
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
..."Jangan bersedih, jalani saja. Hidup memang berat, biarkan semuanya berjalan seperti air yang mengalir."...
-
Saat Mauren membuka pintu utama, tanpa ia sadar Mama Amel berdiri di dekat pintu dengan tatapan angkuhnya. "Hebat ya kamu. Udah maluin saya pake acara ilang-ilang, trus pulangnya juga kemaleman."
Mauren sontak menghentikan langkahnya. Gadis itu tak bergeming di tempatnya. Ia sudah mengerti ini suara siapa dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tentu saja, hinaan demi hinaan.
"Kamu kira ini rumah kamu makanya bisa suka-suka kamu?" Amel mendekati Mauren, ditatapnya gadis itu nyalang.
"Gak tahu kenapa, kalo ngeliat muka kamu itu, rasanya saya pengen menghancurkannya." Amel tersenyum sinis.
'Akhh'
Mauren terperajat kaget, saat tangan itu dengan kasar menarik rambutnya hingga kepalanya mendongak dan mukanya mulai memerah.
"Lihat, sebenci itu saya sama kamu. Kenapa orang seperti kamu masih hidup sampai sekarang?" Amel semakin menguatkan jambakannya.
Mauren meringis kesakitan. Rasanya air mata seakan ingin tumpah. Sudah tak dapat dibendung lagi dipelupuknya. Cengkraman Mama Amel sangat menyakitinya.
"Ma—Ma ... sakit, shh," ringisnya.
"Sakit? ini bahkan lebih sakit dari apa yang sudah kamu perbuat sama saya! Ngaca kamu. Kamu bahkan lebih jahat dari saya." Amel semakin geram. Rasa ingin membunuh gadis ini kembali menguap.
"Maafin aku, Ma, kalo aku banyak salah." Mauren menarik nafasnya, menghembuskannya pelan. "Tolong, Ma, lepas. Mama menyakiti aku," lanjutnya.
Amel tertawa seram. Matanya memerah karena amarah menguasai dirinya, rahang orang tua paruh baya tersebut mengetat, tangannya semakin jahat menarik kencang rambut Mauren hingga bahkan gadis itu semakin mendongak.
"Kamu dengar saya. Selagi kamu hidup, saya akan selalu mengganggu kamu, saya akan buat kamu seperti ingin mati tapi gak akan bisa mati." Mauren menegang.
Dengan kasar Mama Amel melepaskan jambakannya hingga membuat Amel sedikit terdorong kedepan.
"Inget apa yang saya bilang tadi."
Mauren menunduk. Demi apapun, ia tak suka keadaan seperti ini, keadaan yang membuat dirinya tidak bisa melawan, diam tidak berkutik.
"Suka atau tidak suka, kamu harus menikah dengan Arnold. Inget, saya gak perduli sama sekolah kamu. Itu urusan kamu sendiri."
Mauren hanya bisa diam mencerna ucapan Mama Amel. Sedetik kemudian, wajahnya mulai gelagapan, ia mendadak teringat, Apa yang akan orang katakan sewaktu dirinya menikah muda? hamil diluar nikah? wajah Mauren bercampur antara takut dan cemas memikirkannya. Mauren memang sangat takut bila setelah menikah nanti, Mama Amel akan mengatakan yang tidak-tidak kepada orang-orang mengenai dirinya.
Mauren meringis, mengingat betapa tajamnya mulut Mamanya itu, ia tidak akan segan-segan menjelek-jelekkan nama anaknya dihadapan teman sosialitanya.
"Kamu—"
"Maaf ma. Aku kekamar dulu," ucap Mauren dengan berjalan terburu-buru. Lebih baik ia kembali menenangkan dirinya di kamar. Dari pada mendengarkan hinaan Amel.
Amel menatap kepergian Mauren dengan tatapan benci. "Anak itu benar-benar," katanya geram.
"Ah ... capek."
__ADS_1
Mauren menghempaskan tubuhnya pada kasur kesayangannya. Ruangan itu hening. Hal yang sangat disukai Mauren. Gadis iru terdiam melamun hingga ia mengalihkan perhatiannya kala ponselnya berbunyi.
Lalalalala ....
+6285*********
"Hdp itu cm skli, so bwa senang aaja."
Mauren terkejut. Ia memilih mendudukkan dirinya di kasur. Ia menatap heran pesan whatsApp yang baru saja masuk. Heran, bukankah nomornya privasi? lantas kenapa bisa ada orang asing yang menghubungi dirinya?
"Singkat banget ngetiknya," ujar Mauren. "Jadi ini siapa?" Mauren memerhatikan lama layar ponselnya. Menatap dalam nomor tersebut memastikan apakah dirinya pernah mengenal orang dengan nomor ini atau bukan.
