Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[19]. Semakin Kasar


__ADS_3

..."Jatuh cinta itu begitu, bahkan dalam mabukpun tak lupa menyebut nama seseorang yang di sayang."...


-


-


Mauren baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya. Ia baru saja menyelesaikan pemandiannya. Tubuhnya kembali segar seperti semula.


Mauren melihat Arnold sudah rapi dengan pakaian kaos abu-abunya, celana jeans serta tak lupa memakai jaket.


"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Mauren dengan tangan yang masih sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk.


Arnold menghentikan kegiatan bersisirnya. Diliriknya Mauren sedikit, "Sudah berani bertanya-tanya? lagi pula kemanapun aku, tak ada urusannya denganmu."


"Tapikan, kita sudah menikah Arnold. Aku sebagai istrimu berhak tahu kau mau kemana, dan kenapa keluar malam-malam begini," sahut Mauren menyanggah.


Arnold berbalik hingga berhadapan dengan Mauren. "Ingat, kita memang sudah menikah dan tinggal serumah, tapi kau tak lebih dari pada babu disini. Tugasmu hanya membersihkan apartemen ini dan jangan campuri urusanku. Paham?"


"Kenapa kau selalu bersikap kasar padaku? aku hanya menghawatirkanmu makanya aku bertanya-tanya."


Arnold berdecih. "Kau menjijikkan. Kau tahu, cukup aku dengan urusan ku dan kau dengan urusanmu. Jelas?"


Mauren terdiam. Ia menarik nafasnya, semakin hari semakin kesabarannya di uji.


"Baiklah, kau mau kemana? Jam berapa kau akan pulang?"


Tiba-tiba Arnold melempar sisir hingga hampir mengenai Mauren kalau saja gadis itu tidak mengelak.


"SUDAH KU BILANG JANGAN BANYAK BERTANYA! KAU PIKIR KAU SIAPA, PENGEN TAHU URUSANKU?!" Bentak Arnold hingga membuat Mauren terperajat semakin kaget.


Mauren kembali terdiam. Tidak ingin semakin memanaskan suasana.


Arnold dengan wajah kesal pergi meninggalkan Mauren. Saat Arnold ingin melewati Mauren, cowok itu menyenggol bahu Mauren hingga gadis itu terjatuh.


"Lemah." Katanya tanpa menoleh kebelakang.


-


-


"Hai, bro. Sudah lama sampenya?" Arnold menghampiri teman-temannya kemeja bar. Disana ada Deron, Ivan, Adam serta Levin.


"Tumben telat, kenapa? Biasanya kau paling cepat datang." Sahut Adam.


Arnold mengambil duduk disebelah Levin. "Satu gelas lagi, bang," katanya kepada pelayan.


Arnold menyugarkan rambutnya, "Biasa."


"Biasa kenapa?" celutuk Ivan.


"Turu dulu." sahut Arnold.


Tentu saja Deron yang mendengar itu sudah paham. Paham kenapa Arnold terlambat, tentu saja karena satu harian ini ia memiliki acara dan tak bisa cepat-cepat menemui mereka, apalagi ada Mauren yang seapartemen dengannya.


Selanjutnya mereka sibuk dengan alkohol masing-masing sembari bercerita.


"Pindah, bro, ke sofa sana." celutuk Ivan dan diikuti semuanya.


Mereka kesana hanya sekedar minum-minum, tak lebih. Pun, mereka juga jarang ke club malam seperti ini, namun karena beberapa waktu lalu Levin dan Ivan sempat bertengkar jadinya mereka mengunjungi club sekaligus untuk memperbaiki hubungan temannya itu. Agar dekat seperti biasanya.


Selang beberapa jam,  beberapa dari mereka sudah mabuk termasuk Arnold.


"Syuttt ... Syuttt ... Syutt ..." Arnold menguncupkan mulutnya dengan jari telunjuk yang tertempel pada bibirnya.


Diujung sofa Ivan terkekeh melihat ocehan Arnold disaat mabuk. Sudah dari jam sembilan malam tadi mereka berada di club, kini waktu sudah menujukkan hampir pukul dua belas malam namun keempatnya tak kunjung menyudahi kegiatan mereka.


Ya, disana masih ada Arnold, Ivan, Levin, Adam dan Deron. Belum ada satupun yang beranjak.


"Anjirr! Kau cantik banget, Pri," celutuk Arnold sembari mengelus botol wine miliknya.

__ADS_1


"Udah mabuk duluan." Deron membuang puntung rokoknya. Menghampiri Arnold dan menjitak kepala cowok itu. "Eh, Geblek! Itu botol."


"Berisik kau, Ren. Jangan  menganggu ku dengan Priya deh." Arnold semakin aneh.


"Meong ... Meong ... Mpusss."


"Ngakak si Adam. Malah niru suara kucing." Deron tertawa keras ditempatnya.


Ivander berjalan mendekati Adam seraya menjitak kepala pria itu. "Lagi cosplay, bro?"


Levin ditempatnya tersenyum tipis dengan kepala yang menggeleng pelan. Sekesal-kesalnya Levin pada sahabatnya terutama saat perkelahian membela Mauren-Priya, tetap saja dengan berkumpul bersama sahabatnya itu adalah suatu hal yang menyenangkan.


