
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
..."Kenapa mencintaimu harus sesakit ini?"...
...- Mauren Nathania -...
-
Mauren berlari dengan menangis. Tak perduli berapa banyak siswa-siswi yang mengumpat padanya karena ditabrakki oleh Mauren. Dia tak perduli, yang gadis itu inginkan sekarang hanyalah tempat sepi guna menenangkan dirinya.
Rasanya sesak di dadanya benar-benar tidak terbendung lagi. Rasanya sangat sakit. Sakit sekali, ketika orang lain sangat tidak mengharapkan dirimu.
Kaki gadis itu membawanya hingga tiba di belakang sekolah. Gadis itu terjatuh, terududuk di tanah dengan posisi kepala yang ia tundukkan dan lutut sebagai penopangnya. Perlahan bahunya berguncang. Mauren menangis, menumpahkan semua kekecewaan yang ia telan. Berharap, rasa sakit itu melepas begitu saja. Ya dia berharap.
Perlahan mulai terdengar isakan kecil yang tertahan dari bibir mungil Mauren. Dengan tangan yang menutup wajahnya. Dirinya tak dapat menahan sesak yang kian menyakitkan seakan menggerogoti hatinya.
Memang benar, dunia itu tidak pernah adil. Tidak bisakah Tuhan memberi gadis lemah seperti dirinya sebuah kebahagiaan? salahkah ia ketika Tuhan tak memberinya kebahagiaan dia mengejar kebahagiaannya sendiri? salahkah Mauren berlaku demikian? Salahkah dirinya?
Menangis di tempat sepi entah kenapa rasanya begitu puas. Tak ada yang mendengarkan kita, tak ada tatapan kasihan dan tak ada kata-kata cemooh yang terdengar. Sepi dan tenang. Hanya semilir angin yang kini menemani gadis itu.
Lagi pula, bukankah dirinya juga sudah terbiasa demikian? sendirian. Menenangkan diri sendiri, tidak ada yang perduli pada gadis sepertinya.
"Mereka jahat!" lirih Mauren.
Mauren menengadah, lalu memukul dadanya yang sesak. Semua emosi yang ia tahan selama ini rasanya sudah menggerogoti relung hatinya. Rasanya begitu sesak dan panas.
"Kenapa? Kenapa mencintai kamu harus sesakit ini?! Arrgghh!" air matanya luruh, ia tetap menepuk dadanya berharap rasa sesak itu keluar begitu saja. Tapi, rasanya tetap sama. Bahkan, rasa itu kian menyakitkan.
Diujung jalan menuju belakang sekolah, Penira menatap sendu Mauren. Ia merasa simpati. Walau sebenarnya Penira sedikit kesal, kenapa sahabatnya itu masih begitu berharap pada Arnold?
Saat hendak mendekati Mauren, matanya tak sengaja menangkap seluet tubuh seseorang mendekat pada Mauren. Sontak hal itu membuat Penira menghentikan langkahnya kala ia melihat Levin salah satu sahabat Arnold mendekati Mauren.
Penira mambalikkan badannya. Segera pergi, membiarkan kedua orang itu di belakang sekolah.
Sementara ditempatnya Mauren terdiam, kala netranya mendapati ujung sepatu seseorang tak jauh darinya. Gadis itu mendongak sembari tangannya mengusap kasar matanya.
Kepala Mauren sedikit memiring, keningnya mengerut kala Levin sahabat Arnold memberikannya sebuah pisau lipat. Lantas Mauren berdiri, dengan ragu ia menerima pisau itu.
"Untuk?" tanya Mauren serak, khas orang sehabis menangis.
"Bunuh diri," sahut Levin dengan suara seraknya.
Mauren tersentak. Ia mengembalikan pisau itu, lalu mundur beberapa langkah sembari menatap tak percaya Levin.
"Kau ingin melihatku mati?" Mauren menatap tak percaya Levin.
Levin mengantongi pisau lipat tersebut lalu ia memilih mendudukkan dirinya di tempat duduk yang terbuat dari kayu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Mauren bingung, harus berbuat apa dia sekarang? Sementara orang yang dihadapinya kelewat cuek.
Levin menepuk tempat kosong di sampingnya.
__ADS_1
"Aku duduk di situ?" tanya Mauren dengan menunjuk dirinya sendiri.
Levin memilih bungkam tak mengiyakan ataupun mengangguk.
Kembali cowok itu mengulurkan pisau lipat kala Mauren mengambil duduk di sebelahnya.
"Kau jangan aneh-aneh ya! Aku tidak ingin celat mati!"
Levin menatapnya datar. "Biasanya orang putus cinta memilih mengakhiri hidupnya."
"Ya, itu mereka bukan aku! Jangan pernah samain deh! Seharuanya kau memberikan aku tisu kek atau kau menengkanku gitu. Ini yang ada malah membuat ku semakin marah," gerutu gadis itu blak-blakkan. Ia terlampau kesal. Cowo ini benar-benar menguji kesabarannya.
