Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[09]. Diturunkan di Pom Bensin


__ADS_3

Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)


..."Manusia memang punya akal dan pikiran beserta hati, namun banyak yang tidak menggunakannya."...


-


"Ciiitttttt"


Decitan ban mobil yang berhenti mendadak.


"Hah ... hah ... hah ...." terdengar nafas Mauren yang ngos-ngosan di mobil. Gadis itu memegang dadanya yang kini sudah dipastikan jantungnya berpacu cepat. Retinanya menatap Cowok disebelahnya -Levin dengan kesal lantaran cowok itu menghentikan mobilnya secara spontan.


Lihatlah wajah cowok disebelahnya ini. Sok cool, tidak ada raut kekesalannya setelah hampir membuat Mauren mati kena serangan jantung.


"Kau memang berniat sekali  membunuh ku?" Sentak Mauren. "Setelah memberiku pisau, sekarang malah mengajak mati dengan mobil."


Levin memilih diam lalu membuka jendela mobil. Kini mereka sudah berada di depan pom bensin. Levin menatap sebentar Mauren lalu menggerakkan dagunya ke luar tepat di pom bensin.


"Sudah bisu?" rasanya amarah Mauren ingin meledak sekarang juga. Sialan! seandainya ia cowok, ia akan menerjang Levin dan menghajarnya membabi -buta, menghajar wajah sok coolnya itu.


Levin mentap datar Mauren. "Turun."


"Hah?"


Mauren sedikit heran melihat sifat Levin yang menurutnya 'aneh' bagaimana tidak aneh? Terkadang Levin tidak cuek dan terkadang cuek.


"Turun."


"Maksudmu bagaimana, sih? Oh ... aku paham, kau ingin menyuruh ku membelikan minyak untuk mobilmu begitu? Masukkan sajalah mobilnya kedalam, kenapa harus aku yang turun terus bawa-bawa botol tempat minyak. Kan tidak etis sekali." Gerutu Mauren kelewat percaya diri.


"Kau terlalu berisik dan percaya diri. Turunlah," kata Levin tajam.


"Kau menyuruh ku turun untuk apa? Yang jelas dong!" Kini suara Mauren sudah naik satu oktaf. Levin benar-benar menaikkan emosinya, dari pertama bertemu dan bahkan sampai sekarang. Berhadapan dengan Levin Malacy benar-benar menguras emosinya. Baiklah Mauren, sabarkan dirimu ... makhluk pemicu emosi bukan hanya Levin, ada banyak lagi jenisnya.


"Turun sendiri atau aku yang seret?"


Mauren membelalakkan bola matanya, kini gadis itu sudah paham maksud dari perkataan Levin. "KAU MENYURUH KU TURUN?! KAU TIDAK WARAS YA?!"


"Hanya Dress saja kan?"


Mauren mengernyitkan keningnya. Ia tak paham.


"Dressmu saja yang kotor kan?" Mauren mengangguk ragu.


"Yasudah, sekarang turunlah. Di pom bensin ada kamar mandi. Aku sudah bertanggung jawab dan urusan ku sudah selesai denganmu," ucap Levin tak terbantahkan.

__ADS_1


Mauren terbelalak. Ya, ampun ... bolehkah dirinya menghajar habis manusia satu ini? tega sekali Levin menurunkannya disini.


Mauren  menggelengkan kepalanya pusing. Baru kali ini dirinya bertemu cowok yang tak punya perasaan. Ralat, mungkin untuk yang kedua kalinya setelah Arnold.


Mauren membuang mukanya. Dirinya benar-benar kesal sekarang. Matanya kini sudah memanas, mungkin sebentar lagi air matanya akan jatuh lolos. Tidak tahan dengan yang terjadi sekarang dan takut-takut Mauren malah menangis di saat seperti ini gadis itu memilih meninggalkan Levin.


Dengan kasar dan mata yang mulai memerah menahan bendungan air mata gadis itu membuka knop mobil, "Thanks buat tumpangannya," kata Mauren setelahnya gadis itu menutup kasar pintu mobil.


'Blam.'


Levin menatap Mauren datar. "Ok," katanya lirih.


-


"Cih. Cowok itu benar-benar membuatku naik darah." Mauren menatap kepergian mobil yang membelah jalan raya itu yang dikendarai oleh Levin.


Setitik air matanya jatuh, "Aa njir! paansi ini mata. Kenapa aku cengeng banget, ya hari ini?" tuturnya dengan melap matanya kasar.


Mauren menatap pom bensin yang cukup ramai itu. Malam memang belum terlalu larut saat ini namun udara dingin angin malam membuat bulu kuduknya merinding. Mauren mengurungkan niatnya meminjam kamar mandi di pom bensin terusebut. Ini sudah gelap, kan tidak lucu saat ia memilih kekamar mandi, tahu-tahunya matanya menangkap seluet bayangan. Ah, memang lebih baik ia pulang, lagi pula dress nya tidak terlalu kotor.


