terima. Ya kali! Siapa juga yang mau jadi istri seorang Mauren yang bar-bar, murahan juga.
"Ngapa dateng lagi sih dia? Mengganggu saja perasaan," ucap Arnold dengan ketus dengan raut wajah kesal.
"Kau aneh, tidak bersyukur sudah dicintai," timpal Ivander. Cowok itu masih saja memakan mie goyang patah-patahnya. Maklum dari tadi dia nambah mulu.
"Dicintai mah dicintai. Tapi tidak main maksa juga kali, yang ada aku jijik, sudah seperti perempuan murahan," ungkap Arnold.
'Kau emang murahan, Ren. Udah murahan bego lagi! Mau banget masih cinta Arnold, sementara perlakuan dia gak ada yang baik untukmu!' Batin orang yang sedari tadi menyimak.
Adam dan Ivander memilih diam. Sementara Levin tidak memperdulikan sahabatnya berbicara Lain lagi Deron, cowok itu masih betah bermain game, sembari mendengarkan mereka.
"Halo Arnold sayang!" Mauren datang dan langsung saja duduk di sebelah Arnold.
Deron memilih menggeserkan tubuhnya. Membiarkan Mauren mengambil alih duduk disebelah Arnold.
"Ar, udah makan?" tanya Mauren lembut.
"Udah, beb." Bukannya Arnold yang menjawab malah Adam yang menyahut.
"Aku tidak menanya samamu ya! Aku bertanya padq calon pacarku, ralat calon suamiku dimasa depan." sentak Mauren menatap Adam dengan sangar.
Adam memayunkan bibirnya membuat Ivander menjitak kepala cowok itu.
"Tisak usah sok imut begitu! Jijik liatnya."
"Iri bilang sahabat."
"Ya kali alien aneh sepertimu diiriikan," timpal Deron.
Adam mendelik, menatap kesal keduanya. Cowok itu beralih menatap Penira yang diam berdiri dengan kedua tangan yang disilang didepan dadanya.
"Kelamaan jomblo kau Dam? Sampe ngaku-ngaku orang pacarmu," ujar Ivander sembari menggeserkan pantatnya sedikit kesal. Cowok di sebelahnya benar-benar kelewat Fucek Boy.
"Ndasmu," sengit Penira.
"Mampus!" Deron dan Ivander bersahut serentak.
"Ar, bagaimana kalau aku beliin aqua, mau? Atau kamu mau apa? Maksud aku, biar aku yang beliin gitu lho," bujuk Mauren.
"Bisa diam tidak?! Berisik tauk!" Arnold menaikkan sedikit suaranya.
Mauren menggeleng. "Maaf ya," katanya.
"Awas kau!" Arnold berdiri. Langsung saja ia menjadi tontonan sahabatnya minus Lavin. Cowok itu memilih bermain ponsel. Cueknya kebangetan.
"Mau kemana?" Mauren ikut berdiri.
Arnold tak menanggapi. Ia dengan cuek melewati Mauren.
"Ar." Mauren memegang tangan Arnold.
Arnold langsung saja menghempaskannya. Tak pantas rasanya seorang perempuan berlaku sedemikian.
"Ar, tunggu."
"BISA GAK SIH! KAU TIDAK MENGEGANGGUKU SEHARI SAJA?! AKU RISIH, MAUREN! KAU SUDAH SEPERTI PEREMPUAN MURAHAN!" Arnold membentak Mauren.
Kini keduanya kembali menjadi sorotan orang-orang di kantin.
"Ar," lirih Mauren pelan. Gadis itu memilin ujung seragamnya sembari menunduk. Padahal Mauren tipe murid pembangkang, tak mau kalah, namun entah mengapa bila dihadapkan dengan Arnold gadis itu memilih bungkam. Terkadang sampai menangis.
"Aku mencintaimu," kata Mauren dengan mengangkat wajahnya. Menatap dalam diam Arnold yang memilih menatapnya cuek. Tak perduli.
__ADS_1
"Cinta? Cinta, heh?" Mauren mengangguk.
"Sayangnya aku tidak mempunyai perasaan untkmu!" katanya pelan namun tajam.
Mauren mendekat, "Ar, please, aku sangat mencintai kamu, aku juga sayang sama kamu." Mauren menarik nafasnya.
