
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
..."Lebih baik diam dari pada sibuk menghakimi dan mengumbar kesalahan orang lain lalu lupa bercermin."...
-
Ivan mengerutkan keningnya, seperti biasa ia dan teman-temannya yang lain berkumpul dikantin. Sebenarnya kantin sudah seperti basecamp mereka disekolah. Tidak seperti biasanya yang ribut, meja yang mereka tempati malah senyap. Tenang.
"Kok pada diam, sih?" Ivan menatap teman-temannya yang tumben sekali menjadi anak-anak pendiam.
Priya melirik Ivan, gadis itu mengangkat kedua bahunya dengan teteap memakan miso miliknya.
"Ar, kau tidak bosan meminum oky jelidrink terus?"
Arnold diam tak menanggapi Ivan.
Ivan menarik napasnya lalu menghembuskannya pelan. Dirinya tak begitu suka keadaan yang hening. Walaupun saat ini ramai mengingat mereka ada di kantin tetap saja rasanya hening dikarenakan teman dekatnya tak ada yang membuka suara.
"Parah sih aku dikacangin," ucap Ivan menatap Arnold yang sedari tadi melamun.
"Kau berisik. Makan saja saja," ujar Deron sambil melempar bungkus permen karetnya.
"Idih. Sewot amat bang jago," Ivan menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Tumben Mauren tidak kesini? Kenapa tuh anak?" Ucap Adam yang baru tersadar saat tak mendapati Mauren di antara mereka.
"Mana aku tahu, tanyakan saja pada rumput bergoyang," kata Arnold.
"Dih, tadi saja aku yang menanyaimu kenapa, malah cuek. Sekarang giliran bahas Mauren, cepet itu mulut nyahut." Sindir Ivan. Tentu saja Arnold hanya meliriknya.
"Sadar diri mungkin." Priya menyinggungkan senyum miringnya.
Sementara Levin yang sedari tadi diam tak sengaja metanya menatap ujung dekat pintu masuk kantin yang kebetulan pula Mauren menatap balik ke arahnya. Levin tersenyum miring.
"Mauren ... sayang banget," kata Deron yang tengah mengaduk-aduk jus miliknya.
"Kenapa?" Timpal Adam seraya menambah saos pada mie nya.
"Gak pa-pa, Dam." Deron hanya tersenyum sekilas.
"Mungkin Mauren sakit hati kali ya gara-gara kejadian semalam?" Sahut Ivan dengan tangan yang bertopang pada dagu, seolah sedang memikirkan konspirasi Mauren-Arnold.
"Ngapa sakit hati dah? Biasanya tuh anak paling kebal sama hinaan Arnold. Ini juga bukan kali pertama Mauren di permaluin. Iya kan?" Ungkap Adam.
__ADS_1
Arnold mengangguk mengiyakan. Biasanya gadis itu sangat kebal bila dipermalukan. Gadis itu juga selama ini memilih cuek saat dipermalukan. Di hina, dipermalukan, tapi tetap saja Mauren tersenyum dan menjumpai Arnold seperti biasanya bahkan tetap membawa bekal untuknya.
"Kau tisak marah, Ron adekmu diomongin?" tanya Priya dengan salah satu alis yang naik.
Deron menatap sebentar teman-temannya. "Akukan sudah bicara, aku malu mengakui dia adek ku."
Sontak Ivan memukul meja kala mendengar jawaban menakjubkan Deron. "Ciahh! Sampe segitunya."
Arnold terkekeh diikuti Penira yang tertawa keras.
Sedangakan Adam hanya menatap heran Deron.
"Wajar sih kau malu, adekmu sudah seperti perempuan tidaka benar," timpal Ivan kelewat santai.
Levin menatap tajam Ivan. Bisa-bisanya Ivan berkata sedemikian. Tangannya juga turut mengepal. Levin merasa sedang berada diantara orang-orang sok suci.
"Kau memang tidak malu ngomongin orang?" Tanya Adam menggelengkan kepala yang tak habis pikir melihat salah satu sifat sahabatnya dan tentu saja Ivan menggeleng sebagai jawaban.
Deron tersenyum miring dan menoleh ke meja dimana Mauren dan temannya berada dan itu semua tak luput dari pandangan Levin.
Levin, cowok itu menatap tajam sahabatnya. Ntah kenapa dirinya merasa panas disaat mereka menggosipi Mauren. Atau mungkin karena kejadian semalam? ia menemukan sifat lain dari Mauren?
"Kau banci, Van," kata Levin dengan tangan yang disilangkan di depan dada.
"Emang. Karena itu menandakan ketidak gantle-anmu bro." Levin menatap dingin Ivan.
"Maksudmu apa?!" Ivan yang tidak terima dihina memukul meja dengan keras sembari berdiri. Ia menatap tajam Levin layaknya musuh.
