Pernikahan Mendadak Anak SMA

Pernikahan Mendadak Anak SMA
[02]. Surat Misterius


__ADS_3

Happy Reading! (◍•ᴗ•◍)


-


'Kamu tau gak? Hawa diciptain dari tulang rusuk Adam kan? Seperti yang udah aku teliti, sepertinya kamu itu Adamnya aku. Karena ... menjauh darimu saja bisa buat tulang rusukku nyut-nyuttan, soalnya dia gak bisa bersandar sendiri. Tulang rusukku sukannya yander ke kamu seorang.


Hehe ....'


- P.H -


-


Arnold mengerutkan keningnya. Bibirnya melengkung menahan senyum. Namun sayang senyum itu tak mampu tertahankan, jadinya cowok itu tersenyum geli. Pagi-pagi dirinya sudah dibuat tersenyum terheran-heran.


Beberapa saat yang lalu Arnold mendapati surat berwarna pink dari lokernya. Surat dengan love yang berada ditengahnya. Tentu saja hal itu benar-benar menyuri perhatiannya. Ayolah, ia merasa seperti anak TK bila dikirimi surat berwarna pink. Tahukan kisah cinta anak TK dulu? oper-operan surat di cat pakai warna pink, lalu dilempar pada orang yang disukai. Memang lucu.


"Ngapa, Ar?" Arnold berbalik menatap Adam sembari menunjukkan surat ditangannya sembari cowok itu tersenyum geli.


"Wis si bos dapat surat cinta lagi," Adam berteriak heboh sembari tertawa kencang dengan kepala yang menggeleng kecil.


"Mana ... mana ... mana ..." Deron beserta Ivander segera menghapiri Arnold dan Adam kala mendengar Adam berteriak.


'Kamu tau gak? Hawa diciptain dari tulang rusuk Adam kan? Seperti yang udah aku teliti, sepertinya kamu itu Adamnya aku. Karena ... menjauh darimu saja bisa buat tulang rusukku nyut-nyuttan, soalnya dia gak bisa bersandar sendiri. Tulang rusukku sukannya yander ke kamu seorang.


Hehe ....'


- P.H -


"Buset, coceweett bapak." Adam kembali berteriak. Ia tertawa kencang.


"Gila banyak banget fansnya" Ivander geleng-geleng tak percaya. Tidak heran temannya itu memang tampan.


Deron menatap Ivander setelahnya ia tertawa, "Iyalah, Arnold mah gak kayak si Adam. Playboy cap kapak. Semua cewek dia embat, kalo Arnold mah enggak, cewek yang ngedeketin. Itu baru pro. Tapi serius, lucu isinya aku saja pengen ngakak terus pas baca." tutur Deron panjang lebar.


"Ye! Suka-sukaku dong, aku ganteng begini, sayang kalo tidak dimanfaatkan. Bilang aja kau iri! kau kan jomblo," sewot Adam dengan menoyor kepala Deron.


"Kayak dirimu tidak jomblo aja ya, broh," Deron menatap sinis Adam.


Sementara Levin salah satu sahabat Arnold yang pendiam layaknya batu. Memilih bersandar pada loker dan hanya mendengarkan perkelahian kecil temannya. Cowok itu benar-benar tidak perduli. Bodo amat dengan surat-surat misterius yang sering bertengger di loker Arnold.


Tapi, tidak dapat dipungkiri seseorang yang selalu mengirimi surat, apakah gadis itu sangat mencintai Arnold sehingga tak ada rasa bosan saat ia mengirim surat begitu? Levin antara geli dan kasihan, sebenarnya. Apa penganggumnya Arnold tersebut tidak sadar bahwa surat cinta itu akan dibuang ketong sampah?


Levin Malacy, begitulah orang-orang memanggilnya. Sifat yang pendiam sudah mendarah daging pada dirinya. Tak heran, orang mencap dirinya batu, kadang juga kulkas berjalan hanya karna ia tak pernah senyum. Oh jelas, senyum itu mahal menurut Levin. So, sayang sekali diberikan secara cuma-cuma.


Arnold tak begitu mementingkan surat di tangannya. Segeranya cowok itu membuang surat itu. Walau, sampai sekarang dia heran siapa gadis yang memberikannya surat ini? Dari kelas sepuluh hingga ia menginjak kelas dua belas orang tersebut tak henti-henti memberikannya surat. Surat cinta dan dengan inisial yang sama, P.H


"Lev, diem-diem bae. Apakah kau tidak ingin membaca suratnya gitu?" Deron menatap Levin dengan satu alis mata yang naik.

__ADS_1


"Gak." Levin memilih pergi meninggalkan mereka. Berjalan cool di lorong-lorong kelas.


"Bener-bener dah tuh bocah. Cueknya kelewat parah banget," kata Arnold.


"Gitu-gitu juga temen kalian," Ivander menghela nafas kasar.


"Temenmu juga ya dodol," ujar Adam sembari memainkan tali tasnya.


"Kalian kenapa malah berkelahi begini? Mending kantin. Makan kita, cussss," ajak Deron merangkul Adam dan Invander yang kebetulan berdiri dekat dengannya.


"Eh, eh, bentar, kalian percaya gosip-gosip yang udah beredar belum?" tanya Ivander menatap temannya satu-satu. Kini keempat cowok itu berbicara dengan bentuk melingkar. "Aku denger-denger dari grup lambe turah Levin itu gay," lanjut Ivander.


'Tak!'


'Tak!'


