
Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)
..."Jika aku hanya bisa memelukmu dalam mimpi, mungkin aku akan terus bermimpi."...
-
"Maaf maaf saya telat. Au ...." Mauren yang buru-buru sontak terjatuh saat tak sengaja menabrak punggung seseorang. Ia kelabakan.
"Maaf aku tidak sengaja," kata Mauren yang langsung berdiri dan sembari mengibas-ibaskan dress-nya yang sedikit kotor.
Saat membersihkanya matanya tak sengaja melihat sosok cowok didepannya sontak saja Mauren membelalak kala ia melihat Arnold didepannya, orang yang tak sengaja di tabraknya tadi.
"Arnold? Bagaimana bisa kau disini?"
Arnold mengernyitkan keningnya. Ia mendadak bingung apa yang terjadi.
"Ah ... Mauren Mauren." Amel berdiri dan memegang kedua bahu Mauren seraya mendudukkan gadis itu tepat disamping Arnold. Suara wanita paruh baya itu mendadak ramah, mencari muka. Tentu saja.
"Mama belum bilang ya?"
"Bilang apa?"
"Yang mau dijodohin sama kamu itu ya Arnold. Anaknya tante Lila, temen Mama."
Mauren yang mendengar pernyataan itu sontak membelalakkan matanya, bukan hanya dirinya bahkan Arnold juga ikut membelalakkan matanya. Mereka benar-benar tidak menyangkanya. Dan ... hey, ini tidak dapat dipercaya.
"Ma ... mama bohong kan?" tanya Mauren hati-hati. Dirinya masih tidak percaya. Apakah ia boleh senang sekarang? lihatlah takdir tiba-tiba saja mempertemukan mereka seperti ini. Ini benar-benar mengejutkan untuk dirinya.
"Apa yang dibilang mama kamu bener sayang. Dan tante berharap kamu menyanggupinya ya ... tante berharap banget kamu mau," sahut Lila dengan mengelus tangan Mauren.
Arnold yang duduk ditempatnya menyugarkan rambutnya kasar. Mimik mukanya menampilkan wajah suram. Kejadian seperti ini diluar akal Arnod ia tidak pernah menyangka sebelumnya.
"Ma, mama yakin ini yang mau di jodohin sama aku?" Ucap Arnold dengan wajah yang tampak kesal.
"Aku tidak mau di nikahkan sama cewek kayak dia, Ma! Aku tidak suka!" Sontak kedua keluarga besar itu langsung saja melihat ke arah Arnold yang menggebrak meja sembari berdiri.
__ADS_1
Mauren memilih menundukkan kepalanya sembari memilin ujung bajunya. Hatinya benar-benar sakit atas apa yang telah di katakan Arnold barusan. Ia ditolak, lagi ...
"Arnold!" Bentak Lila.
Dengan raut wajah kesal, Arnold mengambil kasar handpone nya yang terletak di meja setelahnya cowok itu berlalu meninggalkan mereka yang kini menatap Arnold dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Arnold kamu-" Lila berdiri hendak mengejar Arnold namun tangannya di tahan oleh Roy.
Roy menginstruksikan Lila agar kembali ke tempat duduk. Lila dengan wajah menahan marah memilih mendudukkan dirinya, rasanya emosinya ingin meledak begitu saja. Anaknya benar-benar tidak sopan dan memalukan dirinya di depan teman lamanya sekaligus teman bisnisnya.
"Anak itu benar-benar ..." gerutu Lila.
"Mauren ..." Mauren mendongak menatap Roy yang memanggilnya. "Kejar dia, Nak." Mauren mengangguk.
"Iya, om."
"Kenapa harus Mauren, Roy? Nanti mereka bertengkar bagaimana?" tanya Lila khawatir.
"Enggak. Percaya sama saya. Lagi pula mereka perlu pendekatan secara pribadi, biar semakin mengenal satu sama lain," ucap Roy lugas. Lila menggangguk mengerti, betul juga.
"Arnold!" Mauren berlari kecil dan hati-hati, takut-takut ia terjatuh apalagi saat ini gadis itu menggunakan hells jadi sangat tidak memungkinkan untuknya berlari cepat.
Beberapa orang memperhatikan Mauren karena suara gadis itu yang cukup kuat.
"Tunggu! Tunggu Arnold!" Mauren dengan bersusah payah mengejar Arnold dan akhirnya jari-jemari gadis itu hinggap di pergelangan tangan Arnold. Dan kini, Arnold berbalik menatap dirinya, pria itu menghentikan langkahnya.