Levin mengangguk dengan mulut berbentuk huruf 'o'. "Kepengen?"
"Kepengen apa? Ehh, tidak-tidak! Aku- aku tidak maksud ya bilang seperti itu. Salahkan saja mulutku ini!" Mauren membuang muka. Wajahnya sedikit memerah. Ia malu! Bisa-bisanya mulutnya yang cantik ini asal ceplas-ceplos tak tahu keadaan.
Levin berdiri, menatap Mauren dari atas hingga kebawah seakan menilai. Setelahnya cowok itu berlalu.
"Mau kemana?" Mauren menengadah.
"Kelas."
"Lah gitu doang? kau datang kesini hanya untuk ngasih pisau lipat? otakmu dimana?" ungkap Mauren Kesal sembari berdiri ikut berjalan di belakang Levin.
'Dug'
Levin mengehentikan langkahnya, sehingga tanpa sengaja kening Mauren bertubrukkan dengan degu cowok itu.
Mauren meringis pelan.
"Kenapa berhenti mendadak sih?! Keningku sakit sakit sekali, oy! bahumu terlalu keras!"
Levin memilih diam, dengan kasar dia menarik salah satu tangan Mauren lalu meletakkan pisau itu ditangan Mauren.
"Siapa tahu kau memang mau bunuh diri," ujar Levin dengan tajam dengan tatapan mata cowok itu bagaikan tatapan Elang yang ingin menerkam mangsanya.
Mauren mengangguk heran serta merasa aneh. "Ngapa jadi begini? dia pengen banget liat aku mati?"
-
Mauren merenungkan pertemuan tak terduganya dengan Levin. Bisa-bisanya cowok sok itu memberikannya pisau lipat saat dia tengah menangis tak lupa dengan embel-embelnya 'biasanya orang yang putus cinta memilih mengakhiri hidupnya' hey, itu mereka bukan Mauren. Lagi pula Arnold dan Priya hanya pacaran, bukan menikah kan? Selagi jalur kuning belum melengkung ia masih bisa menikung. Buahaha...
"MAUREN!!"
"ASTAGA!" Mauren tersentak saat seseorang membentak dirinya. Ia berbalik sesaat kemudian gadis itu cengengesan.
"Pagi, Bu." Mauren menyalam bu Nuri
guru bahasa Indonesia mereka.
Guru itu menutup sebentar matanya. "Kamu dari mana?"
__ADS_1
"Ehm, kantin bu."
"KANTIN KAMU BILANG?! SEMUDAH ITU KAMU NGOMONG 'KANTIN, BU' GAK ADA RASA BERSALAH KAMU SEDIKIT PUN? DARI TADI PEMBELAJARAN UDAH DIMULAI DAN KAMU MASIH ENAK-ENAKKAN DIKANTIN!" bentak Bu Nuri.
Mauren menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sekilas ia melihat Penira dan Bella menahan ketawa. Memang teman sialan! Bisa-bisanya mereka menertawai dirinya.
"Ibu pusing ngadepin kamu," ujar bu sembari mendudukkan dirinya lalu memijat keningnya.
"Mau saya urutin bu? Biar pusingnya ilang?" Jahil Mauren.
"Astaga, sabarkan aku Tuhan." Bu Nuri memilih menyibukkan dirinya. Membiarkan Mauren terus berdiri di depan kelas.
Mauren mengerucutkan bibirnya.
Lihatlah padahal dirinya baru saja selesai menangis dan ini? Dia kembali tertawa bahkan mengulah seperti biasanya.
Ya, karena Mauren bukan tipikal orang yang suka menampakkan kesedihannya pada orang lain.
"Bu."
"Ibu ...."
"Bu."
Berulang kali Mauren memanggil gurunya yang menyibukkan diri itu. Oh, ayolah ia capek berdiri di depan kelas begini, apalagi teman-temannya menahan ketawa melihat dirinya.
"Bu cantik, saya duduk ya, bu. Capek lho bu diri-diri di sini," ungkap Mauren.
"Kamu tahu capek tapi kenapa kamu mengulah terus?"
"Ibu itu gimana si, elah! Namanya juga anak muda bu, jadi di keluarin aja jiwa-jiwa bar-barnya bu, gak baik ditahan-tahan. Ntar jatuhnya-"
Bu Nuri mentap tajam Mauren sehingga gadis itu berhenti berceloteh.
"Duduk kamu! Jangan ulangi lagi!"
"Bukannya tidak ingin berjanji, bu, hanya saja saya takut tidak menepatinya."
"MAUREN! KEMBALI KAMU BERDIRI DIDEPAN KELAS SAMPAI PELAJARAN SAYA SELSAI!!"
"ALAHMAK!"
'Hahaha.'
"Kuampret! aku diketawain."
-
Maaf kalo aneh:v karya pertama hehe.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤
__ADS_1