"Hidup itu cuma sekali, so bawa seneng aja." bacanya, sembari mengangguk membenarkan. "By the way, ini pasti anak depresi, photo profilnya gak ada, Infonya gak ada, terkahir diliat dibekuin, tanda online juga gak ada. Ais ... lengkap banget."
'Ini siapa?'
Read.
Mauren mengerutkan keningnya, pesan singkatnya hanya dibaca.
"Mending besok saja aku tanyain pada Penira dan Bella, mungkin mereka ada yang memberikan nomorku ke orang asing."
-
"Ketentuan pasal 1 angka 1 pada Undang-Undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2003, keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan hak dan kewajiban tersebut.
Keuangan negara merupakan ...."
Masih dengan tangan yang bertopang dagu, Mauren menatap jam dinding yang rasanya berdetak begitu lama.
"Lama banget sih," gumamnya.
Mauren memilih mencoret-coret lembaran buku tulis bagian belakang miliknya. Pelajaran PPKN benar-benar sangat membosankan. Mauren lebih memilih berjam-jam kelas Sosiologi dari pada PPKN. Dirinya benar-benar tidak menyukai mapel PPKN.
Bukan hanya dirinya, beberapa murid bahkan ada yang tertidur dengan menggunakan buku paket sebagai penghalang agar tidak ketahuan. Ada juga yang ngemil di bagian kursi paling pojok.
"Ssttt ... Bel, bosen sekali aku." Mauren menendang-nendang sepatu Bella.
Bella memilih mengacuhkan Mauren.
'Tettt!'
"Baik anak-anak minggu depan kita lanjutkan, kalian sudah boleh beristirahat. Selamat pagi."
"Akhirnya! Yeaayy!" Mauren bersorak senang.
Bella menggelengkan kepalanya sembari tersenyum geli.
"Kantin kuy, aku mau beli nasgor." Penira menarik kedua tangan sahabatnya.
Kantin ramai seperti biasanya. Orang-orang sempit-sempitan demi mengeyangkan perut mereka.
__ADS_1
Saat kedua sahabat Mauren menarik tangannya menuju meja Arnold, sebuah pernyataan lugas mengejutkan mereka.
"Eh ... jangan!"
Bella dan Penira mentap aneh Mauren. Biasanya gadis itu sangat heboh bila melihat ada tempat duduk kosong di sebelah Arnold, bahkan tak jarang ia selalu memaksa kedua temannya agar duduk berdekatan dengan kakak kelas mereka itu. Tapi hari ini gadis itu aneh.
"Kenapa?" Tanya Penira penuh selidik.
"Hm ... gak pa-pa, lagi males aja. Duduk di sana aja ya?" Tunjuknya pada tempat agak pojok dan lumayan jauh dari jangkauan Arnold dan teman-temannya.
"Aku bukannya tidak mau, hanya saja aku belum siap melihat kemesraan Arnold dan Priya." ungkap Mauren.
Mereka langsung berbalik arah menuju tempat paling pojok.
"Aku saja yang memesankan makanannya." Penira beranjak dari tempatnya.
Mauren dalam diam memerhatikan lalu lalang orang-orang.
"Kenapa, Ren? Kenapa gak mau duduk di sana?"
Mauren sedikit menunduk, ia mendadak lemas tadi melihat Arnold merangkul Priya. "Males lihat Arnold menebar kemesraan."
Bella mengiyakan, ya siapa juga yang mau melihat orang yang kita cintai malah mesra-mesra didepan kita?
Bella mendadak teringat sesuatu, "Eh, Ren, kau tahu tidak?"
"Gak tahu. Kau saja kan belum bilang."
"Sa ae jubaedah. Eh, tadi pagi aku melihat Penira membuka loker Arnold," gosip Bella.
Mauren sedikit tertarik. Ia mengalihkan tatapannya dan menatap Bella. "Trus bagaimana?"
"Trus-"
"Kalian membicarakan ku ya?"
Bella gelagapan dan Mauren hanya tersenyum tipis. "Enggak, Ra. Abis ngomongin Arnold," ungkapnya santai.
Penira meletakkan nampan di meja, matanya memicing tidak percaya, "Serius?"
"Iyee, bawel. Udah, ah, aku mau makan. Lapar."
Detik selanjutnya keheningan terjadi diantara mereka. Semuanya sibuk pada makanan masing.
Sementara Mauren merasa kepo setengah mati. Sebenarnya bulan lalu gadis itu juga melihat Penira mebuka diam-diam loker Arnold. Ia kira, gadis itu hanya iseng. Tapi sepertinya tidak, sampai sekarang ia mau membuka diam-diam loker cowok tersebut.
'Sebenarnya apa yang disembunyikan Penira?'
-
Maaf aneh ya:v
__ADS_1