Arnold menatap tajam Mauren. Kilat kebencian tampak dari wajahnya, dengan kasar ia menghempaskan genggaman tangan Mauren pada pergelangan tangannya sehingga mampu membuat gadis di depannya terkejut.
Kini keduanya berada tak jauh dari parkiran restoran.
"Jangan pernah tangan kotormu itu menyentuhku! Aku jijik pada orang yang tidak tahu malu sepertimu." ucap Arnold tajam.
Mauren menatap terluka Arnold. Rasanya gadis itu ingin menangis saja.
"Ar, aku ... aku tidak tahu kalau saja orang yang akan dijodohkan sama ku itu kamu."
__ADS_1
"Halah, bullshit!" ucap Arnold tidak percaya. Coba kasih tahu, bagaimana ia bisa percaya?
Mauren mengejar-ngejar dirinya, pasti gadis itu merengek pada orang tuanya agar dijodohkan dengannya.
Selanjutnya Arnold berbalik meninggalkan Mauren namun tangan gadis itu menahannya untuk yang kedua kalinya.
"Kau kenapa, sih, tidak bisa mempercayai ku? Sumpah, Ar, aku juga sepertimu. Tidak tahu apa-apa, bahkan tadi saja pas mama bilang kita mau dijodohkan aku heran," tutur Mauren meyakinkan.
"Aku? Percaya sama orang sepertimu? Anak TK saja kau ajak bicara aku yakin pasti mereka juga tidak akan percaya pada apa yang kau katakan. Karena kau itu penuh tipu muslihat! Licik! Sampah, tahu tidak?!" Bentak Arnold seraya menunjuk-nunjukkan jarinya tepat di depan wajah Mauren hingga membuat gadis itu sedikit membuang muka.
Orang-orang yang tak berada jauh dari mereka, kini mengalihkan atensi pada sosok Arnold dan Mauren yang bertengkar layaknya sepasang kekasih. Tak jarang beberapa orang berbisik-bisik membicarai mereka.
"Ar, katakan padaku kalau kata-katamu barusan itu tidak benar." Mauren menatap Arnold berkaca-kaca, tampak raut tak peercaya pada wajahnya. "Bilang, Ar."
Mauren sangat sakit hati.
"Iya! Kau itu penuh tipu muslihat! Karena aku menolakmu tadi siang langsung saja kau menyuruh mama mu untuk ngejodohin kita 'kan? Licik! Cara mu terlalu murahan!"
Arnold pergi berlalu meninggalkan Mauren dengan emosi yang tak tertahankan, sementara Mauren kini sudah menangis. Mauren tak lagi menahan pria pujaan hatinya.
Ditemani angin malam yang menjadi saksi bisu penolakan secara spontan oleh Arnold yang kini menemani malamnya Mauren. Gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya, tak bergemening sedikit pun. Pikirannya kini berkecamuk, semua masalah-masalah yang di hadapinya berputar di pikirannya layaknya kaset-kaset rusak. Dari perlakuan Amel padanya, ketidak pedulian Deron dan papanya- Jimmy, sampai pada semua perkataan yang dilontarkan Arnold padanya. Kini semua itu berputar dikepala gadis cantik dengan dress selutut itu.
Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan masalah hidup serumit sekarang. Dan perkataan Arnold barusan seolah menampar dirinya, menampar semua sifat buruknya.
Perlahan pergerakkan kecil datang dari leher Mauren. Gadis itu mendadak menggelangkan kepalanya pelan, "Semua yang di ucapin Arnold itu tidak benear. Iya, tidak benar. Aku tidak licik, dan tidak penuh tipu muslihat. Iya aku yakin," lirih Mauren.
Di tatapnya mobil Arnold yang keluar dari restaurant, "Tapi, sepertinya emang penuh tipu muslihat."
Mauren menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Hidupnya benar-benar rumit dan tidak tertebak. Ia merasa seakan dipermaikan oleh takdir.
"Teruslah begini, sampai aku capek dan memilih mengakhiri hidup sendiri. Tidak ada satu orangpun yang menginginkan aku tetap hidup. Mereka semua jahat. Papa, Mama, Bang Deron, Arnold, bahkan disekolah banyak yang tidak menyukai ku," monolog Mauren dengan senyum mirisnya. Semiris nasibnya.
-
Maaf belepotan, karya pertama hehe.
__ADS_1
Jgn lupa dukungannya ya❤