
..."Cukup aku dan Tuhan yang tahu betapa hati ini memujamu, merindumu, menginginkanmu dan mencintaimu."...
...—two admirers—...
-
-
"Lah."
Levin tersenyum geli mendapati respon kebingungan Mauren. Hatinya tergelitik hangat entah kenapa dekat dengan Mauren membuat hidupnya lebih berwarna sekarang.
"Tadi menyuruh ku keluar. Kenapa sekarang responmu seperti itu?"
Mauren tercengang lagi, mendapati cowok dihadapannya ini tak segan-segan memberikannya senyuman maut yang membuat kaum hawa sepertinya deg-degan tidak karuan.
"Ah, itu, emm ..." Mauren mendadak gugup.
"Kau kenapa? Sakit?" Levin melangkah mendekati Mauren guna mengecek kening gadis itu, namun Mauren mendadak mundur beberapa langkah menghindari.
"Tidak apa-apa. Pulanglah."
"Kau mau aku jujur satu hal tidak?" Ucap Levin sembari berjalan menuju pintu Apartemen.
"Apa?"
"Kau terlihat lucu. Dan, terimakasih untuk minumannya." Kali ini tanpa rasa canggung dan malu Levin langsung tersenyum tulus kemudian ia pergi berbalik meninggalkan apartemen.
Mauren menatap punggung Levin yang sudah mulai hilang dikejauhan, kebetulan cowok itu berjalan sangat cepat.
Kening Mauren mengernyit keheranan, ia semakin bertanya-tanya perihal sikap Levin yang berbeda dari awal. Padahal sebelum kejadian di belakang sekolah yang lalu, bukan tidak pernah ia melihat Levin. Pernah. Hanya saja, cowok itu untuk kali ini benar-benar aneh. Ia menunjukkan sisi hangatnya yang dikira Mauren tidak ia miliki.
"Sebenarnya ... ada apa dengan anak itu?"
Bergegas langsung saja Mauren menutup pintu Apartemen.
__ADS_1
Setelah kepergian Levin beberapa jam lalu, kini kegelisahan kembai memasuki hati Mauren. Setelah beberapa jam lalu melangsungkan pernikahannya, Arnold, pria itu pergi begitu saja. Entah dimana keberadaan pria itu sekarang yang jelas hingga pukul 01.00 wib ia tak kunjung kembali.
Sudah berapa kali Mauren menelfon Arnold, tapi ia tak kunjug menjawabnya. Bahkan chatnya juga tak terbalas. Sebenarnya Mauren juga yakin telfon dan chatnya tidak akan dibalasa seperti biasanya. Karena ia yakin, dan sangat yakin dirinya akan didiamkan saja.
"Sekarang aku baru menyesal tidak sempat meminta nomor temen-temen Arnold. Jadi tidak bisa nanya kan!" Mauren mencak-mencak tidak jelas. Rasanya gadis itu ingin menghubungi Mama Llila, menanyakan langsung keberadaan Arnold, tapi rasanya lucu mengingat mereka baru saja melangsungkan pernikahan ternyata anaknya malah tidak berada di rumah.
Mauren berjalan menuju sofa. Menidurkan dirinya diatas sofa, matanya mulai mengantuk. Mungkin tidak ada salahnya kan tidur sembari menunggu Arnold?
-
-
Alaram handphone milik Mauren membangunkan dirinya. Ditatapnya sebentar jam tersebut, mata gadis itu terbelalak, ini sudah pukul 06.00 dan dirinya masih tertidur di sofa.
Matanya menatap sekeliling, apakah Arnold sudah kembali semalam? Bila cowok itu kembali mengapa ia tak dibangunkan? Dan mengapa Mauren juga tak mendengar pintu apartemen yang dibuka?
Masih dengan pikiran yang menghawatirkan Arnold, Mauren beranjak menuju kamar pria itu. Pupus sudah harapan Mauren saat melihat kamar dengan cat hitam legam itu kosong. Bahunya sedikit merosot, 'lantas kemana dia?'
Sementara di tempat lain, di jam yang sama, Arnold terbangun sembari memegang kepalanya yang sakit. Arnold menepuk pelan kepalanya guna menyadarkan tatapannya yang sedikit ling-lung. Di perjapkannya mata coklat miliknya menatap sekekeliling. Tempat ini seperti tak asing baginya. Ini memang bukan di apartemen milik pria itu.
"Kenapa kau membawa ku kesini, Ron?" Arnold menaikkan satu alis matanya menatap tanya Deron. Sembari menerima segelas air putih yang diberikan Deron padanya.
