Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[16]. Seperti Ular Berkepala Dua


__ADS_3

..."Tidak malu disebut terpelajar tapi tidak terdidik?"...


-


"MAUREN YANG BENAR KAMU LARINYA! MANA ADA LARI JALAN CEPAT BEGITU!"


Mauren mendengus mendegar teriakan intruksi guru BK. Di karenakan saking senangnya semalam sewaktu Mauren dapat menghabiskan waktu dengan Arnold, gadis itu tak dapat tidur.


Sebenarnya bukan hanya itu saja hal yang membuat Mauren tak dapat tidur, tapi perlakuan Mama Amel masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Bahkan hingga detik ini. Hal hasil tidak bisa tidur jadilah Mauren terlambat kesekolah.


"Pak udah ya, pak? Saya capek lho pak." Mauren menarik-hembuskan nafasnya yang patah-patah karna rasa capek yang menyerangnya.


Guru BK itu menatap stopwatch miliknya sekilas, "Tidak bisa. Itu salah kamu kenapa kamu telat! Cepat sana lari lagi. 30 menit lagi baru kamu boleh masuk!"


"Ah! Bapak mah tak asik. Masa bapak tega nyuruh saya lari-lari pak? Nanti kalo saya pingsan gimana pak? Kan tidak lucu kalo saya pingsan. Trus pak, gara-gara lari saya jadi ketinggalan satu les mapel lho, pak. Nanti saya jadi makin bodoh gimana pak?" Cerocos Mauren panjang kali lebar.


Guru itu menatap Mauren sembari menggelengkan kecil kepalanya. Selanjutnya satu tangan mendarat pada kepala Mauren. Guru BK itu menoyor Mauren.


"Banyak ngomong ya kamu! Cepat lanjutkan lari kamu!"


"Bapak ... capek, lho," rengek Mauren sembari menghentak-hentakkan kakinya dengan sedikit memoyongkan bibirnya.


Guru BK itu menatap jengah Mauren dengan tangan yang tersilang di dada. Kepalanya menggeleng melihat kelakuan Mauren layaknya anak yang tidak di beri permen. Misuh-misuh tak jelas.


Guru BK itu mengedarkan pandangannya hingga netranya bertemu dengan siswa yang kebetulan lewat melintasi halaman.


"Hei kamu! Sini!" Teriak Guru BK.


Mauren turut mengalihkan tatapannya. Kening gadis itu mengerut, ia merasa tak asing dengan orang itu.


"Pak ngapain?" Tanya Mauren.


"Kepo ya kamu." Mauren membelalak.


"Parah guru ku bisa gaul juga," gumam Mauren sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa kamu bilang tadi?"


Mauren tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya.


"Levin?"


"Bapak manggil saya?" Levin menghampiri keduanya. Di tatapnya sekilas Mauren yang berdiri di disebelah guru BK mereka.


'Ngulah lagi nih anak.'


"Mapel apa hari ini?"


"PPKN, Pak. Kenapa ya, pak?"


Guru BK itu mengangguk, "Pak Rudi bukan?" Levin ternsenyum simpul. "Kebetulan bapak lagi ada tamu, tolong ya kamu liat anak nakal ini. Tigapuluh menit lagi dia selesai lari. Nanti bapak yang ngizinin kamu." Sebelum Levin menjawab Guru BK langsung meninggalkan keduanya.


Levin menyilangkan tangannya. Di tatapnya Mauren yang kini balik menatapnya kikuk. "Kenapa telat?" Suara berat Levin semakin membuat Mauren kikuk.


Mauren meneguk ludahnya kasar. Mauren merasa canggung apalagi semenjak kajadian di koridor semalam. Gadis itu menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Itu, ehm ... telat bangun. Hehe."

__ADS_1


Levin menatap datar Mauren. "Lari."


Mauren mengangguk cepat. Sial bisa-bisanya aku mendadak malu! Ckck.


Levin tersenyum tipis sembari terus memperhatikan Mauren. Hingga pandangannya menangkap Priya yang tampak menghampiri Mauren.


"Pagi, Mauren!"


Mauren memutar bolamatanya malas. "Kenapa kau disini?"


Priya tampak pura-pura berfikir. Bola mata gadis itu tampak menatap ke atas. Satu jarinya mengetuk-ngetuk pipinya sendiri, "Eumm ... ngapain ya?"


"Cewek gaje. Minggir kau! aku mau lewat!" Sentak Mauren.


Priya tersenyum miring. Diturunkannya jarinya dan beralih menyilangkan tangan di dada. "Galak amat neng. Aku kesini hanya ingin melihat anak baik yang lagi dihukum."


Mauren mengepalkan tangannya geram. Sontak gadis itu langsung mendorong Priya hingga membuat Priya mundur beberapa langkah.


"Heh banci! Jangan sok ya kau! urusa saja urusanmu sendiri!"


Priya mengibas-ibaskan tangannya ke seragam yang tadi di sentuh Mauren. "Selow-selow, okay?" Priya menjada, "Jangan bar-bar banget jadi cewek. Tingkah mu memngebuat cowok ilfil. Misalnya ... Arnold." Priya tersenyum sumringah setelah membisikkan kata-katanya yang sanggup membuat Mauren membeku.


"Oh, iya, aku sudah jadian sama Arnold. Kau tak ingin memberi selamat?" Mauren menatap sinis Priya.