"Parah sih pada mabuk semua."


"Yoii, Vin. Mereka mah mana takut dimarahin emaknyeee. Apalagi Arnold anjirr emaknya baik bener. Gak hobby marah-marah." Jeda Ivander. "Jadi iri kan gue."


"Mengsedih sekali kamu, nak. Cup cup cup." Deron tertawa.


"Aku lempar pake botol nih."


"Galak banget ya ibu hamil ini, hahaha .... "


"DERON AN.JING!"


-


-


Mauren menatap jam yang kini menunjukkan pukul 23:25 WIB. Sudah hampir jam dua belas malam tapi Arnold tak kunjung pulang.


Setelah bertengkar dengannya tadi, Arnold langsung saja pergi entah kemana dan sampai sekarang belum kembali.


Angin malam serta udara yang terasa dingin yang mungkin Saja menandakan hujan akan turun, menyadarkan Mauren dari lamunannya.


Gadis itu berdiri, hendak mengambil ponselnya guna menghubungi Arnold memastikan dimana Pria itu sampai sekarang belum kunjung pulang. Hingga suara belum Apartemen menghentikan kegiatannya.


Mauren mengerutkan keningnya heran. Siapa tamu malam-malam begini berkunjung? Tidak mungkin itu Arnold karna bahkan pria itu tahu kata sandi pintu apartemennya sendiri.


"Iya siapa?"


"Hai."


"Kau–"


Mauren tergagap. Dari mana cowok itu tahu ia tinggal di apartemen?


"Tidak mau nyuruh aku masuk dulu?"


Mauren menatap pria itu dari atas hingga kebawah. Dirinya sendirian apartemen ini, bagaimana mungkin Mauren mengizinkan seorang cowok memasuki apartnya.


"Tapi–"


"Gak pa-pa. Gak ada yang liat aku disini."


Mauren mengangguk ragu, namun gadis itu mempersilahkannya untuk masuk.


"Dosa apa aku mengajak cowok masuk ke apart padahal aku tengah sendirian disini," guamam Mauren.


"Tahu dari mana kau kalau aku tinggal disini?"


"Duduk dulu, Ren. Anggap aja rumah sendiri."


"Kau–" Mauren rasanya hendak memukul wajah datar dan sok ganteng itu, tapi ia mengurungkan nya. Kasihan juga tangannya yang cantik dan mulus ini yakan?


"Sabar, Ren, sabar." Mauren mengelus dadanya menahan kesal.


"Iya sabar, biar jidat mu lebar."


"Levin! Issh!" dengan seribu kesal yang tak tertahankan, Mauren memukul kepala Melvin. Si cowok muka datar yang kesambet jin tomang. Giamana ga Mauren bilang Jin tomang? Cowok aneh itu tiba-tiba saja datang ke apart miliknya.

__ADS_1


"Auu ... Ampun. Sakit."


"Sok dramatis kau, badut."


Levin terkekeh.


Anjirr kekehan nya aja keren.


"Kesambet apa kau dateng kesini? Gak takut aku teriakin pencuri?" Mauren mentap sinis Melvin.


Mauren beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. Mengambil segelas air putih untuk pria itu.


"Cuma ada air putih doang. Aku orang kismin soalnya. Oh, iya ... Minum banyak-banyak. Kau sangat bau alkohol sekali."


Dalam diam Levin meneguk minuman itu dengan sekali tegukan.


"Aku tak tahu kenapa aku bisa disini." Levin memecah keheningan.


"Lah, gila om?" Mauren menatap Levin sembari bersilang dada.


"Emang. Kau baru sadar?"


"Nyenyenye." Ejek Mauren.


Kembali keheningan menghampiri keduanya. Levin menatap dingin setiap sisi Apartemen. Ada rasa sesak dihatinya.


"Hmm, Kau– kau tahu kalo aku sudah ...." Mauren tak melanjutkan perkataannya. Bibirnya seolah kelu.


"Tahu."


Mauren tersentak.


"Apa yang seorang Levin tak tahu?"


Mauren menetralkan wajahnya sebisa mungkin. Mauren mengatur napasnya, ia sedikit gugup. Bagaimana jika Levin memberi tahu pihak sekolah perihal dirinya?


"Aku harap kau gak ngasih tahu ini, ya?" pinta Mauren hati-hati.


"Semoga aja."


Levin tertawa dalam hatinya melihat wajah Mauren yang gugup setengah mampus.


"Becanda."


"Kau sih. Jahat banget."


Keduanya hening.


"Kau tidak balik?"


Levin menaikkan satu alis matanya. "Kau ngusir?"


"Iya." Sarkas Mauren.


"Oke."


"Lah."


Mauren rasanya ingin menendang kepala pria ini.


Sementara Levin yang melihat itu hanya tersenyum sangat tipis. "Aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja." Ucapnya dalam hati.


-


-


**Guys, aku sedikit ada kesalahan yg baru aku sadarin. :')


Aku salah, harusnya nma nya Levin adalah Melvin. tolong tandain kalo akuu ada typo penulisan nmanya ya!

__ADS_1


Makasih❤**


__ADS_2