
..."Manusia itu bisa mengecewakan. Jadi, janganlah berharap lebih pada mereka."...
-
Sesuai perjanjian sedari awal, kini Mauren sudah berada di butik Namun, gadis itu, berjalan mundar-mandir tepat di depan kursi tunggu. Sudah hampir satu jam berlalu dirinya menunggu kehadiran Arnold di butik ini. Tapi, bahkan cowok itu tidak menunjukkan dirinya.
Dengan harap-harap cemas Mauren menunggu, takut-takut Arnold melupakan janjinya tersebut.
Mauren melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Sudah hampir jam tiga."
"Mauren, duduk nak, tante lihat sedari tadi kamu mundar-mandir. Ada apa, sayang?"
Mauren menggaruk tengkunya yang tak gatal. Gadis itu menyegir, "Maaf tante. Aku agak gelisah nungguin Arnold. Aku takut dia tiba-tiba membatalkannya."
Citra tersenyum tipis. Citra dapat mengetahui seberapa besar cinta Mauren pada Arnold. Gadis itu bahkan terlihat tulus mengatakannya.
"Huss ... kamu ini. Jangan pikirin yang enggak-enggak. Duduk sini, kita tunggu keponakan tante yang nakal itu." Citra menepuk tempat di sebelahnya.
Saat Mauren hendak duduk, tak sengaja ia melihat Arnold yang sudah tiba.
"Arnold." Mauren langsung mernghampirinya.
"Sore tante," ujar Arnold sembari menyalam Citra tanpa memperdulikan panggilan Mauren. Tentu saja Mauren sudah kebal.
Citra bediri, "Ayo kita lihat baju kalian."
Tak berapa lama setelah mereka selesai, Arnold dan Mauren izin pulang pada Citra sembari menyalami tantenya itu.
"Hati-hati, kalian, ya. Arnold jangan sinisin Mauren terus. Kasihan," nasehat tante Citra yang hanya dibalas senyum tipis Arnold.
Kini Arnold dan Mauren sudah berada di dalam mobil. Dengan wajah malas Arnold melirik Mauren yang duduk disebelahnya.
Sebenarnya cowok itu malas sekali jika mengantar balik Mauren. Rasanya duduk disebelah Mauren saja ia jijik. Kalau bukan karena paksaan Mamanya ia benar-benar tidak akan mau mengantar Mauren.
"Kenapa kau senyam-senyum seperti itu? Kerasukan?" Tanya Arnold memcah kesunyian beberapa waktu lalu.
Mauren memilih ujung rambutnya kemudian ia mengalihkan tatapannya keluar mobil. "Aku hanya senang. Setelah penantian setahun lalu, akhirnya aku bisa pulang bareng kamu. Duduk dimobil kamu, disebelah kamu, walaupun harus secara paksa begini."
Arnold menatap datar Mauren. "Lebay."
__ADS_1
Terdengar kekehan lembut dari gadis itu. Dialihkannya tatapannya dari luar dan menatap Arnold. "Kamu gak tahu aja rasanya duduk sama orang yang kamu cintai."
'Deg'
Arnold merasakan jantungnya sedikit berdegup. Ah, bisa-bisanya ia jadi malu begini. Padahal Mauren sudah sering menyatakan perasaan padanya.
"Rasanya menyenangkan, menenangkan. Bahkan bila bersama orang terkasih, beban yang kita miliki seolah meluap. Yang ada rasanya hanya ingin tersenyum dan tersenyum. Semenyenangkan itu."
Mendengar penuturan Mauren, ia mencengkram kuat setir mobil sembari membuang napas kasar. Sialan! Dirinya merasa grogi sekarang.
"Kasihan hanya kau saja yang ngerasa. Sedangkan aku tidak," sarkas Arnold sembari tersenyum angkuh.
"Gak pa-pa. Mungkin emang belum sekarang. Tapi nanti aku menjamin suatu hari nanti kamu kan suka dengan ku."
Tampak rahang Arnold mengetat. "Jangan berharap lebih. Aku sudah punya Priya. Bahkan aku tak pernah sedikitpun mengagumimu."
"Aku tahu." Mauren menarik nafasnya. "Tapi, nyatanya, Priya memang milikmu, dan kamu milik Priya, hanya sebatas itu tidak lebih. Karena nyatanya, ke akulah kamu akan menikah, Ar."
Arnold menatap nyalang Mauren, "Dan kau terlihat senang mengakui itu."