"Ihh ... mau pulang. Mau pulang," ucap Mauren sembari memerhatikan jalan raya. Netra gadis itu celingak-celinguk guna mencari taxi.


'Tinn ... tinn ....'


Perkataan Mauren seolah menadapat jawaban kali ini.


"Mauren? Kamu itu nak?"


Suara itu sangat tak asing di pendengaran Mauren.


"Lho, tante?" Mauren menatap heran Lila- mama Arnold yang kini berdiri di depannya. Kenapa bisa tidak sengaja begini ketemunya? Diwaktu yang tepat pula.


"Ya, Tuhan, Mauren kamu ngapain disini, nak?" Lila mendekat pada Mauren selanjutnya wanita itu memegang kedua baru Mauren dan menghadapkannya ke depan dirinya.


Lila memperhatikan Mauren dari atas sampai bawah. Takut-takut ada yang luka padanya, atau telah terjadi sesuatu.


Mauren menatap kikuk Lila. Tampak gadis itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Hm ... anu ... itu ...."


"Ayo ikut tante masuk. Biar tante yang anter ya?" Mauren mengangguk karena menurutnya sudah tak ada pilihan lain selain ikut dari pada gadis itu terus berdiam diri di depan pom bensin.


Didalam mobil dapat Mauren Lihat Om Roy, tersenyum kecil padanya. Mauren hanya membalasnya dengan canggung.


"Tadi, Arnold jahatin kamu, nak?" Roy membuka suara.


Mauren menggeleng, "Enggak kok, Om. Aku gak diapa-apain."

__ADS_1


'Iya, gak dilukai secara fisik, tapi hatiku yang disakitin, Om' dan tentu saja ini hanya diucapkan Mauren dalam hati.


Lila menatap kasihan Mauren, ia merasa tidak tega. Setelah semua yang terjadi menimpa gadis itu, kini anaknyapun menyakitinya.


Sepersekian detik, mobil yang mereka naiki hening. Tidak ada yang membuka suara, hingga Lila teringat sesuatu.


"Mauren, kamu kenal Arnold 'kan disekolah?" Mauren mengangguk. "Kenal kok, tante. Kenapa, Tan?"


Kening Lila sedikit mengerut seolah tengah berfikir, "Arnold disekolah punya pacar gak?"


Rasanya Mauren akan tersedak air liurnya sendiri saat mendengar pertanyaan Tante Lila. Mauren bingung ia harus menjawab apa. Bisa saja ia menjawab, 'ada tante, tadi pagi baru aja jadian.' tapi, yang membuat Mauren khawatir bagaimana bila jadian mereka hanya pura-pura agar dirinya menjauh?


Mauren berfikir, cari aman jauh lebih baik. "Maaf, tante aku kurang tahu."


Lila mengangguk, "Tante kira tahu." ia terdiam.


"Sebenarnya, mau Arnold punya pacar atau enggak, punya orang yang disukai atau enggak, tetap saja perjodohan kalian akan berjalan," lanjut Lila lugas.


"Kenapa begitu, tan?" tanya Mauren heran.


"Nanti juga kamu tahu Ren apa alasan tante menjodohkan kalian. Tapi apapun itu, Tante dan Om Roy ingin yang terbaik untuk kamu."


Mauren mengerutkan keningnya. Perkataan Lila seolah mempunyai arti terselubung, seolah-olah Lila adalah ibu kandungnya hingga berujar sedemikian. Tapi bukankah itu mustahil? Ibunya kan Mama Amel. Tapi, kenapa tante Lila seolah tahu apa yang terjadi padanya?


Mauren tersentak dari lamunanya saat Lila memegang bahunya lembut.


"Udah sampai, sayang."


Mauren menatap Lila dan Roy sembari tersenyum, "Tante, makasih ya sudah mau ngantarin aku pulang."


"Luan ya om luan tante. Mauren masuk dulu," kata Mauren sembari tersenyum. Akhirnya ia sampai juga dirumahnya setelah apa yang terjadi.


Sebelum Mauren benar-benar pergi, Lila berujar, "Mauren maafin anak tante ya, sayang?"


"Iya tante. Gak pa-pa, Mauren sudah memaafkan Arnold kok, tante."


Lila menatap mata Mauren kala gadis itu berbicara, Lila tentu saja mencari ketulusan di sana dan dirinya menemukan itu. Mauren benar-benar tulus memaafkan kesalahan Anaknya.


'Baguslah, nak ... kamu tumbuh menjadi gadis yang baik.' batin Lila memperhatikan Mauren dengan tatapan teduhnya.


-


Haii^^


Maaf aneh :'

__ADS_1


Jgn lupa tinggalkan jejaknya ya❤


__ADS_2