Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[06]. My Enemy My Future Wife?


__ADS_3

Happy Reading! ❤


..."Jangan terlalu membenci seseorang takutnya nanti kau malah jatuh cinta sama pada orang yang kau benci sendiri."...


-


"Bersiap-siaplah gadis malang. Siapkan dirimu."


Mauren menatap Mamanya dari kaca rias miliknya. Kini gadis itu tengah memoles sedikit bedak pada wajahnya. Sementara tapat didepan pintu Amel berdiri dengan tangan yang menyilang didadanya sembari senyum miring terukir di wajahnya.


"Iya, Ma," kata Mauren lirih. Matanya berkaca-kaca.


"Gak sabar banget saya ngeliat kamu cepat-cepat keluar dari rumah ini. Saya sudah muak sama kamu," katanya santai sembari menatap kuku-kukunya yang beroleskan kutek itu.


"Ma ...." Mauren membalikkan tubuhnya sehingga kini gadis itu tak lagi membelakangi Amel. Kini ibu dan anak itu telah berhadapan.


"Mauren salah apa sama mama sampai mama tega kayak gini ke Mauren?" tuntut Mauren.


Sakit sekali rasanya, keluarga, Arnold, kenapa mereka seolah sangat membenci dirinya? apa salahnya?


"Alahh, ya karna saya gak suka sama kamu!" Amel mendekatkan dirinya kepada Mauren. Wanita itu sedikit menundukkan dirinya sehingga kini wajahnya dan wajah Mauren berhadapan. "Kamu tahu? Kamu itu anak pembawa sial di keluarga ini. Makanya saya nikahin aja kamu, biar kamu go out dari rumah saya," ujar Amel dengan mencengkram pipi Mauren kuat, sehingga meninggalkan sedikit kemerahan di pipi gadis itu.


"Ma .... sshh." Dengan rasa sakit yang tertahan Mauren memegang tangan Amel yang mencengkramnya, herharap cengkraman itu terlepaskan.


Amel tersenyum sinis. Dengan kasar ia melepaskan cengkraman pada pipi Mauren hingga gadis itu sedikit terjungkal.


"Saya jijik banget dipanggil mama sama kamu. Ingat ya! Sampai kapanpun saya gak akan pernah ngagep kamu anak saya! Ingat itu di otak kecilmu!" Amel pergi berlalu meninggalkan Mauren yang kini terisak kecil.


'Blam!'


Mauren tersentak saat dengan kasarnya Amel menutup pintu kamar berwarna pink itu.


"Ehm," Gadis itu langsung saja menjatuhkan dirnya pada ranjang. Ia menangis dalam diam dengan posisi terlungkup.


"Tuhan, salahku apa? Kenapa kau biarkan semua ini terjadi padaku?" kata Mauren lirih dengan masih terisak kecil.


"Kenapa Tuhan? Kenapa dunia tak pernah adil padaku? Apa kesalahanku sehingga kau membiarkan ini semua terjadi? Mama, papa, bang Deron dan Arnold membenciku padahal aku menyayangi mereka. Apa ini jalan hidupku yang telah kau sediakan?"


"Tuhan ... aku ... aku sangat berharap semuanya menjadi lebih baik..." isakan kecil terdengar lirih. Tubuh gadis itu bergetar kecil karna tangisannya.


Gadis itu tetap meringkuk dengan gumaman kecilnya. Dirinya kini begitu berantakan, tak perduli apakah nantinya ia akan dimarah hanya karena ini atau tidak. Ia terus bergumam berbisik pada Tuhan dan sepi. Berharap Tuhan mendengarkan seruannya. Berharap semua keluh kesahnya terbawa oleh angin, ya ia masih berharap kesakitan itu diangkat darinya.


Berharap dan terus berharap bahwa ... semuanya akan baik-baik saja. Ya, baik-baik saja.

__ADS_1


[Bagaimana denganmu yang membaca ini? Apa kau masih terus berharap bahwa masalah yang kau hadapi akan segera berlalu? Ya ... teruslah berharap sedemikian. Kuatkan dirimu, berfikirlah bahwa semuanya akan baik baik saja. Terkadang kenaifan itu jauh lebih menyenangkan. Selalu berfikir semua akan baik-baik saja. :) ]


-


Mauren mentap restaurant mewah yang menjulang tinggi di depannya. Gadis itu mengerutkan kening, ia seperti tak asing dengan nama restaurant ini. Riel's restaurant. Namanya sama seperti nama ... ah sepertinya tidak mungkin.


Mauren juga sedikit heran, kenapa membahas masalah perjodohan ditempat semewah ini? Pasti makanan disini sangat merogoh kantong, lagi pula mengingat Amel begitu membencinya melebihi Papanya Jimmy dan Deron rasanya seperti tidak mungkin ia dibawa kemari.


"Turun."


Sebuah suara penuh penekanan menyadarkan Mauren dari lamunannya.