Mauren menikkan bahunya, "Aku hanya mengatakan kenyataannya. Kalian memang berpacaran, tapi ke akulah yang menjadi istrimu. Bila kita sudah menikah nanti, dan kamu masih tetap menjalin hubungan dengan Priya, artinya kalian telah berselingkuh. Jadi, bisa dikatakan bahwa, akulah yang seharusnya lebih berhak terus bersamamu dari pada Priya. Karena kita memiliki status yang sudah jelas."
"Perse-tan dengan itu. Kau jangan besar kepala, sadarlah, dengan aku yang tak pernah mencintaimu bisa saja aku menceraikanmu, Mauren Nathania."
'Dan bahkan sangat tahu.'
-
Mauren mengerutkan keningnya saat mobil Arnold menepi dan berhenti tepat di depan kafe.
"Ki-kita untuk apa kesini?" Mauren sedikit gugup. Takut-takut dirinya ditinggalkan lagi seperti beberapa waktu lalu, dan jika itu sempat terjadi tamatlah riwayat Mauren. Ia bahkan tidak memegang uang sekarang.
Arnold melepas seat belt miliknya sembari menatap sebentar Arnold. "Kita makan. Sans aku tidak akan meninggalkan mu lagi."
Mauren mengangguk riang dengan kedua sudut bibirnya yang turut tertarik. Ia kira kejadian beberapa waktu akan terulang lagi, tapi ternyata tidak. Lega rasanya.
"Ar, kita seriusan makan disini?" Arnold mengangguk. "Kenapa gak di warteg aja? Lebih banyak porsinya, dijamin kenyang," lanjut Mauren.
Arnold mendadak terhenti. Ia menatap Mauren tajam hingga membuat gadis itu meneguk ludah kasar. Sepertinya Mauren salah bicara.
__ADS_1
Arnold langsung membuang muka. Segara ia berjalan masuk meninggalkan Mauren. Tanpa Arnold sadari ia tersenyum tipis.
"Dia ternyata berbeda juga dengan kebanyakan gadis lainnya. Bahkan, Priya saja tidak suka diajak makan di warteg dan kaki lima. Tapi, Mauren berbeda."
"Ar, tuggu aku!" Mauren berlari kecil mengejar Arnold.
Kini keduanya mengambil duduk di tempat paling sudut yang berdekatan dengan jendela kafe. Mauren menatap daftar menu dengan wajah berseri-seri. Pertama semobil dengan Arnold, kedua diajak makan, walaupun Arnold terpaksa karna cowok itu lapar. Dan tentu saja Mauren tak perduli, intinya ia diajak makan! Makan bareng! Kesempatan yang jarang gadis itu dapatkan.
"Udah belum? aku juga mau milih nih." Arnold menyilangkan tangan didepan dada. Sedari tadi Mauren cekikikan sambil menatap dafatar menu.
Mauren meletakkan daftar menunya seraya menmpilkan deretan giginya. "Sorry. Btw, aku pesen roti oreo aaja." Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Akibat sibuk dengan pikiran dan kesenangannya Mauren tak menghiraukan Arnold.
"Yakin itu aja?" Mauren mengangguk.
Setelah memesan pada pelayan, Mauren sedikit bosan. Beginilah, kalau makan di kafe, kita pesan sedikit saja hidangannya sangat lama selesai.
"Lamanya minta ampun. Sampe lumutan aku menunggu." keluh Mauren.
Mauren memicingkan matanya saat tak sengaja menangkap seluet tubuh yang dikenalnya tengah dirangkul seorang pria paruh baya.
Mauren tersentak. "Priya."
"Priya? Kenapa dia?" Arnold bertanya heran dengan memalingkan netranya dari layar hp.
"Eh ... itu ... anu ..." Mauren gelagapan.
Mulutnya terasa gatal ingin memberitahu. Tapi ia takut Arnold tak percaya dan malah meninggalkannya sendirian di kafe, lagi.
Arnold menaikkan satu alis matanya.
"Gak pa-pa. Aku hanya teringat saja." Mauren tersenyum kaku.
Arnold hanya mengangguk kecil.
Beberapa saat kemuadian keduanya hening. Mereka berdua diam dengan pikiran masing-masing. Dan Mauren masih memikirkan perihal Priya tadi yang banyak menenteng tas belanjaan.
Priya disini sama om-om paruh baya? Apa itu bokapnya kali ya ... tapi kayaknya gak mungkin. Priya dirangkul udah kayak pacar sendiri, lagi pula gak mungkin itu bokapnya, mengingatkan bokapnya udah meninggal?
Mauren menepis pikirannya, sudahlah, lagi pula untuk apa dia ikut campur urusan orang lain. Masalah hidupnya saja sudah banyak. Mauren tidak berniat menambah pikirannya, lagi.
__ADS_1
-
-