Deron mengambil posisi duduk tak jauh dari Arnold. "Trus kau mau apa? Membawa mu ke apartemen milik mu sama Mauren?"
Selesai meneguk segelas air putih, Arnold meletakkannya dimeja sofa. "Ya enggak juga, cuma kau membawa ku ke apart milik mu ini mereka tidak curiga?"
Deron mengangkat bahunya acuh, "Aku bilang tante Lila udah makin mengawasin pergaulan mu."
Arnold tergelak, "Mereka percaya?"
"Percaya. Tapi, aku tak yakin dengan Levin. Kau tahu sendiri anak itu susah banget percaya sama orang. Apalagi dia juga terkesan misterius."
Arnold mengangguk. Sebenarnya ia sama sekali tak perduli bila sahabat-sahabatnya mengetahui dirinya telah menikah dengan Mauren, apalagi bila sampai Levin mengetahuinya. Ia sangat tidak perduli. Tapi, karna demi menjaga perasaan Pria Zisha, kekasih hatinya jadi Arnold menutup rapat tentang pernikahannya.
"Tadinya, ku kira aku akan di bopong balik ke rumah atau ke apartemen." Kata Arnold dengan sedikit mendongak menatap Deron yang memberikannya oky jelidring. Tentu, Arnold menerimanya dengan senang hati.
__ADS_1
"Kau suka banget okeyyy jellidrink, aku heran sendiri," ucap Deron dengan menghempaskan tubuhnya kembali pada sofa.
Dengan sekali tusuk menggunakan sedotan dan meminumnya, Arnold langsung saja membantah. "Ya salahkan mama ku! Dari dulu mengasihnya ini mulu."
Pria itu tergelak.
"Aku sengaja tidak membawa mu pulang ke rumah, kau mau tante Lila ngamuk waktu tahu dihari pernikahannya anaknya malah pergi ke club? Trus membawa kau balik ke apart? Bisa-bisa tanpa kau sadar kau akan memperkosa Mauren. Dan aku tidak terima!"
Arnold menunjukkan ekspresi jijik, "Bahkan mabuk sekalipun aku ongah menyentuh adek mu itu."
Deron hanya berdehem. Selanjutnya cowok itu menyalakan pematik pada rokoknya dan menawari Arnold namun ia menolaknya karna dirinya hanya butuh istirahat untuk menghilangkan rasa pusing ini. Ia tidak membutuhkan rokok.
"Lagi pula..." perkataan Arnold menggantung, ia menatap penuh selidik pada Deron.
"Kau sendiri yang bilang kau sangat membenci Mauren. Trus, kenapa masih menghawatirkannya? Bahkan kau terkesan keberatan kalau aku sampe menjamah tubuh adek mu Mauren." Arnold tersenyum puas menatap Deron yang mendadak menghentikan isapannya pada rokok.
"Adek ku terlalu murahan untuk mu. Kau tak pantas mendapatkan perempuan sepertinya." Tegas Deron.
Arnold mengangguk saja. Ia berusaha percaya, lagi pula apa urusannya bila terkaannya selama ini benar?
"Oh, iya, tolong jangan katakan pada Priya bahwa aku sudah menikah. Kau tahu, saat lulus SMA nanti aku berencana akan menceraikan Mauren. Aku tidak ingin membangun hubungan lebih lama dengannya." Terang Arnold.
Deron menghisao rokoknya dalam, lalu mengeluarkan kubangan asap itu. "Kenapa kau tiba-tiba membenci adikku?"
Arnold menegang. "Sebaliknya. Kenapa kau dan Orang tuamu tidak menyukai Mauren?"
Deron menghentikan hisapannya. Dialihkannya tatapan tersebut pada Arnold. "Jaga batasan pertanyaanmu. Ranah itu sudah terlampau jauh."
"Oh, ya?" Arnold tersenyum miring.
"Apapun itu..." Deron kembali menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya kasar. Cowok tersebut berdiri dan mematikan rokoknya didalam asbak. "Alasan aku membenci Mauren berbeda dengan Alasan orang tuaku. Dan, kau..." Dia Mengalihkan tatapannya dari Arnold. "Berhenti mempertanyakan hal tersebut." Deron berlalu meninggalkan Arnold.
Namun, Alih-alih langsung meninggalkan Apartemen miliknya, Cowok itu berdiri didepan pintu dan kembali berujar, "Sebaiknya ... cari taulah, Apa pacarmu layak kau perjuangkan?"
Arnold terdiam mencerna perkataan Deron. Pernyataan yang simpel itu memunculkan tanya di benaknya.
__ADS_1