
..."Jangankan es dikutub utara yang mencair, sifat cuek manusia saja bisa kita taklukkan."...
-
Setelah perdebatan singkat tadi dengan Priya, kini Levin membawa Mauren meninggalkan lapangan padahal sebenarnya, hukuman gadis itu belum selesai.
Tentu saja Mauren mana menolak. Capek rasanya lari-lari sedari tadi.
"Kita mau balik kekelas?" Celutuk Mauren. Levin hanya melirik sebentar Mauren dengan ekor matanya yang berjalan tepat di sebelah dirinya.
"Hm," lelaki itu berdehem.
"Btw, makasih, Lev. Kau sudah membela ku," kata Mauren memecah keheningan diantara mereka. "Tadi rasanya aku ingin menjambak mulut kotor nya, tapi, asal dia menyinggung Arnold, aku kena mental terus," keluh gadis itu.
Tanpa melirik lagi, Levin hanya bergumam, "Hmm."
"Itu karena kau bodoh dan terlalu mengangungkan sahabatku itu," katanya pedas.
Mauren hanya terdiam, ia ingin melawan tak ada artinya, karena perkataan itu benar adanya. Kembali keheningan menemani keduanya. Kening gadis itu mengerut, ia baru sadar mereka berdua berjalan berlawanan arah kelasnya.
"Kita mau kemana? tidak kekelas?" Tanya Mauren hati-hati. Sial! Keadaan diam seperti ini benar-benar memuakkan. Jadinya sangat canggung.
"Kantin."
"Oh."
Saat keduanya tiba di kantin, Mauren langsung saja menarik kursi tepat didepan Levin. Tampak cowok itu acuh, tak lama kemudian ia merogoh saku dan bermain ponsel.
Mauren merenggangkan tangan dan kakinya dikarenakan lelah berlari tadi.
__ADS_1
Sembari ia memperhatikan Levin dengan seksama. Bila diperhatikan sebaik mungkin Levin ternyata lebih menawan dari pada Arnold. Apalagi jambulnya yang terjuntai memperindah penampilan pria itu. Dari mana selama ini pikiran Mauren sehingga ia tidak tahu ada manusia setampan ini? Apakah dirinya yang terlalu fokus pada Arnold atau bagaimana?
Levin tersenyum miring ketika sadar Mauren memperhatikannya. Nyaris senyuman itu tak tampak. Dialihkannya tatapan dari ponsel, "Kenapa melihatku terus? Jatuh cinta dengan ku, heh?"
Mauren tersentak, "Kau halu," gagapnya.
'Levin sia-lan! Padahal jarang-jarang aku melihat cowok seganteng ini dari dekat.'
Levin terkekeh.
"Dih. Ketawa lagi kau, kulkas berjalan," cibir Mauren seraya membuang muka kesamping. 'Mana seksi banget kekehan mu. Meltng aku. Aaaaaa ....' dan tentu saja kata-kata ini hanya terucap dalam hati. Jangan harap Mauren mau mengatakannya, bisa-bisa cowok didepannya ini besar kepala.
"Kau salah liat."
"Kau kira aku buta?" Sinis Mauren.
"Bukannya kau memang buta?"
"Pesen gih makanan mu. Aku membawamu kekantin buat istirahat sebentar, mumpung aku yang jaga. Abis itu kita balik lagi," kata Levin.
Mauren mengganguk pelan, sebelum berdiri memesan makanan gadis itu berucap hingga membuat Levin tertegun.
"Kau bawel lagi, ya?"
Arnold yang kebetulan lewat hendak ke kamar mandi, tak sengaja melihat keduanya. Tampak ia menggeleng kecil, menatap remeh Mauren yang bertepatan beranjak guna memesan makanan.
"Habis aku, Levin, setelah Levin siapa lagi?" ucap Arnold di kejauhan, kemudian cowok itu melenggang pergi dengan senyum miringnya.
Mauren kembali ke meja dengan dua nasi goreng ditangannya, ia meletakkan nasi goreng diatas meja. "Tadaaaaa ... ini dia makanan kita." Ujarnya ringan.
__ADS_1
"Kenapa memesankan ku?" Levin menatap heran dua piring itu.
Mauren melenggang duduk. Gadis itu menggeser piring kedepan Levin. Ditatapnya cowok itu sebentar, "Tidak enak aja, lho, pak bro. Masa kau melihati ku makan. Sementara kau tidak makan. Nah, sebagai ciwi yang baik dan rendah hati, aku memesankan mu. Tenang saja aku yang membayarkannya nanti," celutuk Mauren panjang lebar.
Levin memutar bola matanya malas, "Hm."
Mauren cekikan, "Dimakan atuh jangan diem aja."
Levin tersenyum kecil.
"Ternyata kau baik juga, ya. Aaaaa, tahu tidak? dari semua teman Arnold baru kali ini aku dibaikin, hahaha. Sebelumnya melihat aku saja mereka enek. Padahal kan aku tidak pernah buat salah. Emang sih mereka sirik banget trus kan ..." Mauren terus berceloteh panjang lebar.
Levin hanya menatap datar Mauren yang sedari tadi berceloteh. Gadis ini luar biasa aneh memang! lihatlah padahal sedari tadi ditatap, Mauren malu saja tidak. Bahkan, ia tetap berceloteh sembari mengunyah nasinya.
Padahal biasanya cewek-cewek kalo makan sama cowok, apalagi sama yang tidak terlalu kenal seperti dirinya, para cewek akan menjaga etikanya. Tidak bar-bar seperti Mauren. Bahkan mereka biasanya makan berusaha terlihat anggun. Mauren Benar-benar gadis aneh.
"Isshh. Kau kenapa diem saja, Lev? Kau tak ingin ya berbicara dengan ku? Ah, aku salah apa lagi, sih?"
Levin memijit kepalanya. Pusing menghadapi makhluk bawel didepannya ini. Tidak selesai-selesai berceloteh.
"Kalo makan itu tak usah ngomong. Hujan lokal tahu tidak. Ini juga lagi, makan belepotan banget, seperti anak kecil!" Levin membersihkan ujung bibir Mauren dan kegiatan itu tak luput dari seseorang yang kini mentap keduanya nyalang dan tersirat rasa tidak suka.
"Little girl kamu itu cuma punya aku!" Katanya sembari meremas jaket hitam miliknya dan berlalu pergi karena tak tahan berlama-lama melihat pemandangan yang membuat hatinya memanas.
-
-
Maaf aneh, karya pertama wkwk.
__ADS_1
Makasih atas dukungannya❤