"Woi! Kenapa malah berantem?" Adam sontak berdiri.
"Ngaca. Kau kali yang banci!" Ivan menunjuk-nunjuk tepat diwajah Levin . Cowok itu memang salah satu orang yang mudah tersulut emosi.
Arnold menghampiri Levin yang tengah mengepalkan tangannya tak lupa tatapan dinginnya terus memperhatikan Ivan.
"Udah, Lev, malu. Kita diliatin sama yang lain," bisik Arnold.
Memang benar kini hampir seluruh kantin memperhatikan mereka. Bahkan Mauren dan kedua sahabatnya sudah mendekat ke meja mereka saat setelah Ivan memukul meja tadi.
Tentu saja orang-orang kantin heran, tidak biasanya teman dekat seperti mereka berkelahi. Berkelahi didepan publik, lagi.
"Kok berantem?" Mauren berjalan semakin mendekat hingga kini gadis itu ada tepat di depan sahabat Arnold.
"Ini semua karenamu" Ivan menunjuk-nunjuk Mauren.
__ADS_1
Dengan kening yang mengerut heran, Mauren menunjuk dirinya sendiri, "Aku?"
"Jangan berani kau menunjuk-nunjuk Mauren," kata Levin tajam.
Arnold yang berada di sebelah Levin turut tersentak. Tak biasanya Levin membela orang, biasanya pria itu hanya diam sebagai pengamat namun kali ini Levin benar-benar Aneh.
"Tidak usah ikut campur! Gay sepertimu tidak pantes angkat suara! Mending kau diam saja seperti biasanya. Gak usah sok ngebela kalo dirimu sendiri saja tidak pernah bisa kau bela. Kau bahkan malah diam ketika ada orang yang dateng ngehinamu." Ivan berteriak keras dan mereka semakin menarik perhatian siswa lain.
"IVAN!" Adam berteriak. Ivander sudah melampui batasnya.
"Lebih baik diam dari pada sibuk menghakimi dan mengumbar kesalahan orang lain, lalu lupa bercermin." Levin tersenyum miring setelahnya ia menatap Mauren dan menarik pergelangan tangan gadis itu keluar dari kerumunan.
"Eh ..." Mauren menatap heran Levin lalu matanya tak sengaja menangkap Arnold yang diam tetap bergeming di tempatnya.
Pikiran Arnold berkecamuk. Sejak kapan mereka jadi terlihat begitu dekat? bahkan selama ini, setahunya Mauren tidak mengenal Levin, dan Levin sendiri juga sama. Mereka bahkan saling mengenal hanya sekedar nama. Tapi, kali ini?
Sekarang atensi seisi kantin kini mengalihkan perhatian mereka pada Levin dan Mauren dan terdengar pula beberapa bisik-bisik dari mereka. Ada yang berspekulasi mungkin mereka sudah dekat atau jadian.
Arnold mengepalkan tangannya, ia sedikit merasa terganggu mendengar tuturan mereka. Seperti ada yang aneh pada perasaannya. Rasa tidak terima. Tidak terima bila, Mauren menjalin hubungan dengan cowo lain.
Priya yang sedari tadi menyaksikan kini tersenyum remeh sembari memeluk tangan Arnold. "Menarik," ucapnya.
Gadis itu menyunggingkan senyumnya, rasa senang tiba-tiba membuncah di hatinya. Bukankah ini berita yang bagus bila Mauren dan Levin dekat? Jadi, tidak ada lagi yang mengganggu hubungannya, 'kan?
"Aku tidak menyangka akan jadi berantam begini," Deron melirik Ivan yang terlihat masih Emosi.
"Lah, aku juga sama. Temenmu, noh, aneh. Biasanya kalau kita ngomongin Mauren, dia juga akan diam saja, kan? kenapa hari ini malah beda?" Ivan menjawab Deron dengan mengebu-gebu.
"Apa itu anak jatuh cinta sama perempuan murahan kayak Mauren? kalo iya, parah juga seleranya. Sekali suka sama cewek, sukanya yang speak Mauren."
Tangan Deron mendadak mengepal. Buku-buku jarinya memutih menandakan begitu kuat kepalan cowok itu.
Adam memutar bola matanya malas. "Hina terus, Van.Hina."
Arnold hanya menatap diam teman-temannya. Ia memilih mendudukkan dirinya kembali. Tapi, matanya tak sengaja menangkap ekspresi Deron yang tak enak dipandang.
Arnold menegang. 'Ada apa dengan sahabatnya itu? kenapa mendadak seperti marah?'
-
Maaf, makin aneh ya? :'3
Ga pd sma karya sendiri, maklum yak novel pertama:v
__ADS_1
Jgn lupa tinggalkan jejaknya❤