
..."Seberusaha apapun aku melupakanmu, nyatanya jantung ini hanya berdetak untukmu. Hingga detik ini."...
-
-
Mauren sudah bersiap dengan pakaian sekolahnya. Mauren tak mau teralu lama menunggu kepulangan Arnold. Mungkin saja cowok itu bahkan tak kembali lagi keapartemen. Alias kembali kerumah lamanya. Pikir Mauren ngasal.
Mauren menatap arlojinya, sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk dirinya berangkat kesekolah. Bahkan serajin-rajinnya ia, Mauren akan berangkat 15 menit sebelum bel berbunyi. Baiklah, sebenarnya ini dilakukan Mauren untuk cepat-cepat bertemu Arnold dan menanyakan keadaannya. Sejahat apapun Arnold padanya ia tetap mencintai Arnold. Entahlah, entah pelet jenis apa yang digunakannya sehingga Mauren bisa jatuh hati.
Sebenarnya kalo dilihat-lihat, Levin Malacy jauh lebih tampan dan tentunya berkarisma. Levin yang cuek, ketus serta dingin bak kulkas berjalan sanggup mengusik mata serta pikiran para gadis yang berdekatan dengannya, karna pesonanya ia menjadi sangat misterius.
"Sial!" Mauren menepuk kepalanya. "Bisa-bisanya detik-detik seperti ini malah teringat muka menyebalkan Levin."
Tak mau ambil pusing Mauren bergegas menuju jalan raya, mencari taksi atau bus sekolah.
"Btw, Arnold sekolah gak ya hari ini?"
"Dia tidur dimana ya semalam? Apa jangan-jangan tempat sibanci?"
"Kalo sempet dia tidur tempat siBanci, ku seret tuh banci ke jalan. Aku malukan," ucap Mauren dengan mulut yang mengerucut.
'TIN' 'TINNN!!'
Spontan Mauren menutup telinganya. Bisa-bisanya pemilik mobil tidak tahu diri ini mebunyikan klakson didepannya. Padahal jalan raya masih sangat luas. Kenapa harus mepet ke dirinya mobil ini, heiii?!
"WOI! MAU BIKIN TELINGA KU BUDEK YA!" Amuk Mauren.
Mata Mauren semakin melotot bak ingin keluar saat tahu siapa yang sudah berani mencari gara-gara padanya. Mobil pajero putih, ia tahu ini milik siapa.
__ADS_1
"Mobil mu mau ku hancurkan?" sarkas Mauren saat pemilik mobil itu membuka kacanya.
Sementara di dalam mobil, seorang cowok hanya menatap malas Mauren. "Naik."
Mauren mengubah mimik mukanya seakan hedak muntah.
"Aku? Naik ke mobil mu? OGAH!"
Cowok itu hanya mangut-mangut. Setelahnya ia malah membunyikan klakson mobil beberapa kali.
'TIN TIN TINNN'
"WOI!"
"Makanya naik. Ntar, ku bunyikan lagi nih!"
Levin menjalankan mobilnya pelan. "Seharusnya kau itu bersyukur ku kasih tumpangan. Aku tahu, kau pengen cepet-cepet ketemu Arnold kan?"
Mauren menghentikan langkahnya. "Kau kenapa sih bawel banget?"
Levin memilih diam seolah tak mendengar.
"Denger ya! Aku tak ada menyuruh mu untuk menjemput ku."
"Tau."
Mauren semakin berang. "Terus apa lagi yang kau tunggu? Cabut sono."
Bukannya memilih untuk pergi, Levin malah keluar dari Mobil. Berdiri tegak tepat didepan Mauren.
__ADS_1
"Masuk. Biar aku yang anter."
"Aku tidak suka dipaksa!" Balas Mauren sengit.
Levin menghembuska nafasnya kasar. "Cuma tumpangan kecil doang."
"Tapi,"
"Ah, lama!" Levin menarik tangan Mauren masuk kedalam mobil. Setelah Mauren duduk cantik ia langsung saja menutup pintu mobilnya dan berlari kecil ke kursi pengemudi.
"Kau apa-apaan sih!"
"Gak pa-pa."
"Levin. Kau makin lama makin aneh tahu gak! Kita sebelumnya gak pernah kenal, tiba-tiba kau membuat seolah-olah kita sudah kenal bahkan pernah dekat sebelumnya." Kesal Mauren tanpa memperhatikan mimik Levin yang sedikit menegang.
"Anggep aja kita pernah kenal sebelumnya dan sedang memperbaiki hubungan yang sudah rusak."
Mauren membisu. Kata-katanya memang terkesan biasa saja tapi itu sanggup menyentil hati dan pikirannya.
"Secara gak langsung kau bilang kalau sebelumnya kita pernah kenal kan?"
"Jangan dipikirin. Kita gak pernah kenal." Balas Levin dingin dan mulai menjalankan mobilnya.
Mauren bergeming. Pikirannya berkecamuk, apa mereka pernah mengenal sebelumnya?
-
-
__ADS_1