Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[23]. Tuduhan


__ADS_3

..."Ada baiknya mengenal orang itu dari kenyataan-nya bukan dari kata-nya."...


-


-


Mauren terus saja mengelilingi sekolah mencari Arnold dan teman-temannya. Tapi netranya tak kunjung menemukan mereka.


Kini sekolah mulai ramai. Koridor yang tadinya sepi sudah terdengar canda tawa siswa-siswi. Mauren memilih melangkahkan kakinya memasuki kelas Arnold. Pandangannya mengedar ke penjuru kelas.


"Woi! kau kesini." Mauren memanggil salah seorang siswi dengan kaca mata tebal.


"Ma-manggil saya?" Gagapnya.


Kening Mauren mengerut. Lucu sekali. Kakak kelasnya ini takut dengannya? Lolucon apa ini?


"Kau takut dengan ku?"


Gadis itu hanya terdiam.


Mauren memutar bola matanya jengah. Ia bahkan tak pernah mengusik gadis dihadapannya saat ini tapi, bisa-bisanya gadis itu takut padanya. Kesampingkan itu, Mauren harus kembali ke tujuan awalnya.


"Kau liat Arnold gak?"


Gadis berkaca mata itu menggeleng menunduk.


"KAU BISU?! JAWAB WOI!" Mauren menatap nyalang kakak kelasnya itu dengan name tag Rara Pramudya. Rara, gadis ini memancing emosinya. Susahkah menjawab saja?


Beberapa teman-teman kelas Arnold memerhatikan Mauren. Decakan bahkan bisik-bisik mulai memenuhi ruangan.


"Adek kelas belagu banget."


"Amit-amit aku punya adek kayak gitu."

__ADS_1


"Pantesan ditolak Arnold. Modelan gitu, siapa yang mau coba? Gak punya etika."


"Untung aja Arnold pilihnya Priya, sudah baik, cantik, kesayangan guru-guru, sekolah disini dapat beasiswa lagi."


"Eh-ehh ... kalian pada tahu gak gosip-gosip anak sini? Denger-denger Mauren sering jalan sama om-om."


Baiklah, untuk kali ini Mauren tak dapat menahan kekesalannya. Jangan salahkan setelah ini apa yang akan dilakukannya.


"WOI, CABE!" Teriak Mauren menghampiri kedua kakak kelasnya yang berbisik-bisik.


"Arrghh, sakit."


Bak kesetanan Mauren menarik kedua rambut kakak kelas sok cantiknya itu. Wajahnya memerah menahan beribu kekesalan. Mauren heran, kenapa orang-orang banyak menebarkan rumor buruk tentangnya. Bahkan, ia sama sekali tak pernah menggangu mereka.


Dan, memang harus digaris bawahi.


Mauren memang sering dihina Arnold.


Mauren memang anak yang tidak diharapkan orang tuanya.


Sering dihina, dicaci, dipukul oleh Mama.


Deron memang membencinya.


Bahkan, Deron pun ikut mengatainya.


Tapi, lebih dari itu, selain dari mereka, Mauren tidak akan membiarkan dirinya dihina. Dihina? Tentu saja ia akan membalasanya.


Mauren memang sering menangis dikamar. Meratapi nasib yang kejam padanya. Tapi, jangan harapkan Mauren berlaku cengeng seperti itu dihadapan orang-orang. Mauren tak suka dikasihani!


Selain di benci, dihina, dikasari, ia juga tak suka dikasihani! Catat!


Mauren bukan Priya— sibanci yang suka mencari-cari muka dihadapan guru dan teman-teman. Mauren hanya mencari muka dihadapan orang terkasihnya. Mauren bukan Priya yang memiliki beribu topeng kemunafikan dan kenaifan demi menutupi kebusukannya. Seperti serigala berbulu domba.

__ADS_1


"Woi!" Adam dan Ivan berteriak membelah kerumunan. Sedari tadi bahkan Mauren tak sadar ia sudah dikerumuni. Dibelakang Adam dan Ivan ada Deron dan Levin. Minus Arnold.


"Udah-udah, Ren. Galak banget." Adam melerai Mauren yang hendak memberikan bogeman mentah pada gadis dihadapannya.


"Kau juga Meta, Nindira! Apa yang kau katakan tadi sampai Mauren ngamuk kesetanan begini?!" Adam membentak kedua temannya.


"Temen mu itu emang pantes dikasih pelajaran!" Bentak Mauren sembari menunjuk-nunjuk kakak tingkatnya.


"Stop, Mauren!" Deron menghalangi jalan Mauren yang hendak menghampiri temannya. Deron tersenyum simpul, ia suka adeknya yang seperti ini. Pemarah dan agresif.


Ivan mengusap wajahnya kasar. "Gila si Mauren. Bar-barnya emang kelewatan." Lirih Ivan.


"Lev, keknya tanpa perlu kau bela-bela lagi Mauren bisa membela dirinya sendiri. Liat aja, asli dia udah kayak pencabut nyawa." Levin tersenyum tipis mendengarnya. "Tapi sialnya tetap aja cantik. Ga munafik ya aku!" Perkataan terakhir sahabatnya itu mengusik hatinya.


"Si Murah ini aja yang sok!" Meta berteriak tak terima.


"Mauren gak akan pernah nyari ribut sama kakak kelasnya kalo bukan kau yang ganggu duluan!" Adam menatap nyalang Meta dan Nindira. Adam kasihan pada Mauren, memang selama ini dia bodo amat tapi setelah kejadian di kantin waktu Arnold meminta jadian pada Priya, Adam sedikit merasa kasihan. Mauren kalau dilihat-lihat tidak jahat.


"Udahlah, Dam. Udah. Gara-gara Mauren, kuampret, kau jadi ribut sama temen sendiri." Sahut Ivan.


"Levin aja yang biasanya jadi super hero gak ikut campur lagi, Dam. Udahlah biarin aja, ini urusan Mauren bukan urusan kita."


Levin bergeming saat namanya dibawa. Ia menatap tak suka Ivan. Ivan terlalu sok tahu. Padahal diamnya bukan berarti tak perduli. Ivan dari kemarin selalu saja menghina Mauren. Ah, Levin rindu melayangkan tangan kekarnya ke mulut  bajingan ini. Tak perduli Ivan sahabatnya atau bukan.


"Tapi dia adek gue, Ivan! salah kalau dia dibela?!"


'Deg'


-


-


Maaf klo aneh.. Karya pertama:')

__ADS_1


__ADS_2