Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[15]. Filosofi Kopi dan Rasa


__ADS_3

..."Hal-hal yang tampak dipermukaan, belum tentu itulah kenyataannya. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak tampak dipermukaan bukan berarti tidak ada."...


-


Mauren melirik jam pada dinding, kini jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Gadis itu merenggangkan tangannya, ia merasa lelah dan lapar dikarenakan membersihkan rumah, hukuman dari Mama. Sebenarnya, ia tidak ingin melakukannya, hanya saja, Mauren sudah terlampau capek untuk berdebat lagi.


Diusapnya peluh pada keningnya, "Pengen healing ke kafe, kayaknya asik."


"Tak perlu mandi," Mauren mencium-cium bau badannya, "Udah wangi dari sananya. Tinggal kasih aja Parfum." Ia terkikik.


Setelah beberapa saat kemudian, Mauren sudah selesai berdandan rapi. Ia membuka knop kamarnya, bertepatan pula Deron melewati dirinya.


"Mau kemana lagi kau?" tanya Deron heran.


"Kafe depan gang rumah, Kak. Mau duduk-duduk saja," sahutnya sembari menutup kembali pintu kamarnya yang berwarna pink itu.


Deron mengangguk mengiyakan. Memang, tak jauh dari perumahan mereka, ada kafe yang dibuka. "Jangan pulang terlalu malam kalau tidak mau dipukul, Mama."


Mauren tersenyum tulus, "Iya, Kak. Aku duluan ya."


Setelah Mauren pergi, Deron memegang dadanya sembari tersenyum kecil. Jantungan ya berpacu sangat cepat seperti biasanya.


"Dia masih sama seperti dulu. Senyumnya manis, lembut dan menenangkan."


"Adik kecilku, semakin cantik ternyata. Aku baru menyadarinya." Deron tersenyum miring.


-


Mauren menyandarkan dirinya pada kursi yang ia duduki. Kafe hari ini cukup ramai. Seperti biasa, kafe dikunjungi oleh anak-anak muda seperti mereka.


Mauren menyesap Latte miliknya, sembari memperhatikan kegiatan-kegiatan sekitar. Ada yang berpacaran, bercengkarama dengan sahabat, bahkan ada pula yang mengerjakan tugasnya di sini.


"Enak banget." Mauren tersenyum puas saat ia berhasil menyesap rasa Latte yang wanginya memabukkan itu.


Mauren mengernyit, kebetulan ia duduk di luar. Yang hanya dibatasi pagar sebagai pembatas antar luar dan kafe. Bisa dibilang kafe ini berada di alam terbuka dengan dihias semanarik mungkin khas anak-anak remaja.


Mauren memperhatikan motor yang berhenti tepat sangat dekat darinya. Mauren mengenali siapa pemiliknya, ia memutar bola mata malas.


"Kenapa kita bertemu disini lagi?" ketus Mauren saat lelaki itu membuka helm full facesnya.


Cowok itu menatapnya dingin. "Aku juga kesal kenapa harua bertemu denganmu disini." Sahur Levin sembari turun dari motor dan mendekat pada  tempat Mauren, mengambil duduk di depan gadis itu.


"Kenapa kau duduk disini, si-alan?"


"Kau pikir ini tempat orang tuamu?"


Mauren menatapnya sengit. "Kau selalu memancing emosiku. Jangan sampai aku menendangmu cowok sok cool!"

__ADS_1


Levin yang melihat raut wajah kesal Mauren, justru ingin tertawa. Menurutnya, gadis itu sangat lucu dengan wajah marahnya. Apalagi, apa bila ia kesal pipi Mauren akan menggembung sedikit dan itu berhasil menarik atensinya.


"Aku suka membuatmu kesal."


Mauren menatap aneh Levin, "Kenapa?"


"Karna suka saja," sahut Levin singkat sembari menatap buku menu ditangannya dan meminta pesanan pada pelayan.


"Latte, air putih, sama nasi goreng ya, Mba." ucap Levin yang diangguki pelayan tersebut.


"Kau tak ingin memesan makanan?"


Mauren menatap terkejut Levin. Kenapa pria didepannya ini terlihat sangat berbeda sekarang? setelah ia membuat kejutan di koridor waktu itu, sekarang sifat Levin seakan berubah.


"Sejak kapan kau jadi bawel begini? kau aneh. Aku jadi geli sendiri."


"Mungkin karena aku menyukaimu."


Mauren tersedak air liurnya sendiri. Mukanya sedikit memerah dan salah tingkah. "Kau!"