"Ngapain kamu mangap gitu? Belum pernah ya menginjak restoran semewah ini? Iyalah, dapat uang dari mana kamu," ucap Amel dengan tatapan sinisnya.


Mauren hanya diam tak menanggapi, setelahnya dia turun dari mobil. Diikuti di belakangnya ada Deron yang membuang nafas kasar.


"Heh anak sialan! Kenapa diam?!" Sungut Amel seraya menarik kencang dandanan rambut Mauren saat wanita itu telah ikut turun.


Sontak Mauren sedikit mundur kebelakang. "Sshh ... sakit ma," ringisnya.


"Udahlah sayang. Ini tempat umum." Jimmy menengahi.


Amel mendengus. Tak sengaja wanita itu mendorong Mauren kedepan, hingga ia tersungkur dengan posisi siku yang menahan bobot tubuhnya sehingga siku dan tangannya luka.


"Ma ...." Mauren menatap terluka Amel.


"Udahlah, Ma. Mending kita masuk, biarin aja dia. Lagi pula Papa bener, Ma. Ini tempat umum," ucap Deron.


Mauren tersenyum ternyata abangnya membelanya. Ia masih peduli. Namun senyum itu tak bertahan lama setelah Mauren mendengar kata-kata menyakitkan Deron.


"Kalo mama mau menyiksa dia di rumah aja ma. Jauh lebih baik."


Mauren menertawakan dirinya yang bodoh. Ia bergitu berharap ternyata.


-


"Lila!" panggil Amel pada seorang wanita yang duduk di antara dua pria. Langsung saja Amel memeluknya dan Lila menerima pelukan itu.


"Maaf udah menunggu kami. Tadi di jalan macet banget," kata Amel.


Lila tersenyum tipis, "Ayo duduk."


Segera saja mereka duduk berhadapan.

__ADS_1


Kini kedua keluarga itu tengah berada dilantai atas Restoran. Lila sengaja mengambil tempat di sini dan sekalian mem-booking nya. Agar tak ada yang menepatinya selain mereka. Walau Restoran ini adalah Restoran milik keluarganya dengan nama; tengah Arnold diambil sebagai nama Restoran, tetap saja ia mem-booking duluan.


Di lain sisi Deron bergeming. Cowok yang sedari tadi diam bermain ponsel dan cuek terhadap sekitar adalah Arnold, sahabatnya. Cowok itu paham, jadi yang di jodohkan sebagi pasangan adiknya adalah ... Arnold?


"Roy," Lila menyenggol pelan Roy yang sedari tadi melamun. Lila mengode lewat matanya. Roy paham sontak ia mengangguk pelan.


"Pak Jimmy dan Ibu Amel dan Deron. Benar? Ehm, Perkenalkan saya Roy Aditama, tangan kanan mendiang Pak Hans," ucap Roy menjabat tangan orang tua Mauren.


Deron menyalim dengan sopan Roy dan Lila yang berada dihadapannya dengan senyum yang terpatri di bibirnya.


"Oh baiklah," kata Jimmy menerima jabatan itu.


"Roy? Saya seperti tidak asing dengan namamu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Jimmy dengan penuh tanda tanya.


Arnold mengalihkan pandangannya dari ponsel di genggaman tangan cowok itu. Ia sedikit tertarik dengan pembahasan mereka.


Roy terkekeh, "Iya. Saya juga sepupu jauh Kak Hans."


"Nahkan! Pantas Saya seperti tidak asing denganmu. Ternyata kau sepupu Hans yang jahil itu kan?" Roy tertawa.


"Yes, dude. Saya kira anda akan lupa." tempat Roy.


"Lila, maaf ya anak saya lagi ke toilet tadi, makanya dia belum keliatan," kata Amel membuka suara.


Lila meringis pelan, "Saya hampir aja ngelupain dia. Yaudah gak pa-pa, kita tunggu aja."


Selanjutnya ke-empat orang tua itu sibuk dengan percakapan mereka.


"Arnold, psstt ...." dari kolong meja Deron menendang salah satu kaki Arnold. Kebetulan pula jarak mereka tidak terlalu jauh.


Arnold menatap Deron dengan kening mengerut. "Apa?" katanya dari pergerakan mulut tanpa menimbulkan suara.


"Kau memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" ucap Deron dengan wajah tak percayanya. Sahabatnya ini benar-benar bodoh atau bagaimana? Masa sedari tadi cowok itu tak menyadari dirinya?


Kening cowok di seberang depan Deron mengerut. Ia tampak seperti berfikir, selanjutnya Arnold menyadari sesuatu. Matanya membola ia berharap apa yang dipikirannya ini tidak kenyataan.


"Apa ... Mauren yang akan di jodohkan dengannya?"


Oh, jangan sampai gadis sialan itu yang dijodohkan dengannya.


Apa kata dunia?! 'Musuhku calon istriku?'


Rasanya Arnold ingin menghancurkan apa saja didepannya sekarang juga.

__ADS_1


-


Hii^^ jgn lupa tinggalkan jejaknya ya❤


__ADS_2