Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[24]. Sedikit Terharu


__ADS_3

..."Aku senang akhirnya aku diakui. Walau pengakuan itu terhalang gengsi."...


...—Mauren Nathania—...


-


'Deg'


Bagaikan tersambar petir siang bolong. Mauren terkejut mendengarnya. Demi apa seorang Kaka yang membencinya mendadak berujar demikian.


Selain Mauren, sahabat Deron juga terkejut mendengarnya. Tidak biasanya cowok itu belaku seperti itu.


Deron yang tersadar akan ucapannya sedikit gelagapan. Dia berdehem sebentar, membuang muka ke arah samping. "Sial." Katanya.


"Maksudku..." Deron menatap sahabatnya kembali, "Bagaimana pun, Adam tidak salah membela Mauren. Karena apapun sifat Mauren dia tetap adikku." Ralat Deron.


Mereka mengangguk membenarkan.


"Kukira kau sudah mulai memihak adikmu." Celutuk Ivan dengan gamblang. Memang, Cowok itu sangat tidak menyukai Mauren, jadi siapapun diantara mereka sudah tidak heran mendengar bila ia mendadak memojokkan Mauren.


Dengan tenang Deron berujar, "Tidak. Biasa saja."


Levin, Adam, dan Mauren tau perkataan itu hanya alibi Deron. Padahal nyatanya, mata pria itu tidak dapat berbohong. Tampak dengan kentara kebohongan disana.


"Sudah Adam, biarkan saja mereka pergi." Ucap Deron sembari memandang Meta dan Nindira.


Mengangguk, Adam hanya menatap mereka dengan dingin. "Kali ini kalian lepas. Awas kalau sekali lagi mencari gara-gara dengan Mauren."

__ADS_1


Meta dan Nindira berlalu sembari menghentakkan kaki mereka dengan kesal.


"Jadi, ngapain kau kesini?" Celutuk Adam.


Mauren yang sedari tadi terdiam dalam lamunanya, sontak menatap Adam. "Tadi nyariin Arnold. Kebetulan aku melihat temanmu Rara, jadi aku memanggilnya. Eh, tau-tau aku langsung digosipin." Cerita Mauren panjang lebar.


Adam hanya mengangguk.


"Kayaknya Arnold bolos ya?" Tanya Mauren.


Mereka tak menanggapi. Tentu saja, sebagai sahabat baik Arnold, mereka tidak akan memberi tahu tentang sahabatnya itu. Takut-takut Mauren malah mendatangi Arnold ke tempatnya. Karena, mereka paham gadis itu cukup berani orangnya.


"Ish..." Mauren menggerutu saat mereka hanya memilih mencukkan dirinya.


Mauren hendak berbalik badan keluar dari kelas mereka, Namun teriakan yang memekakan seorang gadis menghentikan langkah Mauren.


"Apa?" tanya Mauren dengan malas.


"Bu Lolita manggil tauk. Aku capek mencarimu tadi. Bahkan chatku saja tidak kau balas."


Ucapan Bella membuat Mauren meringis ditempatnya. Ia lupa menghidupkan ponsel miliknya.


"Wah, Ada Neng Bella." Ivander merangkulkan tangannya pada bahu Bella.


Bella menatap sengit Ivan. Lalu menghempaskan tangan pria itu dari bahunya. "Apa kau rangkul-rangkul?! Mau tanganmu kupatahkan?!" Sentaknya.


"Duh, galak amat calon pacar."

__ADS_1


"Ngeri. Buayanya kumat." ujar Penira dari sebelah Bella.


"Eh, ogeb. Kau tidak tau ya, menurut peneliti buaya adalah salah satu hewan paling setia. Seperti kesetiaanku hanya pada Neng Bella." Gurau Ivan.


"Idih najis." Bella menoyor kening Ivander.


Mauren menatap geli Ivan. Namun seperti biasa gadis itu tetap bergeming ditempatnya. Namun, ekor matanya tak sengaja melirik Deron yang ternyata tengah menatap dirinya dengan senyum yang cukup aneh menurut Mauren.


Mauren menetralkan wajahnya. "Bell, Ra, ayo kita datengin bu Lolita."


Dengan cekatan Mauren langsung saja menyambar kedua pergelangan tangan sahabatnya itu.


Selanjutnya ketiga gadis itu meninggalkan kelas XII itu begitu saja.


Sementara Levin, alih-alih menatap Mauren seperti biasanya, malah dirinya sedikit terusik akan tatapan Deron yang sedari tadi memandang Mauren dalam diam.


Levin sadar tatapan Deron. Tatapan sahabatnya itu, seperti bukan tatapan abang pada adiknya, namun.. seperti tatapan seorang pria yang jatuh cinta pada seorang gadis.


-


-


**Pasti makin aneh ya? :v


Maaf ya.., karya pertama hehe..


Jgn lupa dukungannya ❤**

__ADS_1


__ADS_2