"Ar, apakah kamu mau menjadi pacarku? Kalau kamu bersedia menjadi pacarku, aku yang akan usaha untuk membahagiakanmu." katanya lugas. Mauren diam menatap ragu-ragu cowok didepannya ini. Pasti kejadiannya akan sama seperti yang lalu. Dia ditolak.
Keadaan kantin hening, tak ada yang berani berbicara. Mereka menanti-nanti adegan tolakkan cinta Arnold. Tak jarang Mauren ditatap kasihan, ada juga yang menatapnya tak suka.
Disaat yang kebetulan pula, Priya Zisha gadis yang disapa Priya berjalan tak jauh dari Arnold. Saat tak sengaja melihat Priya, Arnold segera menghampiri gadis itu. Menarik tangannya lembut. Sehingga kepala gadis itu menubruk bahu Arnold.
"Au,"
"Pri?" Priya menatap Arnold.
Kini gantian mereka berdua yang menjadi sorotan orang-orang kantin.
"Pri, aku menyayangimu, aku mencintaimu Pri dari satu tahun yang lalu. Tidak tahu mengpaa, kalau didekatmu rasanya nyaman. Kayaknya aku bener-bener jatuh cinta sama kamu. Priya Zisha, kai mau menjadi pacarku? Pacar pertama untukku?"
Hening.
Semua menatap tak percaya Arnold. Baru saja seorang gadis menyatakan perasaan padanya, kini dengan tidak berperasaannya cowok itu malah menembak Priya untuk menjadi kekasihnya.
Mauren tercengang, gadis itu menunduk. Selalu saja begini, selalu Priya Priya Priya dan Priya. Gadis itu selalu saja mendapat perhatian dari Arnold bahkan mendapat perhatian dari para guru juga. Mauren iri. Ya, bahkan sangat iri. Tidak bisakah Mauren merasakan hal yang sama?
"Ar, ini serius? kau mengajakku jadian bukan karena ...," Priya memiringkan kepalnya melihat ke arah Mauren yang menunduk. Gadis itu bersorak penuh kemenangan dalam hati.
'Mampus. Kau tidakakan pernah berhasil menyaingiku.'
"Bukan." Arnold mengusap pelan rambut Priya. "Gimana? kamu mau?"
Priya mengangguk. Kantin mendadak heboh, hari ini pasti mereka mendapat traktiran alias pajak jadian.
Arnold memeluk Priya, disambut dengan senang oleh gadis di depannya. Dia senang.
Mauren tak tahan melihat pemandangan di depannya ini. Gadis itu berlari keluar kantin. Ia menangis. Sesak rasanya mendapati orang yang kita cintai memilih menyatakan perasaannya pada gadis lain. Apalagi, disaat Mauren yang juga tengah mengatakan perasaannya pada Arnold.
"Ren, tunggu!" Penira ikut mengejar sahabatnya.
"Gila men, Arnold udah gak jomblo lagi," kata Adam.
"Jujur si, aku bahkan lebih setuju Arnold bersama Priya. Kalo kalian?" tanya Deron saat Drama ala-ala korea tersebut telah usai.
"Sama," sahut Adam. "Se-playboy nya aku. Aku tahu mana cewek yang baik dan mana cewek yang tidak baik."
"Jadi, secara tidak langsung kau mengatakan Mauren cewe yang tidak bener?" tanya Ivander tak percaya.
"Ho'oh."
Ivander menatap temannya tak percaya. Sejelek itukah citra Mauren dimata mereka semua?
"Aku lebih setuju Arnold sama Mauren," ungkap Ivander. "Kalo kau, Lev, bagaimana?" tanya Ivander pada Levin.
Levin menikkan bahunya acuh. Selalu begitu. "Tidak perduli," katanya dingin.
Ivander, Adam dan Deron, sekali lagi menatap heran Levin. Apa cowok itu memang gay? bahkan hanya menanggapi perihal perempuan saja, Levin langsung seolah menyingkir seolah tak suka.
"Don't judge people by the cover," ungkap Levin sarkas dengan tatapan tajamnya. Setelahnya, langsung saja cowok itu beranjak meninggalkan mereka yang membatu.
Bukannya tersinggung, mereka malah merasa aneh. 'Jadi, sejak kapan Levin mulai berani angkat bicara mengenai cewe? untuk kali ini cowok itu terlihat aneh'
-
Aneh, ya ceritanya? :v
Sorry.. But this is my first novel:'
__ADS_1
Jgn lupa tinggalkan jejak, ya❤