
..."Kata orang-orang, kebahagiaan pertama kali kita rasakan berasal dari keluarga. Tapi orang-orang juga lupa, bahwa torehan luka pertama kali berasal dari keluarga juga."...
-
Sekarang, disinilah Mauren berada. Di apartemen millik Arnold. Gadis itu di boyong ke sini setelah beberapa jam lalu pernikahan mereka di gelar.
Jangan kira, mereka menikah seperti khalayak umum biasanya. Acara diadakan mewah ditempat gedung, banyak orang-orang yang diundang, dan satu lagi, jangan kira acara mereka diselimuti senyum bahagia seperti pernikahan pada umumnya. Semuanya itu pengecualian di acara nikahan Mauren dan Arnold. Pernikahan mereka hnaya dilakukan di halaman rumah tante Lila dan hanya dihadiri beberapa kerabat sebagai saksi keduanya telah dipersatukan dalam ikatan yang samer
Mauren hanya tersenyum miris melihat nasib buruknya. Selama hidupnya, hanya beberapa kali ia merasakan bahagia dan semua itu bisa dihitung dengan jari.
Selain ingin sekali memiliki keluarga harmonis, dulu Mauren juga menginginkan pernikahan yang harmonis. Penuh cinta di dalamnya, bukan paksaan seperti sekarang. Karena, jujur saja, Mauren sangat takut bila hubungan pernikahannya tidak berlandaskan cinta. Ia takut, keluarganya hancur dan berdampak pada anak-anaknya kelak.
Orang yang menikah karena cinta saja sering mengalami perceraian. Apalagi mereka yang tanpa cinta.
Mauren menarik nafasnya kasar. Besar harapan gadis itu semoga saja pernikahan ini bertahan hingga mereka menua. Mauren tidak ingin mengalami perceraian. Ia sangat berharap besar pula, semoga Arnold dapat luluh padanya dan mereka dapat bersama selamanya. Tentu saja, menua bersama-sama.
"Sebenarnya aku bingung harus seperti apa aku menghadapi semua ini. Semua terjadi secara mendadak, pernikahan. Bahkan, aku tak pernah menyangka aku menikah di umur yang masih sangat belia," monolong Mauren sembari mentap langit-langit kamarnya yang berada di apartemen Arnold.
"Bulan bersinar ... Tunjuk kekuatan, balikkan waktu, balikkan milikku ...." Mauren menyanyikan sedikit lagu dari disney Entangled itu. Lagu yang secara spontan itu mengingatkan Mauren pada semua masalahnya. Mauren ingin ia mempunyai kekuatan menghadapi persoalan hidupnya, Mauren ingin membalikkan waktu ke sepuluh tahun silam sesaat sebelum adik perempuannya meninggal. Mauren ingin apa yang pergi darinya dikembalikan sesegera mungkin. Tapi, ia sadar itu sangat mustahil.
Mauren merenung terus dengan menatap nanar langit-langit kamar miliknya.
Entah kenapa, tiba-tiba saja tanpa bisa dibendung cairan bening keluar dari pelupuk mata Mauren. Air mata itu turun terus-menerus dan Mauren pun tidak menghalanginya atau mengusapnya. Ia membiarkan tangisan itu keluar bersama perih di dadanya.
"Aku merindukan Ibu." Sebuh cuplikan yang berasal dari mimpinya sanggup membuatnya hingga ia pusing sendiri. Kata-kata itu masih terngiang dalam pikirannya. Padahal itu sudah beberapa hari yang lalu. Dan, beberapa hari yang lalu pula mimpi itu terjadi secara berturut-turut.
__ADS_1
Sampai sekarang Mauren sebenarnya heran, siapa yang ia rindukan? Ibu? Bukankah ia sering melihat mama Amel?
Dalam mimpi tersebut Mauren dapat mengingat jelas yang berkata tentang rindu itu adalah dirinya sendiri. Ia, sedang berada di sebuah taman yang sangat cantik dan tiba-tiba saja ia bercelutuk "Aku merindukan, ibu."
"MAUREN!"
"Astaga," Mauren terlonjak kaget. Segera mungkin ia bangun dari tidurnya.
"Kenapa?"
"Kenapa-kenapa! Lo gak liat noh apart gue berantakan. Lo gak becus banget ya, jadi babu!" bentak Arnold yang baru saja keluar dari luar membeli makanan.
Mauren menggeleng heran. Harga dirinya sedikit tersentil.
"Babu? Sejak kapan aku jadi babu kamu Ar!"
Mauren menegang.
Arnold tersenyum sinis. "Jangan berharap setelah menikah denganku, kau bisa mendapatkan kisah yang romantis layaknya pengantin baru."
Mauren mentap tak percaya, "Kau memang jahat, Ar."
"Emang. Biar kau sadar, orang yang kau harapkan tidak pernah mengharapkan kehadiran mu."
Mata Mauren menitik kembali, setitik tangis jatuh hinggal luruh ke pipinya. Perkataan Arnold begitu menyakiti hatinya, bagaikan tertusuk ribuan jarum. Sesak sekali rasanya.
__ADS_1
Mauren berusaha menerima saat orang-orang di dekatnya menghina dirinya, bahkan orang tuanya sekalipun. Tapi satu yang dirinya minta, tak bisakah Arnold memberi sedikit perhatian pada gadis menyedihkan sepertinya? tak adakah kebahagian untuk dirinya?
Arnold membuang muka saat matanya bertubrukkan dengan netra milik Mauren yang berkaca-kaca.
"Kamar di apart ini cuma 1. Dan aku tidak ingin satu kamar dengan mu. Silahkan, kau tidur di sofa atau dimanapun."
"Apa maksud kamu, Ar?"
Arnold memutar balik tubuhnya, duduk di meja belajar miliknya sembari membuka makanan yang baru saja dia beli.
"Aku tidak sudi satu kamar denganmu, paham?" Ucapnya.
Mauren menatap nanar Arnold. "Jadi, aku tidur dimana lagi?"
"Kau memang bodoh. Sudah kukatakan, tidurlah di sofa atau dimanapun. Terserahmu. Dan itu bukan urusanku."
Mauren memilih mengalah tidak ingin memperpanjang perdebatan. Ia bangkit, diambilnya handuk miliknya dan berjalan menuju kamar mandi yang bertepatan berada di luar kamar.
Mauren hanya bisa bersabar. Lihatlah cowok itu, bahkan saat ia membeli makanan saja, Arnold tidak memikirkan Mauren. Ia makan sendiri, menawari pun tidak, padahal Mauren tahu Arnold membeli makanan cukup banyak.
"Mulai sekarang aku harus bisa ekstra sabar, ternyata," lirih Mauren.
-
-
__ADS_1
-