
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
..."Kita hidup di zaman di mana orang menilai kita sesuka hatinya, tanpa tahu bagimana kita yang sebenarnya."...
...—Mauren—...
-
'Teeetttttt!!'
Mauren menggendong tasnya begitu juga dengan Bella dan Penira saat bunyi bel pulang sekolah berbunyi. Ibu guru yang mengajar juga tak lama kemudian meninggalkan kelas. Ketiga gadis itu bersamaan keluar dari kelas.
"Pulang bareng siapa, Ren?"
"Biasa Bell, dijemput."
Bella hanya mengangguk.
"Eh, bentar!" Sentak Mauren.
Sontak Bella dan Penira menghentikan langkah kaki mereka, karena Meuran yang meluruskan kedua tangannya. Kedua sahabat Mauren memilih menatap gadis itu dengan sedikit bingung.
"Kenapa si, Ren?" Penira menurunkan tangan Mauren yang lurus itu.
"Tauk ah, jantungan aku! Mendadak banget nih bocah," gerutu Bella.
"Diem dulu."
"Kau sedang menatap apa si?" Bella mengikuti arah pandang Mauren setelahnya gadis itu tersenyum.
"Arnold, huh?" Penira mengerutkan kening ketika Bella membawa-bawa nama manusia ter-jahat menurutnya itu.
"Mana Arnoldnya, Bell?"
"Noh liat. Arnold lagi bucinan sama Priya." Penira mengangguk saat tatapannya menuju arah tunjukan Bella.
Tepat di depan perpustakaan berdirilah Arnold dan Priya yang bersebelahan. Dengan Priya yang bergelayut manja di sebelah Arnold. Memang tidak tahu tempat!
"Biarinlah. Mending kita lanjut jalan aja, nanti aku terlambat smapai rumah." Penira menggandeng tangan Mauren. Menarik gadis itu dan Bella juga ikut berjalan bersama mereka.
Mauren terus berjalan dengan rasa perih di hatinya. Jangan tanya kenapa dia. Muka gadis itu sungguh terlihat begitu murung. Tidak adakah peluang untuknya mendekati cowok itu? tidak adakah tempat dihati Arnold untuknya sedikit saja?
Bella mengguit Penira dari jauh. "Cemburu," katanya dengan mulut yang terbuka tanpa suara sembari melirik Mauren agar Penira paham maksudnya.
Penira mengangguk kasihan.
-
Arnold bersiul senang kala memasuki rumahnya. Setelah mengantarkan Priya pulang ia tak bisa menahan senyumnya. Dirinya merasa gembira saat itu juga.
"Kayak lagi seneng ya kamu." Lila tersenyum geli melihat anaknya. Sepanjang ia sampai ke rumah anaknya itu terus tersenyum.
"Iya, nih, Ma. Hari ini aku seneng banget," ungkap Arnold menyalim tangan Lila, Mamanya.
__ADS_1
"Yaudah, mumpung mood kamu lagi bagus, abis ganti baju nanti kamu langsung turun ya. Ada yang mau mama omongin."
Arnold mengiyakan sang mama tanpa ada kecurigaan yang terselip. Segera cowok itu berjalan santai dengan salah satu tangan di saku celana SMA-Nya, sembari bersiul memasuki kamarnya.
Tak lama setelahnya, Arnold keluar menuju ruang tv.
"Ma?"
Lila mengalihkan pandangannya. Disebelahnya Arnold berdiri dengan pakaian santai. Lila menepuk sofa yang kosong disebelahnya. "Duduk. Mama mau ngomong."
"Jadi kenapa, Ma? Kaya penting gitu," tanya Arnold dengan bersandar pada bahu Lila dengan jarinya yang bermain di atas jari Lila.
Lila mengelus kepala anak tunggalnya dengan sayang, tatapan matanya terlihat meneduhkan.
"Kamu sayang sama mama 'kan, nak?"
Arnold mengerutkan keningnya. Pertanyaan macam apa itu? Segera ia mengangkat kepalanya yang bersandar tadi. "Iyalah ma. Mama pertanyaannya aneh ah."
"Oke. Kalo kamu sayang sama mama, kamu mau nurutin permintaan mama 'kan?" Arnold mengangguk ragu.
'Mama kok jadi aneh gini ya.' Batin Arnold.
"Anak mama udah ada pacar belum?"
"Hah?"
"Eh, gak boleh bilang 'hah' sama orang tua," Lila mencubit pipi Arnold.
Arnold menggaruk tengkuknya, ia tersenyum geli. "Apa tadi, Ma?"
"Oh, hmm ... belum, Ma."
"Belum? Kamu serius?"
Arnold mengangguk ragu. Tadinya ia mau mengaku telah berpacaran namun cowok itu agak takut bila berujung mengecewakan mamanya. Siapa tahu ada hal penting yang ingin dikatakan Lila- mamanya.
'Maafin aku ya, Pri' Batin Arnold.
"Mama berniat menikahkan kamu sama anak temen mama. Gimana kamu setuju?"
