Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[27]. Genggaman Yang Mendebarkan


__ADS_3

..."Jantungku berdetak dengan cepat. Apa aku terkena sakit jantung?"...


-


-


Mauren melihat-lihat ruang kelas yang sudah sepi, mencari keberadaan Levin di sana. Tadi, ia baru saja menyuruh Penira dan Bella pulang duluan. Kasihan kedua sahabatnya itu menungu terlalu lama. 


"Lah, ini Levin kemana?"


Mauren tidak sadar bahwa seorang cowok tengah memperhatikannya dari belakang punggungnya dengan satu tangan yang dimasukkan pada saku celana. Cowok itu menatapnya dalam diam, namun matanya dapat membuktikan gadis itu telah menarik perhatiannya.


Mauren dengan kesal membalikkan tubuhnya hendak pulang karena Levin tak kunjung kelihatan. Namun mendadak gadis itu terkejut bukan main karena mendapati Levin berada dibelakanganya.


"Kau! Mau membuat jantungku copot, ya?" Mauren mengelus dadanya terkejut.


Levin berjalan mendekati Mauren. Matanya masih terus menatap Mauren dengan lekat, seolah tak ada objek lain yang benar-benar bisa menarik atensinya.


"Ayo." Katanya tanpa ekspresi.


Mauren memayunkan bibirnya, mengejak tampang sok cuek pria tersebut.


Levin melirik Mauren dengan ekor matanya, hampir saja cowok itu tertawa tanpa sadar. Lihatlah, betapa lucunya gadis itu sekarang.


"Hm, lama." Levin langsung saja menggengam Mauren yang berjalan dibelakangnya. Menarik lembut tangan gadis itu, menautkan jari-jemari mereka disana.


Mauren terkejut. Pipinya sontak memanas, perlakuan kecil namun terlihat perhatian itu membuat jantungnya berdegup. Namun setelah sadar, dengan cepat Mauren menarik tangannya agar terlepas dari tautan Levin. Tentu saja, Levin yang sadar akan hal itu malah mengeratkan jarinya semakin kuat.


"Jangan dilepas."


"Kenapa?"


"Gak pa-pa. Biarkan saja begini."

__ADS_1


Mauren menampilkan wajah malasnya, "Kita tidak mau menyebrang jalan, kenapa harus gandeng-gandengan segala? Kau memang aneh."


Levin tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. "Biar kau tidak hilang saja. Jadi, harus digandeng."


"Si baji.ngan ini." Geram Mauren. Ia memalingkan wajahnya kesamping.


Malu. Iya, dia malu. Beberapa siswa yang belum pulang memperhatikan mereka yang tengah bergandengan tangan. Mauren yakin banyak spekulasi buruk tentangnya sekarang.


"Lihatlah dia, dia tidak malu. Giliran sudah dicampakkan Arnold, malah ngedeketin Levin."


"Emang Murahan ya, si Mauren ini."


"Iya, amit-amit adek kelas sok cantik begitu. Belagu, lagi."


Mauren menghembuskan nafasnya kasar. Baru saja ia berfikir sedemikian, sudah ada saja yang menghinanya. Semakin hari, wajahnya semakin buruk dikalangan siswa-siswi.


Levin yang ikut mendengar penuturan mereka, justru semakin mengeratkan genggamannya seolah berbicara 'aku disini, jangan takut.'


Mauren memandanganya sebentar, "Terimakasih."


-


-


Sesaat setelah pintu dibuka, Mauren menatap takjub ruangan itu. Banyak alat-alat musik disana. Ruangan tersebut cukup luas untuk menampung semua alat musik. Memang kebetulan sekali, Mauren cukup mengangumi musik. Ia suka bernyanyi, tapi untuk bermain alat musik, ia belum terlalu mahir.


Mauren berjalan mendahului Levin, gadis itu melihat dengan kagum piano dihadapannya. Ia menekan beberapa tuts itu dengan amatir.


"Kau tahu main musik, Lev?" Tanya Mauren tanpa mengalihkan tatapannya pada Piano didepannya. Bahkan, gadis itu sudah mendudukkan dirinya didepan piano. Ancang-ancang untuk bermain.


Levin berjalan mendekati Mauren, "Aku tahu."


"Benarkah?" Secara spontan, Mauren mengalihkan atensinya pada Levin. Menatap cowok itu dengan penuh binar.

__ADS_1


"Kenapa? Kau tau memainkannya?"


Mauren melemas, "Tidak. Aku masih begitu amatir."


"Mau aku ajari?"


"Aaaaa ... boleh-boleh. Aku sangat senang."


"Baiklah, kita memilih lagu yang mudah. Bagaimana dengan Que sera-sera?" tawar Levin.


"Tidak masalah, kebetulan aku juga menyukai lagu itu."


Levin mendekatkan dirinya pada Mauren, hingga kepala Mauren sudah bersandar pada dada bidangnya. Ya, Dengan posisi Mauren yang duduk di kursi menghadap piano dan Levin yang berdiri dibelakangnya menuntun jari-jari kecil gadis itu menekan tuts piano.


Mendadak ruangan jadi begitu sunyi, bahkan detikan jarum jam bisa terdengar ditelinga gadis itu. Mauren mendadak kaku, meneguk ludah saja ia serasa tak mampu. Jaraknya dengan Levin sangat dekat membuat dirinya dpat mendengar degup jantung pria itu yang juga tengah memacu.


"Ehem," Levin berdehem sedikit canggung. Namun, senyum terukir bebas dibibirnya.


Di ambilnya jari-jemari Mauren, menuntun jari mungil itu menekan setiap tuts-tuts piano hingga terbentuklah nada dari 'Que sera-sera' yang mengalun indah di telinga yang mendengarnya.


"Ini tidak baik untung jantungku." Mauren meneguk ludahnya.


"Apa yang kau katakan tadi?" Tanya Levin dari belakang punggungnya. Bahkan nafas cowok itu saat berbicara mengenai tengkuk Mauren, hingga rasanya membuat gadis itu ingin berteriak saja.


"Tidak ada." pernyataan singkat itu membuat Levin menerbitkan senyumnya. Dia tau gadis itu berbohong karena dia juga sudah mendengar perkataan Mauren sebelumnya.


Lama-kelamaan Mauren mulai nyaman dengan posisi mereka, tak jarang Mauren memuji Levin terus-menerus.


"Kau memang yang terbaik."


"Terimakasih, cantik." Ujar Levin tanpa sadar membuat Mauren terdiam.


Tanpa mereka sadari, seorang cowok dengan jaket denimnya menatap mereka dengan tatapan tak sukanya. Nafasnya sesak melihat pemandangan itu, rasanya ia ingin mengahampiri mereka lalu memisahkannya dan menonjok wajah Levin hingga babak belur.

__ADS_1


-


-


__ADS_2