'Tak!'


Arnold menjitak kepala Ivander diikuti temannya yang lain.


"Emang bener dah, otakmu seperti emak-emak komplek! Ngajakin orang ngegosip trus, yang kau gosipkan mana temanmu sendiri!" Arnold memutar tubuhnya meninggalkan ketiga temannya.


"Dasar kawanan lambe turah!" Deron menyusul Arnold.


Beberapa murid yang memperhatikan mereka hanya bisa tersenyum geli. Tak ada yang berani tertawa, takut-takut malah dihajar oleh keempat cowok itu.


"Bro, saranku, nih, besok-besok ganti saja celanamu jadi rok. Cowok kok menggosipi orang!" Adam meninggalkan Ivander yang cengo ditempatnya.


'Plak'


"Bocah! Berani sekali kau menampar mulutku ya!" Ivander berteriak tak terima sembari memegang mulutnya.


"Sakit sekali. Memang gila."


-


"Pak Bejo sponsor tolak angin! Adam yang ganteng plus cool ini mau pesen miso! Yang pedes ya pak! Sepedes cibiran netizen!" Adam berteriak seraya memukul-mukul meja. Menambah kericuhan kantin. Setiap pagi, inilah kelakuan mereka, meramaikan suasana tentunya dengan hal-hal konyolnya.


"Pak Bejo tolak angin, saya mie goyang patah-patah ya, pak!" gantian Ivander yang berteriak.


"Eh, buset kayak ada aja mie goyang patah-patah, Van. Ada-ada saja kau, Van," sahut Deron menggeleng pelan. Teman-temannya memang tak ada yang waras.


Arnold menghampiri mereka dengan es oky jelidring di genggamannya.


"Maklum, Ron, orang hutan."


"Yaelah, Ar, kau tidak asik, ya. Temen sendiri juga dikata-katain. Sudah mirip seperti Ivan." Adam mulai menyantap miso yang barusan diantar Pak Bejo.

__ADS_1


"Widih enaknya ini miso dah. Ketagih aku. Sepertinya misonya di campur cintanya lucinta luna," kata Adam.


"Busett si LL disebut-sebut." Ivander merangkul Adam. "Fansnya LL ya? Ngaku!"


"Makin kesini teman-temanku semakin tidak beres," kata Arnold yang terus mengisap sedotan oky jelidringnya.


"Tidak waras juga," tambah Deron.


"Yaelah, aku beda, aku masih waras. Ya kali orang ganteng suka LL. Ngakak broh," kata Adam tak terima.


"Kau juga tidak waras, Ar, sukanya kok oky jelidring. Kaya bocah! Cocoknya kau itu suka si Mauren, baru benar," sahut Adam ngasal.


Memang Arnold sangat menyukai oky jelidring. Baginya tak meminum oky jelidring sehari sama saja seperti puasa minum air putih. Haha ... Arnold memang sedikit berbeda.


Arnold menatap sinis Adam. "Ambil sono si Mauren. Tidak berguna banget," gerutu Arnold kesal.


Ivander menggeleng, ia heran dengan Arnold, hanya karena gadis itu mendekatinya dengan cara yang cukup terbilang bar-bar, kenapa Arnold malah segitunya membenci Mauren?


Iavander mendekat ke arah Deron lalu merangkul bahunya ala cowok. "Gimana, bro? Si bangsul ngomongin adekmu tidak ada guna."


"Udahlah. Dia itu bukan urusanku." Deron melepas rangkulan Ivander. "Lagi pula, siapa yang tidak jijik sama Mauren. Malu sekali aku mengaku itu anak sebagai adek," curhat Deron.


Ivander mengangkat bahunya acuh. Lihatlah, entah kenapa Deron begitu membenci adiknya sendiri. Ivander memilih untuk cuek.


"Cantik gitu lho, Ar, kalau kau tidak mau mending untukku saja," celutuk Adam kala sudah menelan suapan terakhir misonya.


"Ambil sana."


"Nanti ku ambil kau malah nangis-nangis tidak terima," timpal Adam lagi.


"Bener banget, woii. Lihat ya, aku tebak Arnold ntar kayak kejadian di novel-novel itu, awalnya nolak ujung-ujungnya suka." tutur Ivander kencang dengan muka tengilnya.


"Kampret kau, Ivan! ngajak berantem bilang." Arnold menoyor Ivander, "Lagi pula ogah aku pacaran sama makhluk aneh kayak Mauren," ungkap Arnold dengan menampilkan wajah jijiknya.


Levin yang baru saja sampai di meja teman-temannya dan tak sengaja mendengar tuturan Arnold, segera saja cowok itu menyela. "Kemakan omongan sendiri mampus," katanya sarkas.


"Mampus. Ngakak," tentu saja Ivander tak dapat menahan tertawanya.


"Wes, udah main nyahut ae si dingin kita yah. Udah pintar dia masalah ginian, haha ...." kata Adam. Sementara Arnold memilih cuek.


Seseorang di antara mereka mengepalkan tangannya penuh geram. Ia seakan tidak terima.


Tidak ada satupun yang boleh memiliki Maurenya selain dirinya. Siapapun itu. Karena Mauren hanya miliknya. Mauren dilahirkan menjadi mate nya, selamanya. Disepanjang hidupnya.


-


Terimaksih untuk yang baca..

__ADS_1


maaf bila terdapat typo..


ini karya pertamaku, tolong tinggalkan jejaknya, ya.. ❤


__ADS_2