Arnold terdiam kaku. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Sedikit terperangah atas permintaan Mamanya. Padahal juga tadi dirinya sudah begitu merasa senang saat berpacaran dengan Priya, gadis primadona sekolah.
Arnold merasa gusar dalam hati, ia menarik napas panjang. "Ma ... Arnold masih muda. Arnold gak mau menikah muda," tolaknya halus.
"Yaudah kamu balik ke kamar kamu. Tadi aja kamu ngeiyain apa yang mau mama minta. Bilang sayang sama mama tapi gak mau nurutin mama." Lila beranjak dari sofa diikuti Arnold di belakangnya.
"Ma," Arnold menahan tangan sang mama. "Lagi pula Arnold gak kenal sama yang mau mama jodohin itu."
"Mama yakin kamu kenal dia. Mau ya? Demi mama sayang," pujuk Lila.
"Tapi Arnold juga gak cinta sama dia."
"Arnold ...."
__ADS_1
Arnold mengacak rambutnya kesal. Kalau bukan demi mamanya ia tak akan mau mengiyakan. Kalau bukan karena tak mau menyakiti hati Lila, demi apapun ia menolak mentah-mentah pernikahan ini. Apalagi tanpa di dasari cinta.
"Yaudah, demi mama. Ini demi mama," Arnold memeluk langsung Lila.
'maafkan aku priya, sayang. Aku terpaksa.' batin Arnold sembari bibirnya tersenyum kecut.
"Papa pasti ikut seneng sama keputusan kamu ini."
Mendengar itu, Arnold mengepalkan tangannya. Matanya diliputi kebencian, rahang cowok itu mengeras. Pikirannya berkelana ke beberapa tahun silam.
'Gara-gara gadis sepertimu, aku harus kehilangan Papa. Liat saja pembalasan ku, Mauren Nathania.'
Arnold tersenyum smirik. Semua rencana pembalasan sudah tersusun dikepalanya tinggal menjalankannya.
-
Anak berseragam putih biru itu mendekatkan dirinya pada pintu ruang kerja Mendiang Papanya- Hans. Dengan seksama cowok itu terus mendengerkan. Tangannya mengepal geram. Baku-bakunya mulai memutih. Rahang yang belum tegas itu turut ikut mengetat.
"Lila, saya selaku orang tua dari Mauren masih merasa bersalah akibat kejadian beberapa tahun silam. Saya-"
"Mel ... gak pa-pa. Jangan merasa bersalah. Mungkin itu sudah ajalnya suami saya."
"Tetep aja, La. Coba aja kalau Hans gak nyelamatin Mauren waktu penculikan itu, mungkin kamu masih bisa hidup sama-sama dengan Hans sampai sekarang. Maafkan anak saya," kata Amel sembari menggenggam tangan Lila.
"Saya sudah ikhlas,Mel. Mungkin ini memang sudah jalannya Tuhan." Lila beranjak dari tempat duduknya. Melangkahkan kakinya menuju jendela menatap hamparan kota yang diikuti Amel di belakangnya.
Sementara Arnold menatap tak percaya Mamanya dan Tante Amel. Cowok itu menyandarkan tubuhnya ke dinding, setelahnya tubuhnya luruh. Mendapati kenyataan yang seperti ini sungguh membuatnya merasa tertekan batin.
Kalau saja Papanya tidak menyelamatkan Mauren, mungkin saja ia masih bisa merasakan kasih sayang Hans sampai saat ini.
Sungguh Arnold tak menyangka kematian Papanya adalah demi menyelamatkan orang lain dan demi seorang pembunuh. Mauren.
"Aku kira kau adalag gadis baik, Ren. Walau kita bertemu cuma beberapa kali waktu itu. Perlakuanmu baik tapi sayang ... karenamu aku harus kehilangan Pap ku," lirih Arnold penuh geram.
"Jangan salahkan aku, kalau aku akan membalaskan kematian papa dengan cara membuatmu menderita. Akan aku pastikan di masa yang mendatang nanti, kau akan merasakan apa itu penderitaan dariku."
Arnold berdiri, dengan tangan yang mengepal dan mimik wajah yang suram, segera ia pergi meninggalkan ruang kerja mendiang papanya setelah tadi mendengar pernyataan yang membuatnya terkejut.
Tanpa cowok itu sadari, di dalam ruang kerja itu Amel tersenyum sinis. Sengaja ia menguatkan intonasi suaranya dan membuka sedikit pintu ruangan. Ternyata hal itu tidak sia-sia. Anak kecil itu telah mendengarnya.
'Mendoktrin anak kecil ternyata begitu mudah.' Batin Amel, Mama Mauren tersebut.
-
Arnold menyugarkan rambutnya yang basah, pikiran cowok itu terus mengarah ke saat-saat dimana dia dan Mauren masih menjadi teman baik.
Seandainya bila bukan karena kejadian tersebut mungkin saja ia dan Mauren masih bersahabat hingga kini. Namun, seperti halnya takdir, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi kedepannya. Seperti hubungannya dan Mauren yang kian merenggang.
-
Hii^^
Maaf klo jelek yaa, karya pertama hehe..
__ADS_1
Jgn lupa tinggalkan jejaknya❤