
Ceklek ....
Blug ....
Amanda keluar dari dalam mobil dengan tersenyum penuh percaya diri. Dia pun menghampiri Adryan dan kedua orang tuanya tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"Kamu? Mau ngapain kamu ke sini?" Tanya Nyonya Rosa membulatkan bola matanya.
"Apa kamu mengikuti kami tadi?" Tanya Tuan Adiwiguna merasa kesal.
"Maaf Om, Tante. Tadi saya hendak mampir ke rumah om dan juga Tante. Tapi, karena saya melihat mobil kalian keluar dari halaman, saya jadi mengikuti kalian dan berakhir di sini. Maaf ya, Tante." Jawab Amanda dengan wajah cengengesan.
"Astaga ... Kamu ini," senyum Nyonya Rosa sedikit dipaksakan.
Sementara itu, Adryan dan juga Kalista nampak menatap dengan tatapan tidak suka. Rencana bulan madu mereka berdua benar-benar berantakan dengan kedatangan wanita bernama Amanda.
Baginya, tidak masalah jika Putra dan juga kedua orang tuanya datang ke sana, akan tetapi kedatangan wanita itu benar-benar membuat mereka merasa kesal kini.
"Silahkan masuk Mom, Dad." Ramah Kalista mempersilahkan mertuanya masuk, sementara dia mengabaikan Amanda begitu saja.
Memang dasarnya tidak punya malu, wanita itu masuk begitu saja ke dalam rumah meskipun sang pemilik rumah sama sekali tidak mengharapkan kedatanganya.
Merek semua pun duduk di kursi ruang tamu.
"Mom, Dad. Kenapa aku gak di ajak ke sini? Padahal aku juga kangen sama rumah ini. Lagian, aku juga ingin membantu kalian bikin adik buat aku." Celetuk Putra dengan begitu polosnya.
"Hus, sayang. Hehehehe ..." Nyonya Rosa seketika tertawa renyah.
'Sial, bikin adik apaan? Ini anak kecil asal deh kalau ngomong.' (batin Amanda.)
"Maaf, sayang. Kami tidak bermaksud untuk tidak mengajak kamu, kami hanya--"
"Hanya ingin berduaan tanpa di ganggu." Celetuk Amanda memutar bola mata kesal.
__ADS_1
"Eu ... Selama ini kalian tinggal di sini?" Tanya Tuan Adiwiguna mencoba untuk mencairkan suasana.
"Iya, Dad. Kami sengaja mencari rumah di pinggiran kota agar--. Eu ... Kalian tau sendiri agar apa. Hehehehe ...'' Jawab Adryan tersenyum ramah kepada kedua orang tuanya.
"Iya-iya, kami tau alasannya. Supaya tidak ada yang tahu tentang pernikahan kalian 'kan?"
"Iya, Mom. Kami minta maaf."
"Tidak usah minta maaf seperti itu. Kami yang seharusnya minta maaf, karena sikap egois Mommy kamu ini, kalian harus melewati waktu selama tujuh tahun lamanya untuk menyembunyikan pernikahan kalian." Ucap Tuan Adiwiguna merasa menyesal.
"Iya, Mommy benar-benar minta maaf sama kalian. Sekarang, Mommy doakan semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek dan dijauhkan dari godaan.''
'Godaan aku maksudnya? Dasar nenek tua bangka.' (Batin Amanda seketika kembali kesal.)
"Terima kasih, Mom. Amiin ... Semoga saja kami dijauhkan dari godaan ulat bulu yang kegatelan." Celetuk Kalista melirik wajah Amanda seraya tersenyum menyeringai.
"Kamu menyindir saya?"
"Oh, kamu merasa tersindir? Bagus deh kalau begitu, itu artinya kamu masih punya muka." Celetuk Kalista lagi tidak mau kalah.
"Amanda, apa tidak sebaiknya kamu pulang saja? Tante takut kamu akan sakit hati lama-lama berada di sini.'' Pinta Nyonya Rosa mencoba sehalus mungkin.
"Tante, ko Tante tega ngusir aku seperti itu? Dari kota ke sini itu jauh lho, aku sudah berkendara selama lebih dari 6 jam, masa di suruh balik lagi?'' Rengek Amanda so manja.