Dari kejauhan Levin mengerutkan keningnya. Apa yang tengah mereka bicarakan? Bahkan Mauren tampak diam membeku.


"Priya sialan!" Gumam Levin.


"Selamat."


"Ututututu ... bagus. Sadar diri ya, Ren. Inget kata tukang Parkir, dari 'M' dibelakangnya 'R'. M.U.N.D.U.R." Priya mengetuk-ngetuk satu jarinya pada bahu Mauren dengan mengejakan kata 'Mundur'


"Kau tak malu suka sama Arnold? Tak malu bersaing dengan ku? Aku memang tak sekayamu, Ren. Tapi aku tidak sebodoh dirimu! Aku pinter. Selalu menang disetiap olimpiade, bahkan aku bisa masuk kesekolah elite ini karna otak ku sendiri, bukan karna uang. Jadi, kau sadar diri saja, ya, murahan."


Mauren membeku. Lidahnya seakan kelu untuk bicara. Gadis itu benar-benar menyindirnya habis-habisan. Tangannya mengepal, ingin rasanya memberi tonjokan pada wajah sok cantik itu.


Priya tersenyum puas.


"Kau memang terpelajar, Pri, tapi kau tidak terdidik."


Ucapan sarkas itu membuat Mauren terbelalak kaget. Namun, hati gadis itu tengah tertawa.


"Maksud mu apa? kau membela si ****** ini?" Ucap Priya tak terima.


Levin menatap datar Priya. "Bisa dibilang engga. Bisa dibilang iya."


"Kau–"


"Kau tidak malu pinter tapi tak punya etika? Heran aku. Sekolah sebagus ini bisa-bisanya menerima murid beasiswa yang tak punya etika. Seharusnya orang sepertimu itu di D.O. Selain ngemalu-maluin anak beasiswa lain, kau juga mempermalukan sekolah asal mu," ucap Levin memotong Priya.


Priya menatap kesal Levin. Siapa sangka cowok pendiam itu punya mulut setajam silet?


"Aku tak punya masalah ya denganmu! Jangan sok ikut campur!"


Levin terkekeh.

__ADS_1


Mauren meneguk ludahnya kasar. Kata-kata Arnold benar-benar ngejleb. Dirinya tak menyangka dibalik sifatnya yang pendiam ternyata ... sangat berbahaya. Layaknya sungai yang tenang namun diam-diam menghanyutkan.


Priya meninggalkan keduanya namun Levin memegang pergelangan tangannya kuat. "Lepas!" Sentak Priya.


"Mau kabur? Katanya pinter kenapa tidak mau membalas perkataan ku?" Priya terdiam.


Levin berjalan mendekat kearah Priya dengan tatapan tajamnya. Ini yang Levin suka. Membuat lawannya terdiam, dan takluk dibawahnya!


"Jangan sok Priya. Jangan kau mengandalkan beasiswa untuk menarik perhatian orang-orang padamu. Seharusnya kau bersyukur, kalo bukan karna badan mu yang semampai ini kau tidak akan bisa bertahan di sekolah ini."


Priya menatap takut Levin. Sial! Apa kecurangannya mulai tercium?


Levin semakin berjalan mendekati Priya hingga kini keduanya berhadapan dan membelakangi Mauren sehingga Mauren tak dapat melihat dan hanya sedikit mendengar percakapan mereka.


Levin mendekatkan dirinya hingga tampak ia berbisik di telinga Priya. "Kau tak ingin melayani ku  juga? Aku bisa membayar mahal dirimu. Eh, tapi janganlah. Gadis ****** yang udah di celup sana-sini tidak  pantas dapat bayaran mahal." Priya meneguk ludahnya kasar. Levin benar-benar sudah mencium kecurangannya.


"Aku lebih hebat dari om-om kesayangan mu itu, kau mau merasakan sekali?" Sontak Priya menggeleng tapi kemudian ia mengangguk cepat.


"Aku juga pintar memuaskan cewek." Suara rendah Levin sanggup membuat bulu kuduk Priya meremang. Dari suaranya saja sudah tersengar seksi, apalagi bila ...? Siapa yang tahu, 'kan?


Levin meneggakkan tubuhnya. "****** tetep ******," gumamnya.


Priya mentralkan, menarik-hembuskan napasnya kasar. "Aku berharap kau tidak membocorkan ini," ungkapnya yang kemudian pergi meningglkan Levin.


"Kita liat saja." Levin tersenyum miring.


"Tadi bilang apa sama dia?" Levin memutar tubuhnya menatap Mauren.


"Tidak ada."


"Yakin?" Tanya Mauren penuh selidik.


"Banget."


Mauren mengangguk.


"Aku tadi cuma memberi dia peringatan sekalian ngejahilin sih, tapi dikit."


Mauren menutup mulutnya guna meredam tawa. "Jadi, cowok cuek ini udah mulai banyak ngomong, ya? lebih bawel dari semalam sewaktu di kafe. Tapi, baguslah, aku tidak suka melihatmu sok-sok dingin." Mauren tertawa kecil.


Levin hanya mengangkat kedua bahunya. Selanjutnya digenggamnya tangan Mauren, membawa gadis itu pergi dari lapangan.


"Aku hanya tidak suka melihatmu dihina."


"Kenapa?"


"Maybe, kau temanku."


Mauren mengangguk. Namun bisikan hatinya berkata lain,


"Cuma temen, ya?"


-


-

__ADS_1


Maaf aneh:v


__ADS_2