Levin tertawa pelan, "Jadi, kau sudah mulai termakan omongan cowok selain Arnold? sudah mulai melupakan sahabatku itu, heh?"


Mauren mencibikkan bibirnya, "Enak saja kau berbicara begitu."


"Iya, kita lihat saja sekuat apa kau tetap tertarik pada Arnold."


"Jadi, kau ingin menarik perhatianku? begitu?"


"Lihatlah, kau terlalu percaya diri. Aku hanya memastikan sesetia apa orang yang mencintai sahabatku."


Mauren menyilangkan tangan didepan dada, menatap Levin dengan tatapan intimidasi. "Kau semakin bawel. Urus saja urusanmu, jangan ikut campur urusanku."


Levin memilih diam, sesaat kemudian makanan cowok itu sudah datang. Dan, Levin sibuk dengan makanannya, sedangkan Mauren sibuk dengan pikirannya.


Banyak hal yang masih bersarang dipikiran gadis itu, tentang keluarganya, Arnold, perjodohannya dan ... Levin. Ya, cowok di hadapannya ini semakin aneh.


Hingga, sebuah pemandangan kembali mengejutkan Mauren. Priya, Priya zisha dan seorang bapak-bapak yang cukup terlihat berumur, mengambil tempat duduk tidak jauh dari mereka.


Mauren memastikan penglihatannya. Gandengan Priya masih sama seperti tadi siang. Dengan orang yang sama, namun kali ini bedanya Priya tidak lagi menenteng belanjaan tas seperti beberapa waktu lalu.


"Priya? dia sama siapa?" monolog Mauren.


Levin memperhatikan arah pandangan Mauren. Levin mengangguk paham.


"Kau sudah melihatnya?"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Mereka. Sudah berapa kali kau melihat Priya dengan cowok itu?"


Mauren mengangguk, "Baru dua kali. Tadi siang di kafe juga dan malam ini. Hanya saja, tadi ku kira aku salah lihat."


"Hmm ..." Levin hanya berdehem sembari menyesap Latte miliknya.


Mauren menatap sengit Levin, "Setelah aku jelaskan kau hanya berdehem. Kau semakin membuatku kesal."


Levin menatap Mauren dengan satu alis yang terangakat. Ia terbatuk kecil, menimang seakan ingin berkata sesuatu.


Dipalingkannya kembali tatapannya pada Priya dan pasangannya itu. Terlihat cowok itu merangkul Priya dan mereka tertawa bersama, tak jarang ada adegan suap-suapan dari mereka.


Benar-benar tidak tahu tempat untuk berpacaran.


"Kau tahu, Ren?"


"Apa?" Mauren mengalihkan nertranya pada Levin.


"Sesempurna apapun kita menutupi kepahitan milik kita dengan tingkah yang manis, tetap saja rasa pahitnya tidak hilang. Sama seperti kopi ini, kau tahu kan, ini memang wangi dan enak, bahkan banyak yang menyukainya, tapi tetap saja rasa pahitnya terasa," ujar Levin dengan penuh makna.


Mauren mengangguk. Ia paham maksudnya, tapi kenapa tiba-tiba membawa-bawa kopi?


Mauren menyusun setiap adegan yang ia lihat dari Priya dan mencocokkan perkataan Levin barusan. Banyak spekulasi dikepala gadis itu dan semuanya malah spekulasi yang buruk. Tapi, ia berusaha menepis karena tidak baik bila langsung menilai orang dari permukaan begitu saja.


Mauren menarik nafasnya, ia ragu untuk mengeurkan pendapat. "Apa, maksudmu ...?" tanya Mauren sembari melirik tempat dua sejoli tadi seolah menunjuk pada Priya.


Levin mengangguk mantap.


Mauren membelalakkan matanya. Ia telihat tidak percaya dengan jawaban itu.


Priya Zisha, ia adalah gadis baik disekolah, menurut orang-orang. Bahkan, guru-gurupun menyukainya, ia saja bersekolah disana karena mendapatkan beasiswa. Ia termasuk primadona, selalu di elu-elukan murid-murid. Bahkan, banyak para cowok yang berusaha mendekati Priya.


"Aku tidak percaya."


Levin menatap dalam Mauren, "Aku tidak pernah menyuruhmu percaya." Katanya dengan tajam


Mauren meneguk ludahnya kasar.


-


-


-


Olaa aku hadir lagi^^ maaf bila terdapat banyak typo, maklum saja ini karya pertamaku:'v


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen. Terimaksihh❤

__ADS_1


__ADS_2