"Suruh siapa kamu ngikutin mereka ke sini?" Ketus Adryan memutar bola mata kesal.
'Sial, aku harus mencari cara agar aku bisa tetap di sini dan membuat Adryan bertekuk lutut dihadapan aku,' (batin Amanda.)
"Tante, Om. Izinkan saya beristirahat di sini semalam saja. Besok pagi saya akan pergi dari sini pagi-pagi sekali. Lagian ini udah mau sore, kalau nanti saya kemalaman di jalan bagaimana?''
"Ini bukan rumah Om, Manda. Bukan rumah Tante Rosa juga. Jadi kamu harus izin sama pemilik rumah yaitu Adryan dan juga Kalista."
Amanda pun mengalihkan pandangan kepada Adryan, menjaga dengan tatapan mata mengiba.
__ADS_1
"Adryan, izinkan aku menginap di sini ya. Aku janji gak bakalan gangguin kalian ko. Aku hanya akan beristirahat di kamar dan gak akan keluar sedikitpun. Janji deh ....''
Adryan seketika mendengus kesal, dia pun menoleh menatap wajah istrinya meminta persetujuan. Dia memang tidak suka dengan wanita ini, tapi dia buka laki-laki kejam yang akan tega membiarkan seorang wanita pulang ke kota dengan mengendarai mobil sendirian.
"Hmm ... Gimana menurut Mommy dan Daddy?"
Kalista seketika terhenyak? Kenapa suaminya malah meminta saran kepada kedua orang tuanya, bukan kepada dirinya istrinya sendiri?
"Terserah kamu saja si kalau Daddy.''
"Tapi, memang tidak baik kalau seorang wanita pulang dengan mengendarai mobil sendirian ke kota. Apalagi hari sudah mau gelap seperti ini. Maaf lho, Kalista. Mommy tidak bermaksud untuk mengizinkan Amanda menginap di sini, hanya saja Mommy kasian sama dia." Sambung Nyonya Rosa dengan perasaan tidak enak sebenarnya.
Kalista hanya tersenyum datar merasa keberatan dengan ucapan kedua mertuanya yang seolah-olah mengizinkan wanita bernama Amanda itu untuk menginap di kediamannya tanpa memikirkan perasaan dirinya.
"Ya sudah, kamu boleh menginap di sini. Tapi, kamu harus pegang janji kamu. Jangan macam-macam dan jangan berulah, kamu harus berdiam diri di kamar seperti yang kamu katakan tadi. Oke?" Ucap Adryan akhirnya, dan tentu saja hal itu membuat Kalista benar-benar merasa kesal.
"Terima kasih, Adryan. Aku janji gak akan keluar dari dalam kamar, aku hanya akan tidur dan beristirahat ko."
'Yes ... Akhirnya ... Hahahaha ...' (batin Amanda.)
"Mom, Dad ... Saya permisi mau bawa Putra istirahat dulu. Sepertinya dia kelelahan." Pamit Kalista beralasan.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia ingin sekali menumpahkan rasa kesalnya kepada sang suami yang telah berani mengambil keputusan tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya.
Lebih parahnya lagi, Adryan sama sekali tidak menyadari dan tidak peka dengan perasaan sang istri membuat Kalista semakin merasa kecewa. Dia pun bangkit dengan menggendong tubuh putra yang kini tertidur lelap di dalam gendongannya.
"Kalista, sekali lagi Mommy minta maaf ya."
Kalista menyunggingkan senyuman hambar lalu benar-benar pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.
Sementara itu, Yuda yang juga berada di luar rumah pun nampak mengepalkan kedua tangannya menatap wajah Amanda mantan kekasihnya yang saat ini berada di dalam sana.
"Sedang apa dia di dalam? Apa si Amanda tidak punya rasa malu sama sekali duduk di antara Adryan dan istrinya? Benar-benar keterlaluan." Gumam Yuda menatap lekat wajah Amanda di dalam sana
__ADS_1
"Sepertinya, aku harus mencari cara agar bisa membawa Amanda pulang dari sini bagaimana pun caranya." Gumamnya lagi dengan perasaan kesal.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️