
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
..."Kita memang tidak saling mengenal sebelumnya, tapi aku berharap kita bisa lebih saling mengenal."...
-
Mauren yang menatap kepergian mobil Arnold yang keluar dari halaman restoran sedikitpun pria itu tidak melirik lagi padanya. Arnold meninggalkannya begitu saja sendirian. Ya, apa lagi yang harus diharapkan memangnya?
Dalam diamnya, Mauren memilih melangkahkan kakinya menjauh dari restoran. Dirinya sangat tidak bersemangat sejak pertengkaran kecilnya dengan Arnold tadi. Bahkan, ia tidak kembali ke dalam restoran, kakinya malah membawanya menjauh dari restoran tersebut.
Dengan langkah kecil gadis itu, Mauren memilih terus berjalan walau dirinya tak tahu harus kemana. Kakinya seolah membawanya melangkah lebih jauh lagi. Tak memperdulikan bagaimana keadaan kaki kecilnya.
Mauren mengusap kedua lengannya yang tampak tak tertutupi itu menggunakan telapak tangan gadis itu. Angin malam membuatnya sedikit merasa kedinginan mengingat pula Mauren hanya memakai dress selutut yang kebetulan tanpa lengan.
"Dingin banget sih," lirih Mauren.
Mauren menatap sekeliling, ia menghembuskan nafasnya pelan. Bersyukur, bersyukur jalan yang dilaluinya tak sepi. Kalau sepi bisa saja sekarang Mauren sudah pasti diculik.
Seolah tersadar sesuatu Mauren membelalakkan matanya. Matanya dengan liar melihat keberbagai tempat memastikan di mana gadis itu sekarang berada. Akibat berjalan tanpa arah ia jadi bingung di mana ia sekarang.
Mauren menepuk jidatnya. "Sial. Aku malah berlawanan sama arah pulang ke rumah. Mana aku bingung lagi jalannya," gerutunya.
Pandangan Mauren terhenti kala tak sengaja netranya menatap tempat tongkrongan ojol yang tak jauh darinya. "Ya ampun, sial banget hari ini ya, Bund. Aku sedang tidak megang uang sepeserpun, mau pulang tapi tdak yakin aku kalau-kaulau Pak Kandi di rumah. Sial-sial! hari ini benar-benar sial!"
Kebetulan pak Kandi adalah pengurus kebun serta penjaga rumah mereka.
Mauren memutar balikkan tubuhnya, berjalan menuju arah Restoran tadi yang kebetulan satu arah menuju rumahnya.
"Terpaksa jalan," keluh Mauren.
Dengan kekesalan sekaligus kesedihan yang masih melanda, Mauren kembali melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja,
__ADS_1
"Aaaa ... woi breng-sek!" Mauren menatap nyalang mobil berwarna hitam mengkilat yang baru saja melintas didekatnya dan sialnya mobil itu melewati lubang penuh air sehingga air tersebut terciprat pada Mauren.
"Woi! Turun kau! turun! aku tidak mau tahu!" Teriak Mauren sembari berlari mengejar mobil itu.
Tak berapa lama setelahnya mobil itu berhenti tepat disebelah Mauren.
"Heh, manusia tidak ada akhlak! Maksudmu apa?!"
Seseorang keluar dari mobil tersebut, dengan tampang cool-nya itu ia melepaskan kaca mata hitamnya. Menatap gadis di depannya dengan satu alis terangkat.
"Kau?!" Mauren terkejut.
"Kenapa?" Katanya dingin.
"Maksudmu apa, Lev? Bawa mobil tidak liat-liat jalan!" Sentak Mauren.
Levin menatap pakaian Mauren yang sedikit kotor. Cowok itu menggangkat bahunya acuh selanjutnya Levin masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Levin! Woy banci!"
"Rusak. Apa kau sanggup ganti?"
"Kau pikir aku semiskin itu sampai tidak sanggup untuk mengganti mobil murahmu ini?!" Sentak Mauren dengan mendongak menatap tajam Levin yang lebih tinggi di atasnya.
"Sorry, Lev, aku bukan tipe orang yang lari dari tanggung jawab sepertimu!"
Dengan satu tangannya yang memilih masuk ke dalam saku celana Levin menatap tajam Mauren. "Ganti rugi 2M."
"KAU SUDAH GILA, YA!" teriak Mauren hingga beberapa pengendara motor yang lewat sedikit memerhatikan mereka.
"Ba-cot."
__ADS_1
Dada Mauren naik turun melawan rasa kesalnya. Padahal tadi ia baru saja bertengkar, dan kini masalah baru muncul.
"Kau benar-benar waras tidak sih?! Seharusnya kau yang tanggung jawab pada ku! sudah aku sindir-sindir juga, malah mengelak lagi."
"Barusan kau menyindir ku? Kok aku tidak merasa ya?"
Mauren memutar bola matanya jengah. Cowok didepannya benar-benar menguras emosinya.
"Karena kau itu tidak punya akhlak. Makanya kau tidak merasa!"
'Cewek si-alan!' Batin Levin kesal.
Dengan kasar Levin menarik tangan Mauren sehingga gadis itu sedikit terjungkal kedepan.
"Pelan-pelan, woi!"
"Masuk."
"Ogah."
"Masuk atau kujitak?"
"Cowok gila!"
"Kau yang gila marah-marah tidak jelas! Gemes aku melihatmu berisik. Jadi pengen ku jitak."
"LEVIN!"
Tanpa Mauren sadari Levin tersenyum kecil.
-
__ADS_1
Haii^^
Maaf aneh, karya pertama hehe. Jgn lupa ya dukungannya❤